Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Maafkan aku


__ADS_3

Suasana hati Nadhira begitu buruk, selama ini Nadhira belum pernah terpancing emosi entah mengapa kali ini ia benar benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Seolah olah ada sosok yang sedang mengendalikannya, sehingga ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.


Nadhira mengibaskan tangannya, mencoba bangkit berdiri, kedua mata Nadhira seakan akan berkobar dan Nadhira menendang Theo dengan kerasnya hingga tubuhnya terpental kebelakang dan menabrak kursi yang berada tak jauh darinya.


Menelan ludahnya dengan susah payah, Theo tidak menyangka bahwa tendangan Nadhira kali ini begitu keras baginya, dapat dilihat dari kedua matanya bahwa kemarahan hampir menyelimuti hati Nadhira.


Bi Ira segera mendatangi dimana Nadhira sekarang sedang berdiri, akibat memaksakan menggerakkan tangannya membuat darahnya keluar melalui selang infus tersebut. Bi Ira memegang bahu Nadhira dengan kedua tangannya, tatapan tajam Nadhira kini terarah kepada.


"Nak, kendalikan emosimu! Sadarlah!". Ucap bi Ira sambil mengeratkan pegangannya.


"Jangan menghalangiku!". Bentak Nadhira.


"Tidak nak, jangan lakukan itu! Kendalikan emosimu, ibu tidak papa sudah jangan diteruskan".


"Lepaskan aku! Aku bilang LEPASKAN!!!". Nadhira menyingkirkan pegangan itu dari tubuhnya dengan kasar.


Diluar ruangannya Rifki sedang berjalan menelusuri lobi rumah sakit tersebut, ia berjalan seorang diri sambil membawa beberapa cemilan kesukaan Nadhira. Ketika ia hampir sampai ia melihat kedua anak buahnya terduduk dilantai dan dua orang sedang berdiri membelakangi pintu ruangan Nadhira dirawat.


Rifki bergegas lari mendatangi kedua anak buahnya tersebut, larinya begitu kencang dan terlihat sangat ringan. Tak beberapa lama sampailah ia didepan kedua anak buahnya dan membantunya berdiri, setelah berdiri keduanya hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi? Dengan kalian?". Tanya Rifki.


"Bos kami melarang siapapun untuk masuk kedalam ruangan". Ucap seseorang yang berdiri didepan pintu.


"Berani sekali kalian menghalangiku, siapa bos kalian?". Tanya Rifki.


"Kalian tidak pantas untuk mengenalnya". Ucap orang satunya.


"Justru kalian yang tidak pantas untuk berbicara dengan bos kami". Jawab Andre


Brakkk


Didalam ruangan tiba tiba terdengar suara seperti benda jatuh yang sangat keras, semuanya menoleh kearah pintu ruangan tersebut.


Rifki memandangi kedua orang itu dengan bergantian, "jika kalian masih menghalangiku untuk masuk, jangan salahkan aku berbuat kekerasan, Reno, Andre tolong panggilkan pihak keamanan". Rifki memerintahkan kedua anak buahnya.


"Baik bos". Jawabnya serempak.


Kedua anak buahnya segera bergegas meninggalkan lokasi tersebut menuju keruangan keamanan yang letaknya memang lumayan jauh darinya, kedua orang yang berdiri didepan pintu merasa bimbang harus bagaimana ia menangani situasi ini.

__ADS_1


Rifki mengambil nafas panjang. "Masih tidak mau minggir? Baiklah aku hitung sampai 3, kalau tidak minggir juga maka kalian ingin akhiri ini dengan kekerasan".


"Kami hanya menjalankan perintah dari bos dan ancamanmu sama sekali tidak berpengaruh terhadap kami".


Bhukk


Kembali terdengar suara benturan dari dalam ruangan tersebut sehingga membuat kedua orang yang berdiri didepan pintu merasa ragu, mereka juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi didalam tapi ini juga perintah dari bosnya.


"Satu....".


"Tidak kami tidak akan minggir, sebaiknya dirimu saja yang minggir".


"Dirimu terlalu percaya diri untuk bisa mengalahkan kami berdua".


Rifki melipat kedua tangannya didepan, pandangannya tertuju pada pintu tersebut. Raka terus membisikkannya bahwa didalam sedang terjadi sesuatu yang buruk, Rifki juga mampu merasakan energi yang lebih kuat berada didalam ruangan tersebut.


"Kalian benar benar menguras emosiku, bos kalian dalam bahaya didalam". Ucap Rifki memperingatkan.


Rifki menghela nafasnya perdebatan ini tidak akan berhasil begitu mudahnya, ia memejamkan kedua matanya dan mengambil nafas besar.


"Bagaimana mungkin bos kami dalam bahaya!".


Kedua anak buah Theo masih tetap dalam posisinya seperti sebelumnya tanpa tergoyahkan, sebenarnya yang terjadi didalam batin mereka telah terjadi konflik dengan fikirkan mereka. Batinnya menyuruh mereka untuk tetap berdiri melakukan tugas mereka, sementara fikiran mereka menyuruhnya untuk membiarkan orang yang ada didepannya masuk.


"Ti...."


"Baiklah baiklah kami akan mengizinkanmu masuk".


Keduanya segera menyingkir dari pintu tersebut, membiarkan Rifki untuk membuka pintu tersebut. Sementara didalam ruangan ketika bi Ira gagal menghentikan Nadhira, Theo segera berdiri dari kursi dimana ia terjatuh. Melihat Nadhira sama sekali tidak memperhatikan bi Ira dan melepaskan pegangan bi Ira dengan keras membuatnya sangat terkejut.


