Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mabuknya Nadhira


__ADS_3

Clara sangat membenci Nadhira karena dirinya tidak mampu untuk mendapatkan Rifki sebelumnya, dan ia berpikir bahwa Nadhira adalah halangan terbesar baginya untuk memiliki Rifki, dan jika mahkota Nadhira direnggut secara paksa seperti ini Clara berpikir bahwa Rifki akan segera meninggalkan Nadhira karena Nadhira sudah tidak suci lagi.


Clara telah menyuruh orang untuk melakukan hal itu kepada Nadhira dengan memberinya uang yang begitu banyak, dan beberapa orang untuk mengambil gambar Nadhira ketika orang itu melakukan hal itu kepada Nadhira nantinya.


"Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa kesucian seorang wanita itu begitu berharga tapi apa yang telah aku lakukan, aku telah merusak kepercayaan yang telah kau berikan kepadaku, maafkan aku maafkan aku" Ucap Nadhira.


Begitu banyak beban hidup yang tengah ditanggung oleh Nadhira saat ini, Nadhira merasa bersalah karena dirinya telah merusak sebuah kepercayaan seseorang kepadanya karena dirinya tidak mampu untuk menjaga kesuciannya saat ini.


"Dhira apa kau baik baik saja?" Tanya Amanda.


"Semuanya sudah berakhir dan dia tidak akan kembali lagi, maafkan aku".


"Apa yang berakhir Dhira?".


"Hidupku telah berakhir, aku hanya perlu menunggu malaikat maut menjemputku" Ucap Nadhira dengan menatap kearah Amanda dengan tatapan tajam serta dihiasi dengan sebuah senyuman.


Kedua mata Nadhira mulai memerah karena efek dari minuman minuman beralkohol itu, wajah Nadhira terlihat begitu menyedihkan karena air matanya terus mengalir akan tetapi bibirnya dapat tersenyum dengan lebarnya.


Kesedihan dan kesenangan bercampur menjadi satu kesatuan, entah apa yang tengah Nadhira rasakan saat ini akan tetapi setiap orang yang melihatnya akan sulit menebak bagaimana dengan perasaannya saat ini, jangankan orang lain bahkan Nadhira sendiri juga tidak mengetahui tentang apa yang ia rasakan saat ini.


Melihat Nadhira yang sudah masuk kedalam mobil tersebut membuat Clara segera pergi dari tempat itu, untuk kembali bersenang senang didalam club malam. Amanda menutup pintu mobil tersebut, Amanda meminta kepada sopirnya untuk segera jalan, dan mobil itu segera melaju dengan cepatnya meninggalkan tempat itu.


Citttttt


Ketika mobil itu melaju dengan tiba tiba sopir mobil yang ditumpangi oleh Amanda berserta Nadhira mengerem mendadak sehingga membuat Amanda hampir terjungkal kedepan dan menatap kursi yang ada didepannya.


"Ada apa Pak?" Tanya Amanda.


"Seseorang telah menghentikan mobil yang kita naiki tiba tiba Mbak".


"Siapa orang itu?"


"Saya tidak tau Mbak, seperti dia memang berniat untuk menghentikan mobil ini".


Amanda menoleh kedepan dan mendapati sebuah mobil berwarna hitam sudah berada didepan mobil yang ia naiki, tak beberapa lama kemudian keluarlah seseorang pemuda dari dalam mobil itu dan pemuda itu bergegas menuju kemobil yang mereka naiki.


"Pak kunci pintu mobilnya" Ucap Amanda dengan khawatirnya karena seorang pemuda yang sedang berjalan kearah mobilnya itu.


"Baik Mbak".


Sopir tersebut segera bergegas untuk mengunci pintu mobil itu, agar pemuda itu tidak bisa masuk kedalam mobil yang ia naiki, keduanya sama sekali tidak mengenali pemuda yang ada diluar mobil itu.


Pemuda itu mencoba untuk membuka pintu mobil itu akan tetapi dirinya tidak bisa melakukan itu karena mobilnya telah dikunci dari dalam.


"BUKA MOBILNYA! ATAU KU HANCURKAN KACA INI" Bentak pemuda itu dan memberi ancaman kepada sang sopir.


Brak.... Brakk.... Brakkk....


Pemuda yanga dan diluar mobil itu terus saja memukul kacar mobil yang dinaiki oleh Amanda yang sedang membawa Nadhira didalamnya, Nadhira hanya tersenyum ketika melihat kepanikan diwajah Amanda saat ini.


"Mbak bagaimana ini? Kaca mobil ini bisa bisa pecah kalau begini".


"Coba cari cara lain Pak".


"Haha.... Kita akan tertangkap"


Ketika ditengah tengah kepanikan Amanda, Nadhira dengan leluasanya tertawa begitu kerasnya meskipun Nadhira saat ini sedang memejamkan kedua matanya karena rasa pusingnya dan dirinya juga tidak menyadari dengan apa yang terjadi saat ini.


"Kenapa kau tertawa? Memang ada yang lucu ha?" Tanya Amanda dengan geramnya ketika melihat Nadhira tertawa begiru kerasnya.


Nadhira sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Amanda itu, dan justru dirinya tetap melanjutkan tawanya saat ini, hal itu membuat Amanda semakin merasa geram dengan Nadhira.


Brakk....

__ADS_1


"Buka sekarang atau aku benar benar akan menghancurkan mobil ini!".


"Mbak, bagaimana ini?" Tanya sopir itu dengan ketakutan.


Dapat dilihat sebuah retakan dikaca tempat dimana pemuda itu memukul dan menendangnya, jika pemuda itu dibiarkan begitu saja bisa bisa kaca yang ada dimobilnya akan pecah dan dirinya akan mengalami kerugian yang sangat banyak kali ini.


Dengan terpaksa sopir tersebut segera membuka kunci mobilnya dan membiarkan pemuda itu untuk membuka pintu mobilnya karena dirinya tidak ingin bertambah rugi karena pemuda itu terus berusaha untuk memecahkan kaca mobilnya itu.


"Siapa kau?" Tanya Amanda kepada sosok lelaki yang tengah menghentikannya itu.


"Kemana kau akan membawa Nadhira pergi? Kau ingin membuat Nadhira kehilangan kesuciannya ha? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepada dirinya" Ucap lelaki itu.


"Bukan urusanmu! Jangan pernah ikut campur dalam urusanku!".


"Aku tidak akan ikut campur selama bukan Nadhira yang masuk dalam jebakanmu itu, jika itu menyangkut Nadhira maka aku harus ikut campur didalamnya juga".


"Beraninya kau!".


Lelaki itu segera nembuka pintu mobil itu dengan lebar lebar dan menarik tubuh Nadhira keluar dari mobil itu, Nadhira yang sedang mabuk hanya mampu pasrah dengan tarikan itu, tanpa sadar bahwa dirinya tengah jatuh kedalam pelukan lelaki itu.


Merasakan tubuhnya yang sedang dipeluk oleh seseorang, Nadhira mengira bahwa orang yang tengah memeluknya agar tidak jatuh itu adalah Rifki, orang yang sangat berarti bagi dirinya.


"Rifki jangan tinggalkan aku lagi" Ucap Nadhira pelan dan hanya didengar oleh lelaki yang tengah memeluknya saat ini.


"Ya ampun, Dhira kau mabuk?" Ucap lelaki itu.


Lelaki itu mampu mencium bau alkohol yang melekat ditubuh Nadhira dengan begitu pekatnya, bau itu tidak asing bagi dirinya karena dirinya sendiri juga sering menikmati minuman seperti itu sebelumnya. Lelaki itu meminum minuman seperti itu hanya untuk menghilangkan rasa stresnya karena pekerjaan kuliahnya ataupun yang lainnya.


"Rifki"


"Kau terlalu banyak minum Dhira" Ucapnya dan bergegas pergi dari tempat itu.


"Heii jangan bawa Nadhira pergi! Kembalikan Nadhira! Jangan membawanya!"


Lelaki itu meminta sopirnya untuk bergegas pergi dari tempat itu, sementara lelaki itu menidurkan Nadhira diatas pangkuannya dan beberapa kali mengusap kepalanya Nadhira pelan.


"Rifki aku begitu merindukanmu apa kau tau itu" Ucap Nadhira pelan dan terlihat sedikit tersenyum.


"Dhira sadarlah, kau terlalu banyak minum hari ini, Clara benar benar kelewatan kali ini, untung aku cepat datang kalau tidak kehormatan Nadhira akan dilecehkan nanti" Ucap lelaki itu.


Lelaki itu mengusap kepala Nadhira pelan bagi pemuda itu apa yang diminum oleh Nadhira itu tidak seberapa akan tetapi Nadhira tidak pernah meminumnya oleh karena itu masih mudah sekali untuk mabuk karena minuman itu.


"Tuan kemana kita akan membawa gadis ini pergi?" Tanya sang sopir.


"Entah aku juga tidak tau Pak, kita bawa kemarkas sekarang saja, mungkin disana dia akan aman".


"Baik Tuan".


Mobil itu segera melaju dengan cepatnya menuju kesuatu tempat dan memecah kesunyian malam ini, Nadhira sama sekali tidak sadar dengan apa yang ia alami saat ini, dirinya terus menerus memanggil manggil mana Rifki.


Tidak ada yang mengetahui tentang perasaannya saat ini, Nadhira begitu sangat merindukan sosok Rifki yang telah lama pergi meninggalkan, karena sangking rindunya membuat Nadhira terus menyebutkan namanya disaat dirinya sedang dalam kondisi mabuk seperti ini.


"Meskipun dalam keadaan seperti ini kau masih saja memikirkan Rifki, apakah dihatimu sama sekali tidak ada namaku didalamnya Dhira?".


Sesampainya mobil itu sampai ditempat tujuan, lelaki itu segera mengangkat tubuh Nadhira dari mobil itu dan bergegas untuk masuk kedalam markas yang penuh dengan para lelaki, lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan para lelaki yang ada ditempat itu uang sedang menatapnya karena mereka begitu terkejut ketika melihat pimpinannya membawa seorang gadis untuk masuk kedalam markas.


"Gadis itu? Bukannya gadis itu adalah gadis yang waktu itu datang kemari? Apa yang terjadi dengan gadis itu?" Bisik salah satu dari mereka kepada teman yang ada disebelahnya.


Mereka mengingat ingat bahwa Nadhira adalah gadis yang sama yang pernah datang kemarkas itu sebelumnya, sehingga mereka mampu mengenali sosok Nadhira.


"Kau benar, itu adalah gadis waktu itu, dari baunya sepertinya gadis itu tengah mabuk". Ucap temannya ketika samar samar mencium bau alkohol.


"Apakah Bos akan berenak enakan dengan gadis itu malam ini? Dia pasti tidak akan menyia nyiakan kesempatan dihari ini, secara otomatiskan gadis itu juga sangat cantik ya kan teman teman".

__ADS_1


"Kau benar, Bos beruntung sekali bisa mendapatkan gadis secantik itu malam ini".


"DIAM KALIAN! CEPAT PERGI DARI SINI!" Bentak lelaki itu kepada anak buahnya.


Mereka segera bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut dengan terburu buru ketika melihat pemuda yang tengah menggendong Nadhira itu terlihat begitu marah kepada mereka karena telah membicarakan tentang Nadhira didepannya.


Pemuda itu segera bergegas membawa Nadhira masuk kedalam markasnya, Nadhira perlahan lahan membuka matanya dan melihat kearah wajah orang yang tengah menggendongnya, sekilas Nadhira dapat melihat bahwa orang itu adalah Rifki.


"Rifki, kau benar benar datang?" Tanya Nadhira.


Tanpa menjawab ucapan Nadhira, pemuda itu segera bergegas membawa Nadhira masuk kedalam sebuah kamar yang berada didalam markas tersebut, dengan perlahan lahan orang itu membaringkan tubuh Nadhira diatas kasur tempat tersebut.


"Dhira Dhira kenapa kamu bisa mabuk seperti ini sih, untung saja temanmu itu tidak bisa membawamu kehotel saat ini, bisa bisa dirimu akan merasa begitu hancur ketika mengetahui bahwa dirimu telah dilecehkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu disana".


Pemuda itu merasa heran kenapa Nadhira dengan mudahnya menuruti kemauan dari Clara apalagi untuk meminum minuman seperti itu, dan bahkan dirinya saja tau betul bahaya dari meminum minuman keras karena dirinya sendiri sudah kecanduan dengan efek dari minuman itu.


Melihat Nadhira yang seperti itu membuat pemuda itu merasa sangat kasihan dengan dirinya, seorang wanita baik baik dipaksa untuk meminum minuman yang memabukkan dan akan dilecehkan begitu saja membuat pemuda itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Clara.


"Rifki jangan tinggalkan aku" Ucap Nadhira lirih sambil menutup kedua matanya.


"Aku tidak akan meninggalkan dirimu Dhira, tunggu sini ya biar aku ambilkan air putih untuk dirimu mungkin saja bisa mengurangi efek dari minuman memabukkan itu".


Orang itu memasang selimut yang tebal untuk Nadhira, ketika selesai menutupi tubuh Nadhira, dia segera bergegas pergi dari tempat itu untuk mengambilkan Nadhira minuman. Nadhira bangkit dari tidurnya dan berjalan dengan sempoyongan keluar dari kamar tersebut tanpa ada yang mengetahuinya, ketika pemuda itu kembali masuk kedalam kamar tersebut ia begitu terkejut ketika Nadhira sudah tidak ada dikamar itu.


"Dhira! Kemana perginya gadis ini dalam keadaan mabuk seperti itu?" Ucapnya dan langsung bergegas pergi untuk mencari Nadhira.


Pemuda itu segera memanggil para anak buahnya untuk ikut serta mencari Nadhira dan menambah penjagaan digerbang utama tempat itu agar Nadhira tidak bisa pergi dari markas itu dengan keadaan yang masih mabuk, akan berbahaya jika seorang wanita keluar dimalam hari apalagi dengan keadaan yang masih mabuk seperti itu.


"Nadhira kamu dimana!" Teriak Pemuda itu.


Pemuda itu seketika tertegun ketika melihat Nadhira sedang menari nari dengan sempoyongan dihalaman markas tersebut dan diantara bunga bunga yang sedang bermekaran malam ini, Nadhira terlihat begitu bahagia ketika melihat bunga bunga yang bermekaran itu.


"Ternyata kamu disini Dhira".


Nadhira belum mampu berdiri dengan benarnya karena minuman minuman itu yang membuatnya mabuk seperti saat ini, Nadhira masih dalam keadaan mabuk saat ini.


Nadhira memetik bunga bunga itu dan melemparkannya keudara, kelopak bunga bunga itu bertaburkan diudara mengelilinginya dan hal itu membuat Nadhira bersemangat untuk menari nari dibawa taburan bunga bunga itu.


Nadhira terus menari nari dan bernyanyi dengan riangnya, akan tetapi tiba tiba dirinya hampir terpeleset karena Nadhira belum bisa berdiri dengan benarnya, melihat itu pemuda yang sedang menatapnya segera berlari untuk menangkap tubuh Nadhira yang hampir terjatuh ditanah itu.


Ketika merasakan tubuhnya akan terjatuh hal itu membuat Nadhira memejamkan matanya dan tersenyum begitu cerahnya, senyum Nadhira semakin melebar ketika merasakan ada seseorang yang sedang menangkap tubuhnya.


"Rifki"


Dalam mabuknya Nadhira melihat sosok orang lain menjadi Rifki, sehingga apapun yang ia lihat ia selalu beranggapan bahwa Rifk selalu berada didekatnya akan tetapi Nadhira salah karena Rifki sedang tidak ada didekatnya maupun disampingnya.


"Kamu ngapain malam malam disini?"


"Bermain main dengan bunga, bunga disini indah sekali, bermekaran juga".


"Ya sudah ayo kembali kekamarmu Dhira, ini sudah malam, angin malam tidak bagus untuk kesehatan, istirahatlah disana" Ajak pemuda itu.


"Kamu lucu" Ucap Nadhira sambil menunjuk nunjuk dada bidang dari pemuda itu.


"Kembali kekamar ya Dhira".


"Gendong" Ucap Nadhira dengan manjanya.


"Baiklah"


Pemuda itu langsung mengangkat tubuh Nadhira dalam gendongannya, Nadhira merasa senang ketika tubuhnya diangkat oleh pemuda itu, Nadhira pun memeluk erat leher dari pemuda yang tengah menggendongnya saat ini.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰...

__ADS_1


...Terima kasih ...


__ADS_2