
"apa yang terjadi dengannya?". Tanya wanita itu.
"Bi, aku takut, kenapa mereka berlarian?". Tanya Susi.
Seorang lelaki bergegas berlari kearah mereka bertiga, ia juga berlutut didepan wanita itu. Lelaki itu membantunya untuk berdiri kembali, ia menatap ketiganya dengan perasaan campur aduk.
"Keadaannya perlahan memburuk". Ucap laki itu.
"APA!! bagaimana bisa?". Ucap Susi.
"Aku sudah memberi tahu nyonya dan tuan tentang keadaan anaknya, tetapi kenapa mereka belum datang juga". Ucap sang wanita yang tidak lain adalah bi Ira.
Didalam ruangan itu dokter sedang memeriksa denyut nadi Nadhira, dan mengecek pernafasannya. Rifki berdiri tidak jauh dari tempat Nadhira terbaring, suhu badannya tidak beraturan Rifki terus berkeringat dingin.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya, tetapi Allah lebih menyayanginya". Ucap sang dokter.
"NADHIRA!!!". Teriak Rifki histeris dan langsung memeluk Nadhira. "Kenapa kau tinggalkan aku, bangun Nadhira bangun... Haaaaaa.... Kau pernah bilang kita akan selalu bersama, tapi kenapa kau meninggalkan kita seperti ini, bangun Nadhira bangun". Tubuhnya bergetar hebat sambil memeluk Nadhira.
Mendengar teriakan Rifki dari dalam ruangan, Bi Ira dan lainnya mulai meneteskan air matanya. Ketika dokter dan perawat itu keluar dari ruangan, ia menjelaskan bahwa Nadhira sudah tiada. Widya yang mendengar hal itu ia sampai tidak sadarkan diri.
Tiba tiba datanglah Rendi berserta anak dan istrinya, Rendi mendekat kearah Bi Ira berada. Ia bertanya kepada bi Ira mengapa semuanya menangis, bi Ira menjelaskan bahwa Nadhira telah meninggal dunia.
"APA! Bagaimana mungkin". Rendi tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Apa yang mereka katakan pa? Mereka mungkin salah bicarakan?". Tanya Sena dengan polosnya.
"Yang terjadi sudah terjadi, untuk apa menangisinya? Apakah dengan menangis ia akan kembali?".
Ucap Rendi yang sukses membuat semua orang yang ada disitu terkejut tidak percaya akan kata apa yang baru saja diucapkan oleh ayah dari Nadhira, mereka semua mengalihkan pandangannya kepada Rendi.
"Om! Nadhira adalah anakmu, bagaimana mungkin seorang orang tua dengan mudahnya mengatakan hal itu saat ini? Dia kehilangan nyawanya hanya untuk menyelamatkan anak om yang satunya, kenapa om begitu tega kepadanya?. Tanya Vina dengan emosi.
__ADS_1
"Om ngak seharusnya anda berkata seperti itu, Nadhira adalah anak om, selamanya ngak ada yang namanya mantan anak, begitu pun sebaliknya ngak ada yang namanya mantan orang tua". Teriak Susi.
"Kehilangan nyawanya? Ia pantas mendapatkannya karena ia berani menculik anakku, lagipula untuk apa aku memiliki anak seperti itu". Dengan mudahnya Rendi berkata.
"Menculik anak om? Apakah om punya bukti tentang hal itu?". Tanya Reno.
"Ini buktinya!". Sena mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah gelang tangan.
Semuanya memperhatikan gelang tangan tersebut dengan seksama, mereka mengetahui bahwa sudah lama Nadhira tidak memakainya. Widya mengenalinya bahwa itu adalah gelang pemberiannya kepada Nadhira.
"Itu gelang milik yang ku berikan kepada Nadhira". Ucap Widya.
"Ini aku temukan ditempat orang orang itu menculikku, jika dia benar benar tidak tau tempatnya mengapa gelang ini bisa berada disana? Jika bukan dia yang menculikku kenapa sebelum aku tidak sadarkan diri aku mendengar suaranya?". Jelas Sena.
"Aku sangat mengenal Nadhira, dia tidak akan melakukan hal semacam itu, lantas untuk apa ia melakukan hal itu?". Ucap Bayu.
"Iya, Nadhira tidak akan melakukan hal itu, waktu kamu diculik Nadhira rela berjalan jauh mencarimu walaupun kakinya terluka parah". Ucap Theo.
"HENTIKAN!!! Hiks... Hiks... Hiks... ". Teriak Vina. "Sekarang bukan waktunya untuk berdebat, kita berduka atas kepergian Nadhira, baru kali ini aku bertemu dengan orang tua seperti om, mungkin tidak sekarang tetapi suatu hari om akan tau rasanya apa itu kehilangan".
