
Disatu sisi, Indah hanya bisa menyendiri dalam hari harinya, ia terus memikirkan tentang Panji teman masa kecilnya, dirinya dan Panji sudah lama dijodohkan oleh kedua orang tua mereka sehingga membuat Indah sudah mampu menerima segala kekurangannya.
"Panji, dimana dirimu? Kenapa kau pergi secepat ini Panji? Kenapa kau meninggalkanku? Bawalah aku bersamamu, sudah sekian tahun aku menunggumu hadir dalam kehidupanku, tapi apa? Kau justru pergi begitu jauh, sehingga aku tidak mampu untuk menggapai dirimu".
Indah sama sekali tidak menyangka dengan apa yang ia dengar saat ini, ia lebih tidak menyangka lagi bahwa orang yang dia anggap sebagai Panji juga mengatakan hal yang sama bahwa Panji sudah tiada.
Sementara itu Panji sendiri sedang merasakan kesepian yang mendalam ketika tidak adanya kehadiran Indah didalam hari harinya, mungkinkah perasaannya mulai tumbuh kepada Indah karena hanya Indah yang berhasil menarik perhatiannya.
Panji terus memikirkan tentang gadis yang ia temui itu, selama ini ia tidak pernah merasakan hal seperti itu kecuali disaat dirinya pertama kali hidup sendiri tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Panji merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya untuk saat ini, seakan akan tidak ada yang begitu berarti dalam setiap hembusan nafas yang telah ia hirup dan keluarkan.
"Jika tidak salah ingat, disinilah alamatnya, tapi kenapa rumahnya begitu sepi?".
Karena perasaannya yang mulai tumbuh kepada Indah membuat Panji segera bergegas untuk mencari alamat rumah Indah agar dirinya bisa bertemu kembali dengan gadis itu.
Panji segera mendatangi rumahnya, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Indah, tetangganya bilang kepada Panji bahwa Indah pergi sedari pagi dan belum juga kembali sampai siang hari ini, sementara kedua orang tuanya sedang pergi keladang, Panji merasa sedikit cemas dengan keadaan dari Indah, akhirnya ia bergegas untuk mencarinya.
"Indah!!.... Dimana kamu". Teriak Panji memanggil nama Indah.
Panji terus mencari keberadaan dari Indah, ia terus memutari desa tersebut untuk mencari Indah, ketika dirinya sudah kelelahan, ia segera menuju ketepi sungai dimana dia melihat Indah untuk terakhir kalinya ia datang kedesa tersebut.
"Indah! Dimana kamu".
Dari kejauhan dirinya dapat melihat Indah yang tengah berdiri ditepi sungai sambil merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya seakan akan dirinya tengah bersiap siap untuk terjun bebas kesungai itu.
Melihat itu Panji segera bergegas untuk mendatangi Indah dan mengentikan apa yang akan dilakukan oleh Indah, sungai itu begitu deras alirannya dan juga banyaknya bebatuan besar yang ada didalam sungai tersebut sehingga membuat siapa saja yang melompat kedalamnya akan dipastikan tidak dapat terselamatkan.
Panji segera menarik tangan Indah agar menjauh dari sungai tersebut, Indah begitu terkejut ketika merasakan ada seseorang yang tengah menarik tangannya untuk menjauh dari aliran sungai itu.
"Apa yang kau lakukan Indah!". Ucap Panji dengan marahnya karena menghawatirkan Indah.
"Kamu! Kenapa kamu datang kembali ketempat ini? Apakah dirimu belum puas untuk mengatakan bahwa Panjiku telah tiada? Aku sangat membencimu, aku tidak ingin lagi melihat wajahmu itu!". Teriak Indah kepada Panji dengan berlinangan air mata. "Semua orang mengatakan bahwa Panjiku sudah tiada, jika itu benar maka aku tidak ingin hidup lagi tanpa Panji".
"Indah sadarlah! Jangan sampai perasaanmu mampu membutakan dirimu, jika kau yakin Panjimu masih hidup, maka dia akan tetap hidup".
