
Ketika Susi bertemu dengan Rifki disaat itulah kucing dan tikus mulai beraksi, meskipun begitu tidak ada kata dendam diantara mereka, Rifki memang seperti itu orangnya ketika merasa sebal dengan seorang wanita dirinya akan menjitak wanita itu berbeda lagi kalau dirinya merasa sebal dengan sesamanya pasti mereka akan melontarkan sebuah baku hantam dan bukan lagi sebuah jitakan.
Rifki tidak akan mampu untuk melawan seorang wanita, dan jika seorang wanita yang akan menjadi lawannya, Rifki akan perlahan lahan mundur dari hadapan wanita itu dengan perasaan marahnya.
"Mau ditambah?". Tanya Rifki dengan datarnya.
"Ngak usah, aku bisa melakukannya sendiri". Ucap Susi dengan ketusnya.
"Boleh aku bantu?". Tanya Rifki dengan semangatnya untuk menjitak Susi kembali.
"Tidak perlu, terima kasih atas tawaranmu, tapi aku tidak membutuhkan itu, sama sekali tidak membutuhkannya, ingat itu". Jawab Susi dengan ketusnya kepada Rifki.
"Baru kali ini aku bersikap baik lo, jangan sia siakan kebaikanku".
"Tuan Muda aku juga mau bantu". Ucap Vano dengan semangatnya kepada Rifki.
"Boleh". Jawab Rifki.
"Aku juga mau bantu Tuan Muda".
Satu persatu anak bauhnya mulai mengutarakan keinginan mereka untuk ikut serta dalam menjitak Susi, tidak ada yang ingin melewatkan sedikitpun, melihat mereka yang begitu bersemangat seperti itu membuat Susi merasa merinding tiba tiba.
"Kalian semua membuliku, apa kalian tidak kasihan denganku? Apa kata orang ketika melihat gadis secantik diriku dijitak oleh banyak orang, lalu bagaimana dengan wajahku nantinya ha?". Tanya Susi yang merasa kesalnya.
"Ngak akan ada yang berani mengatakan hal itu kepadamu Susi, jika ada maka mereka harus berhadapan denganku saat ini juga". Ucap Rifki sambil tersenyum misterius.
"Kau!! Kenapa sih setiap lelaki itu selalu saja main kekerasan". Susi menuding kearah Rifki.
"Ada apa denganku? Iya iya aku tau, aku memang tampan tapi tidak usah begitulah Susi, Bayu juga tampan Kok jauh lebih tampan dariku, kenapa kau tidak menunjuknya saja".
Yang ditudingkan hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun, Nadhira yang melihat itu hanya berusaha semaksimal mungkin untuk menahan tawanya karena tidak ingin membuat Susi semakin marah untuk saat ini, lama kelamaan Nadhira sudah tidak mampu menahannnya lagi dan akhirnya Nadhira tertawa begitu kerasnya.
"Hahaha....".
Melihat Nadhira yang tertawa seperti itu membuat semuanya mengarahkan pandangannya kearah dimana Nadhira berada saat ini, Nadhira yang melihat mereka semua menatapnya segera menghentikan tawanya dan bersikap seolah olah tidak mengetahui apa apa.
"Ups... Maaf menganggu kalian semua, lanjutkan saja yang tadi". Ucap Nadhira sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Dhira jangan aneh aneh ya, awas kau jika sampai aneh aneh". Ucap Susi yang memberi ancaman kepada Nadhira.
"Ngak ngak, mungkin ini akan menjadi pertunjukan yang bagus". Ucap Nadhira dengan kedua mata yang tengah berbinar binar.
"Kau pikir pertunjukan topeng monyet ha? Enak saja bilang seperti itu". Ucap Susi.
"Mari kembali fokus kepada tersangka dalam masalah ini kawan kawan".
Mereka semua kembali menatap kearah dimana Susi berada, dan beberapa dari mereka mengatakan 'tamatlah riwayatmu' kepada Susi dengan pelannya, meskipun mereka tertawa seperti itu akan tetapi Susi merasa begitu ngeri ketika berhadapan dengan Rifki untuk saat ini.
Susi mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar ucapan Nadhira, dirinya begitu kesal saat ini, seakan akan dirinya sedang dipermainkan oleh Rifki dan juga yang lainnya.
Susi hanya bisa berdiam diri dengan wajah yang pura pura sedih saat ini karena ucapan teman teman yang membuatnya terpojok, berurusan dengan Rifki adalah hal biasa baginya akan tetapi berbeda jauh dari ketika dirinya berurusan dengan anak buahnya seperti saat ini.
"Sebelum kalian melakukan itu kepada Susi, langkahi dulu sandal japitku baru kalian bisa menjitak Susi semau kalian". Sela Bayu sambil menunjuk kearah sandal japitnya itu ketika melihat Susi yang sedang terpojok untuk saat ini karena ucapan dari Rifki dan anak buahnya itu.
"Bayu!!!!!!! Bisa ngak sih lebih kayak pahlawan pahlawan gitu masak iya harus ngelangkahin sandalmu doang gitu". Ucap Susi yang protes dengan apa yang dikatakan oleh Bayu.
"Eits... Jangan salah paham, ini sandal bukan sembarang sandal kau tau ini tuh, sandal ini juga bisa melayang dan memukuli orang, kau tau sandal nih tuh mereknya suallow yang tidak semua orang bisa memilikinya sekaligus nyaman untuk dipakai".
__ADS_1
"Kau sedang promosi Bay?". Tanya Nadhira.
Ucapan Bayu yang membangga banggakan sandal miliknya itu, tidak ada orang yang berani melakukan itu dihadapan orang kaya seperti Rifki kecuali dirinya seorang, memang benar kata Bayu karena tidak semua orang dapat memilikinya karena kebanyakan mereka memilih sandal yang lebih bermerek.
Akan tetapi bagi Bayu, sandal itu begitu nyaman untuk dipakai meskipun terlihat murah akan tetapi tidak murahan, sandal itu memiliki dua kemungkinan yakni jika tidak putus ya bisa diambil orang sama seperti seorang wanita.
"Bisa ngak sih lebih serius dikit gitu lo, anggap saja ini beneran". Ucap Susi.
"Aku serius, aku tidak ingin mati lebih awal, bagaimana dengan jodohku nantinya, pasti dia akan kesepian karena ngak bisa bertemu denganku". Ucap Bayu sambil membayangkan masa depan.
Yang terjadi kali ini benar benar membuat Susi nampak begitu marah, rasa sebal dan geram bercampur menjadi satu yang ia arahkan kepada Rifki, Rifki hanya terkekeh pelan ketika melihat itu.
"Bercanda kalian benar benar ngak lucu". Ucap Susi kepada semuanya.
"Emang ada yang sedang bercanda disini? Hey kalian apakah ada yang bercanda disini?". Ucap Rifki sambil memasang wajah seriusnya dan bertanya kepada seluruh anak buahnya.
"Tidak Tuan Muda, kami tidak berani bercanda". Ucap Reno dengan tegasnya dan diikuti oleh yang lainnya.
"Kami tidak bercanda Tuan Muda". Ucap Vano sambil menahan tawanya ketika mendengar pertanyaan dari Rifki saat itu.
"Kau tertawa? Apa yang kau tertawa itu? Berani tertawa, ku bungkam mulutmu". Tanya Rifki sambil menatap wajah Vano dengan lekat lekatnya.
Yang ditatap seperti itu hanya bisa menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya, hal yang dilakukan oleh Rifki saat ini membuat nyali Vano sangat menciut dan ingin segera pergi dari tempat itu.
"Tidak Tuan Muda, hanya saja sudah kebelet ingin buang air kecil". Ucap Vano yang terus berusaha untuk menahan tawanya.
"Iyuhh... Sana pergi, jangan bilang kamu sudah ngompol disini". Ucap Nadhira.
"Mungkin sudah sedikit". Ucap Vano sambil meringis.
"Ihhh... Vano jijik banget". Teriak Susi.
Setelah kepergian dari Vano, mereka semua mematap kearah dimana Bayu berada, mereka menunggu penjelasan dari Bayi secara bersama sama mengenai maksud dari perkataannya sebelumnya.
