
Nadhira merasa lega bahwa itu hanyalah sebuah mimpi, Nadhira terus mengelap keringatnya karena keringat itu terus keluar dan membasahi seluruh tubuhnya, ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu.
"Syukurlah itu hanyalah mimpi".
Perlahan lahan ia mulai tenang kembali, setelah ia merasa tenang, tiba tiba terdengar suara lonceng yang sama, suara itu terus menerus mendekat kearahnya. Nadhira bersembunyi dibalik selimutnya, ia sungguh merasa takut.
Ia menggenggam kedua tangannya, ia tidak ingin hal yang ia lihat akan menjadi nyata, ia sangat takut bahwa dirinya akan mencelakakan orang terdekatnya saat dirinya mampu dikendalikan oleh roh lain.
Ia berharap bahwa itu hanyalah sebuah mimpi yang takkan pernah terjadi kepadanya, tetapi harapan itu hilang begitu saja setelah ia teringat ucapan mama tirinya.
Jantungnya berdetak begitu kencangnya sampai menimbulkan rasa sakit yang begitu menyakitkan, ia memejamkan matanya begitu lama sampai suara lonceng itu berhenti berbunyi.
"Itu bukanlah mimpi, tapi ini adalah kenyataan".
Tiba tiba suara seorang wanita berbisik di telinganya, Nadhira segera membuka selimutnya, ia sungguh terkejut ketika melihat sosok wanita yang ada di mimpinya muncul dihadapan saat ini.
"Tidak!! Tidak mungkin"
"Mengapa ini tidak mungkin? Ini adalah nyata! Haha..."
Wanita itu tertawa begitu kerasnya tetapi airmata darahnya terus mengalir. Tawa itu begitu mengerikan seakan akan mengandung kesedihan yang begitu dalamnya, Nadhira yang melihat hal itu hanya terpaku dan tidak dapat mengeluarkan satu kata pun.
Pandangannya perlahan lahan menjadi kosong tanpa ekspresi sama sekali, wanita didepannya menatapnya dengan teliti, ia tertawa melihat sihirnya berhasil membuat pandangan Nadhira menjadi kosong.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tangannya, sebutir cahaya merah terang dan masuk kedalam jantung Nadhira, rasa sakit bagaikan setruman listrik terasa diseluruh tubuhnya. Ketika merasakan hal itu Nadhira mencoba untuk berusaha mempertahankan kesadarannya agar tidak direbut oleh sosok yang ada didepannya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi". Ucap Nadhira sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Mengapa kau melawan? Jika kau terus melawan, rasa sakit itu akan semakin parah haha....".
Terdengar kembali bunyi lonceng membuatnya merasakan sakit dikepalanya, ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu sehingga kesadarannya perlahan lahan menurun.
Pandangannya kembali kosong, seketika kedua mata Nadhira berubah menjadi merah terang, perlahan lahan kesadarannya berganti. Terlihat sebuah senyuman kecil diwajahnya, tetapi dapat dirasakan bahwa ia sedang tersiksa.
__ADS_1
"Hahahaha".
Nadhira tertawa begitu mengerikan, ia menatap keseluruhan tubuhnya secara bergantian. Aura iblis mulai menyelimutinya, tatapannya seakan akan kosong, siapapun yang melihatnya akan merasa ketakutan.
"Memang aku tidak bisa memiliki raga anak ini, setidaknya untuk saat ini kesadarannya dibawa kendaliku... Hahaha....".
Tiba tiba tercium bau dupa yang menyengat dari kamarnya, iblis itu begitu menyukainya, ia tertawa begitu kerasnya, dan berjalan mengikuti sumber bau dupa tersebut. Nadhira berjalan keluar rumah dengan perlahan lahan, dan sampailah ia disebuah jalan setapak yang mengarah pada sebuah bangunan yang cukup tua.
Ia memasuki bangunan tersebut dalam kegelapan Nadhira terus berjalan masuk kedalamnya, warga sekitar tidak ada yang berani memasukinya disiang hari apalagi dimalam hari seperti ini.
Konon kata warga sekitar lokasi tersebut, setiap malam akan ada suara tangisan dan berbagai macam penampakan yang begitu mengerikan, terkadang rumah tersebut meminta tumbal berupa ari ari bayi yang baru lahir dan berbagai macam sajen, jika tidak diberi maka seluruh warga akan diteror oleh mahluk yang berada ditempat itu, dan bahkan bisa kehilangan nyawanya.
Sebagai gantinya makluk itu akan menjaga keamanan warga sekitar tempat itu, membuat warga disekitar merasa aman dan tentram. Nadhira memasuki sebuah ruangan ditempat itu, lebih tepatnya ruangan bawah tanah. Disana terdapat beberapa tengkorak, dan berbagai macam pusaka.
"Ibu, aku kembali untuk membalaskan dendam keluarga kita, jika ramalan itu memang benar, sebelum itu terjadi aku akan membunuh gadis ini".
Nadhira mengusap sebuah tengkorak yang tidak jauh darinya, Nadhira menatap kesekelilingnya, ia berjalan mendekat kearah sebuah bebatuan dan mengambil sebuah benda dari tempat itu.
"Benda ini akan mudah mempengaruhi emosinya, lihatlah bagaimana aku akan melakukan semuanya".
Tercipta sebuah senyuman diwajah Nadhira yang dikendalikan, iblis itu merasa bahwa permata yang ditelannya berhenti di jantung Nadhira, ia juga merasakan adanya energi lain yang mengunci kekuatan permata tersebut, senyum yang tadi ia ciptakan kini mulai memudar.
"Bagaimana ini bisa terjadi?".
"Kau tidak akan bisa mengendalikanku sepenuhnya, tidak akan mungkin satu tubuh memiliki dua roh didalamnya". Ucap Nadhira yang merebut kembali kesadarannya.
"Ah nampaknya waktuku sudah habis untuk mengendalikanmu, tapi tidak masalah karena permata itu sudah berada didalam tubuhmu, dan kapanpun aku mau, aku bisa saja merasuki rubuhmu". Tiba tiba sosok wanita tersebut muncul didepan Nadhira.
Nadhira menarik nafasnya dalam dalam, ia tidak tau apalagi yang harus ia lakukan setelah ini, ia tidak mengerti apa yang dimaksud mahluk didepannya, ia tidak mengerti permata apa yang ada didalam tubuhnya.
Nadhira memandang sekelilingnya, hanya cahaya bulan yang menyinari tempat tersebut, tempat itu begitu menyeramkan, ia begitu terkejut melihat banyaknya tengkorak yang berada ditempat itu. Ia merasa ketakutan, tetapi ia harus bisa pergi dari tempat tersebut.
Nadhira keluar dari tempat itu dengan sempoyongan, kepalanya begitu sakit. Ia memandang kesekelilingnya rumah tua tersebut, bagaimana ia bisa berada disebuah hutan yang cukup lebat.
__ADS_1
Kepalanya terasa begitu berat dan kakinya terasa begitu lemasnya, seakan akan ia tidak memiliki energi untuk terus berjalan.
"Kemana aku harus melangkah? Jalan ini begitu gelap".
Nadhira terus berjalan mengikuti jalanan itu, tanpa ia sadari sosok seorang lelaki berjalan memasuki desa tersebut, lelaki itu lewat didepan Nadhira, dan lurus masuk kedalam desa yang terbengkalai. Sedangkan Nadhira berbelok kearah yang berlawanan dari lelaki tersebut.
*****
Rifki tiba tiba dibangunkan oleh Raka melalui mimpinya, ia tidak mengetahui alasan apa Raka membangunkannya. Ia bergegas menemui Raka yang berada diluar rumahnya, karena memang Raka tidak bisa masuk kedalam rumahnya sehingga Raka hanya bisa menjaganya Rifki dari luar.
Rifki melihat jam dindingnya yang masih menunjukkan pukul 1 pagi, dengan langkah berat ia berjalan keluar rumahnya dan menemui Raka. Raka yang melihat Rifki berjalan keluar, ia segera bergegas mendatanginya.
"Rif aku merasa begitu gelisah". Ucapnya.
"Kenapa? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang telah terjadi sehingga membuatmu begitu khawatir seperti ini?".
"Aku merasakan aura iblis begitu pekat, jika kita tidak segera menghancurkannya mungkin kekuatannya akan meningkat, dan membuat kita sulit untuk mengalahkannya".
"Seberapa bahayanya hal itu, aku hanya merasakan aura iblis biasa".
"Aura iblis itu mengandung kebencian yang mendalam, sehingga siapapun yang dirasuki olehnya, akan sangat tidak mungkin mampu menemukan jati dirinya sendiri".
Tiba tiba seorang kakek muncul diharapan Rifki dan menjelaskan kemungkinan besar ia akan membalaskan dendamnya, dan itu akan membahayakan orang yang bersangkutan maupun orang yang berani menghalangi jalannya.
" Mengapa auranya begitu kuat seperti ini? Apakah dendam orang itu begitu besar?". Tanya Raka.
"Kau benar, hanya karena keserakahan membuat keluarga itu menghabisi satu keluarga besar dimasa itu, kejadian itu terjadi sekitar 50 tahunan yang lalu, dan ia bangkit untuk menghabisi keluarga yang telah membantai keluarganya beserta keturunannya, dan orang yang dikendalikan oleh mahluk tersebut lebih membahayakan".
"Lantas apa yang harus kita lakukan saat ini, untuk mencegah hal itu terjadi?".
"Kita harus menemukan orang tersebut sebelum permata itu menyatuh pada tubuhnya".
"Bagaimana caranya?".
__ADS_1
Rifki berjalan mengikuti petunjuk dari kakek tersebut, ia berjalan begitu lamanya sampai waktu menunjukkan pukul 3 pagi, hingga ia tiba disebuah jalanan yang sangat gelap, lebih tepatnya disebuah hutan. Jalan setapak itu ia lalui begitu lama tetapi tidak menemukan ujungnya juga, Rifki begitu penasaran kenapa semakin lama ia berjalan, ia merasa energinya seakan akan diserap.