Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Dia milikku


__ADS_3

Nadhira dan Rifki segera memasuki sekolah tersebut dan menuju ruangan yang telah disiapkan oleh pihak sekolah kepada siswa baru. Sesampainya mereka disana, mereka segera menduduki tempat yang telah disiapkan untuk mereka.


Rifki memilih untuk duduk disebelah Nadhira, keduanya memang mengambil jurusan yang sama, pandangan seluruh siswa segera terarah kepada Rifki, karena wajahnya yang cukup membuat para gadis terpikat olehnya. Apalagi ketika Rifki tersenyum tipis, membuat para gadis tidak mampu memalingkan pandangannya dari wajah Rifki.


Nadhira yang melihat pandangan semuanya tertuju kepada Rifki membuatnya sedikit tidak nyaman, ia merasa sangat risih ketika seseorang memandangi sahabatnya seperti itu, seakan akan Nadhira tidak rela bahwa sahabatnya akan direbut oleh orang lain.


"Berapa lama lagi disini, rasanya ingin segera pergi". Keluh Rifki tiba tiba.


Nadhira tertawa didekatnya, ternyata bukan hanya dirinya yang merasa risih ditempat itu, tetapi juga sahabatnya. Tawa Nadhira berhasil membuat tanda tanya besar dikepala Rifki dan orang yang berada disekitar mereka, Nadhira menundukkan wajahnya karena ia merasa malu dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Apa ada yang lucu?". Tanya Rifki.


"Tidak ada, hanya teringat sebuah kisah yang lucu". Jawab Nadhira.


"Oh".


Keduanya kembali fokus kedepan, ada beberapa orang yang memasuki ruangan tersebut. Orang orang tersebut adalah guru yang akan mengajar mereka, sesuai jurusan yang mereka ambil. Setelah beberapa jam mendengarkan kata sambutan, akhirnya mereka dibimbing untuk memasuki kelas masing masing.


Nadhira memilih duduk dibagian depan, sedangkan Rifki tetap ada disebelahnya, beberapa anak mendatangi Nadhira dan Rifki untuk mengajaknya berkenalan, lebih tepatnya para gadis lebih tertarik berkenalan kepada Rifki.


Rifki yang didatangi begitu banyak anak gadis membuatnya merasa sangat risih, biar bagaimanapun Rifki memang tidak menyukai didekati apalagi dikelilingi anak gadis seperti saat ini, batinnya ingin menjerit, ia memegangi tangan Nadhira dengan kuatnya, terasa sedikit getaran dari tangan Rifki hingga membuat Nadhira mampu merasakan bagaimana gugupnya ia saat ini.


Rifki memandangi Nadhira seakan akan meminta bantuan untuk menyelamatkannya, 'ayolah Dhira.... selamatkan aku, aku mohon, Nadhira tolong'. begitulah makna dari tatapam Rifki kepada Nadhira jika diartikan, batinnya menjerit keras seandainya Nadhira mampu mendengarnya mungkin ia akan tertawa begitu kerasnya.


Nadhira memegangi tangan Rifki yang bergetar hebat, tangannya terasa begitu dingin seolah olah Rifki bertemu seekor monster yang menyeramkan, Nadhira ingin tertawa melihat tingkah Rifki saat ini, tetapi tetap ia tahan agar tawa itu tidak dapat terdengar oleh Rifki.


"Tolong jangan ganggu dia, dia milikku, siapapun yang berani merebutnya dariku maka harus berhadapan denganku". ujar Nadhira begitu kerasnya agar para gadis dapat mendengarnya.


Nadhira menatap setiap anak gadis yang mengitari keduanya dengan tajam, seakan akan ingin menelan mereka hidup hidup, melihat tatapan itu terarah kepada mereka, membuat mereka segera membubarkan diri masing masing.


Setelah mereka semua kembali ketempat masing masing, Rifki mengelus dadanya ketika melihat para gadis telah meninggalkannya, membuat Nadhira menertawakannya sambil menutup mulutnya melihat tingkat Rifki, bagi Nadhira ekspresi Rifki saat ini begitu lucu, sehingga membuatnya tidak bisa berhenti untuk tertawa.


"Oh iya apa yang kamu katakan tadi?". Tanya Rifki memastikan apa yang ia dengar tidak salah. bahwa Nadhira mengakui bahwa ia adalah milik Nadhira.


"hah, lupakan saja, lagian aku juga tidak serius, aku katakan itu karena terpaksa, aku tidak ada pilihan lain untuk mengusir mereka". Jawab Nadhira sambil beberapa kali menghela nafasnya.