*****
Disuatu tempat letaknya disebuah pedesaan yang cukup sederhana, desa tersebut berada ditengah tengah hutan nan luas. Hanya ada satu jalan untuk menuju kekota, jalan tersebut penuh bebatuan dan sulit untuk dilalui oleh kendaraan.
Terdapat seorang wanita yang tengah membersihkan rumahnya, ia tinggal bersama seorang wanita paruh baya. Beberapa tahun terakhir kehidupan wanita paruh baya tersebut berubah semenjak kehadiran seorang wanita didalam rumahnya.
Wanita paruh baya tersebut yang dulunya hanya tinggal sendirian disebuh gubuk tua sekarang ia bisa tinggal berdua dengan anak angkatnya Salsa.
Salsa terkenal dengan gadis yang peramah dan mudah tersenyum, semenjak ia mengalami kecelakaan ia kehilangan seluruh ingatannya. Sedangkan wanita paruh baya tersebut biasanya dipanggil dengan nama Nenek Ani, suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu akibat ia memiliki sakit yang cukup parah, karena Nek Ani tidak memiliki uang untuk membawanya kerumah sakit.
Nek Ani memiliki seorang anak perempuan, ia hanyut disungai ketika sedang mencuci baju. Beberapa hari mereka mencari tak kunjung menemukannya juga, ketika mereka sedang mencari ditepi sungai, ia menemukan seorang wanita yang tengah hanyut.
__ADS_1
Para penduduk yang melihat itu segera menolongnya, untung saja wanita itu masih bernafas meskipun banyak luka ditubuhnya, mereka membawanya kerumah Nek Ani. Nek Ani sudah menganggap wanita itu sebagai anaknya sendiri.
Salsa dan Nek Ani saat ini sedang berada dihalaman rumahnya, setelah selesai membersihkan rumah Salsa bergegas untuk memetik sayur sayuran dikebunnya.
Ketika mengupas bumbu dapur perasaannya tiba tiba berbeda, ia merasa ada yang janggal dihatinya. Seperti perasaan akan kehilangan seseorang yang sangat berharga, tanpa disadari, jarinya teriris oleh pisau yang ia pakai.
"Akh".
"Ada apa nak? Tanganmu berdarah". Ucap Nek Ani ketika melihat darah Salsa keluar.
"Ngak papa bu, aku hanya merasa begitu sedih, seakan akan ada yang hilang dari hidupku, kesedihan ini tiba tiba datang". Tangan Salsa bergetar hebat.
Nek Ani yang melihat itu segera bergegas mengambilkan kain untuk membalut luka dijari anaknya dan membawakannya segelas air putih untuk menenangkan kegelisahannya. setelah selesai membalut luka dijari Salsa ia menyuruh Salsa untuk meminum air itu.
Setelah selesai meminum, perasaan Salsa masih sama, kesedihan mulai menyelimuti hatinya. Darah akibat lukanya mulai merembes keluar dan membasahi kain yang telah mengikat dijari telunjuknya.
"Bu aku takut, kenapa aku merasa seakan akan separuh hidupku akan menghilang dan pergi untuk selama lamanya, bu aku sangat takut". Tangis Salsa pecah seketika.
"Nak apa kau mengingat sesuatu tentang masalalumu? Mungkin sekilas bayangan".
"Tidak bu, entah mengapa tiba tiba aku ingin sekali menangis, bu aku sangat takut".
Nek Ani memeluk putrinya dengan erat dan berharap kehangatannya dapat menenangkan sang putri. Salsa memejamkan matanya dan sekilas ia melihat bayangan seorang anak kecil berumur 5 tahunan menangis dihadapan.
" Siapa anak itu, kenapa bayangannya selalu hadir dalam mimpiku, apakah mungkin itu masalalu ku". Batin Salsa.
Setelah perasaan Salsa mulai tenang, isak tangisnya mulai berhenti, Nek Ani menyuruhnya untuk istirahat. Salsa menuruti perintah dari ibu angkatnya, ia segera masuk kedalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya.
Didalam mimpinya ia melihat seorang anak kecil yang baru saja belajar berjalan sedang tersenyum kepadanya, Salsa menemani anak kecil itu untuk bermain. setelah lama bermain anak itu berjalan menjauhinya dan perlahan lahan menghilang dari hadapannya.
Setelah kepergiannya seluruh pemandangan yang ada dihadapannya perlahan lahan menghilang dan menghitam, ia mendengar anak kecil itu terus menangis dan memanggilnya dengan sebutan mama.
__ADS_1
Salsa segera terbangun dari mimpinya airmatanya mengalir, kesedihan kembali menyelimuti hatinya. Kepalanya tiba tiba terasa sakit sekelebat bayangan muncul diingatkannya.
"Apakah anak itu adalah adikku, dimana dia sekarang"