
Rifki dan lainnya sedang berjalan menuju area dimana tempat mereka parkir, tidak ada percakapan diantara ketiganya ketika ketiganya sedang berjalan menuju area parkir, Fajar yang juga parkir ditempat yang sama dengam Rifki mengikuti Rifki dalam diamnya.
Belum sampai ke area itu, tapi Rifki segera menghentikan langkah kakinya, hal itu membuat Nadhira dan Fajar ikut berhenti ditempat itu dengan kebingungan yang tiba tiba karena apa yang dilakukan oleh Rifki.
Nadhira menjatuhkan pandangannya dimana Rifki menatap saat ini, Nadhira tidak dapat melihat apapun yang mampu membuat Rifki berhenti dengan tiba tiba.
"Ada apa Rif?". Tanya Nadhira dan Fajar bebarengan.
Nadhira dan Fajar saling berpandangan dengan pertanyaan yang menyelimuti perasaannya, sehingga membuat keduanya merasa begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rifki.
"Perempuan itu, ada dihadapan kita saat ini". Jawab Rifki sambil menatap kedepannya.
Ketika Rifki sedang berjalan tiba tiba dirinya dihadang oleh sosok perempuan yang ia maksud dihadapan sehingga dirinya menghentikan langkahnya tepat dihadapannya saat ini.
Fajar yang mendengar itu segera merapatkan dirinya kepada Rifki sambil menggenggam baju Rifki dengan eratnya, ia belum terbiasa tentang hal hal seperti itu.
"Tolong saya, biarkan saya tenang". Rintihan perempuan itu dan hanya Rifki yang bisa mendengarnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan keluarga dia tidak menerimaku untuk membantunya". Ucap Rifki seperti merasa bersalah.
"Wanita itu begitu jahat, ia tega merebut nyawa saya tanpa belas kasih, apalagi saya masih memiliki seorang adik yang menjadi tanggung jawab saya setelah kepergian kedua orang tua saya".
"Baiklah, aku akan berusaha untuk mengungkapkan misteri dibalik kematian dirimu".
Setelah selesai mengucapkan hal itu, sosok perempuan itu tiba tiba menghilang dari pandangan Rifki, Rifki merasa bimbang harus bagaimana caranya untuk menolong perempuan itu.
"Ada apa Rif? Apa yang dikatakan oleh perempuan itu kepadamu?". Tanya Nadhira ketika melihat kebimbangan diwajah Rifki.
"Kita harus menolongnya dan mengungkap misteri dibalik kematiannya".
Rifki menceritakan kepada keduanya mengenai apa yang terjadi kepada perempuan itu sebelum perempuan itu meninggal dunia, Rifki dapat mengetahuinya melalui mata batinnya yang mampu melihat kejadian kejadian sebelumnya.
Nadhira nampak terkejut dan merasa marah tiba tiba dengan apa yang ia dengar dari ucapan Rifki, sementara Fajar nampak begitu sedih setelah mendengarkannya, bagaimana bisa hal seperti itu terjadi sementara tidak ada pihak polisi yang menyelidikinya.
"Kasihan sekali perempuan itu". Guman Fajar setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Rifki. "Lalu apa yang akan kamu lakukan Rif?".
"Menunggu perempuan itu memberi petunjuk, aku akan terus mengawasi keluarga itu".
Nadhira hanya diam membisu setelah mendengar cerita tersebut, melihat Nadhira yang tak lagi semangat seperti sebelumnya membuat Rifki merasa bimbang entah apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Ada apa Dhir?". Tanya Rifki kepada Nadhira yang sedari tadi tengah membisu.
"Ngak papa Rif, hanya saja merasakan kesedihan dari perempuan itu, aku juga perempuan jadi aku bisa merasakan seperti apa yang ia rasakan saat itu, seandainya aku diposisi perempuan itu aku tidak mungkin dapat setegar itu". Nadhira berkata dengan terlihat sebuah kesedihan dibalik ucapannya.
"Sudah jangan dipikirkan terlalu dalam, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan?". Tanya Rifki dan dibalas anggukan oleh Nadhira.
"Eh kalian mau kemana?". Tanya Fajar.
"Mau kencan lah, emang mau apalagi, mau ikut?". Jawab Rifki dengan entengnya menanggapi pertanyaan dari Fajar.
