
Sarah dan Nadhira segera bergegas masuk kedalam rumah, Sarah ingin membaringkan tubuhnya sementara Nadhira ingin menemui Nandhita yang sedang bersantai diruang keluarga lebih tepatnya diatas kasur didepan tv.
Nadhira melihat Nandhita yang merebahkan tubuhnya dengan mengenggam ponsel ditangannya, Nandhita tertawa sendiri ketika melihat ponsel tersebut seakan akan ada yang mengajaknya bercanda, dengan diam diam Nadhira mendekat kearah Nandhita yang sedang sibuk dengan ponselnya dan mengintip apa yang dilakukan oleh Kakaknya itu.
Ekspresi wajah Nadhira berubah cemberut ketika Kakaknya hanya chatingan entah dengan siapa, Nadhira merasa bahwa Kakaknya tidak menyadari kedatangan saat ini sehingga Kakaknya sama sekali tidak bergembing dari posisinya.
"Kak" Ucap Nadhira dengan manjanya.
Ucapan Nadhira mengejutkan Nandhita yang tengah sibuk dengan ponsel miliknya itu, Nandhita baru menyadari bahwa Nadhira sudah ada disebelahnya ketika Nadhira bersuara.
"Ada apa Dek?" Tanya Nandhita sambil menaruh ponselnya dan bangkit duduk menghadap kearah Nadhira yang ada disenelahnya.
"Dhira rindu Mama".
"Kakak juga rindu sama Mama, kita doakan saja semoga Mama bahagia disisi-Nya".
"Hah... Kakak ngak peka dengan apa yang Dhira ucapkan kepada Kakak" Nadhira menghela nafasnya mendengar ucapan Nandhita.
"Astaga... Kakak lupa, maaf ya Dek, Kakak benar benar lupa sekarang" Ucap Nandhita sambil menepuk jidatnya, sementara ucapan itu seketika membuat Nadhira bersemangat.
"Apa yang Kakak ingat? Kakak sudah ingatkah?" Tanya Nadhira dengan antusiasnya.
"Kakak ada janji sama temen Kakak, haduh pasti dia sedang menunggu Kakak sangat lama" Jawaban itu seketika merubah ekspresi wajahnya Nadhira menjadi sangat masam.
"Ku pikir apaan" Ucap Nadhira dengan rasa kecewanya kepada Nandhita.
"Maaf ya Kakak harus pergi sekarang ya, kasihan temen Kakak yang sudah nunggu lama, temen cowok soalnya Dek".
"Apa temen Kakak itu pacar Kakak sehingga begitu penting daripada Dhira? Dhira juga sudah nunggu lama, pergilah sana tinggalkan Dhira sendiri, Dhira marah sama Kakak, Kakak ngak inget sama sekali dengan Adiknya sendiri".
"Bercanda Dek, gitu saja marah" Ucap Nandhita dengan ekspresi mengoda Nadhira.
"Ngak, Dhira ngak marah kok sama Kakak" Ucapnya dengan ekspresi cuek dan bibirnya maju kedepan seperti bebek.
"Ya udah dong ekspresinya jangan begitu amat kali, senyumannya mana dong Adeknya Kakak ini, sudah ya Kakak pergi dulu".
"Kakak" Rengek Nadhira.
"Kenapa lagi sih Adeknya Kakak ini, katanya ngak marah tapi kok kayak gitu ekspresinya, bikin bingung aja nih, lebih menyeramkan daripada hantu loh kalau ekspresi Dhira kayak gitu, bibirnya monyong".
"Emang Kakak pernah lihat hantu?"
"Pernah, nih didepan Kakak sekarang hantu yang sangat menyeramkan".
"Maksud Kakak mahluk yang ada disampingku sekarang ini?" Tanya Nadhira sambil menunjuk kearah kosong tempat dimana Nimas berada saat ini. "Serius Kakak bisa melihatnya?"
"Apa! Dia ada disebelahmu? Dhira jangan bercanda deh, Kakak kan hanya bercanda tadi, beneran Kakak ngak serius Dhira".
"Dhira tidak menyangka bahwa Kakak bisa melihatnya juga, benarkan mahluk ini sangat menyeramkan" Ucap Nadhira sambil menunjuk hidung Nimas.
Nadhira benar benar tidak percaya bahwa Nandhita bisa melihat sosok Nimas melalui kata kata yang Nandhita ucapkan kepada Nadhira, Nadhira hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya menanggapi ucapan Nandhita.
"Ngapa kau tunjuk tunjuk aku, lagian dia ngak bisa melihat diriku, aku kan hantu dengan kasta tertinggi dan hanya orang yang memiliki mata batin tertentu saja yang bisa melihatku, kalau cuma punya mata batin biasa dia tidak bisa melihat tubuhku ini" Keluh Nimas.
"Berarti aku orang istimewa dong, sehingga bisa melihat wujudmu itu kan kan? Sudah ku bilang kan kalau aku itu sepesial untukmu" Ucap Nadhira sambil menghadap kearah Nimas.
"Ogah, istimewa dari hongkong? Kau bisa melihatnya karena permata itu, kalau permata itu tidak ada didalam tubuhmu kau tidak akan bisa melihat diriku juga".
"Kenapa harus jauh jauh kehongkong sih, kali aja kan bisa dari kong guan juga untuk apa ribet ribet kesana, Bilang aja kau iri denganku kan? Jujur saja deh" Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Ngapain aku iri dengan orang lemah seperti dirimu, merepotkan saja bisanya, ingin ku buang kau kedalam jurang sekalian, nyeselin banget!".
"Boleh dicoba juga itu, itu ide yang sangat bagus".
"Huh kau lebih menjengkelkan daripada manusia pada umumnya, kau hanya bisa merepotkan manusia saja"
"Kan yang ku repotkan hanya manusia saja, bukan mahluk seperti dirimu".
"Emang selama ini kau tidak merasa merepotkan diriku begitu huh? Mau ku tampol pake sandal?"
"Emang kau bisa? Kau saja tidak punya sandal kan? Orang dirimu melayang bukan memijak tanah"
"Dhira stop deh! Jangan bicara sendiri dong, Kakak takut nih".
"Tadi Kakak bilang bisa melihat dia" Sambil menunjuk kearah Nimas, "Jelas jelas Dhira tidak bicara sendirian Kok, kan Dhira bicara dengan dia, masak Kakak ngak bisa melihat dirinya?".
"Sudahlah Dhira, Kakak pergi aja, Dhira ngomong sendiri bikin Kakak takut saja, temenan kok sama hantu itu lo".
"Enak aja bilang aku hantu, ku makan baru tau rasa lu" Gerutu Nimas.
"Kalau tidak mau disebut hantu mau disebut apa? Tuyul?" Tanya Nadhira kepada Nimas.
__ADS_1
"Dhira, apa yang kau katakan? Auah Kakak mau pergi saja deh, pusing kalau Nadhira bicara sendiri seperti itu"
"Nih si genderwo marah kalau disebut dengan hantu, Kakak mah gitu, orang Dhira hanya temenan sama genderwo saja kok bukan hantu, pergi sana kencan dengan cowok Kakak, jangan pedulikan Dhira lagi" Ucap Nadhira.
"Ini lagi pake bilang aku genderwo segala, emang aku punya bulu yang banyak? Kuku ku bahkan lebih pendek daripada genderwo, hih Kakak Adek yang bikin kesel banget, aku kan cantik kayak bidadari".
"Dhira! Kok malah jadi genderwo sih, ah Kakak takut beneran lo, genderwo itu yang berbulu lebat dan kuku panjang kan?"
"Ya, biar Kakak dibawa sekalian sama dia, Dhira sebel sama Kakak, Kakak ngak peka"
"Kurang peka apalagi sih Kakak?"
"Terserah apa mau Kakak"
"Cie marah cie Adiknya Kakak ini".
"Ngak, Dhira ngak marah cuma ngambek aja sama Kakak, Kakak melupakan Dhira".
"Bagaimana bisa Kakak melupakan Adek Kakak yang super manja ini hem, sudah Kakak buatkan dimeja makan khusus buat Nadhira seorang".
"Benarkah? Terima kasih Kak, Kakak memang yang terbaik untuk Dhira" Ucap Nadhira dengan mata yang berbinar binar dan juga senyuman merekah diwajahnya saat ini.
"Iya, lihat saja disana, tadi aja bilangnya kesel sama Kakak, sekarang senyum senyum gitu kayak ngak punya salah saja sama Kakak".
"Dhira memang tidak punya salah sama Kakak, kan Kakak pemafaat"
"Bisa saja jawabnya itu lo".
