
Nadhira segera bergegas menuju kepintu masuk rumah tersebut, semenjak kedatangan Nadhira ketempat itu membuat Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya saja menanggapi tingkah laku Nadhira.
"Nak, dia sangat mirip dengan dirimu waktu kecil, Mama sangat merindukan dirimu, maafkan Mama karena telah meninggalkanmu waktu itu, seandainya waktu itu Mama tidak meninggalkan dirimu, kau pasti masih hidup sampai saat ini, dan keluarga kita akan berkumpul lagi seperti dulu" Ucap Sarah sambil berlinang air mata.
Sarah melihat kepergian Nadhira dengan linangan air mata, dia sangat merindukan anak perempuannya yang telah lama pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya, sejak mengetahui bahwa Lia sudah tiada saat itu juga suaminya ikut pergi meninggalkannya untuk selama lamanya.
Sarah memejamkan matanya dengan rasa sedihnya, tiba tiba sebuah tangan menadahi air matanya dan tangan itu adalah tangan Nadhira yang kembali mendatangi Sarah karena melihat Sarah sedang bersedih ditempat itu.
"Kenapa Oma menangis?" Tanya Nadhira sambil menadahi air mata Sarah.
Sarah mengenggam tangan Nadhira dengan erat dan menjatuhkan Nadhira kedalam pelukannya itu, rasa rindunya terhadap anaknya dapat terobati dengan kehadiran Nadhira dalam hidupnya.
"Apakah perkataan Dhira telah menyakiti hati Oma? Dhira minta maaf Oma, Oma jangan sedih"
"Dhira tidak salah kok, Oma hanya teringat dengan Lia, kau begitu mirip dengannya Nak"
"Anggap saja aku adalah Mama Lia anak Oma, Mama masih hidup dihati Dhira sampai sekarang ini, Oma jangan sedih lagi ya, Dhira tidak mau melihat Oma bersedih seperti ini".
"Oma tidak bersedih Nak, Oma bahkan sangat bahagia ketika Nadhira ada bersama dengan Oma"
"Kalau begitu senyum dong Oma, Dhira tidak akan pernah meninggalkan Oma"
Sarah tersenyum kearah Nadhira, ia tidak bisa terlihat sedih dihadapan cucunya seperti itu, kehadiran Nadhira disisinya telah merubah segalanya, sejak hadirnya Nadhira dalam hidupnya membuat Sarah mengetahui artinya sebuah kekeluargaan tanpa membedakan kedudukan.
"Terima kasih telah hadir dalam hidup Oma"
"Oma tidak perlu berterima kasih kepada Dhira, sudah seharusnya Dhira ada untuk menemani Oma diusia seperti ini, mungkin ini sudah takdir Dhira jadi Oma tidak perlu berterima kasih seperti itu"
"Kau memang anak yang baik Dhira, Lia pasti akan merasa bahagia ketika memiliki anak seperti Nadhira"
"Ini semua sudah takdir Oma, tidak ada yang tau akhirnya akan seperti apa, seandainya Dhira bisa memilih Dhira akan memilih bisa hidup bersama dengan Mama, tapi kenyataannya Dhira tidak mampu untuk bersama Mama lagi, walaupun hanya sedetik, tapi Dhira sadar bahwa takdir yang telah ditentukan oleh Allah itulah yang terbaik untuk Dhira"
"Oma sangat menyayangi Dhira, Oma tidak akan membiarkan Nadhira bersedih lagi mulai saat ini, Oma akan berusaha untuk membuat Dhira bahagia".
"Melihat Oma bahagia itu sudah cukup bagi Dhira, Dhira tidak meminta lebih dari itu"
Sarah tersenyum kepada Nadhira, ia tidak menyangka bahwa cucunya begitu baiknya dan berbeda dari anak remaja pada umumnya, sejak kecil Nadhira hidup dengan begitu banyak ujian yang ia lalui hingga ia dewasa dirinya sudah kebal dengan ujian ujian yang akan ia hadapi sehingga Nadhira tidak pernah mengeluh.