"Kenapa semua orang hanya bisa mengatakan itu kepadaku? Tapi tidak ada satupun yang bisa memberitahukan kepadaku tentang keadaan dan dimana dia tinggal sekarang, kenapa?".
Melihat Indah yang nampak begitu marah kepada dirinya, hal itu membuat Panji merasa sangat bersalah dengan apa yang ia lakukan sebelumnya kepada Indah karena dirinya hanya ingin Indah melupakan tentang dirinya, akan tetapi hal itu berujung dengan Indah yang terus terusan berusaha untuk bunuh diri karena dirinya ingin secepatnya bertemu dengan Panji.
"Indah tenanglah dulu dengarkan aku terlebih dahulu, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu".
"Apalagi yang perlu dijelaskan kepadaku? Aku sudah mengetahuinya, kau pasti akan mengatakan hal yang sama seperti apa yang selalu Ayahku katakan kepadaku, kau pasti menyuruhku untuk meyakinkan diriku bahwa Panji memang masih ada, begitu kan?".
"Aku tidak menyuruhmu untuk meyakininya, tapi aku menyuruhmu percaya bahwa Panji ada didepanmu sekarang ini". Ucap Panji sambil memegangi pundak Indah dengan kedua tangannya.
"Maksudmu apa?".
__ADS_1
"Maafkan aku, karena telah menyembunyikan identitas asliku darimu selama ini, apa yang telah dikatakan oleh Ayahmu memang benar bahwa kau benar benar mencintai Panji kecilmu itu, aku adalah Panji anak dari Kuswanto dan Rahayu yang keluarganya sudah dibantai habis".
Bhuk... Bhuk... Bhuk...
Indah melontarkan beberapa pukulan kepada dada Panji, pukulan itu memang tidak menyakiti tubuhnya akan tetapi rasa bersalah itu berhasil menyelimuti hatinya yang begitu mendalam, sakit itu mampu dirasakan oleh Panji sehingga dirinya begitu ikhlas ketika Indah melontarkan pukulan pukulan itu kepadanya.
"Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau harus berbohong kepadaku? Kau tau, kebohonganmu itu begitu sangat menyakiti diriku Panji, kenapa kau harus berpura pura tidak mengenaliku seperti itu? Hatiku begitu sakit ketika kau mengatakan bahwa Panjiku sudah tiada waktu itu, kenapa kau mengatakan itu Panji! Jika Paman Wanto ada disini, aku akan mengadukan semuanya kepada dirinya agar kau dihukum olehnya". Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Indah kepadanya.
"Jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu sebelumnya, aku tidak tau lagi apa kau masih mampu menerima diriku atau tidak, karena aku adalah seorang pembunuh, aku berbeda jauh dengan apa yang kau kenal selama ini, ketika kau mengetahui bahwa aku sudah membunuh beberapa orang waktu itu, kau begitu marah kepadaku dan mengatakan bahwa aku bukanlah manusia dan tidak memiliki hati nurani saat itulah aku memutuskan untuk mundur".
"Maafkan perkataanku waktu itu, aku tidak sengaja mengatakan hal tersebut kepadamu, dan aku sangat menyesalinya, kau tau aku sangat takut untuk mengatakan hal itu".
"Kamu tidak salah Indah, yang salah adalah diriku karena sudah membunuh banyak orang dihadapanmu waktu itu kau pasti merasa begitu trauma ketika melihat hal itu terjadi didepan mata kepalamu sendiri, sejak kematian dari kedua orang tuaku, aku sama sekali tidak bisa berfikir dengan jernihnya seakan akan semuanya terasa begitu kejam, mereka membunuh orang tuaku dengan begitu keji, dengan teganya mereka menggantung jenazah Ibuku diatas pohon, hal itu membuatku berpikir bahwa mereka tidak berhak untuk mendapatkan ampunan seperti apa yang mereka perbuat kepada kedua orang tuaku".
"Apa yang sebenarnya kau alami selama ini? Kenapa ujianmu begitu berat, maafkan aku yang tidak mampu untuk mengerti dirimu, jika aku yang berada diposisimu mungkin tidak akan mampu menjadi setegar dirimu Panji".
"Aku menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuaku tidak berdaya didepan mataku sendiri dan nyawanya direnggut dihadapanku, disaat itulah pikiranku menjadi kacau dan aku tidak bisa berpikir dengan jernihnya sehingga diriku mampu membunuh begitu banyak orang tanpa perasaan bersalah sedikitpun itu dan dari itulah aku sangat menikmati sebuah pembunuhan".
"Itulah sebabnya kau tidak mengenaliku waktu itu? Apa kau pikir hanya dirimu yang tersakiti dalam hal ini selama ini? Kau salah Panji, aku, Ayah dan Ibu begitu merasa kehilangan ketika mengetahui bahwa keluargamu telah dibantai oleh seseorang".
"Kau benar, tidak seharusnya diriku muncul kembali disaat ini, dan membuat orang orang yang ada disekitarku sedih karena kehadiranku".
"Dimana Panji yang aku kenal selama ini? Kenapa sekarang dirimu begitu rapuh seperti ini? Bangkitlah Panji, kembalilah seperti dulu yang selalu aku rindukan disiang maupun dimalam hari".
"Aku akan berusaha untuk kembali seperti dulu".
Sementara Panji merasa begitu bahagia ketika Indah mampu menerima dirinya tidak seperti yang ia bayangkan selama ini, mungkinkah kesendiriannya akan berakhir disini dengan sikap kejamnya dan juga sadisnya dirinya.
"Seperti apa yang diinginkan oleh kedua orang tua kita sebelumnya, aku akan meminta restu kepada kedua orang tuamu untuk menikahimu Indah". Ucap Panji tiba tiba kepada Indah.
"Apa kau serius Ji?".
"Ada apa Indah? Apa kau tidak siap menikah denganku? Ataukah kau tidak setuju dengan hal itu?". Tanya Panji ketika melihat wajah Indah.
"Bukan begitu, aku hanya merasa senang dengan apa yang kau katakan itu".
Panji berinisiatif untuk mendatangi rumah Indah untuk menemui kedua orang tuanya dan meminta restu dari mereka, akan tetapi ketika dirinya sampai didepan rumah Indah, mereka hanya menemukan Ibu Indah yang sama sekali tidak mengenali sosok Panji.
Karena keduanya tidak ingin terjebak dalam sebuah zina yang akan merugikan keduanya, hal itu membuat Panji segera meminta restu kepada kedua orang tua Indah untuk menikahi putrinya.
"Apa kau serius dengan niatmu itu Nak?". Tanya Ibunya Indah dengan begitu terkejut karena niat Panji untuk memperistri putrinya.
"Iya Bibi, jika Bibi berkenan untuk menerima saya sebagai menantu Bibi, saya hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak memiliki keluarga ataupun saudara, dan saya hidup sebatang kara selama ini, tapi saya mempunyai cinta yang tulus untuk anak perempuan kalian". Ucap Panji.
Ibu Intan masih merasa ragu untuk menerima lamaran putri dari seseorang yang ada didepannya sebagai menantu, melihat dari fisiknya pemuda itu bukanlah orang biasa akan tetapi melihat dari pakaiannya seakan akan pemuda itu memang hidup sebatang kara karena banyaknya tembelan yang ada dipakainya itu.
"Apakah hanya dengan cinta kalian bisa bahagia? Untuk apa cinta jika dirimu tidak bisa memberi nafkah kepada anakku". Ucap Ibunya Indah.
__ADS_1
"Ibu!! Apa yang Ibu katakan kepada Panji?". Sela Indah ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Ibunya itu.
Ibu Indah segera menolak lamaran Panji yang sedang meminta restu kepadanya, Ibu Indah melihat penampilan dari Panji yang seperti orang jalanan itu hal itu membuatnya tidak bisa memberikan anak gadisnya untuk orang seperti Panji.
"Ibu hanya ingin dirimu bahagia Nak dan mendapatkan sosok suami yang baik untuk dirimu, Ibu sudah menjodohkan dirimu dengan pemuda pilihan Ibu yang jauh lebih baik daripada dia". Ucapnya sambil menunjuk kearah Panji.
"Tapi kebahagiaanku hanya dengan Panji Ibu, aku tidak mau yang lainnya aku hanya menginginkan Panji". Bantah Indah dengan ucapan Ibunya.
"Jangan membantah Ibumu, dia hanya menginginkan yang terbaik untukmu, aku juga tidak ingin kau hidup sengsara dengan diriku ini dan biarkan diriku saja yang mundur dari hidupmu sebelum semuanya menjadi terlalu dalam untuk kita berdua". Ucap Panji menghentikan perkataan Indah.
"Tidak Panji, jangan tinggalkan aku lagi untuk kedua kalinya, aku mohon kepadamu".
"Tidak Indah, biar bagaimanapun juga, syurga seorang anak berada dibawah telapak kaki Ibunya, dan syurgamu masih berada dibawah telapak kakinya karena dirimu belum memiliki seorang suami dalam hidupmu".
Syurga dan ridho Illahi seorang anak gadis masih tetap berada dibawah telapak kaki kedua orang tuanya sampai dirinya menikah, akan tetapi setelah menikah maka dibawah telapak kaki suaminyalah syurga dan ridho Illahi berada.
Hal itu berlawanan bagi seorang pria, entah sebelum menikah ataupun sesudah menikah, syurga dan ridho Illahi masih tetap berada ditelapak kaki seorang Ibu.
Panji segera undur diri dari tempat itu, ia tidak ingin anak dan ibu itu bertengkar hanya karena dirinya yang menginginkan Indah untuk menjadi istrinya, Indah sama sekali tidak bisa menghentikan langkah kaki Panji yang bersiap siap untuk pergi dari rumahnya itu.
Ketika tubuh Panji sudah tidak mampu dilihat oleh Indah, hal itu membuat Indah meneteskan air matanya menangisi kepergian dari Panji, ia tidak menyangka bahwa Ibunya akan mengatakan seperti itu kepada Panji.
"Ibu jahat". Ucap Indah yang langsung bergegas untuk masuk kedalam kamarnya.
Ibunya segera mengejak Indah yang tengah masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari luar, beberapa kali Ibunya mengetuk pintu kamar Indah akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Nak, Ibu melakukan ini hanya untuk kebaikanmu Nak, dia bukan orang yang baik, pemuda itu bukan yang terbaik untukmu, lihat saja bagaimana caranya berpakaian seperti itu, dan banyaknya luka sayatan ditubuhnya, itu artinya pemuda itu pemuda yang gila pertarungan, bagaimana nantinya jika dia menjadi suamimu Nak?".
Tidak ada jawaban apapun dari dalam, Indah sedang menangis dibalik bantalan dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya kepada Panji sebelumnya, ia merasa telah gagal untuk memiliki Panji hanya karena tidak mendapatkan restu dari Ibunya.
Tak beberapa lama kemudian, Ayahnya datang dan merasa begitu panik ketika melihat istrinya mengetuk pintu kamar anaknya dengan wajah sangat panik.
"Ada apa ini Dek? Apa yang terjadi dengan Indah?".
"Dia mengunci diri didalam Mas". Jawab Ibunya dengan begitu panik karena anaknya yang mengurung diri didalam kamarnya.
"Kenapa bisa begitu Dek? Apa yang terjadi dengan Indah? Kenapa dia tiba tiba mengunci diri seperti ini? Indah tidak pernah melakukan ini sebelumnya".
Tok tok tok
"Nak buka pintunya, ini Ayah".
Tok tok tok
"Nak? Dengarkan Ayah, jangan mengunci diri seperti ini Nak, keluarlah, sini ceritakan semuanya kepada Ayah, Ayah akan mendengarkannya".
Ayahnya terus mengetuk pintu kamar Indah, akan tetapi tidak ada jawaban juga dari dalam, keduanya begitu panik ketika mengetahui bahwa Indah tidak sama sekali menjawabnya.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya ...