
Rifki mencipratkan air laut kepada Nadhira begitupun sebaliknya hingga keduanya terlihat basah kuyup karena hal itu, rambut panjang Nadhira yang terurai pun ikut basah akan tetapi Nadhira tidak mempedulikan itu, dirinya begitu bersenang senang untuk hari ini, hanya hari ini karena sebentar lagi dirinya akan berpisah dari Rifki.
"Rifki jangan lari". Teriak Nadhira yang sedang berusaha untuk mengejar Rifki.
"Ayo tangkap aku Dhira". Rifki berusaha untuk berlari menjauh dari Nadhira.
"Awas kamu ya, aku akan menangkapmu".
"Silahkan saja kalau bisa".
"Rifki jangan lari".
"Ayo tangkap aku Nadhira".
Rifki dan Nadhira bermain kejar kejaran dan sesekali Nadhira mencipratkan air laut itu kearah Rifki, keduanya terlihat begitu bahagia, ini adalah pertama kalinya mereka bermain ditepi pantai, dari kejauhan tanpa mereka sadari bahwa ada dua sosok lelaki yang sedang menatap kearah mereka.
Dua orang itu tidak lain adalah Haris dan Aryabima, melihat Rifki yang mampu tertawa lepas ketika bersama dengan Nadhira membuat keduanya tidak mampu berkata kata lagi, hanya dengan Nadhira lah Rifki bersikap sedemikian rupanya karena selama ini keduanya tidak pernah melihat Rifki tertawa seperti itu sebelumnya.
"Ayah, Rifki begitu bahagia dengan gadis itu, lalu apa yang harus kita lakukan?". Tanya Haris yang melihat tawa dari anaknya.
"Biar bagaimanapun keduanya tidak boleh bersama, atau keduanya akan mati bersama". Jawab Aryabima ketika mendengar ucapan dari Haris.
"Aku tidak bisa memisahkan keduanya Ayah, Rifki begitu sangat menyayangi gadis itu, aku tidak ingin melihat Rifki bersedih karena kehilangan gadis yang selama ini telah menemainya".
"Lalu apa kau rela untuk kehilangan anakmu itu untuk selama lamanya?".
"Mungkin masih ada cara lain untuk mengatasi hal itu Ayah, kita harus mencari tau tentang itu".
"Jika hal itu tidak ditemukan juga, hanya ada satu jalan keluarnya yakni memisahkan keduanya, mungkin setalah Rifki pergi keluar negeri ia akan mendapatkan wanita lain yang jauh lebih baik daripada gadis itu".
"Semoga saja Ayah".
"Dan kita harus mencari cara, agar gadis itu segera melupakan kehadiran Rifki disisinya".
"Tapi kita harus berhati hati dengannya Ayah, aku dengar dari Rifki bahwa gadis itu juga dilindungi oleh Ratu iblis, jika kita dengan paksa mengeluarkan permata itu bisa jadi Ratu iblis akan menyerang kita saat itu juga".
"Ratu iblis tidak akan melakukan itu, meskipun selama ini Nimas dikenal sebagai mahluk gaib yang jahat akan tetapi Nimas bukanlah mahluk yang jahat, meskipun Nimas adalah pemilik dari permata itu, dirinya juga tidak mengetahui bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata itu".
Keduanya hanya mampu berdiam diri sambil menyaksikan Rifki yang begitu bahagia bersama dengan Nadhira, para anak buahnya juga merasa terkejut ketika melihat Rifki yang tertawa berbeda dari biasanya, tidak ada yang pernah melihat hal itu sebelumnya sehingga banyak yang kagum dengan Nadhira.
Entah sihir apa yang telah digunakan oleh Nadhira sehingga Rifki mampu bersikap seperti dirinya yang sesungguhnya, jika dihadapan anak buahnya Rifki akan terlihat begitu dingin dan sangat sulit untuk tertawa seperti ini, ataupun bahkan wajah itu tidak pernah terlihat dimata mereka.
"Tuan Muda begitu berbeda kali ini". Bisik salah satu anak buah Rifki yang Rifki perintahkan untuk menjaga ditepi pantai.
"Kau benar, kita sudah bertahun tahun kerja disini tapi baru kali ini kita bisa melihat Tuan Muda tertawa keras seperti ini, paling tidak biasanya hanya tertawa pelan bahkan hanya senyum pun sangat sulit".
"Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu, tidak biasanya dia akan tersenyum seperti ini".
__ADS_1
"Kau benar, mungkin gadis itulah yang telah ditakdirkan untuk bersama dengan Tuan Muda kita nantinya".
"Semoga saja, jika Tuan Arya ada disini mungkin dirinya akan merasa senang ketika melihat cucunya dapat tertawa seperti saat ini".
Hari ini semua anak buah Rifki telah dibikin begitu terkejut dengan sikap Rifki yang seperti ini, akan tetapi tidak bagi teman temannya yang telah mengetahui sikap Rifki yang sebenarnya, mereka sama sekali tidak merasa terkejut ataupun kagum dengan tawa itu.
Bagi mereka tawa itu sudah biasa mereka lihat ketika mereka bermain bersama sama selama ini, sehingga tidak ada yang kagum dengan hal itu.
"Kenapa Rifki terlihat begitu tampan jika tertawa bahagia seperti itu, rasanya aku tidak bisa untuk mengalihkan pandanganku darinya". Ucap Nimas yang memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh Rifki.
"Ingat woii kau ini sudah mati, tidak layak bagimu jika ingin menikah dengan pemuda itu, lagian pemuda itu juga telah mencintai gadis yang kau jaga itu". Tegur Raka yang mendengar ucapan Nimas.
"*Siapa juga yang ingin menikah dengannya, aku hanya mengagumi wajah tampannya itu, biasanya terlihat seakan akan sedingin es kini dia juga bisa tertawa riang seperti itu, seandainya aku juga masih manusia mungkin aku bisa menarik perhatiannya".
"Menarik perhatiannya? Hahaha... Emang secantik apa dirimu hingga dengan pedenya kau bicara seperti itu? Apalagi berniat untuk merebut Rifki dari Nadhira, dan rasanya niatmu itu tidak akan mungkin pernah terjadi, entah sekarang esok ataupun luas, karena Nadhira dan Rifki terlihat begitu bahagia saat ini".
"Kenapa kau jadi memojokkanku seperti ini, apa ada yang salah dari ucapanku? Aku hanya mengagumi wajahnya ketika tertawa seperti itu, ngak biasanya aku melihatnya bisa tertawa dengan leluasanya".
"Iya ya lah, Rifki memang tampan, apalagi dengan aura gagah dan karismanya itu, siapa sih yang tidak tertarik dengannya bahkan ada sosok lelaki pun yang mengaguminya secara rahasia*".
Nimas tak henti hentinya untuk tetap mengagumi Rifki, aura karismanya yang menawan itu mampu menarik perhatian dari banyaknya mahluk gaib yang telah berpapasan dengan Rifki tanpa sengaja.
Rifki sering menjadi rebutan banyak garis karena aura yang dimilikinya saat ini, meskipun dirinya dikagumi oleh banyak orang akan tetapi Rifki sama sekali tidak merespon mereka sehingga banyak yang mengatakan bshwa Rifki hatinya sekeras batu karena tidak ada satupun yang lolos untuk dapat mendekat kearah Rifki, Karena Rifki memiliki prinsipnya semdiri, sehingga dirinya me dapatkan julukan sebagai sedingin es batu.
Disiang hari itu, Rifki dan teman teman yang lainnya terlihat begitu bahagianya, Rifki sendiri tidak pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya karena selama ini dirinya belum pernah bermain seperti itu dipantai yang begitu indah itu.
Setelah lelah bermain air dipantai, Rifki dan lainnya segera mengganti pakaian mereka yang telah basah itu agar tidak masuk angin, setelah selesai berganti pakaian Rifki dan lainnya segera berkumpul disebuah kedai yang menjual makanan dan es degan.
"Khusus untuk Susi nanti bayar sendiri". Ucap Rifki.
"Heyyy... Kenapa begitu, itu tidak adil sama sekali, mereka tidak membayarnya tapi kenapa aku harus membayarnya sendiri". Protes Susi dengan ucapan yang Rifki lontarkan itu.
"Sus, bukannya kau tadi mengatakan kalau kau tidak takut dengan Rifki? Berarti kau harus membayarnya sendiri bukan? Mungkin itu sebabnya Rifki menyuruhmu membayarnya sendiri". Tanya Nadhira.
"Kalian senang sekali ketika membuatku marah, kenapa sih hobi banget".
"Karena saat kau marah, kau terlihat begitu lucu Si, itulah sebabnya kenapa mereka suka sekali menggoda dirimu seperti ini". Jawab Bayu.
Hanya Bayu yang bisa mengatakan hal itu kepada Susi, orang orang yang tengah duduk dimejanya masing masing hanya mampu berdiam diri tanpa ada sekata katapun yang keluar dari mulut mereka untuk mengomentari apa yang tengah dilakukan oleh Bayu.
Ekspresi wajah Rifki seketika berubah, tawa diwajahnya menghilang dan lenyap dalam sekejab saja, semua yang melihat ekspresi itu merasa kebingungan apalagi dengan Nadhira yang terlihat tidak mengerti apa apa tentang hal itu.
"Kamu kenapa Rif?". Tanya Nadhira.
Mendengar pertanyaan itu seketika membuat Rifki menatap kearah Nadhira, Rifki menghela nafas berat beberapa kali, ia tidak sanggup untuk mengatakan hal itu kepada Nadhira dan yang lainnya bahwa dirinya esok hari akan berangkat keluar negeri atas perintah dari Papanya.
"Maafkan aku". Ucap Rifki lirih.
__ADS_1
Seketika ucapan itu membuat Nadhira meneteskan air matanya, air mata itu jatuh begitu saja mengenai pipinya, mungkin ini saatnya mereka berdua untuk berpisah dalam waktu yang lama, Bayu dan Susi juga ikut meneteskan air mata karena kepergian dari Rifki.
"Aku tau, hal ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat kita akan berpisah pada akhirnya". Ucap Nadhira.
"Rif, kamu beneran mau ninggalin kita? Kenapa secepat ini kau akan pergi". Ucap Susi.
"Aku tidak tau lagi harus berkata apa teman teman, ini adalah perintah dari Kakekku dan tidak akan mungkin aku bisa menolaknya". Ucap Rifki dengan sedihnya ketika melihat kedua teman wanitanya menangis karena dirinya akan pergi.
"Kenapa tiba tiba seperti ini Rif? Lagian pendaftaran kuliah masih lama". Ucap Nadhira dengan kesedihan.
"Rifki juga tidak punya pilihan lain Dhir, Si, ini juga berat bagi Rifki sendiri tidak hanya kalian berdua yang merasa sedih, kami juga sedih karena Rifki akan meninggalkan kami dalam waktu yang lama, tapi ini semua juga demi masa depan kita masing masing, bukan hanya kalian yang sedih karena perpisahan ini tapi Rifki sendiri juga bergitu sangat sedih". Ucap Bayu dengan bijaknya.
"Kami juga sedih ketika mengetahui bahwa Tuan Muda akan pergi meninggalkan kita dalam waktu dekat ini, tetapi kami tidak mampu berbuat apa apa karena ini adalah perintah dari Tuan Besar". Ucap Reno yang menambahkan.
Melihat kepergian seseorang yang begitu sangat berarti bagi kita akan terasa begitu sangat menyakitkan, tiada pertemuan tanpa adanya perpisahan dan tiada perpisahan tanpa terciptanya sebuah pertemuan.
Perpisahan tidak selalu soal kepergian orang itu untuk pergi kesuatu tempat dalam waktu yang lama akan tetapi perpisahan itu bisa jadi perpisahan antara dunia dan akhirat, perpisahan antara dunia dan akhirat adalah perpisahan paling menyakitkan akan tetapi kita harus mengikhlaskan kepergian dari orang yang paling kita cintai itu.
Rifki tidak mampu menahan rasa sedihnya ketika melihat suasana sedih yang tercipta ditempat itu saat ini, kesenangan yang ia rasakan saat dipantai itu kini berubah menjadi sebuah kesedihan karena adanya sebuah perpisahan antara mereka.
Rifki teringat dengan ucapan orang orang yang pernah ia dengar sebelumnya bahwa jangan terlalu merasa senang ketika hal yang baik terjadi kepadamu karena kesedihan akan segera menyusulnya, orang yang paling tertawa dengan kerasnya adalah orang telah berhasil menyimpan sebuah kesedihan yang begitu sangat mendalam.
Setelah adanya canda tawa, seketika itu juga terciptanya sebuah kesedihan diantara mereka, Rifki tidak mampu berkata kata lagi untuk saat ini, karena dirinya sama sekali tidak mampu menolak keinginan dari orang tuanya apalagi hal ini juga menyangkut tentang keselamatan dari orang orang terdekatnya karena dendam turun temurun itu.
"Aku tau ini berat, sama aku juga merasakan itu, apalagi aku harus berpisah dari kalian semua, dan berjalan seorang diri". Ucap Rifki.
"Tapi Rif, hiks.. hiks.. hiks..". Nadhira sesenggukan ketika mendengar ucapan Rifki.
"Jangan nangis Dhira, aku akan secepatnya kembali untuk menemuimu nanti". Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
"Jangan pergi, aku mohon". Ucap Nadhira lirih.
"Maafkan aku Dhira, untuk kali ini aku tidak bisa dan tidak mampu untuk menuruti kemauanmu, aku tidak berdaya kali ini, ingatlah tentang perkataan Bi Ira bahwa jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang mengaturnya kita hanyalah sebuah wayang yang digerakkan oleh dalang, kita tidak tau kisah kita akan berakhir seperti apa nantinya".
"Aku tau itu, hanya saja berat banget jika harus melihatmu pergi begitu saja dalam waktu yang sangat lama hiks.. hiks.. hiks..".
"Memang ini berat, nantinya juga bakal ketemu lagi, beda dengan aku, meskipun sudah mati sampai sekarang pun tidak pernah bertemu dengan arwah kedua orang tuaku, ya kalian hanya bisa berharap semoga tidak ada yang dijemput malaikat maut lebih dulu, gitu saja". Ucap Nimas yang hanya mampu didengar oleh Rifki dan Nadhira.
Mendenga ucapan itu sontak membuat Nadhira membuka matanya lebar lebar, sementara itu Rifki menatap tajam kearah Nimas, melihat tatapan yang tiba tiba itu membuat anak buahnya begitu terkejut, entah apa yang terjadi anak buahnya tidak bisa mengetahuinya, Nimas yang ditatap oleh Rifki begitu hanya bisa mengangkat bahunya saja pura pura tidak tau apa yang tadi ia ucapkan.
"Kau benar dan aku tidak tau sampai kapan aku akan bertahan untuk tetap hidup, yang aku tau bahwa sebentar lagi aku akan ......". Ucap Nadhira ketika dirinya mendengar suara Nimas.
Belum selesai Nadhira mengatakan kata kata itu, Rifki segera menggerakkan tangannya untuk menutupi bibir Nadhira agar Nadhira berhenti untuk berbicara yang bukan bukan, tatapan keduanya bertemu.
"Jangan katakan seperti itu Dhira, aku tidak akan membiarkanmu kenapa kenapa, berjanjilah kepadaku kau akan baik baik saja, aku mohon Dhira jangan katakan tentang maut, aku sangat takut jika itu terjadi kepadamu, berjanjilah kepadaku, kau tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu".
"Aku tidak tau lagi Rif, aku tidak bisa merasa tenang jika kau tidak ada disampingku, aku takut Rif, aku sangat takut".
__ADS_1
"Kamu tidak sendirian Dhira, masih ada kami yang akan selalu ada disampingmu menggantikan Rifki, memang kami tidak akan mampu menjadi seperti Rifki, tapi kami akan berusaha untuk melindungimu seperti Rifki". Ucap Bayu.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...