Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 4


__ADS_3

Belajar beladiri juga membutuhkan ketelatenan, ketangkasan dan lain sebagainya agar mendapatkan hasil yang memuaskan, jika belajar beladiri hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat daripada yang lainnya hal itu sama sekali tidak akan membuat orang tersebut merasa tinggi akan tetapi hal itu akan membuatnya kalah karena telah meremehkan musuhnya.


"Setinggi apapun ilmu beladiri yang kita punya, akan ada orang yang lebih tinggi daripada kita, ingat diatas langit masih ada langit dan dibawah tanah masih ada tanah". Ucap Kuswanto kepada keduanya dengan nada yang begitu serius.


"Aku tidak mengerti Ayah". Ucap Nimas.


"Maksudnya ketika kita sudah bisa menguasai setiap ilmu yang diberikan oleh Ayah saat ini dengan baik dan benar, akan tetapi diluar sana masih banyak anak ataupun orang yang lebih hebat daripada kita, begitu Dek". Jelas Panji mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh Nimas kepada Ayahnya.


"Betul sekali, seberapa hebatnya diri kita, akan ada yang lebih hebat lagi daripada kita".


"Oh jadi seperti itu ya Yah". Ucap Nimas yang sudah mengerti tentang apa yang disampaikan.


"Iya Nak".


Kuswanto mengajarkan kepada keduanya tentang apa yang telah ia ketahui selama ini mengenai dunia bela diri, mereka bukan hanya dilatih seni dan senjata akan tetapi keduanya juga dilatih dengan fisiknya seperti menimba air sumur, mengisi tong dengan air sungai, naik turun bukit dan lain sebagainya sebagai pelatihan fisik keduanya.


"Ayo makan dulu!". Teriak Rahayu kepada ketiga agar segera menghentikan latihan mereka karena waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang.


"Iya Bu". Jawab Panji dan Nimas secara bersamaan.


"Ya sudah, ayo kita makan dulu, setelah ini kalian istirahatlah kita akan melanjutkan latihannya nanti sore". Ucap Kuswanto menyuruh anak anaknya untuk pergi makan.


"Baik Ayah".


Nimas dan Panji terus belajar ilmu beladiri dengan giatnya karena keduanya ingin bisa melindungi dirinya dan orang orang yang ia sayangi seperti Ayah dan Ibunya.


Setiap pagi, siang, dan sore mereka selalu berlatih ilmu beladiri tanpa hentinya begitupun dihari hari selanjutnya, mereka hanya akan berhenti ketika malam hari dan malam hari mereka selalu mereka gunakan untuk bercengkerama dengan keluarganya.


Keempatnya sudah menjadi keluarga yang bahagia, ada Kuswanto sebagai kepala keluarga, Rahayu yang sebagai Ibu rumah tangga, Panji sebagai anak pertama mereka yakni Kakak dari Nimas, dan Nimas adalah anak terakhir mereka.


"Ayah, khodam itu apa?". Tanya Nimas tiba tiba kepada Kuswanto.


"khodam pendamping adalah istilah untuk jin pendamping manusia. Konon, jin khodam pendamping manusia tergolong baik dan tak menganganggu, mereka memiliki tujuan untuk melindungi dan menjaga orang yang memiliki tersebut. Namun, ada juga jin khodam pendamping katanya bersifat jahat dan menjerumuskan orang tersebut". Jelas Kuswanto kepada Nimas.


Khodam pendamping sering dikaitkan dengan orang yang memiliki ilmu kebatinan yang dalam. Padahal, beberapa orang yang memiliki khodam pendamping tidak menguasai ilmu kebatinan. Khodam pendamping biasanya dipanggil sebagai perantara pemiliknya untuk memanggil orang yang dituju.


Secara umum, khodam pendamping diartikan sebagai makhluk halus yang berasal dari benda-benda pusaka, ilmu kebatinan ataupun sengaja dipanggil untuk keperluan tertentu. Bahkan beberapa orang pun memiliki khodam pendamping yang berasal dari ilmu leluhur yang diturunkan kepadanya.


Khodam pendamping pun memiliki berbagai macam wujud, perwujudan khodam yang paling sering didengar oleh masyarakat adalah binatang dan jin yang berupa manusia dan masing masing wujud khodam memiliki fungsi yang berbeda beda.