"Cih... Kencanlah sendiri jangan ajak ajak, emang kau pikir aku mau jadi obat nyamuk gitu?". Dengus Fajar ketika mendengar kata kencan. "Mending aku kencan sendiri dengan nyamuk huh".
Fajar dengan kesalnya mendahului keduanya untuk menuju ketempat parkir, ia ingin segera pulang dan membaringkan tubuhnya dikasur miliknya karena rasa lelah yang mulai melanda, mungkin hanya dirinya yang merasakan demikian.
"Mentang mentang sudah ada gandengan, kencan ngajak ngajak, emang dipikir siapa dia, cih.. dasar lelaki bucin, kencan teross.. kencan teross, apalah dayaku yang jomblo ini, kencan lah kencan aku mah bodoamat!!". Gerutu Fajar dan sesekali mengumpat kesal karena perkataan dari Rifki.
"Eh Jar, apa yang kau katakan? Aku masih mampu mendengarnya". Panggil Rifki dari kejauhan.
"Bodoamat!!!".
Hal itu membuat Nadhira tertawa seketika ketika melihat tingkah Fajar yang merasa begitu kesal karena ulah Rifki, seperti itulah kalau Fajar bertemu dengan Rifki yang ada Fajar selalu merasa kesal karena ucapan yang diucapkan oleh Rifki.
Meskipun sekesal kesalnya Fajar kepada Rifki, ia tidak akan meninggalkan Rifki disaat Rifki membutuhkan, ia akan selalu ada untuknya begitupun sebaliknya. Keduanya sangat cocok ketika bertemu, tanpa adanya debatan bukan mereka orangnya.
Rifki ikut tertawa karena gerutu Fajar yang mampu terdengar dari jarak yang begitu jauh, karena kekesalan kepada Rifki membuat Fajar tak henti hentinya terus mengumpat seperti ibu ibu yang dibohongi oleh penjual sayur.
Rifki dan Nadhira mengikuti Fajar dari belakang, hingga ketiganya sampai ditempat parkir dimana keduanya memarkirkan sepeda mereka.
"Rif, sepedahmu antik juga ya". Fajar memperhatikan sepeda milik Rifki yang seperti vespa jadul.
"Ya jelas dong, tidak ada duanya haha.., belinya juga pake uang tabunganku sendiri, hebat kan aku?". Jawab Rifki sambil tertawa.
Biar bagaimanapun itu adalah sepedah kesayangannya miliknya yang ia beli dengan uang tabungannya sendiri tanpa meminta kepada orang tuanya maupun kakeknya.
__ADS_1
Meskipun Rifki adalah pemimpin sebuah perusahaan yang besar tetapi Rifki sama sekali tidak menunjukkan kedudukannya didepan banyak orang, teman temannya semuanya mengira bahwa Rifki adalah anak dari orang sederhana.
Jika Rifki mau, Rifki juga bisa membeli perusahaan sepedah motor untuk dirinya sendiri, akan tetapi Rifki belum ada niatan untuk melakukan itu, karena dirinya kini masih fokus kepada sekolahnya ia tidak ingin terganggu karena urusan perusahaan.
Seandainya Fajar mengetahui bahwa Rifki adalah pemimpin perusahaan ternama mungkin dia tidak akan pernah berani untuk macam macam kepada Rifki, karena Rifki menyembunyikan identitasnya sehingga ia mudah berteman dengan Fajar.
Tidak ada yang mengetahui tentang Rifki disekolahan kecuali Nadhira, Rifki begitu sangat tertutup jika mengenai identitasnya yang sesungguhnya, bahkan teman temannya tidak ada yang mengetahui letak rumah Rifki sebenarnya.
"Eleh.. bagusan juga punyaku, supra pengeluaran terbaru pada masanya, ngak ada tuh yang punya selain aku pada masa itu".
"Percumah bagus bagus kalo belum pernah gonceng cewek... Haha... Pacar aja ngak punya apalagi gonceng cewek huu...". Ejek Rifki yang membuat Fajar nampak menyesal memuji sepedah motor milik Rifki.
"Serah lu dah, bodoamat soal itu, penting masih bisa bernafas sampe sekarang udah bersyukur aku".
"Yayaya...". Jawab Rifki dengan masa bodo mengenai ucapan Fajar, emang sih yang terpenting adalah masih bisa bernafas.
Fajar segera melajukan motornya setelah berpamitan kepada Nadhira dan Rifki, dengan cepatnya Fajar menghilang dari kejauhan.
Nadhira juga segera naik di sepeda motor Rifki, keduanya juga melaju meninggalkan tempat itu dan memecah kesunyian malam yang begitu damai.
"Dhira kamu suka salad buah?". Tanya Rifki ditengah tengah perjalanan.
"Terserah".
"Ya sudah, Bi Ira biasanya suka makanan apa?". Tanya Rifki lagi.
"Terserah juga".
"Kita mau kemana sekarang?".
"Terserah kamu".
"Dasar cewek emang ngak ada jawaban lain apa, terserah mulu dari tadi, kalo aku ngajak kekuburan emang kamu mau?".
"Mau, asal yang aku masukkan kekuburan itu kamu".
"Ikhlas nih aku yang masuk lebih dulu?".
"Iya iya ngak".
Rifki melajukan motornya hingga berhenti tepat didepan kedai yang bertuliskan jus dan salad buah yang kelihatannya begitu segar, Rifki segera memesan beberapa salad buah untuk ia nikmati dimarkasnya dan untuk Nadhira bawa pulang.
"Mau jus buah juga ngak?". Tanya Rifki sekali lagi.
"Terserah".
"Hmm.. jus rasa apa?".
"Terserah".
"Ya udah mbak tambah jusnya 2 ya mbak, satunya jus jeruk manis dan satunya jus cabe merah yang super pedas". Ucap Rifki kepada penjual jus tersebut.
Mbak yang jualan jus dan salad buah itu hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya mendengar apa yang dipesan oleh Rifki, bagaimana bisa ada jus yang terbuat dari cabe merah yang super pedas.
Sementara Nadhira hanya melotot kearah Rifki, ia tidak mempercayai apa yang dipesan oleh Rifki, gimana rasanya jus cabe merah itu.
Rifki yang dipelototi seperti itu hanya tertawa tiba tiba, batinnya menjerit 'salah sendiri suruh pilih malah jawabnya terserah' begitu kira kira yang dapat diartikan dalam ketawanya itu.
"Rifki!!!!". Teriak Nadhira dengan geramnya sambil mencubit pinggang Rifki.
"Auhh... sakit Dhira!! Mangkanya bilanglah, jangan cuma bilang terserah mulu, emang terserah itu rasa apa ha? Bilang gih mau jus apa". Ucap Rifki sambil mengeluh ketika pinggangnya dicubit oleh Nadhira.
"Sama aja deh".
"Yakin samaan?".
"Iya".
"Iya udah Mbak, Jus jeruknya dua". Ucap Rifki menesan jus kepada penjual jus tersebut.
Si penjual tersebut segera membuatkan pesanan keduanya, dan ia juga menyiapkan beberapa wadah untuk digunakan sebagai tempat salad buah yang Rifki pesan sebelumnya.
"Bi Ira di beliin apa ya?". Tanya Rifki lagi kepada Nadhira. "Jangan bilang terserah!! Ini buat Bi Ira bukan buat kamu".
__ADS_1
"Iya tanya aja ke orangnya langsung kenapa ke aku?".
"Iyayayaya... Terserah!! eh... enak juga ya bilang terserah itu, terserah, terserah, terserah, seterah". Rifki berulang ulang kali bilang terserah karena menurutnya itu adalah hal yang aneh dan antik.
"Terserah kali Rif, bukan seterah".
"Iya terserah aku lah, kan aku yang bilang bukan kamu".
"Iya udah deh terserah". Ucap Nadhira dan diikuti oleh Rifki tiba tiba.
Ucapan tersebut membuat Nadhira ingin sekali memukul sosok pemuda yang ada dihadapannya itu dengan geramnya, bagi Nadhira tidak ada pemuda yang lebih menjengkelkan dari pada Rifki.
Rifki yang melihat kekesalan itu hanya bisa menahan ketawanya karena takut Nadhira akan marah kepadanya, Rifki segera berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi dari tempat itu.
"Mau kemana?". Tanya Nadhira menghentikan langkah Rifki.
"Terserah". Ucap Rifki dengan santainya seakan akan tidak ada beban yang ditanggungnya.
"Rifki!!!!".
"Rifki imut kan". Rifki berkedip kearah Nadhira beberapa kali hal itu membuat Nadhira segera menjatuhkan pukulannya kepada perut Rifki.
"Jijik banget ih".
Sementara si penjual yang masih berusia remaja itu hanya bisa melirik keduanya dengan diam diam, sambil membayangkan bahwa sosok pemuda yang menjadi pembelinya itu melakukan hal itu kepada dirinya.
Emang kalau dunia sudah milik berdua yang lainnya seperti terasa ngontrak, woiii kasihanilah orang orang sekitar yang jomblo ini, batin penjual salad buah tersebut seakan akan ingin menjerit melihat keduanya seperti itu dihadapannya.
Rifki mengabaikan Nadhira dan melangkahkan kakinya menjauh dari kedai tersebut, Nadhira memperhatikan disetiap langkah kakinya, Nadhira melihat Rifki tengah menuju kekedai lainnya yang sedang menjual martabak telur dan martabak manis.
Melihat kepergian pemuda itu membuat Mbak mbak yang jualan merasa lega karena ia kembali memiliki bumi ini, bukan lagi ngontrak seperti tadinya ketika pemuda itu ada bersama gadis yang ada dihadapannya saat ini.
"Mbak sama cowoknya romantis sekali ya". Tiba tiba Mbak yang jualan itu berkata kepada Nadhira.
"Bukan cowok saya Mbak, itu mah sahabat saya dari kecil Mbak, biasalah emang gitu orangnya". Jawab Nadhira sambil sedikit tersenyum.
"Benarkah mbak? Kenapa ngak dipacarin aja Mbak, ngak takut direbut orang?".
"Ngaklah Mbak, mana bisa orang merebut dia dengan mudah, asal Mbaknya tau ya, dia itu paling anti dengan yang namanya perempuan, apalagi perempuan yang suka nanya nanya tentang kehidupannya, lagian jika jodoh itu juga ngak bakal kemana kali Mbak".
"Iya juga sih Mbak".
"Iya sudah Mbak, saya mau nyusul dia".
Nadhira segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kekedai yang Rifki datangi sebelumnya, Rifki tidak menyadari bahwa Nadhira ikut menyusulnya ke tempat itu, sampai akhirnya tiba tiba ada yang memegang pundaknya.
Rifki segera mengeluarkan reflek segera berdiri dan hampir membanting sosok yang telah menyentuhnya dengan tiba tiba, Nadhira yang merasa tubuhnya hampir terangkat segera berusaha untuk melepaskan tangannya dari Rifki.
Terjadilah perkelahian antara mereka, tetapi perkelahian itu tidak berlangsung lama ketika Rifki melihat siapa yang dilawannya, ia segera melepaskan pegangan tangannya dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Nadhira, sementara Nadhira menggerakkan tangannya untuk memegang leher Rifki.
"Gimana? Baguskan?". Tanya Nadhira yang masih memegangi leher Rifki.
"Lebih bagus lagi kalo kamu duduk manis dan diam ditempat". Jawab Rifki yang tatapan terarah kepada Nadhira yang sedang memegangi lehernya.
"Mbak!! Mas!! kalo mau berkelahi jangan disini atuh, nanti dagangan saya berantakan semua". Tegur si penjual martabak yang membuat keduanya menjadi salah tingkah.
"Maaf Pak". Jawab keduanya serempak.
Nadhira segera duduk ditempat dimana Rifki duduk sebelumnya, sementara Rifki mencari tempat duduk yang lainnya dan mengangkatnya kesebelah Nadhira.
"Maafkan kami Pak, mohon di maklumi, gadis ini emang sukanya berkelahi tanpa melihat situasi". Rifki mengatakan hal itu sambil melirik kearah Nadhira.
"Bukan seperti itu Pak!! Bapak tadi lihat sendirikan siapa yang memulai duluan". Bela Nadhira.
"Tidak seperti itu Pak ceritanya, namanya juga reflek".
"Sudah sudah!! emang gini nih kalo keduanya pasangan yang ahli bela diri, sukanya main pukul pukul aja, gimana kalo nanti sudah berumah tangga?". Sela penjual martabak ketika melihat keduanya mulai berdebat.
"Tidak Pak!! kami bukan pasangan". Jawab Nadhira dengan segera.
"Kami berdua itu sahabat Pak!!". Rifki juga ikut menjawab.
****Terima kasih atas dukungannya****
__ADS_1