"Masalahnya hanya ini yang aku bisa lakukan Si, aku tidak ingin mati terlebih dulu sebelum aku bisa menikah melakukan begitu begitu kepada istriku nantinya, bakso saja masih enak kenapa harus buru buru mati". Ucap Bayu dengan nada pasrahnya.
"Emang kau sudah punya pasangan Bay? Bukankah selama ini orang yang kau taksir itu sudah memiliki pasangan?". Tanya Rifki dengan nada yang tidak mempercayai ucapan Bayu.
"Heeiii.... Kau pikir aku tidak punya ha? Semua orang sudah memiliki jodohnya masing masing, dan sudah ditentukan di lauhul mahfud kau tau itu!! Aku juga punya pasangan tau". Ucap Bayu dengan rasa bangganya karena dirinya mampu merangkai kata kata indah seperti itu.
"Iya aku tau, tapi masalahnya emang kau sudah menemukannya ha?".
"Belum sih... Hehehe....". Tawa Bayu dengan canggungnya.
"Ya elah, ku kira udah ada, untung jantung ku masih tetap aman terkendali". Ucap Nadhira.
"Emang jantungmu mau pergi kemana Dhira? Bisa jalan sendiri kah atau gimana gitu cara perginya".
"Mau ku tampol mulutmu itu Bay?". Tanya Nadhira dengan dinginnya karena ucapan Bayu.
"Yang penting heppy".
"Heppy sih heppy, kalo ngak ada pasangan mah jadi jones alias jomblo ngenes kau tuh Bay, butuh sandaran hidup". Cetus Nadhira.
"Iya iya mentang mentang kau sudah punya Rifki, eh maksudku Tuan Muda Rifki terus ngata ngatain temennya seperti itu".
"Noh sama Susi aja gimana? Kalian kan sama sama saling melengkapi selama ini". Tawar Rifki.
__ADS_1
"Ngak ah". Jawab Susi yang acuh tak acuh.
Mendengar jawaban itu membuat Rifki dan Nadhira segera menoleh kearah Susi, keduanya takut salah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Susi sebelumnya, bisa bisanya dia menolak ucapan dari Rifki karena dipasang pasangkan dengan Bayu.
"Kenapa?". Tanya Bayu dengan penasarannya.
"Kau tidak bisa melindungiku, masak iya orang yang mau menyakitiku kau suruh melangkahi sandalmu doang, kan ngak lucu". Ucap Susi dengan sebalnya kepada Bayu.
"Itu hanya bercanda Si, apa kau tidak percaya dengan kemampuan Bayu untuk melindungi, pantaslah kau tidak mengetahui kemampuan Bayu orang Bayu nya sendiri tidak pernah bertarung didepanmu bukan begitu Dhir?". Ucap Rifki.
"Kau benar Rif, bagaimana kalau kita menguji kemampuan dari Bayu sekarang?".
Nadhira begitu bersemangat ketika menyangkut dengan berkelahi, meskipun Nadhira adalah seorang wanita akan tetapi dirinya juga ahli dalam beladiri tanpa diketahui oleh orang lain, karena Nadhira hanya akan bertarung ketika diperlukan saja dan ia tidak ingin mempublikasikan.
Hanya orang orang tertentu yang selalu berada didekat Nadhira lah yang tau, apa yang paling disukai oleh Nadhira dan apa yang paling dibenci olehnya, akan tetapi tidak semua orang yang dekat dengan Nadhira mengetahui hal itu kecuali orang orang yang telah dianggapnya begitu dekatnya.
"Wah ide yang sangat bagus itu Dhir, boleh dicoba sekarang juga". Ucap Rifki sambil mengepalkan kedua tangannya dengan eratnya dan sesekali tersungging senyuman diwajahnya.
"Jangan! Jangan sakiti dia, apa kau ingin ku pukul sekarang juga Rif?". Ucap Susi yang mencegah Rifki dan Nadhira yang ingin memukul Bayu.
"Kenapa kau jadi marah kepadaku? Bukannya kau tadi telah menolak Bayu, kenapa jadi aku yang disalahkan disini? Padahal yang memberikan ide itu juga Nadhira bukan aku".
Susi menjadi salah tingkah karena dirinya ketahuan sedang membela Bayu disini, Rifki dapat mengetahui bahwa Susi juga telah menyimpan perasaannya kepada Bayu akan tetapi Bayu tidak merasakan hal itu, Bayu menganggap Susi sebagai sahabatnya sendiri dan tidak lebih dari itu.
Bayu yang melihat Susi seperti itu hanya bisa tertawa melihat kekonyolannya, dia merasa bersyukur karena Rifki tidak jadi mengujinya, Bayu sangat mengetahui kemampuan Rifki dalam ilmu beladiri yang jauh lebih hebat daripada dirinya, meskipun begitu Rifki sama sekali tidak pernah merasa sombong karena kemampuan yang ia miliki saat ini.
"Ciee... Susi ketahuan menyukai Bayu cie...". Ucap Nadhira yang melihat Susi sedang malu malu.
Masalah perasaan adalah hal yang wajar bagi seorang remaja seperti mereka, bukan hal yang salah jika adanya perasaan diantara mereka karena hubungan mereka yang begitu dekat sejak mereka masih kecil, hal itulah yang membuat mereka saling mengagumi satu sama lain.
"Dhira, menurutmu mereka cocok ngak?". Tanya Rifki.
"Cocok sekali, apalagi mereka berdua sama sama kocak dan konyol". Ucap Nadhira.
"Bagaimana kalau kalian langsung jadian aja?". Tanya Vano yang baru saja datang.
"Ini bocah mah datang datang udah ikut campur saja". Sindir Bayu kepada Vano.
"Ngak mau, pacaran kan dosa". Ucap Susi.
"Bagaimana kalau langsung menikah saja?". Tanya Vano lagi.
"Emang kau pikir menikah itu gampang ha? Lagian usia kita masih dibawa syarat tauk bagaimana bisa menikah?". Tanya Bayu keheranan dengan sikap Vano itu.
"Banyak tuh diluaran sana, masih usia 15 tahun saja sudah menikah dan punya anak, mereka saja bisa kenapa kamu tidak? Dasar lemah". Sindir Vano.
"Betul tuh apa kata Vano, kau yang sudah 19 tahun saja kalah dengan anak yang baru lulus SMP itu, masih kecil sudah bisa bikin anak aja, lah kau? Sudah besar begini masih jomblo aja".
"Heyyyyy... Aku dan mereka berbeda ya, mereka tuh laki laki brengsek yang ngehamilin anak orang sembarangan tanpa berpikir dulu sebelum bertindak dan mereka tidak memikirkan resiko apa yang akan mereka dapatkan setelah itu, karena malu melihat kelakuan anaknya yang hamil diluar nikah seperti itu hingga akhirnya mereka dinikahkan di usia dini oleh orang tua mereka ya meskipun mereka kena denda dari pengadilan agama yang tidak sedikit sih, tapi mereka tetap membayarnya untuk menutupi rasa malu mereka, karena anaknya yang hamil diluar nikah, begitu saja tidak tau huh". Ucap Bayu sambil membusungkan dadanya.
"Udah lah Bay, kau sendiri juga sudah punya penghasilan sendiri, kenapa masih saja takut kalau tidak bisa memberi nafkah bagi keluargamu".
"Emang kau pikir nafkah hanya sekedar uang saja ha? Nafkah itu banyak bray mulai dari nafkah lahir sampai nafkah batin, seorang lelaki memiliki tanggung jawab terhadap wanita yang menjadi istrinya, bukan hanya didunia saja akan tetapi juga diakhirat kelak, karena lelaki adalah seorang imam bagi wanita".
"Tumben banget kau bijak Bay? Biasanya saja ngak, apa mungkin karena ada Susi disini?". Tanya Rifki kepada Bayu sambil sedikit mengejeknya.
"Dari dulu aku juga bijak kali, kau sendiri saja yang tidak pernah melihatnya".
__ADS_1
"Iya ya aku paham". Ucap Rifki sambil melirik kearah dimana Susi berada.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...