Berbagai macam ciri ciri orang yang memilik khodam pendamping dapat dirasakan oleh siapapun, termasuk orang yang awam tentang ilmu kebatinan.


Biasanya seseorang yang memiliki khodam mempunyai sorot mata yang sangat tajam. Selain itu, dirinya akan disegani oleh orang-orang disekitarnya karena wibawa, karisma dan bahkan auranya yang sangat tinggi terpancar dari wajahnya.


Untuk dapat memiliki khodam pendamping tentunya perlu laku tirakat yang kuat. Ada yang berpuasa, wirid selepas sholat, dan masih banyak lagi laku usaha untuk mendapatkan khodam pendamping. Semua tergantung dengan tingkat keilmuan khodam tersebut akan tetapi ada juga yang mendapatkan khodam karena keturunannya.


"Apakah Kakak juga memiliki khodam?". Yang dimaksud Kakak oleh Nimas adalah Panji.


"Tentu ada Dek, aku juga memilikinya, bukankah begitu Ayah?". Tanya Panji kepada Kuswanto.


"Iya, anak Ayah ini memiliki khodam keturunan, dan keturunannya kelak juga akan memiliki khodam yang sama, sedangkan Nimas memiliki khodam yang berasal dari kekuatan yang ada digoa itu". Jelas Kuswanto kepada anak anaknya.


"Oh jadi seperti itu ya Ayah". Ucap keduanya secara bersamaan.


"Iya, sudah malam, kalian berdua kembalilah tidur kita lanjutkan esok hari".


"Iya Ayah, tapi aku mau tidur sama Ibu, bolehkah?". Tanya Nimas sambil berharap.


"Boleh Nak, apapun yang kamu mau, Ayah akan berusaha untuk mewujudkannya". Jawab Kuswanto sambil mengusap kepala Nimas pelan dan memberikan sebuah senyuman kepasa Nimas.

__ADS_1


"Terima kasih Ayah". Ucap Nimas dengan kegirangan sambil berlari menuju ke Ibu angkatnya.


"Jangan berlarian Nak, nanti jatuh".


Sejak Nimas tinggal bersama Kuswanto, Nimas bersikap seperti seorang anak kecil pada umumnya, yang begitu manja kepada kedua orang tuanya dan juga bersikap kekanak kanakan akan tetapi dia memiliki sikap yang tegas.


Kekuatan yang dimiliki oleh Nimas sebelumnya telah diambil oleh Kuswanto tanpa sepengetahuan karena kekuatan itu begitu berbahaya bagi Nimas dan hal itu membuat Kuswanto menyatukan kekuatan itu menjadi sebuah permata yang selalu dibawa oleh Nimas untuk melindungi dirinya kemanapun Nimas pergi.


"Jaga permata ini Nak, ini adalah kekuatan yang akan melindungi dirimu". Ucap Kuswanto sambil menyerahkan sebuah permata berwarna merah terang kepada Nimas.


Permata yang diberi oleh Kuswanto kepada Nimas awalnya berwarna merah terang, akan tetapi setelah Nimas melakukan pembunuhan atau bisa disebut dengan pembantaian didesa Mawar Merah, permata itu berubah menjadi warna hitam yang begitu pekatnya.


"Ini apa Ayah?". Tanya Nimas dengan keheranan.


"Ini adalah kekuatan yang telah aku kumpulkan dari kekuatamu dulu dan juga kekuatan dari keris pusaka xingsi sehingga jadilah sebuah permata ini Nak". Ucap Kuswanto kepada Nimas.


"Tapi kenapa Ayah memberikan ini kepadaku?".


"Jika bertemu dengan Ayah kandungmu kelak, masukkan jiwanya kedalam permata ini, agar permata ini dapat menolongmu kemanapun dirimu berada Nak, didalamnya sudah ada khodam penjaga yang akan menjaga dirimu, dan hanya dirimu yang berhak untuk memilikinya".


"Iya Ayah".


"Ingat Nak, kelemahan dari permata ini adalah keris xingsi yang telah aku sembunyikan".


Kuswanto memberitahukan semuanya kepada Nimas, megenai kekuatan dari permata tersebut, dan sosok seperti apa yang menjaga didalam permata tersebut kepada Nimas.


Setelah bertahun tahun mereka hidup dengan bahagia akan tetapi kemudian, Nimas sudah mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri dan dirinya tumbuh menjadi seorang gadis remaja begitupun dengan Panji yang sudah menjadi pemuda remaja yang sangat tampan.


Ketika Nimas beranjak dewasa Kuswanto mengatakan segalanya mengenai kekuatan yang dimiliki oleh Nimas bahwa kekuatan itu berasal dari setengah dari kekuatan keris pusaka xingsi, kekuatan itu akan melindungi dirinya demi membalaskan dendamnya karena keluarganya telah dibunuh.


Beberapa kali Kuswanto sudah menasehatinya untuk melupakannya dendam itu, akan tetapi Nimas selalu memberontaknya dan beranggapan bahwa Kuswanto telah membela mereka yang telah membunuh keluarganya.


"Iya Ayah, keputusanku sudah bulat, aku sudah dewasa dan aku ingin melanjutkan kehidupanku". Jawab Nimas.


"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka Ayah hanya bisa untuk mengizinkannya, jika ada waktu pulanglah Nak, Ayah dan Ibu akan selalu menunggu kedatanganmu disini, jangan pernah lupakan Ayah dan Ibu angkatmu disini Nak, karena bagi kami kau adalah putri kami".


"Terima kasih atas kebaikan kalian selama ini, Nimas tidak akan pernah melupakannya". Ucap Nimas dan langsung memeluk kedua orang tua angkatnya.


"Jaga dirimu baik baik Nak, jangan membahayakan dirimu sendiri, jika kau ingin kembali, datanglah Nak pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu". Ucap Rahayu sambil memeluk tubuh Nimas.


Nimas hanya bisa mengangguk kepada kedua orang itu, dirinya tidak mampu berkata kata lagi, dirinya harus pergi dari tempat itu untuk membalaskan dendamnya atas kematian dari seluruh keluarganya karena sebuah fitnah yang diberikan kepada keluarganya pada saat dirinya masih bayi.


"Apa kau sudah melupakan Kakakmu ini Adek kecilku?". Tanya Panji yang baru saja datang ketempat itu.


"Kakak". Ucap Nimas kecil dan langsung berlari menuju ketempat Panji berada.


"Kau sudah besar Dek, tapi kenapa sikapmu masih seperti anak kecil begini, bagaimana bisa Dilham nantinya mampu untuk menghadapi sikapmu yang seperti ini?". Ucap Panji ketika melihat Nimas yang masih suka bergelayutan ditangan Panji.


"Kakak, apa yang Kakak katakan? Aku dan dilham hanya sahabatan Kakak".


"Benarkah? Kau tidak bisa membohongi Kakakmu ini Adek kecilku, kau lupa ya kalau Kakakmu ini bisa melihat isi hatimu?".


"Kakak". Ucap Nimas dengan manjanya kepada Panji.


"Melihatmu seperti ini seakan akan Kakak tidak mengikhlaskanmu pergi, bagaimana jika Kakak merindukan dirimu nantinya Dek?".


"Aku akan sering datang ketempat ini untuk mengunjungi Kakak, Ayah, dan Ibu".


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, Kakak hanya bisa berdoa semoga tidak ada yang menghalangi disetiap jalanmu".

__ADS_1


"Aamiin".


Nimas berkelana bersama dengan Dilham teman masa kecilnya bersama dengan Panji dan meninggalkan keluarga Kuswanto untuk melanjutkan tujuannya, akan tetapi dirinya tidak menyangka bahwa Dilham adalah anak dari orang yang telah membunuh seluruh keluarganya.


Akan tetapi Nimas telah menaruh perasaan kepada Dilham sehingga dirinya tidak mampu untuk melukai pemuda yang sangat ia cintai itu.


Sejak kejadian yang terjadi didesam Mawar Merah itu, Darma menjabat sebagai kepala desa ditempat itu, Darma memiliki seorang putra yang diberi nama Herman dan menantu bernama Sarah.


Pasangan Herman dan Sarah telah melahirkan putra kembar, akan tetapi salah satu putra mereka telah hilang ketika masih baru dilahirkan, dan putranya itu sekarang bernama Dilham.


Dilham dan Nimas terus mencari keberadaan dari orang tua kandung dari Dilham akan tetapi setelah mengetahui kebenarannya mengenai asal usul Dilham hal itu membuat Nimas berada diambang sulit mempercayai kebenaran.


Sementara disatu sisi, seseorang mendatangi rumah Kuswanto sekeluarga dan berusaha untuk membunuh Kuswanto dan Panji, dia adalah anak kandung dari Birawa seseorang yang telah mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan nyawa dari Kuswanto sendiri.


"Kuswanto keluar kamu!!". Teriaknya didepan rumah Kuswanto dan Panji.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Kuswanto keluar dari dalam rumahnya dengan kebingungan kenapa ada seorang pemuda yang mendatanginya dengan amarah yang meningkat.


Dirinya berpikir apakah sebelumnya dirinya telah membuat masalah dengan pemuda itu, akan tetapi Kuswanto sama sekali tidak mengetahui apa maksud dari kedatangan pemuda itu untuk menemuinya.


Berulang ulang kali percobaan pembunuhan itu dialami oleh Panji ketika dirinya sudah berusia 17 tahun, dan bahkan nyawanya hampir saja melayang ditangan keturunan dari Birawa yakni Danuarta.


"Siapa dirimu Nak?". Tanya Kuswanto dengan keheranan karena pemuda itu terlihat begitu marah kepadanya saat ini.


"Ngak usah basa basi lagi, serahkan nyawamu kepadaku!". Teriak pemuda itu.


Mendengar teriakan tersebut membuat Panji keluar dari dalam rumahnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi didepan rumahnya tersebut, tidak biasanya ada orang yang berteriak teriak seperti itu didepan rumahnya.


"Kamu!!". Ucap Panji ketika mengetahui bahwa pemuda yang berdiri didepan rumahnya adalah pemuda yang ia kenali dari desa sebelah.


"Kau mengenalinya Nak?". Tanya Kuswanto dengan keheranan kepada Panji.


"Iya Ayah, kenapa kau datang kemari? Bukankah aku sudah minta maaf kepadamu, aku tidak sengaja membuat buruanmu terlepas saat itu, bukankah aku sudah menggantinya?". Tanya Panji kepada pemuda yang ada dihadapannya.


"Maafmu tidak berarti bagiku!! Aku sama sekali tidak akan pernah memaafkan orang yang telah membunuh Ayahku!". Teriak pemuda itu sambil menatap kearah Kuswanto.


"Apa maksudmu?". Panji sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada dihadapannya itu.


"Kau telah membunuh Ayahku, Kuswanto!!". Nada pemuda itu bertambah keras ketika menyebut nama Kuswanto dengan sedikit menekannya.


Danuarta sama sekali tidak mengetahui bahwa kematian dari Ayahnya itu karena kesetiaan dari Ayahnya kepada Pangeran Kian, Danuarta tidak mengetahui bahwa orang yang paling dia benci adalah Pangeran Kian itu sendiri.


Bagi Danuarta, Kuswanto adalah orang yang bersalah karena telah membunuh Ayahnya dengan tragis sehingga dirinya sangat membenci Kuswanto dan menginginkan nyawa dari Kuswanto untuk mengganti nyawa yang telah melayang ditangan Kuswanto.


"Nyawa harus dibalas dengan nyawa". Begitulah yang sering diucapkan oleh Danuarta.


"Aku tidak pernah membunuh seseorang Nak, kau pasti telah salah mengenali orang".


"Tidak!! Aku tidak mungkin salah mengenali orang, dan kau adalah Kuswanto yang telah merenggut nyawa dari Ayahku".


"Siapa Ayahmu Nak?". Tanya Kuswanto dengan keheranan.


Danuarta telah mengumpulkan energi jahat yang cukup besar untuk dapat melenyapkan seluruh keluarga Kuswanto karena telah merenggut nyawa Ayahnya dari dirinya untuk selamanya.


"BIRAWA". Teriak Danuarta dengan lantangnya menyebutkan nama Ayahnya.


Tanpa aba aba, Pemuda tersebut segera mengerang keadah Kuswanto dengan ganasnya seakan akan seperti singa kelaparan dan sangat menginginkan darah dari Kuswanto menetes sebagai pengganti rasa kemarahannya karena Ayahnya telah dibunuh oleh seseorang yang sedang diserangnya ini.


...Terima kasih atas dukungannya...

__ADS_1


...Jangan lupa like dan komen ya agar Authornya makin semangat ...


__ADS_2