"emh... jadi kamu mengakuiku hanya karna terpaksa?".


"yups". Nadhira menjentikkan jarinya. "kamu benar!! tidak ada pilihan lain, maaf".


Rifki terdiam begitu lama ketika mendengar jawaban dari Nadhira, ia memegangi dadanya yang terasa sakit karena ucapan tersebut, Nadhira menahan tawanya melihat kediaman Rifki saat ini, Rifki menggosok hidungnya sambil cemberut ketika melihat Nadhira menahan tawa dihadapannya.


"Jika seperti itu, maka aku harus mengatakan TERIMA KASIH kepadamu". Rifki mengatakan begitu jelas kata terima kasih, ia bergegas berdiri dari bangkunya.

__ADS_1


Melihatnya hendak bangkit membuat Nadhira segera meraih tangan Rifki dan menariknya untuk duduk kembali, Nadhira memegangi tangan Rifki dengan erat seakan akan ia tidak mau melepaskannya.


"kenapa kamu marah Rif?".


"aku ngak marah, siapa juga yang marah".


"dengarkan aku dulu Rif, mungkin saat ini memang kamu bukan milikku, tetapi aku harap setelah dewasa nanti kamu akan benar benar menjadi milikku".


"Ya sudahlah".


Rifki duduk kembali kekursinya dan menyandarkan dirinya dibangku tersebut sambil melipat kedua tangannya didepan, ia juga memejamkan kedua matanya dihatinya ia sangat bahagia mendengar jawaban Nadhira. melihat Rifki tersenyum tipis membuat Nadhira ikut tersenyum.


"Hah!! Inilah alasanku sangat membenci wajahku, ketampanan ini membuatku tidak bisa lepas dari gadis gadis seperti itu".


Rifki menghela nafas panjang mengenai kejadian yang baru saja ia alami, Nadhira hanya melihatnya sekilas setelah itu pandangannya terarah kepada hal lainnya.


"Cih.. emang ya orang sepertimu tidak pernah memiliki rasa bersyukur, sudah diberi kelebihan masih saja mengeluh, kalau kelebihan itu diambil lagi, baru tau rasa lo". Raka terus mengomel disampingnya.


"Iri? Saingilah bukan hanya dikomentari".


"TERSERAH!!!".


Nadhira hanya bergidik ngeri melihat Rifki yang seolah oleh sedang berbicara sendiri, meskipun ia mengerti tentang alam gaib, tetapi ia tidak pernah bertemu dengan penghuni alam gaib kecuali gadis berbaju merah yang pernah mendatanginya.


"Apakah aku salah menunjukkan kepadanya tentang Raka? Kenapa ekspresi itu selalu muncul ketika aku berbicara dengan Raka". Batin Rifki ketika memandang Nadhira secara detail.


"Nadhira?". Panggil Rifki.


Nadhira masih saja melamun dan mengabaikan panggilan Rifki, Rifki melambaikan tangannya didepan wajah Nadhira agar supaya Nadhira tersadar dari lamunannya. Beberapa menit kemudian Nadhira sama sekali tidak merespon apa yang dilakukan oleh Rifki, sehingga Rifki harus bangkit dari duduknya untuk menggoyang goyangkan bahu Nadhira.


Tiba tiba airmata Nadhira terjatuh begitu saja, tetapi pandangannya masih terlihat kosong. Rifki merasa terkejut dan segera menyentuh punggung Nadhira, dapat ia rasakan dengan jelas energi dari permata itu, Rifki terus memanggil nama Nadhira dan menepuk pipinya beberapa kali, hingga Nadhira tersadarkan.


Ketika Nadhira tersadarkan, Rifki merasakan bahwa energi dari permata itu segera melemah, sehingga ia dapat menyimpulkannya bahwa energi lain yang ada didalam tubuhnya mampu menghalangi energi permata itu hanya saat Nadhira mampu tetap sadar.


"Apa yang terjadi Rif?". Tanya Nadhira begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Rifki telah berdiri disampingnya.


"Jangan pernah melamun Nadhira, bukan hanya berbahaya bagi tubuhmu tetapi juga kesadaranmu".


Nadhira mengangguk angguk kepalanya mengenai peringatan yang diberikan oleh Rifki kepadanya, memang benar belakangan ini ia sering melamun, karena begitu banyak beban yang ia tanggung sendirian. Nadhira merasa dihantui karena kematian sepasang suami istri paruh baya yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri. jeritan mereka selalu terdengar dikepalanya sehingga membuatnya sering merasakan sakit kepala.