Begitu kerasnya Nadhira melepaskan pegangan tangan bi Ira membuat infusnya terlepas dari tangannya dan darah bercucuran keluar, Nadhira mendatangi tempat dimana Theo berdiri sekarang. Nadhira kembali mendorongnya hingga terjatuh kelantai, Nadhira sama sekali tidak memperdulikannya.


Bi Ira tidak tinggal diam, ia segera bergegas mendatangi Nadhira dan memeluknya dengan erat, pelukan tersebut membuat Nadhira menejamkan kedua matanya. Setetes airmata tiba tiba terjatuh dipipinya, nafasnya mulai kembali normal seperti sebelumnya.


Ketika Nadhira mulai membuka matanya betapa terkejutnya dirinya melihat Theo terbaring dilantai sambil memegangi perutnya, ia juga melihat infus ditangannya sudah terlepas dan setetes darah dilantai ruangannya dirawat.


Tak lama kemudian Rifki memasuki ruangan tersebut, ekspresinya tidak jauh dari Nadhira ketika pertama kali membuka kedua matanya. Ia menatap Nadhira yang sedang berada didalam pelukan ibu angkatnya tersebut, pandangannya tertuju pada tangan kiri Nadhira yang berdarah.


"Apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Rifki yang membuat bi Ira dan juga Theo terkejut.

__ADS_1


"Aku ngak tau Rif, ketika aku membuka mata semuanya sudah begini, aku juga bingung bagaimana infus ditanganku juga terlepas, bagaimana ini bisa terjadi". Nadhira melepaskan pelukan tersebut dan menatap sekitarnya.


Theo berusaha untuk bangkit dan berdiri dengan tegak, ia berjalan kearah dimana Nadhira berada. "Apa kamu benar benar tidak tau apa yang terjadi? Bagaimana bisa?". Tanya Theo yang terkejut mendengar penjelasan dari Nadhira.


"Kamu juga kenapa tiduran dilantai?". Tanya Rifki.


"Kamu benar benar tidak ingat nak? Bagaimana kamu menghajarnya hingga sampai seperti ini". Tanya bi Ira


"Apa kamu juga tidak ingat bagaimana kamu melepaskan pegangan tangannya dengan keras hingga hampir terjatuh". Tanya Theo sambil menunjuk kearah bi Ira.


Nadhira melihat kedua tangannya ada bercak darah disana, ia menggenggam kedua tangannya dengan erat dan ia terduduk dilantai. "Bagaimana bisa aku melakukan hal itu? Tangan ini telah menyakiti ibu".


Nadhira menggenggam tangannya dengan erat, beberapa kali ia memukul mukulkan tangannya kelantai rumah sakit. Melihat hal itu membuat Rifki segera memegangi kedua tangan Nadhira dengan erat, Nadhira menatap Rifki dengan berlinang air mata.


"Hentikan Nadhira, ini bukan kesalahanmu, kenapa harus menyakiti diri sendiri". Ucap Rifki sambil menaruh kedua tangan Nadhira didadanya.


"Bagaimana mungkin ini bukan salahku Rif, jelas jelas tangan inilah yang telah melakukannya hiks... hiks... hiks".


"Dengarkan aku Nadhira, dengar! Aku tau kamu tidak melakukan hal itu, tapi percayalah kepadaku, jika itu dirimu yang nyata, kamu tidak akan tega melakukan hal itu, aku yakin bahwa Nadhira kami adalah anak yang baik".


"Iya nak, ibu yakin Nadhira memang tidak melakukan hal itu atas kemauannya sendiri, ibu sangat percaya kepadamu, lihatlah ibu baik baik saja, Nadhira ngak perlu khawatir lagi". Bujuk bi Ira.


"Rif, bu, terakhir kali aku ingat, hatiku merasa sakit ketika ibu Ira dihina seperti itu, ketika aku memejamkan mata aku tidak ingat apa yang aku lakukan, aku baru tersadar ketika ibu memelukku dengan erat, aku benar benar tidak tau apa yang telah terjadi". Ucap Nadhira.


"Nadhira aku minta maaf, bukan maksudku seperti itu, aku tidak sengaja mengucapkan kalimat yang membuatmu sakit hati". Theo mendekat kearah Nadhira tetapi segera dihentikan oleh Rifki.


Nadhira melepaskan pegangan tangan Rifki, pandangannya kini tertuju kepada Theo yang berada disisi berlawanan dari dirinya, lebih tepatnya dibelakang Rifki. Nadhira teringat kembali apa yang diucapkan oleh Theo sebelumnya, sehingga membuatnya lepas kendali.


"Cepat pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajah orang yang telah menghina ibuku didepan mataku sendiri". Usir Nadhira.


"Bukan saatnya dirimu mengucapkan hal itu, lebih baik kamu pulanglah dulu, biarkan dia tenang dulu, setelah tenang kamu bisa menemuinya lagi". Ucap Rifki kepada Theo.


Akhirnya Theo memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dan menemukan bahwa kedua anak buahnya tengah diseret paksa keluar dari rumah sakit oleh petugas keamanan, Theo berlari menyusulnya dengan sekuat tenaga.


"Hentikan pak! Kami bisa keluar sendiri". Ujar Theo.


"Bos". Sapa keduanya


Petugas keamanan tersebut segera melepaskan kedua tangan anak buahnya, dengan sigap mereka berjalan menyusuri lobi rumah sakit menuju arah keluar. Masih ada kemarahan didalam hati ketiganya, sehingga tiada senyuman diwajah ketiganya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya 🙏


__ADS_2