
Ningsih segera membersihkan wajah Nadhira dari noda darah yang ada dikepala Nadhira dengan sebuah kain dan air bersih, begitu banyak darah yang keluar dari kening Nadhira sehingga membasahi bantal yang dipakai oleh Nadhira saat ini, dengan perlahan lahan ia membersihkannya dan menghentikan pendarahan menggunakan obat tradisional ditempat itu.
Setelah darah itu bersih, Ningsih lalu melumuri luka itu dengan obat tradisional, setelah itu ia segera membalutnya menggunakan kain panjang ketika darah sudah tidak lagi keluar dari kening Nadhira, akan tetapi Nadhira belum juga sadarkan diri.
Sementara itu Theo mengistirahatkan dirinya yang kelelahan itu, Ningsih juga telah membuatkan Theo minuman hangat dan juga beberapa makanan untuk Theo dan Pak Mun, keduanya tidak menyangka akan seperti ini pada akhirnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi didalam ruangan bawah tanah itu? Kenapa Non Dhira sampai terluka seperti itu?" Tanya Pak Mun.
"Aku ngak tau apa yang sebenarnya terjadi didalam sana Pak, aku menemukan Nadhira sudah dalam kondisi seperti itu sebelumnya, dan aku juga bertemu dengan Pak Dwija didalam sana dengan tubuh yang terikat begitu kuatnya dengan luka memar disekujur tubuhnya"
"Jadi benar bahwa Dwija masih hidup?".
"Awalnya kami masih sempat untuk mengobrol tapi setelah ledakan itu terjadi, mungkin sekarang tubuhnya sudah hancur lebur karena bom yang meledak itu berada pada tubuhnya Pak, mereka sengaja memasangnya untuk melenyapkan nyawa Pak Dwija agar Pak Dwija tidak mampu untuk kabur dari tempat itu".
"Ya Allah malang sekali nasibnya itu, kejam sekali, apa kau mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya?"
"Aku tidak tau Pak, setelah aku sampai disana, dia menyuruhku untuk membawa Nadhira pergi menjauh dari tempat itu karena tempat itu akan diledakkan beberapa saat lagi, akan tetapi sebelum kami pergi dari tempat itu, Pak Dwija memohon kepadaku untuk menyelamatkan Nadhira, karena aku juga melihat sendiri bahwa bom yang dipasang ditubuh Pak Dwija itu mulai aktif kembali, mungkin hanya Nadhira saja yang mengetahui siapa pelakunya Pak".
"Non Dhira juga belum sadarkan diri sampai sekarang, sudah beberapa jam berlalu dan dia masih tetap berada dibawah alam sadarnya, pendarahannya juga sudah berhenti tapi dia belum juga sadarkan diri".
"Semoga dia baik baik saja Pak, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dia, dia begitu sedih ketika mengetahui bahwa kami tidak mampu untuk menyelamatkan nyawa Pak Dwija sebelumnya".
"Iya, dia pasti sangat terpukul karena mengetahui kebenaran yang dikatakan oleh Dwija sebelumnya sehingga dia begitu sedih ketika mengetahui bahwa Dwija tidak terselamatkan"
"Anda benar Pak".
Theo tidak tau lagi harus berkata apa, saat ini rumah Ningsih dipenuhi oleh warga desa dan juga beberapa anak buah Theo, mereka menantikan kesadaran dari Nadhira yang saat ini sedang terluka dan tidak sadarkan diri jua.
Ningsih tetap setia menunggu kesadaran Nadhira disamping Nadhira saat ini, Ningsih juga beberapa kali memberikan minyak kayu putih kepada Nadhira agar Nadhira menciumnya dan membuat Nadhira tersadarkan diri dari pingsannya.
Tak beberapa lama kemudian, Nadhira mulai mengernyitkan dahinya pertanda bahwa dirinya akan sadar dari pingsannya, melihat itu membuat Ningsih merasa sangat senang.
"Dia sadarkan diri" Ucap Ningsih dengan gembira.
Ucapan itu seketika membuat Pak Mun dan Theo segera bangkit untuk melihat kondisi Nadhira, Nadhira mulai membuka matanya dan mendapati begitu banyak orang yang tengah memutarinya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan diriku? Ataukah karena luka yang ada dikepalaku yang terlihat begitu jelek sekarang?" Tanya Nadhira dengan lirihnya.
"Nadhira kau sudah sadar, akhirnya kau sadar juga Dhira" Ucap Theo.
"Akh... "
Nadhira mencoba bangkit dari tidurnya akan tetapi kepalanya seketika terasa begitu perih dan sangat nyeri, hal itu membuat Nadhira merasa sangat pusing, Nadhira menyentuh kepalanya yang sudah dibalut dengan kain itu secara perlahan lahan.
Theo membantu Nadhira untuk duduk, dan memberi Nadhira minuman agar Nadhira merasa tenang, dengan perlahan lahan Nadhira mulai meminumnya hingga membuat perasaannya sedikit tenang.
"Bagaimana keadaanmu Dhira?"
"Aku baik baik saja Theo, hanya saja kepalaku begitu pusing saat ini, berapa lama aku tidak sadarkan diri Theo?".
"Istirahatlah terlebih dulu, sudah sekitar 4 jam kau tidak sadarkan diri Dhira, setelah kau mulai membaik kita akan segera pulang kekota, Omamu pasti sangat menghawatirkan dirimu".
"Iya Theo".
"Kenapa kalian buru buru pulang? Jangan pulang dulu, warga desa ingin mengadakan makan makan besar karana rasa syukur atas kembalinya anak anak mereka dan terbongkarnya misteri makam keramat itu, mereka juga mengundang kalian untuk hadir dalam acara itu, mereka sangat berharap bahwa kalian bisa ikut dalam acara itu" Ucap Ningsih.
"Tapi Bu, kami sudah lama meninggalkan rumah, Oma pasti sangat khawatir sekarang ini" Ucap Nadhira pelan.
"Apa kalian tega mengecewakan harapan mereka?"
"Dhira sebaiknya jangan membuat mereka kecewa"
"Tapi bagaimana dengan Oma? Dia pasti sangat cemas sekarang ini karena aku sudah meninggalkan rumah terlalu lama Theo".
"Apa kau tega mengecewakan mereka? Aku mendengarnya sendiri bahwa mereka sangat menginginkan kehadiran kita dalam acara itu Dhira, dan asal kau tau, sekarang mereka tengah berkumpul didepan rumah Bu Ningsih untuk memastikan keadaanmu Dhira".
Nadhira berada dalam sebuah dilema saat ini, ia tidak ingin mengecewakan harapan mereka akan tetapi Sarah saat ini sedang menghawatirkan dirinya dan berulang ulang kali menghubungi Nadhira lewat hp nya maupun lewat Pak Mun.
"Baiklah, aku akan tetap disini sampai acara malam ini selesai" Putus Nadhira.
Keputusan Nadhira itu seketika membuat Ningsih begitu senang, dan ia segera bergegas untuk memberitahukan kepada para warga mengenai keputusan Nadhira itu.
Tak beberapa lama kemudian terlihat mereka segera menyiapkan bahan bahan masakan yang begitu banyak untuk acara malam ini, keputusan Nadhira yang memilih tinggal sampai acara itu selesai membuat kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat sekitar tempat itu.
Nadhira keluar dari kamar tersebut dengan bantuan Theo, ia sangat ingin melihat keramaian yang ada diluar rumah Ningsih, ketiganya diperlakukan sangat baik didesa itu, ketika Nadhira keluar dari rumah itu, ia segera disambut dengan hangat oleh mereka.
__ADS_1
"Mbak Dhira kenapa keluar? Istirahat saja didalam" Ucap Ningsih ketika melihat Nadhira.
"Aku ngak apa apa Bu Ning, hanya saja aku terlalu bosan jika harus istirahat didalam kamar terus menerus, aku mendengar diluar rumah begitu ramai dan aku ingin melihatnya".
"Kalau begitu biar aku siapkan tempat duduk untukmu disini"
"Tidak perlu repot repot Bu Ning".
"Tidak repot kok, ini sudah menjadi kewajibanku untuk menyambut tamu yang sepesial seperti dirimu"
"Anda terlalu berlebihan memandang saya Bu"
"Berkat kalian anak anak kami telah kembali, dan juga misteri makam itu telah terbongkar, orang orang jahat itu telah ditangkap oleh pihak berwajib".
Nadhira tidak mampu berkata kata lagi, Ningsih segera menyiapkan tempat duduk kusus Nadhira ditempat itu, Nadhira duduk ditengah tengah keramaian warga yang sedang menyiapkan semua makan besar malam ini.
Terlihat mereka begitu rukun dan saling bercanda gurau bersama, Nadhira dan Theo menatap mereka dengan sesekali tersenyum kearah mereka, Pak Mun juga tidak tinggal diam, ia segera membantu warga lainnya untuk menyiapkan hidangan.
"Kakak, silahkan dimakan buahnya" Ucap Ratih sambil memberikan beberapa buah kepada Nadhira.
"Terima kasih, kau manis sekali".
"Kak apa ada yang bisa aku bantu lagi? Kalau Kakak butuh minum panggil saja diriku".
"Iya"
Ratih segera berlari dari situ menuju ketempat dimana teman temannya bermain, sudah sangat lama mereka tidak pernah bermain seperti sehingga Ratih terlihat sangat bahagia, Nadhira yang menatap kearah Ratih seketika teringat tentang kebersamaan dirinya dengan sahabat sahabatnya.
"Rifki, Susi, Bayu, aku sangat merindukan kebersamaannya dengan kalian bertiga, apakah kita bisa bermain dan berkumpul bersama kembali nanti? Aku harap kalian baik baik saja" Guman Nadhira lirih.
"Kau mengatakan sesuatu Dhira?" Tanya Theo yang tidak sengaja mendengar gumanan Nadhira akan tetapi dirinya tidak mengetahui apa yang digumankan oleh Nadhira saat ini.
"Ngak apa apa, aku hanya merindukan masa kecilku saja bukan hal yang penting".
"Oh seperti itu".
Tiba tiba kepala Nadhira terasa begitu pusing, sehingga Nadhira memeganginya dengan sangat erat dan sesekali dirinya memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
"Kau kenapa Dhira?" Tanya Theo.
"Kalau begitu istirahatlah kembali Dhira, kau masih perlu banyak istirahat Dhira, kau sangat kelelahan".
"Aku ngak apa apa kok Theo"
Seketika itu juga luka yang ada dikepala Nadhira kembali mengeluarkan darah segar, darah itu membasahi kain yang terpasang dikepala Nadhira saat ini, melihat itu Theo langsung bergegas bangkit dari duduknya dan menghadap kearah Nadhira.
"Nadhira, kepalamu kembali berdarah".
Ucapan Theo seketika menyita banyak perhatian dari warga yang ada ditempat itu, mereka segera menoleh kearah dimana Nadhira saat ini berada, mereka segera menghentikan aktivitasnya dan segera bergegas mendatangi Nadhira.
"Sudah ku bilang kan, kau seharusnya istirahat dulu, kau butuh lebih banyak istirahat Dhira, jangan paksakan dirimu sendiri seperti ini".
"Aku ngak apa apa Theo, hanya terasa pusing saja kok"
"Ya sudah, ayo biar aku antarkan kembali kekamar, kau harus istirahat yang banyak Dhira, kau kehilangan begitu banyak darah Dhira dan jangan membantah ucapanku Dhira".
"Tapi aku tidak ingin kekamar, disana aku merasa bosan jika hanya disuruh tidur, aku ingin disini sambil bercanda gurau dengan mereka".
"Jangan membantah Dhira"
Nadhira tetap memaksa untuk tetap ditempat itu sambil menyaksikan para warga bergotong royong untuk memasak dan merayakan kembalinya anak anak dan saudara mereka.
"Temanmu benar Nak, sebaiknya kau istirahat didalam dulu biar kondisimu membaik"
"Iya Nak, kami tidak ingin dirimu kenapa kenapa selama berada didesa ini, sebaiknya kau istirahat didalam dulu, kalau makanannya sudah jadi kami akan memanggilmu nanti".
"Baiklah, jika itu keinginan kalian, aku akan kembali kekamar dan istirahat dengan benar" Pasrah Nadhira.
"Baguslah, keputusan yang bijak".
Theo segera membantu Nadhira untuk bangkit dari tempat itu dan menuntun Nadhira menuju kekamar yang telah disiapkan ditempat itu untuk Nadhira, Ningsih mengikuti langkah Nadhira dari belakang sambil membawakan seember air bersih dan selembar kain untuk membersihkan luka Nadhira yang kembali mengeluarkan darah.
"Sini biar aku ganti perbannya dulu" Ucap Ningsih.
"Iya Bu Ning" Ucap Nadhira.
__ADS_1
Dengan perlahan lahan Ningsih mulai membuka ikatan tali kain yang menjadi perban untuk Nadhira, ia mulai membersihkan darah yang keluar dari kepala Nadhira dengan perlahan lahan akan tetapi Nadhira merasa begitu perih ketika sebuah kain yang dicelupkan kedalam air itu mengenai lukanya.
Nadhira mengernyitkan dahinya menahan rasa perih tersebut, bukan hanya perih yang ia rasakan akan tetapi rasa pusing yang terus menyerangnya dengan perlahan lahan dan semakin menjadi jadi sering berjalannya waktu.
"Tahan sebentar ya Mbak Dhira, mungkin ini akan sedikit sakit, daun lamtoro yang masih muda dihaluskan dipercaya warga desa ini mampu menghentikan pendarahan, aku akan mengoleskannya kepada luka Mbak Dhira, sebelum diperban kembali".
"Iya Bu, lakukan saja, apa yang terbaik menurut anda Bu Ning" Ucap Nadhira sambil menahan rasa perih yang ada di kepalanya.
Dengan perlahan lahan Ningsih segera memberikan daun lamtoro yang selesai dihaluskan itu kepada luka Nadhira, Nadhira merasakan lukanya semakin perih ketika diberi daun itu, akan tetapi daun itu begitu manjur untuk menghentikan pendarahan.
*****
Nadhira sedang berada didalam alam mimpinya saat ini dengan Theo yang selalu ada disampingnya sementara Pak Mun membantu warga untuk menyiapkan makan malam mereka, tiba tiba Ningsih datang memasuki kamar dimana Nadhira tengah tertidur saat ini.
Mendengar langkah itu membuat Nadhira terbangun dari tidurnya, dan mendapati bahwa Ningsih hendak membangunkannya saat ini
"Ada apa Bu?" Tanya Nadhira.
"Kau sudah bangun, mau saja aku bangunkan, makan malam sudah siap Mbak, apa Mbak ngak pengen bersih bersih badan dulu?".
"Jam berapa sekarang Bu?".
"Sudah jam 5 sore Mbak".
"Ya Allah sudah kesore an".
Nadhira segera membangunkan Theo yang tengah tidur sambil duduk didalam ruangan itu, Theo sama sekali tidak menyadari kedatangan Ningsih kekamar itu sehingga dirinya sama sekali tidak membuka matanya sebelum suara Nadhira membangunkannya.
"Ada apa Dhira?" Tanya Theo.
"Sudah sore, apa kamu masih tetap ingin tidur disore sore seperti ini Theo? Bangunlah"
"Sore? Cepet banget, prasaan baru saja juga tidur, sudah sore aja nih"
"Sudahlah Theo jangan pake perasaan, kalo terluka nanti nangis".
"Emang pernah aku nangis?"
Nadhira segera bergegas pergi dari kamar itu untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai ia segera bergegas menuju kedepan dan berkumpul dengan warga sekitar demi menghadiri acara mereka yakni syukuran atas kembalinya keluarga mereka yang telah hilang begitu lama.
Setelah Nadhira sampai disana, tak lama kemudian disusulah oleh Theo yang ikut serta berkumpul disana, suasana desa itu terlihat sangat ramai dengan penuh canda tawa dari anak anak mereka yang sudah sangat lama tidak mereka dengar sebelumnya.
Seluruh warga berkumpul dan mengelar sebuah tikar dan beberapa daun pisang ditempat itu, Nadhira tidak pernah makan beralaskan daun pisang sehingga membuat Nadhira merasa sedikit aneh.
"Kalau didesa begini Mbak, kalau mau ngadain syukuran makannya didaun pisang yang masih lebar belum dipotong, apa Mbak mau makan dipiring?" Tanya Ningsih dengan ragu.
Biar bagaimanapun juga Nadhira adalah orang kota sehingga memakan makanan yang beralaskan daun pisang bukanlah hal biasa bagi dirinya, Ningsih takut kalau Nadhira tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan desa seperti itu.
"Ngak apa apa kok Bu, aku belum pernah merasakan sensasi ini, lagian ngak ada salahnya juga kan makan dengan daun pisang".
"Beneran Mbak Dhira ngak apa apa makan dengan cara seperti ini".
"Kenapa tidak Bu? Justru ini sangat menyenangkan".
Nadhira mulai memasukkan nasi dan lauk yang telah ia tata kedalam mulutnya menggunakan tangannya, rasa nikmatnya kebersamaan terasa begitu indah bagi Nadhira, ia belum pernah merasakan enaknya makan bersama seperti saat ini.
"Kakak" Ucap Ratih memanggil Nadhira.
"Ada apa Dek?"
"Ajari aku memanah dong Kak, mereka bilang kalau Kakak hebat dalam memanah, aku juga ingin seperti Kak Dhira yang hebat".
"Kakak ngak hebat memanah Dek, mungkin kamu salah dengar kali".
"Ngak, aku ngak salah denger Kak, Kakak hebat banget, tadi mereka membicarakan itu".
"Membicarakan Kakak? Apa yang mereka katakan?".
"Mereka berbicara banyak banget Kak, sampai aku lupa apa yang mereka katakan"
"Ratih, biarkan Kak Dhira menikmati makanannya, sudahlah jangan menganggunya makan seperti itu, maafin Ratih ya Mbak" Sela Ningsih.
"Ngak apa apa kok Bu Ning, lagian Ratih juga ngak menganggu kok"
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...
__ADS_1