Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
kau tak pantas untuk menamparku


__ADS_3

Sepulang sekolah Nadhira tidak langsung pulang, ia tetap duduk dibangkunya menunggu teman temannya pulang. Nadhira juga mengerjakan tugas rumahnya disekolah, melihat hal itu widya juga tidak pulang, ia ingin membantu Nadhira menyelesaikan tugasnya.


"Nadhira bukankah ini sudah waktunya pulang? Kenapa kamu masih belum pulang juga?".


"Ngak papa wid, kamu pulang duluan saja, orang tuamu pasti mencarimu jika tidak kunjung pulang"


"Tapi Nadhira, kalau aku pulang kamu pasti sendirian disini, biar aku temani, tadi mamaku bilang mama mau pergi kerumah saudara siang ini, jadi dirumah tidak ada orang".


"Bagaimana ini? Widya tidak mau pulang juga". batin Nadhira. "Eh iya wid, kue buatanmu enak lo. Bisa buatkan aku lagi? Aku mau beli, nanti sore anterin kerumahku ya"


"Nanti sore? Kayaknya ngak bisa Nadhira"


"Kenapa?".


"Kan sekarang aku masih disekolah, waktunya juga mepet"


"Kamu pulang dulu an aja, buatkan aku kue"


Nadhira terus membujuk Widya agar ia segera pulang dan membuatkannya kue, setelah lama bercakap cakap akhirnya Widya setuju untuk pulang lebih dulu. Setelah selesai membereskan buku bukunya, widya bergegas pergi dari kelas itu


"Hah... Akhirnya ia pulang juga", Nadhira menghela nafas ketika melihat widya berjalan menjauh darinya.


Setelah sosok widya tak lagi dapat dilihat oleh Nadhira, Nadhira bergegas pulang, dengan susah payah ia berjalan keluar dari kelasnya. Didepan gerbang nampak sosok Rifki yang berdiri tegak menatap kearah dimana Nadhira berjalan dengan pincang.


Ketika jarak antara keduanya menipis, tatapan Nadhira yang sebelumnya menatap kedua kakinya kini beralih menatap sosok yang ada didepannya. Tatapan keduanya bertemu Nadhira segera menundukkan kepalanya.


"Rifki". Guman Nadhira pelan.


"Kamu kenapa Dhir? Kenapa kemarin tidak datang? Aku sudah menunggumu sangat lama tapi kamu tak kunjung datang, kakimu kenapa? Kamu cidera? Jatuh?"


"Aku ngak papa Rif, maaf untuk yang kemarin"


Nadhira melangkah melewati Rifki begitu saja, hatinya berdebar ketika ditatap oleh Rifki terlalu lama. Nadhira menambah kecepatan jalannya saat mengetahui bahwa Rifki tengah mengejarnya, begitu juga Rifki, ia merasa ada yang aneh dengan Nadhira.


"Akh..."


Tiba tiba rasa sakit di persendian Nadhira bertambah membuat ia menjerit kesakitan. Ketika Nadhira hendak terjatuh, Rifki bergegas menangkapnya. Rifki mengangkat tubuh Nadhira dengan mudahnya dan mendudukkannya dibangku taman sekolah. Nadhira berusaha melepaskan diri dari gendongan Rifki tetapi tidak berhasil juga.


"Nadhira apa yang terjadi padamu?"


"Kenapa kau begitu memperdulikanku Rif? Aku ngak papa, hanya luka kecil saja".


"Apa yang kau katakan Nadhira? Sudahlah sini biar aku lihat lukamu".


"Tidak, biarkan aku pulang, nanti juga sembuh sendiri"


"Dhira!!!"


Rifki terus memaksa melihat persendiannya, ia menemukan bahwa lutut Nadhira membengkak dan berubah warna menjadi biru. Ia begitu terkejut ketika melihat luka memar yang dimiliki oleh Nadhira, bukan hanya disebelah kiri tetapi disebelah kanan juga, luka yang sama persis.

__ADS_1


"Kamu habis dipukul dhira? Siapa yang berani memukulmu?"


"Aku hanya terjatuh Rif, bukan luka yang serius"


"Dhira! Ini serius Dhir bagaimana kalau lukamu bertambah parah".


Nadhira hanya tersenyum dan berusaha untuk bangkit dengan bantuan dari Rifki. Nadhira ingin menangis ketika ia berusaha bangkit dan persendiannya bertambah sakit, ia menghela nafas panjang dan menahan airmatanya yang hendak terjatuh.


"Biar aku antar pulang Dhir, aku ngak tega lihat kamu seperti ini"


"Maaf merepotkanmu, tapi aku bisa pulang sendiri kok Rif"


"Bagimu aku siapamu Dhira? Mengapa kau tidak mau aku membantumu? Apa kau anggap aku sebagai musuhmu? Kita sudah lama berteman, apakah mungkin aku bukan temanmu lagi?". Ucap Rifki dengan marah.


"Rif, jangan terlalu kasar dengan wanita, bisa bisa ia makin kesal denganmu". Terdengar suara ditelinga Rifki, ia menoleh kekirinya dan menemukan Raka berada disebelahnya.


"Maaf Dhira, aku salah, tidak seharusnya aku marah padamu".


Rifki menyadari perubahan sikap Nadhira, ketika ia memarahi Nadhira. Nadhira hanya diam ketika dimarahi oleh Rifki, ia merasa bersalah kepadanya. Nadhira menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Rifki, airmatanya jatuh tak tertahankan.


"Dhira, maaf! Tolong jangan nangis, kita kan sahabat Nadhira, jika ada masalah ceritalah kepadaku, aku akan berusaha untuk membantu, tapi tolong jangan sembunyikan apapun dari kita, aku.. kamu.. Bayu.. dan Susi adalah sahabat dari kecil, jika ada masalah maka semua akan membantu, apa kamu lupa dengan janji kita dahulu?"


"Maafkan aku Rif, aku telah mengkhianati janji persahabatan diantara kita, tapi untuk saat ini aku tidak bisa menceritakan semuanya".


"Setidaknya biarkan aku membantumu, mungkin rasa sakitmu akan berkurang"


Rifki mendudukkan Nadhira kembali, ia mengoleskan minyak urut kepada lutut Nadhira. Rasa hangat terasa di persendian lutut Nadhira, dan sesekali Nadhira mengepalkan tangannya ketika Rifki mengurut kakinya.


"Terima kasih"


Rifki membalas dengan senyuman, selesai memijat Rifki mengantarkan Nadhira pulang


****


Didalam rumah Sena beserta anaknya sedang duduk diruang tamu, tak lama kemudian Nadhira pulang dengan dipapah oleh Rifki. Sena terpanah ketika melihat wajah Rifki yang begitu tampan menurutnya.


"Siapa itu ma?". Tanya Amanda


"Mama juga ngak tau manda"


"Aku ingin mendapatkannya ma, bantu aku ma". Rengekan Amanda.


"Mama akan coba pikirkan caranya"


Setelah kepergian Rifki Nadhira membuka pintu rumahnya dan menemukan bahwa mama tiri dan saudara tirinya tengah berdiri tegak dibalik pintu.


"Ada apa ma?"


"Siapa itu tadi yang ngantar pulang"

__ADS_1


"Dia sahabat ku sejak kecil ma, papa juga kenal dengan dia kok"


"Mama ngak suka kamu deket dengan dia, jauhi dia"


"Tapi ma! Apa salahnya",


"Ohh... Sekarang kamu berani membatah!"


Sena menampar Nadhira dengan keras, darah keluar dari bibir Nadhira. Nadhira memegangi pipinya yang kebas karena tamparan dari mama tirinya, matanya memerah karena menahan sakit yang ia rasakan.


Setetes bulir airmata terjatuh, rambut yang terurai indah menjadi kusut seketika. Suara langkah kaki terdengar mendekati mereka.


"Ada apa ini dek? Mengapa Nadhira menangis?". Tanya Rendi ketika melihat Nadhira meneteskan air mata


"Ah... Mas kok sudah pulang? Bukannya sekarang masih ada meeting?". Jawab Sena.


"Dek kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa Nadhira menangis?" Ucap Rendi


"Ini... Nadhira tadi berantem disekolahnya, aku mau mengobatinya tapi ia terus menolak"


"Nadhira.. mama Sena sudah menjadi mama kamu, kenapa kamu tidak patuh kepadanya, minta maaf kepadanya sekarang". Rendi menatap Nadhira.


"Tidak akan pa!!"


"NADHIRA!!". Bentak Rendi.


"Sudahlah mas, Nadhira kan masih kecil, tidak sebaiknya membentaknya seperti itu, sini sayang biar mama obati". Ucap lembut Sena kepada Nadhira.


Nadhira menghela nafas panjang, ia sudah terbiasa mendengar mama tirinya bersikap manis kepadanya hanya didepan papanya.


Sena memeluk tubuh Nadhira dan membantunya untuk berjalan menuju kekamar Nadhira. Sesampainya dikamar Sena mengunci pintu dari dalam dan mendorong tubuh Nadhira hingga terjatuh dilantai.


"Mulai sekarang, kau tidak diizinkan untuk keluar dari kamar ini! Kecuali pergi kesekolah, mengerti kamu!"


"Hahaha.... Kenapa? Hanya didepan papa kau bersikap manis, tetapi dibelakangnya kau berubah seperti monster yang keji". Nadhira tertawa mendengar ucapan Sena, tawa yang mengandung penuh kesedihan.


Sena merapatkan giginya dan mengayunkan tangannya untuk menamparnya kembali, tetapi tangan sena segera ditangkap oleh Nadhira. Pandangan keduanya bertemu, tercipta senyum mengerikan diwajah Nadhira, membuat Sena semakin kesal.


"Kenapa mama? Mau menamparku lagi?". Nadhira menggenggam tangan Sena begitu kuat membuatnya merasa kesakitan, melihat Sena kesakitan membuat Nadhira tersenyum tipis. "Apakah ini sakit?" Nadhira melempar tangan sena begitu kerasnya sehingga terdengar suara seperti tulang yang remuk.


"Akhhh.... Beraninya kau melakukan ini kepadaku, lihat saja nanti..." Ancam Sena


"Tanganmu begitu lemah ma, tidak pantas untuk menamparku".


Sena berniat untuk pergi dari kamar Nadhira, ia mencari kunci pintu kamar Nadhira disakunya tapi tidak ia temukan, ia begitu bingung dan ketakutan. Nadhira tertawa dan mengangkat tangannya, terlihat kunci kamarnya menggantung ditangan Nadhira.


"Mencari ini". Ucap Nadhira


Sena membalikkan badan kearahnya. Dan menemukan Nadhira tengah duduk ditepi tempat tidurnya sambil memainkan kunci ditangan kanannya. Sena berteriak kekuat yang ia bisa agar suaminya mendengar dan menolongnya.

__ADS_1


"Hahaha.... Apa mama lupa? Kamarku ini kedap suara? Kau sendiri yang meminta menjadikan kamar ini seperti ini, agar ketika kau menghajarku tidak ada yang dapat mendengarnya bukankah begitu mama". Tawa Nadhira sungguh menakutkan.


Sena merabah sakunya, ia mengambil botol kecil yang selalu ia bawa dan membuka tutupnya. Ia mencipratkannya ketubuh Nadhira, seketika membuat jantung Nadhira berdetak begitu kencangnya hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


__ADS_2