*****
Keesokan paginya Nadhira sedang bersiap siap dikamarnya, dia memilih pakaian yang sesuai dengan kebutuhannya yakni pakaian yang simpel dan bisa dipakai beladiri dalam keadaan mendadak, ia juga tidak lupa membawa senjata rahasianya, tongkat yang dapat memendek itu dan juga peralatan yang ia butuhkan, ia masukkan kedalam sakunya.
Nimas memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan oleh Nadhira, ia tertawa begitu keras ketika melihat Nadhira yang sedang bersiap siap seperti itu, entah apa yang membuatnya tertawa itu.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau ini mau mencari tau atau mau berperang ha? Banyak banget yang harus kau bawa itu".
"Apa salahnya kalau hanya untuk berjaga jaga, kita kan tidak tau hal apa yang akan terjadi nantinya"
"Terserahmu saja, aku hanya ingin memberitahumu kalau dia sudah ada digerbang depan sekarang"
"Cepat banget sampainya, aku bahkan belum selesai untuk bersiap siap".
"Apa sih yang ngak buat Dhira? Ya jelaslah dia secepat itu sampainya, orang kamu sendiri yang memintanya untuk datang kemari saat ini".
Benar saja apa yang dikatakan oleh Nimas, tak beberapa lama kemudian pembantunya memanggil Nadhira dan memberitahukan bahwa temannya ada didepan rumahnya saat ini, mendengar itu membuat Nadhira segera bergegas keluar dari kamarnya menuju ketempat dimana Theo berada.
Nadhira tidak menyangka bahwa Sarah sudah dikursi depan rumahnya bersama dengan Theo, keduanya sedang mengobrol entah apa yang keduanya bicarakan sehingga ketika Nadhira datang keduanya segera menghentikan pembicaraan mereka.
"Oma, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Nadhira ketika melihat keduanya tiba tiba menghentikan pembicaraan mereka.
"Bukan apa apa Nak, Oma hanya memberitahukan bahwa dia harus menjaga cucu Oma ini dengan baik, tidak boleh ada yang lecet sedikitpun atau dia akan menanggung akibatnya dari Oma"
"Oma tenang saja ya, tidak akan terjadi sesuatu kok denganku, Dhira akan berhati hati".
__ADS_1
"Iya Oma tau kalau Dhira itu cucu Oma yang paling hebat, Oma sudah mempersiapkan segalanya untuk Dhira didalam mobil".
"Mempersiapkan segalanya?" Bengong Nadhira.
"Lihat saja didalam mobil"
Nadhira segera bergegas menuju kearah mobil yang terparkir dihalaman depan rumahnya, Nadhira segera membuka mobil tersebut dan dirinya begitu terkejut ketika melihat apa yang ada didalam mobil itu.
Nadhira hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan apa yang dilakukan oleh Sarah, ada beberapa pakaian untuk Nadhira, bekal cemilan didalam mobil, peralatan P3K, selimut yang tebal, bantalan untuk tidur didalam mobil, dan berbagai macam peralatan yang lainnya.
Melihat itu membuat Nimas tertawa dengan kerasnya, entah itu kekhawatiran seorang Nenek ataukah ingin mengusir Nadhira dari rumah tersebut, mendengar tawa tersebut sontak membuat Nadhira merasa malu dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Oma.... Dhira kan hanya pergi sehari saja, kenapa harus begitu banyak peralatan yang dibawa?" Rengek Nadhira ketika melihat apa yang ada didalam mobil yang akan ia naiki itu.
"Entah itu sehari atau sejam, Oma tidak mau Nadhira kelaparan diperjalanan, itu semua untuk Dhira agar tidak kecapekan dijalan"
"Oma Dhira kan ngak berniat untuk pindah rumah, kenapa harus semuanya dibawa pergi? Apa Oma mau berniat untuk mengusir Nadhira?"
"Sudahlah ikuti kemauan Oma, atau Dhira tidak boleh pergi dari rumah"
"Iya Oma, terima kasih atas perhatiannya, Dhira benar benar terharu dengan ini semua Oma" Ucap Nadhira dengan malasnya.
"Oma semakin ingin untuk Dhira tetap dirumah dan tidak kemana mana dengan wajah memelas seperti ini" Ucap Sarah yang melihat wajah Nadhira.
"Oma.." Rengek Nadhira.
"Sudah pergilah, sebelum keburu siang, nanti pulangnya jangan malam malam ya"
"Terima kasih Oma, sayang Oma"
Nadhira segera memeluk tubuh Sarah dengan sangat eratnya, setelah itu Nadhira melepaskan pelukan tersebut dan langsung berpamitan kepada Sarah, ia segera bergegas masuk kedalam mobil itu diikuti oleh Theo dan juga Bi Ira.
Mobil yang Nadhira naiki melesat menjauh dari rumah Nadhira, setelah mobil itu sudah tidak terlihat oleh Sarah, Sarah segera masuk kedalam rumahnya untuk menunggu kepulangan Nadhira, sementara didalam mobil Nadhira terus memperhatikan perjalanan itu.
"Kita mau pergi ke bioskop yang mana Nona?" Tanya Pak Mun sambil melihat kearah spionnya.
"Tapi Nona, kita mau kemana?"
"Ikuti saja perintahku, atau biarkan kami berdua turun disini sekarang"
"Baiklah Nona, kita akan kearah bukit"
Pak Mun segera mencari tempat yang cocok untuk memutar balik mobil tersebut menuju kearah yang Nadhira inginkan, dirinya tidak bisa menolak keinginan dari Nadhira jika Nadhira memaksa untuk meminta turun dipertengahan perjalanan seperti itu.
"Kita mau kemana Dhira?" Tanya Theo.
"Kesuatu tempat, aku juga belum pernah datang kesana sebelumnya"
"Lalu ngapain kita kesana? Kau sendiri juga belum pernah kesana"
"Untuk mencari seseorang, aku rasa orang itu sangat tau tentang kejadian yang terjadi delapan tahun yang lalu dimana Mamaku kecelakaan dan berujung dengan kehilangan nyawanya"
"Tapi kejadian itu sudah lama Dhira, kita akan mencari tahu dimana?"
"Meskipun sudah lama, tapi bukti bukti itu juga belum hilang sampai sekarang, dan ada orang yang sengaja mengirimkan sebuah foto kepadaku, itu artinya masih ada orang yang menginginkan bahwa kejadian waktu itu segera terungkap".
"Foto? Boleh aku lihat fotonya?"
Nadhira membuka tasnya dan mengambil sebuah foto yang ada didalam tas tersebut dan menyerahkannya kepada Theo, Theo segera menerima foto tersebut dan memperhatikan apa yang tergambar dalam lembaran kertas tersebut.
"Ini foto Mamamu Dhira?"
"Iya itu adalah Mamaku"
"Dari foto ini saja sudah menggambarkan bahwa Mamamu waktu itu sedang tidak baik baik saja Dhira, seperti ada sebuah kesedihan yang mendalam didalam kedua matanya, aku rasa kecelakaan waktu itu memang disengaja"
__ADS_1
"Kau benar, aku juga merasakan hal seperti itu, mangkanya itu aku ingin segera mengetahui apa yang terjadi waktu itu kepada Mama".
"Iya, terus kita akan mencari tahu kemana?"
"Ke mantan suami Mama Sena, mungkin dia mengetahui semuanya, aku ingat sebelum bahwa Mama Sena pernah mengajak seorang lelaki kerumah waktu itu dan ia bilang bahwa dia adalah suaminya tapi beberapa tahun belakangan ini aku mendengar kabar bahwa dia menghilang tiba tiba".
"Bisa jadi dia mengetahui sesuatu Dhira"
"Tapi itu sangat bahaya Nona, jika Nona pergi untuk mencari tahu dengan keadaan seperti ini" Ucap Pak Mun dengan khawatirnya.
"Pak Mun! Sudah ku katakan, jangan pernah mengungkit hal itu lagi, aku tidak suka jika ada yang mengungkitnya lagi" Ucap Nadhira dengan gemas.
"Iya Non, saya hanya khawatir dengan kondisi Nona"
"Aku tidak apa apa, dibalik foto ini tertera alamat rumah Mama Sena, bawa mobil ini kesana" Ucap Nadhira sambil menyodorkan foto tersebut kepada Pak Mun yang sedang menyetir.
"Iya Non" Jawabnya sambil menerima foto tersebut.
Mobil itu segera bergegas melaju ketempat dimana alamat rumah tersebut tertera dibalik foto itu, dan terlihat bahwa alamat itu sangat jauh dari rumah Nadhira yang baru sehingga mereka membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam lamanya.
"Non rumahnya yang sebelah mana?" Tanya Pak Mun ketika sudah sampai didesa yang dituju.
"Aku juga ngak tau Pak, coba tanya orang orang itu" Tunjuk Nadhira kearah orang orang yang tengah berkumpul untuk bercanda gurau yang tidak jauh dari mobil yang ia naiki itu.
"Baik Non".
Pak Mun segera bergegas untuk turun dari mobil itu untuk mendekati orang orang yang tengah berkumpul itu, ketika Pak Mun berbicara kepada mereka, mereka seolah olah terlihat begitu terkejut dan menunjukkan kearah dimana yang ingin mereka tuju selanjutnya.
Terlihat bahwa mereka sedang serius dalam mengobrolnya, seakan akan ada hal penting yang mereka bicarakan dengan Pak Mun, Nadhira terus memperhatikan ekspresi mereka yang seakan akan terlihat begitu seriusnya.
Setelah mengobrol cukup lama akhirnya Pak Mun kembali masuk kedalam mobil, dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit kecewa setelah mengobrol dengan orang orang yang ada disana.
"Ada apa Pak Mun?" Tanya Nadhira.
"Non orang yang akan kita datangi itu bukan orang baik, bukannya mendapatkan informasi alamatnya eh malah mendapatkan ceramah panjang lebar, kali tinggi juga ikut ikutan" Gerutu Pak Mun.
"Bukan orang baik gimana Pak?" Giliran Theo yang bertanya kepada Pak Mun.
"Kan saya tadi bertanya alamat rumah yang ada difoto ini, terus mereka malah bilang jangan datang kesana, itu bukan rumah orang baik, terlalu banyak lelaki dan perempuan yang keluar masuk disana, pokoknya bukan tempat yang baik katanya".
"Seperti pergaulan bebas gitu Pak?"
"Iya Non, mereka malah justru mengusir kita dari sini, karena mereka pikir kalau kita juga bagian dari rumah itu, kayaknya sih penduduk desa ini sudah muak dengan penghuni yang ada dirumah ini".
"Lalu apa yang harus kita lakukan Dhira? Apa sebaiknya lain kali saja kita kesini, biar anak buahku yang menyelidikinya?"
"Jalan saja Pak, cari tempat yang sepi, aku ingin masuk kedesa itu diam diam".
"Tapi Non...".
"Tidak boleh, itu akan terlalu bahaya untukmu Nak" Kali ini Bi Ira ikut menyahuti.
"Aku tidak takut dengan bahaya Bu, aku hanya ingin segera mengetahui tentang kejadian dibalik kecelakaan itu".
"Iya Dhira, kau pasti akan mengetahuinya nanti, apa ngak sebaiknya kita pulang dulu dan rencanakan ulang semuanya".
"Tidak Theo, kita sudah jauh jauh untuk sampai kedesa ini, kalau tidak menemukan apapun itu artinya sia sia kita datang jauh jauh kemari".
"Bukan Dhira namanya kalau menyerah begitu saja tanpa mencapai tujuan, haha... Memang tidak pernah menyayangi nyawanya sendiri" Ucap Nimas.
Akhirnya Pak Mun mulai menjalankan mobilnya untuk mencari tempat yang sesuai dengan keinginan Nadhira, ia tidak mampu untuk membantah keinginan dari Nadhira apalagi Nadhira hebat dalam ilmu beladiri, entah setelah operasi itu Nadhira masih bisa berlatih atau tidak, dia tidak tau.
Mobil itu segera melaju meninggalkan tempat tersebut, Nadhira semakin merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi didesa itu dan apa yang telah dilakukan oleh penghuni dirumah yang akan mereka tuju itu.
Jika itu kemauan dari Nadhira tidak ada yang bisa mencegahnya ataupun melarangnya selama ini kecuali Rifki yang bisa menghentikan tindakan yang akan dilakukan oleh Nadhira karena Nadhira tidak akan bisa untuk membantah ucapan Rifki.
__ADS_1
...Selamat Hari Raya Idhul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏...