
Diperjalanan Nadhira tak kunjung sadar jua, langkah demi langkah lelaki itu membawa Nadhira menjauh dari tempat sebelumnya. Melihat Nadhira terbaring lemah didalam gendongannya membuat sang lelaki meneteskan airmatanya.
"Aku tidak tau, kesulitan apa yang kau alami sehingga membuatmu seperti ini".
Lelaki itu menurunkan Nadhira di rerumputan yang berada ditepi jalan, ia menyandarkan Nadhira disebuah pohon besar yang ada didekat situ, ia memeriksa denyut nadi Nadhira.
"Bertahanlah Nadhira, aku tidak akan membiarkan mahluk itu terus membunuh orang yang tidak bersalah, sudah cukup kesalahan yang pernah aku lakukan, aku tidak akan mengulangi kembali kesalahan itu, jiwaku sudah kini bangkit, dan kelemahannya adalah jiwaku".
Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya, seperti sebuah cahaya berbentuk lingkaran yang memancarkan cahaya berwarna putih terang, ia menggenggamnya dengan erat.
"Kelak kekuatan inilah yang akan melindungimu, ramalan itu akan segera terjadi, pertemuan kita begitu singkat, aku begitu bersyukur pemuda itu dapat menjagamu dan yang selalu ada untukmu, maafkan aku, ini semua adalah kesalahanku".
Lelaki itu menempelkan cahaya putih yang ada ditangannya kepada kening Nadhira, seiring berjalannya waktu tubuh pemuda itu terus memudar dan lenyap begitu saja. tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang dimaksud oleh lelaki itu.
Ketika pemuda itu menemukan tubuh Nadhira yang tersandarkan dibawa pohon ditepi jalan, pemuda itu segera bergegas mendatangi Nadhira. ia memeriksa denyut nadinya, ia merasa lega merasa denyut nadi itu mulai stabil.
"Nadhira kau kenapa?". Tanya pemuda itu yang tidak lain adalah Rifki.
Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya menuju ke markas, ia tidak membawa Nadhira pulang kerumah Nadhira, karena jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, ia tidak ingin membuat keluarga Nadhira cemas karena setiap Nadhira keluar malam ia selalu lewat cendelanya.
Waktu itu ketika Rifki tertidur pulas tiba tiba sosok seorang lelaki yang tidak terlihat wajah mendatanginya lewat mimpi, lelaki itu mengatakan bahwa Nadhira berada dalam bahaya, ia menyuruh Rifki untuk bergegas menyelamatkannya.
Didalam mimpinya ia dapat melihat sebuah gambaran mengenai apa yang terjadi kepada Nadhira, melihat gambar tersebut ia segera membuka matanya, dan bangun dari tidurnya.
Pandangan pertama kali yang ia lihat adalah sosok lelaki yang ada didalam mimpinya tersebut, lelaki itu menggunakan penutup wajah sehingga Rifki tidak mampu melihat wajahnya. Lelaki itu mengatakan dimana Nadhira saat ini berada, dan apa yang sedang terjadi kepadanya.
Rifki mengangguk kepada lelaki itu, Rifki merasa tidak terkejut apabila ada seorang mahluk astral yang tiba tiba ada didekatnya, Rifki menduga bahwa lelaki yang ada didepannya ini adalah sebangsa mahluk gaib.
Setelah mengatakan hal mengenai Nadhira, lelaki itu menghilang tiba tiba dari pandangan Rifki, Melihatnya menghilang membuat Rifki bergegas pergi dari markasnya, ia juga meminta kepada supir kakeknya untuk mengantarnya ketempat yang dimaksud oleh lelaki itu.
Ia memutuskan untuk memakai mobil karena lelaki itu juga mengatakan bahwa Nadhira saat ini sedang tidak sadarkan diri dibawa pohon ditepi jalan. Sesampainya di sana ia tidak menemukan keberadaan Nadhira, Rifki memutuskan untuk berjalan kaki mencari Nadhira sementara mobil yang ia pakai terparkir ditepi jalan.
Rifki mengingat ingat gambaran yang ada didalam mimpinya, hingga langkahnya membawanya masuk kesebuah jalan setapak yang tak jauh dari tempat itu, dijalan itulah Rifki menemukan keberadaan Nadhira.
Sesampainya ia dimarkas, Ia membawa Nadhira menuju kekamarnya dan membaringkannya ditempat tidur Rifki. Karena hari masih larut, Rifki memutuskan untuk tidur ditempat anak buahnya berada, markas itu begitu luas sehingga sudah disiapkan tempat khusus untik tidur anak buahnya.
Keesokan paginya Nadhira terbangun dari tidurnya jam 7 siang, ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama dibagian lehernya terasa begitu berat, dan kepadanya terasa pusing.
"Hah!!! Kenapa aku dikamar ini lagi".
Nadhira terkejut ketika membuka matanya, untuk kesekian kalinya ia tiba tiba terbangun dan sudah berada diruangan itu. Tiba tiba tercium aroma masakan yang begitu sedapnya.
Membuat perutnya berbunyi begitu nyaringnya, Nadhira berjalan kearah dimana aroma itu berasal setelah mencuci wajahnya, Tak lama kemudian sampailah ia disebuah dapur yang ada dimarkas tersebut, ia melihat Rifki sedang memasak disana.
"Rif, kamu bisa masak?". Tanya Nadhira
Rifki yang mendengar suara Nadhira segera menoleh kearahnya, ia tersenyum kepada Nadhira, setelah itu ia kembali fokus kepada masakannya.
"Kamu sudah bangun Dhir? aku hanya bisa masak nasi goreng saja, yang lainnya ngak bisa, hehe".
"Oh iya kemarin .........."
__ADS_1
"Aku menemukanmu dijalan, karena udah terlalu malam jadi aku membawamu kemari". Sahut Rifki sebelumnya Nadhira melanjutkan ucapannya.
"Maaf merepotkanmu".
"Ngak usah difikirkan, oh iya ditaman belakang ada Bayu dan Susi, kamu kesana dulu nanti aku nyusul, sekalian kita makan bareng disana".
"Benarkah?!! em.... nanti aja deh, aku mau bantu kamu masak".
"Emang kamu bisa masak?". Tanya Rifki yang curiga dengan ucapan Nadhira.
"Bisalah, kamu meremehkan aku? sini biar aku saja yang masak, kamu duduk aja". Nadhira mengambil spatula dari tangan Rifki dan mulai memasak.
Nadhira memperagakan caranya memasak didepan Rifki, selesai memasak nasi goreng Nadhira juga melanjutkan dengan menggoreng telur dadar, dengan ahli Nadhira memecahkan telur dengan satu kali gerakan.
Rifki yang melihat tingkah Nadhira hanya bisa tertawa dan mengeleng gelengkan kepalanya, Rifki berjalan dan duduk dimeja makan sambil menikmati kue kering yang ada dimeja tersebut untuk menunggu Nadhira selesai masak.
Tak lama kemudian masakannya selesai dan siap disajikan, Nadhira menata nasi goreng itu dibeberapa piring yang telah Rifki siapkan dan memberi sepotong telur dimasing masing piring tersebut.
Keduanya segera membawa makanan tersebut menggunakan nampan menuju kehalaman belakang markas tersebut, dari kejauhan terlihat sosok Susi, Bayu, Reno, dan Vano yang sedang duduk disebuah gasebo dan saling bercanda. Kedatangan keduanya segera disambut senyuman oleh mereka semua, setelah selesai menaruh makanan itu dimeja, Rifki kembali masuk kedalam mengambilkan mereka minuman.
"Tumben kalian main kesini?". Tanya Nadhira.
"Hanya rindu saja sama Rifki, kan sudah lama ngak ketemu kan". Jawab Susi dengan entengnya.
"Jadi hanya Rifki nih yang dirinduin, akunya ngak".
"Yaudah kalian lanjut aja, kami berdua mau berlatih dulu". Ucap Reno.
"Kalian mau kemana?".
Ketika Reno dan Vano berjalan memasuki markas, keduanya berpapasan dengan Rifki, melihat keduanya hendak pergi Rifki mencegah keduanya dan menyuruh mereka untuk bergabung kembali dengannya dan teman temannya.
"Maaf bos, kami mau melanjutkan latihan". Jawab Reno
"Nanti aja, kaliankan belum makan, ayo makan dulu bareng bareng".
"Sudah bos, kami sudah makan roti coklat tadi, lagian kami juga harus latihan kalau tidak bos besar akan marah". Jawab Reno
Yang dimaksud bos besar adalah kakeknya Rifki, selama ini jikalau ada yang terlambat datang ketempat latihan, mereka akan mendapatkan hukuman darinya berupa push up 100 kali, lari mengitari markas sebanyak 50 kali, dan lain lainnya.
"Ah iya aku lupa, kakek ngak ada dimarkas saat ini, masih ada keperluan dikantor, kalian ikut kami makan bersama, lagian kalian juga sudah akrab dengan mereka".
"Tapi bos".
"Sudahlah, ini kalian bawa dan antar ke mereka, aku mau ambil cemilan dulu".
"Baik bos". Reno segera mengambil nampan yang berisi minuman itu.
"Boleh aku bantu ngambil cemilan bos". Ucap Vano
"Baiklah, ayo ikut aku".
__ADS_1
Rifki dan Vano bergegas masuk kedalam markas tersebut dan berjalan menuju dapur, sedangkan Reno segera mengantarkan minuman itu kepada Nadhira dan teman temannya.
"Kamu ngak jadi latihan?". Tanya Nadhira ketika melihat Reno menaruh minuman tersebut dimeja.
"Kami diperintahkan untuk ikut makan bersama kalian, jadi kami menurut saja, jikalau tidak maka nasip kami akan celaka". Jawab Reno.
"Hehe... kalian itu sudah seperti teman bagi kami, kenapa harus berkata sesopan itu sih". Ucap Rifki dari kejauhan ketika mendengar suara Reno.
Rifki tertawa kearah mereka, ia bergegas menaruh cemilan yang ia bawa kemeja tersebut, Vano juga mengikuti langkah Rifki. Keenam orang itu segera duduk dikursi masing masing yang telah disediakan oleh kakeknya.
"Mohon dicicipi, nasi goreng masakan Rifki, dan yang telur dadar buatanku". Ucap Nadhira dengan semangat.
"Nah bagaimana dewan juri, apakah enak?". Tanya Rifki ketika melihat mereka memasukkan sesuap nasi kemulutnya masing masing.
"Chef, nasinya kurang sedikit pedas, tambah sedikit penyedapnya mungkin akan terasa sedikit enak, kalau telurnya sih sudah pas cuma sedikit asin". Komentar Susi menanggapi masakan keduanya.
"Enak kok bos". Ucap Reno dan Vano secara bersamaan.
"Komentarku sama kaya Susi, hanya porsinya yang kurang banyak dikit, ayam suwirnya juga lumayan lah". Bayu terus mengunyahnya sambil merasakan masakan itu.
"Mau nambah Bay? masih ada kok didalam".
"Engak.... Engak.... jangan serius serius kali Rif, aku kan cuma bercanda".
"Beneran juga ngak papa, nanti aku ladenin".
"Serem amat dah".
Keenam orang tersebut makan bersama dan sesekali saling bercanda tawa, moment seperti inilah yang akan selalu dirindukan oleh mereka, disana Susi lebih banyak bercerita mengenai sekolah dan jurusan yang ia ambil, sedangkan Bayu hanya melengkapinya.
Reno Dan Vano ikut serta menceritakan hari harinya disekolahnya, pagi itu suasana ditaman belakang markas begitu ramai tidak seperti biasanya, setelah selesai makan Reno dan Vano segera bergegas pergi latihan.
Kini ditaman belakang tersebut hanya tersisa mereka berempat, karena sibuknya sekolah membuat keempatnya jarang berkumpul walaupun hanya sesaat, kali ini keduanya sudah merencanakannya untuk datang kemarkas Rifki, sebelum mereka datang mereka menjemput Nadhira terlebih dahulu, tetapi bi Ira mengatakan bahwa Nadhira sudah tidak ada dirumah sejak pagi, akhirnya mereka segera bergegas kemarkas.
Alhasil Nadhira ternyata sudah berada dimarkas, ketika mereka sampai, Rifki mengatakan bahwa Nadhira sedang berada dikamar mandi, padahal Nadhira masih tertidur dengan pulasnya akhirnya Rifki berinisiatif untuk mengadakan makan bersama.
Setelah masakannya hampir selesai tiba tiba Nadhira sudah berada didekatnya, membuatnya merasa sedikit bersemangat dipagi itu, apalagi ketika melihat Nadhira masak, membuat Rifki tidak bisa berhenti untuk tertawa.
"Kamu datang kesini sejak kapan Dhir?". Tanya Susi.
"Tadi subuh, Aku lewat cendela jadi ibu tidak tau kalau aku sudah pergi". Jawab Nadhira beralasan.
"Pantesan, bi Ira merasa bingung tadi, oh iya kamu tenang aja, tadi aku juga beralasan padanya kalau kamu mungkin sudah ada disini, eh taunya beneran kamu sudah disini". Susi tertawa mengingatnya bahwa kebohongannya ternyata adalah kebenaran.
"Kalian kok tau tempat ini? padahal Rifki tidak pernah cerita". Tanya Nadhira.
"Ah itu Dhir, kamu tau kan Bayu ikut beladiri organisasi ini, sudah tingkat tinggi pula, jadi ya dia berhak tau lokasi ini". Rifki menjawab pertanyaan dari Nadhira dengan cepat sebelum Bayu menjelaskan.
"Ouh..... seperti itu"
Mendengar penjelasan Rifki, Bayu mengangguk angguk mengiyakan ucapan Rifki, dirinya memang kesulitan untuk membuat alasan didepan Nadhira.
__ADS_1
2 jam kemudian, keduanya berpamitan untuk pulang, karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan, Rifki juga bergegas untuk mengantarkan Nadhira pulang, karena sudah dari semalam ia tidak pulang.