Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Murid baru


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, pernikahan itu telah selesai dilaksanakan Rendi dan Sena telah resmi menjadi suami istri. Nadhira dan Amanda menjadi adik kakak, Amanda lebih muda daripada Nadhira sehingga Amanda adalah adik dari Nadhira.


Sena memperlakukan Nadhira seperti anaknya sendiri ketika didepan Rendi, sementara ketika ia dibelakang Rendi, Sena berubah tiba tiba dan lebih jahat daripada iblis.


Sena berserta anaknya selalu memperlakukan Nadhira dengan semena mena, jikalau Nadhira membantah keinginannya maka pukulan yang akan ia terima.


Dan bahkan untuk makan saja, ibu tirinya hanya memberikan nasi dan garam saja. Pernah Nadhira menolaknya tetapi alhasil ia tidak diberi makan dalam satu hari, Nadhira ingin menangis tetapi tiada airmata yang keluar.


Ketika ia melakukan kesalahan maka bercak biru memenuhi seluruh tubuhnya akibat pukulan dari kayu yang ia terima, hal itu membuat Nadhira menjadi begitu diam disekolahnya. Meskipun Clara membuat ulah ia tetap diam tanpa membalasnya, bagi Nadhira itu tidak ada apa apanya daripada perilaku ibu tirinya kepadanya.


Kini usia Nadhira menginjak 15 tahun ia hampir naik kekelas 3 SMP. Dengan diam diam Nadhira masih tetap belajar beladiri dibimbing oleh Aryabima, kakek dari Rifki. Mengingat keinginan Nadhira untuk belajar beladiri, Rifki meminta kakeknya untuk mengajarinya secara privat meskipun hal tersebut mendapat penolakan keras dari kakeknya, Rifki terus membujuk kakeknya dan akhirnya mau mengajarkan beladiri kepada Nadhira. Nadhira selalu berlatih ketika pulang sekolah dan menghafal jurus jurusnya dirumah agar ketika ia pulang, Rendi belum pulang dari kerjanya.


Ibu tirinya tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan Nadhira diluar sekolah, yang ia tau adalah menikmati uang hasil kerja suaminya.


"Nadhira bersihkan lantai!!! Kenapa ini begitu kotor?"


"Nadhira cuci semua baju, piring, aku mau belanja, awas aja kalo semuanya belum selesai".


"Nadhira lama amat sih, huekk... Masakan apa ini, ngak enak sekali"


Begitulah komentar ibu tirinya setiap hari, ia selalu memaki Nadhira walaupun Nadhira hanya tidur sebentar untuk memulihkan kelelahannya setelah membersihkan rumah dan lainnya.


Waktu itu dikelas Nadhira, Nadhira sedang berbincang bincang dengan Vina. Tiba tiba seseorang memasuki kelas mereka, rambutnya kriting gantung dan berkacamata.


Nadhira dan Vina melirik kearah anak itu, anak itu berjalan didepan dengan perasaan gugup dan kurang percaya diri. Ia memperkenalkan bahwa ia adalah murid baru yany ada dikelas itu, namanya Widya. Nadhira hanya melirik sekilas dan melanjutkan mengobrolnya dengan Vina.


Widya segera duduk setelah memperkenalkan namanya, tetapi banyak siswa yang menolak untuk duduk bersamanya. Nadhira menyarankan agar widya duduk dibelakangnya karena masih ada kursi kosong.


Tidak ada yang menolak saran dari Nadhira, semua murid takut padanya karena hanya ia yang berani menentang ucapan Clara.


Beberapa bulan terakhir setelah mempelajari seni beladiri, Nadhira sering berantem dengan Clara. Nadhira tidak ingin ia ditindas terus menerus oleh Clara, oleh sebab itu Nadhira sering dipanggil keruang BK karena berkelahi dengan Clara.


"Namanu Widya kan? Apa kamu tidak salah masuk kelas ini? Dikelas ini kamu jangan macam macam!! Ingat itu!!".


Nadhira memperingatkan Widya tentang kelas ini, jika Widya salah langkah maka ia akan terlibat dalam pembulian. Widya hanya menunduk mendengar peringatan dari Nadhira, pelajaran berjalan dengan lancar.


"Wid, kamu mau ikut kami kekantin bersama?". Tanya Nadhira.


"Tidak terima kasih, aku bawa bekal".


"Baiklah, hati hati dikelas". Nadhira berbicara secara serius kepada Widya.


Widya mengeluarkan bekalnya dari dalam tas, Nadhira berserta teman temannya bergegas kekantin untuk makan siang bersama dengan yang lainnya.


"Eh... Murid baru itu sok sekali ya, ngak tau apa dikelas itu ada zombie". Ucap Vina.


"Lah iya, belum tau aja dia". Tambah Reta

__ADS_1


"Sudahlah, biarkan saja dia, mungkin ini akan menjadi pelajaran baginya, kurasa dia sedikit cupu, tapi kasihan juga kalau dia sampai bertemu dengan Clara". Nadhira mencoba menenangkan kedua temannya.


Setelah sampai dikantin mereka berhenti membahas tentang Widya, mereka melanjutkan dengan mengobrol tentang masalah yang lainnya. Belakangan ini Nadhira jarang berkumpul bersama Rifki dan lainnya, Nadhira lebih bayak menghabiskan dengan teman teman sekelasnya.


*****


"Wih enak nih, bagi dong".


Setelah kepergian Nadhira berserta gengnya, Widya mengeluarkan bekalnya dan ketika hendak memakannya tiba tiba Clara mendekatinya dan mengambil kotak makannya.


"Tapi kan itu bekalku". Widya berusaha mengambil bekalnya kembali.


"Pelit amat sih jadi orang".


Clara tidak langsung memberikannya kembali kepada Widya, ia langsung menuang bekal itu kelantai, dan menginjak injaknya. Theo yang melihat itu hanya menatap sekilas dan melanjutkan perjalanannya keluar kelas, Widya yang melihat bekalnya berceceran membuatnya meneteskan airmata.


"Nih makan!! Makan!! Kamu tuh ya murid baru disini, jangan pernah melawan kami,, ngerti!!". Ucap Clara dengan emosi, sambil menunjuk nunjuk kekepala Widya.


Clara mendorong tubuh widya hingga terjatuh didekat tumpahan bekal tersebut, bekal tersebut terkena sapuan baju Widya hingga membuat bekal tersebut berceceran dimana mana.


Dengan perasaan sedih, widya mengambil bekal yang berceceran tersebut dan memasukkannya kedalam kotak bekal yang ia bawa. Ucapan Nadhira kepadanya terbayang bayang dikepalainya, kini ia memahami apa yang diucapkan oleh Nadhira sejak ia bertemu tadi pagi. Setelah selesai memunguti bekal tersebut, Widya langsung menyapu lantai itu.


Beberapa menit kemudian, widya membawa kotak bekalnya keluar dari kelas dan menuju ketempat dimana tong sampah berada. Ketika ia hendak membuang makanan itu ia teringat pesan dari ibunya.


" Nak jangan pernah membuang makanan, diluar sana masih banyak orang yang tidak mampu untuk makan, kita harus bersyukur karena masih dapat makan untuk saat ini"


Ketika Widya hendak memasukkan nasi kedalam mulutnya, tangan Widya dicegah oleh Nadhira. Nadhira merebut bekal tersebut dari tangan Widya, Widya memandang Nadhira dengan tatapan yang rumit tuk diartikan.


"Tolong jangan ambil makananku! Nanti perutmu sakit, makanan itu sudah kotor". Widya memelas kepada Nadhira.


"Sudah kotor? Maksudmu apa?". Tanya Nadhira yang penasaran.


"Seseorang tadi membuangnya kelantai, dan aku memungutnya".


"Kau melarangku untuk memakan ini, sedangkan kau sendiri henak memakannya, lelucon macam apa ini ha?". Bentak Nadhira.


Widya hanya mampu diam membisu didepan Nadhira. Nadhira tetap merebut bekal itu dan melemparnya tepat didada Clara. Pandangan keduanya bertemu dan emosi hampir menguasai keduanya.


"Maksudmu apa ha?" Bentak Clara


"Kau yang melakukannya dan kau sendiri bertanya maksudku apa?".


Keduanya memulai berdebat lagi, Widya yang melihat itu ia langsung menarik tangan Nadhira tetapi langsung dilempar oleh Nadhira hingga membuatnya termundur.


Ketika kendak mendekati Nadhira lagi, Reta datang dan menarik tangan, Reta menggelengkan kepalanya beberapa kali itu adalah sebuah kode bahwa Widya lebih baik tidak menghalangi keduanya. Melihat hal itu Widy menurut pada Reta dan menjauh dari lokasi tersebut.


"Apa kau yang membuat masalah? Kenapa kau bisa berselisih dengan Clara?". Tanya Reta penasaran.

__ADS_1


"A... Aku... Aku tidak tau, anak itu". Menunjuk kearah Clara, "tiba tiba membuang bekalku".


"Ini pelajaran bagimu, jangan membuat masalah dengan anak itu, jikalau kau tidak ingin mengalami hal yang lebih buruk".


Jarak antara kantin dan kelas Nadhira cukup dekat. Ketika Nadhira dan teman temannya sedang menikmati makan siangnya, tiba tiba mereka mendengar seseorang bercerita tentang murid baru yang ada dikelasnya saat ini.


Nadhira mendekati beberapa murid yang tengah membicarakan murid baru yang ada dikelasnya. Mereka menceritakan tentang bahagimana Clara membuang makanan milik Widya dengan detail. Bukan hanya dibuang tetapi Clara juga menginjaknya, mendengar cerita tersebut seketika emosinya keluar dan bergegas menuju kelasnya.


Ketika jarak antara Nadhira dan Widya menulis, Nadhira dapat melihat bahwa nasi tersebut sudah kotor. Pandangan widya saat itu tengah kosong, ketika melihat Widya hendak menyantap makanan tersebut Nadhira segera merebutnya.


Perkelahian tidak dapat dihindarkan lagi, hingga seseorang memegang satu persatu tangan mereka berdua.


"Kalian berdua!!! Ikut saya kekantor!!!". Ucap seorang guru olah raga.


"Lepaskan tangan saya, saya bisa jalan sendiri!!". Bentak Clara.


Clara bergegas kearah kantor, mereka semua yang ada disitu keheranan dengan sikap Clara. Nadhira memandang tangannya dan wajah gurunya secara bergantian. Nadhira berdehem pelan, membuat gurunya mengalihkan pandangan kepadanya.


"Saya masih bisa berjalan sendiri pak"


Seketika membuat guru olah raga tersebut melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Nadhira. Bagi mereka bedua berakhir diruang BK adalah sebuah kebiasaan, sehingga mereka sudah merasa biasa saja ketika dipanggil kekantor.


Nadhira berjalan kearah kantor, ketika ia berpapasan dengan Reta dan juga Widya, Nadhira menghentikan langkahnya dan berbalik menatap keduanya.


"Ajak dia kekantin, masalah uang biar nanti aku ganti". Ucap Nadhira.


"Iya Dhir, kamu tenang saja". Ucap Reta sambil tersenyum.


"Maafkan aku, karena aku kamu berantem dengan dia". Kristal bening tiba tiba keluar dari mata Widya.


Nadhira tersenyum mendengar hal itu. "Lain kali jangan membuat masalah, karena aku tidak bisa setiap hari melindungimu".


Ctaarrr


Sebuah rotan kayu mendarat dikaki kanan Nadhira, Nadhira merasakan sakit itu sambil memejamkan kedua matanya. Ia menghela nafas dalam dalam dan memandang kearah seseorang yang telah mendaratkan pukulan rotan kepadanya.


Nadhira tersenyum kearah orang itu, pukulan itu meninggalkan bekas garis panjang berwarna merah dikulit Nadhira. Pukulan kedua pun mendarat dan membuat Nadhira berlutut dilantai.


"Akh... Jika bapak memukul ku lagi aku tidak bisa jalan lagi pak, apa bapak mau menggendongku kekantor? Kalau tidak aku tidak bisa berjalan kekantor". Keluh Nadhira.


Guru tersebut diam membisu beberapa menit. Ia memandang kearah Nadhira dengan heran, Nadhira terus bersikap kesakitan terhadap pukulan yang ia terima, dan sesekali mengeluh tentang perilaku gurunya kepadanya.


Ketika Nadhira terus mengomel tentang sikap gurunya, gurunya tiba tiba menarik telinga Nadhira sehingga membuatnya bangkit berdiri, Nadhira terkejut atas sikap yang diambil oleh gurunya, dan ia reflek berteriak.


"Berapa lama lagi kau akan pura pura Dhira?". Tanya guru tersebut.


Nadhira tersenyum canggung ketika gurunya mengetahui tentang rencananya untuk menunda pergi kekantor, tanpa banyak bicara, ia meraih kedua tangan Nadhira seolah olah Nadhira adalah tahanannya.

__ADS_1


__ADS_2