"Oh iya kalian dengar belum, di perumahan lestari telah terjadi pembunuhan lo, apalagi korbannya dua orang yang sudah berusia paruh baya".


"Iya, itu tetanggaku, kematiannya begitu tragis, golok yang dipakainya sudah beberapa kali diasahnya sehingga golok itu menjadi begitu tajam".

__ADS_1


"Kasihan banget sih, emang ngak ada yang lihat gitu, pembunuhnya siapa?"


"Warga sekitar hanya bisa lihat bayangan hitam lewat begitu cepat saja, mereka tidak bisa mengejarnya, dan bayangan itu hilang begitu saja dalam kegelapan malam".


"Jadi ngeri deh, semoga keluargaku dilindungi dari mahluk seperti itu, dan semoga mahluk itu mendapat ganjaran atas semua yang telah ia lakukan".


Teman teman sekelasnya membicarakan tentang kematian dua orang yang disebabkan oleh kedua tamgan Nadhira, Nadhira terbatuk batuk kerika mendengar hal tersebut, ia merasa sangat bersalah terhadap hal yang terjadi. bahkan banyak anak yang mendoakan yang buruk buruk mengenai hal itu.


Nadhira mengambil nafas dan memejamkan kedua matanya, rasa sesak didadanya mulai ia rasakan kembali, apa yang harus ia lakukan saat ini, ia tidak berani mengaku akan hal itu, entah apa yang harus ia jelaskan, dan bahkan ia sendiri juga tidak mengetahuinya. kepalanya terasa begitu berat sehingga membuat Nadhira memeganginya dengan erat.


"Kamu kenapa Dhir?". Tanya Rifki kepada Nadhira.


"Ngak papa, hanya merasa pusing saja".


"Kamu sakit? Ayo aku antar ke UKS".


"Ngak papa kok Rif, nanti juga redah sendiri, jangan terlalu khawatir".


"Jangan mengabaikan hal ini Dhira". Rifki segera berdiri dari duduknya.


"Kamu mau ngapain?".


Nadhira terkejut ketika Rifki berjalan kearah belakangnya, Rifki sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Nadhira, ia segera mengulurkan tangannya dan menyentuh pelipis Nadhira. Semua siswa yang melihat itu tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari apa yang akan dilakukan oleh Rifki. membuat mereka bertanya tanya tentang hubungan Nadhira dengan Rifki.


"Yang pastinya bukan menyakitimu". Jawab Rifki.


Nadhira tersenyum mendengar jawaban dari Rifki, Rifki segera memijat pelipis Nadhira untuk meringankan sakit kepala Nadhira, Nadhira menikmati setiap pijatan tersebut, pijatan itu mampu meringankan sakit kepala yang ia rasakan.


"Enak Rif, belajar memijat dimana?".


"Enak? Coba sedikit rileks, buang fikiran yang tidak perlu difikirkan".


Nadhira segera melakukan apa yang diarahkan oleh Rifki, beban difikirannya mulai berkurang ia merasa begitu fresh dan rileks, pijatan demi pijatan Rifki lakukan sambil merasakan energi permata yang ada ditubuh Nadhira.


Semakin Nadhira merasa rileks semakin melemah energi yang dikeluarkan oleh permata tersebut, semakin melemahnya energi itu membuat sakit kepala yang Nadhira rasakan mulai menghilang seakan akan ia tidak pernah merasakan sakit kepala tersebut..


"Dulu aku belajar dari kakekku, karena sejak kecil aku sering mengalami cidera dan bahkan hampir patah tulang, jadi kakekku memberitahuku letak letak titik untuk dipijat". Jawab Rifki.


"Oh... seperti itu, hebat ya kakekmu".


Rifki tersenyum mendengar pujian Nadhira untuk kakeknya, bagi Rifki kakeknya adalah orang yang terhebat dalam hidupnya, sejak kecil ia dididik oleh kakeknya, kakeknya mengajarinya banyak hal mulai dari beladiri, cara memimpin sebuah perusahaan, tutur kata, sopan santun, dan masih banyak lagi.


Sejak kepergian ayah kandungnya, kakeknya selalu memperlakukan Rifki layaknya seorang anak baginya, entah apa alasannya sehingga kakeknya memutuskan untuk tidak menikah, sehingga ia tidak memiliki anak dan istri hingga sekarang. Rifki adalah satu satunya seorang pewaris dari perusahaan yang tengah dipimpinnya saat ini, sehingga Rifki harus benar benar menguasai bagaimana cara untuk memimpin sebuah perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2