Nadhira segera buru buru untuk melihat apa yang ingin dia lihat, ternyata Kakaknya sama sekali tidak melupakan janjinya untuk membuatkan Nadhira makanan kesukaannya yakni ayam kecap manis dan gurih yang sudah dijanjikan oleh Nandhita dirumah sakit waktu Nadhira masih dirawat.
"Kak! Ini enak sekali, Dhira sangat suka sekali" Teriak Nadhira dari dalam ruang makan keluarga.
"Makan yang banyak, biar kenyang dan gendut" Ucap Nandhita membalas teriakan Nadhira.
"Dhira ngak mau gendut! Pokoknya Dhira ngak mau".
"Ya sudah tidak gendut tapi padat aja"
"Sama saja lah Kak!"
*****
Hal yang dilakukan oleh Nadhira sering kali membuat para pekerja yang ada dirumah tersebut kewalahan termasuk satpam yang ada dirumah besar itu, karena Nadhira terus membuatnya kewalahan dengan sikap Nadhira yang terus memintanya untuk menjadi lawannya ketika Nadhira berlajar beladiri.
Setelah itu satpam tersebut akan tekena omelan yang sangat banyak dari majikannya karena dirinya telah berani melawan Nadhira seorang diri, akan tetapi Nadhira tidak pernah berhenti untuk melakukan itu.
Saat ini Nadhira terlihat sedang fokus dihalaman samping rumah barunya itu dengan latihannya menggunakan tongkat miliknya, sudah lama sekali dirinya tidak pernah memakai tongkat tersebut untuk beladiri karena kondisi kakinya waktu itu.
Kelincahan Nadhira seakan akan menurun karena jarangnya dirinya berlatih, akan tetapi setelah berlatih beberapa kali akhirnya Nadhira berhasil mendapatkan kelincahannya kembali, Nadhira berlatih tongkat dengan sangat indah.
"Kenapa perasaanku mendadak tidak enak seperti ini" Guman Nadhira pelan dan tetap melanjutkan latihan beladirinya.
Plok plok plok
Suara tepuk tangan terdengar dihalaman tempat dimana Nadhira berlatih saat ini, Sarah Begi terkejut dengan kemampuan yang dimiliki oleh cucunya itu, belajar beladiri tidak lah mudah tetapi Nadhira tidak pernah menyerah untuk terus belajar beladiri.
"Hebat Nak"
Nadhira sedang fokus kepada gerakannya akan tetapi tiba tiba dirinya mendengar suara seseorang sehingga fokusnya terpecahkan, dan Nadhira lebih memilih untuk berhenti berlatih dan membalikkan tubuh menghadap kearah sumber suara.
"Eh Oma, sejak kapan Oma disitu?"
"Sudah dari tadi, eh iya kamu pasti lelah kan karena terus berlatih seperti itu sendirian, nih Oma bawakan minuman untuk Dhira" Ucapnya sambil menyodorkan sebotol minuman kepada Nadhira.
"Terima kasih Oma" Nadhira segera menerima botol yang diberikan oleh Sarah.
"Sama sama sayang".
"Oh iya, Ibu Ira dimana Oma?"
"Didepan tuh sambil belanja sayur, ya sudah Oma mau masuk dulu ya" Tunjuk Sarah kearah gerbang rumah tersebut.
"Iya Oma".
Nadhira menaruh tongkatnya digazebo yang ada dihalaman itu dan dirinya segera bergegas menuju kearah dimana Bi Ira berada saat ini, Nadhira dapat melihat bahwa Bi Ira tengah fokus mengobrol dengan penjual sayuran itu.
"Kasihan sekali orang orang itu"
"Iya Buk, apalagi ada anak kecil yang meninggal juga, terus ada yang parah juga, dia kejepit didalam mobil pribadinya, denger denger sih orangnya masih hidup dan segera dilarikan kerumah sakit"
"Ya Allah parah banget itu Pak"
__ADS_1
Bi Ira tidak menyadari bahwa Nadhira sudah berada disampingnya karena fokusnya mendengarkan berita yang disampaikan oleh penjual sayuran itu, Nadhira yang baru saja datang tidak mengerti apa yang keduanya bicarakan.
"Apa yang kalian bicarakan? Apa yang parah? Terus apa yang dilarikan kerumah sakit?" Tanya Nadhira tiba tiba.
"Eh kau kapan kemari Nak?"
"Ibu sih terlalu fokus dengan berita itu, sampai sampai tidak menyadari kedatanganku kemari, emang ada berita apaan si Bu?"
"Iya nih Nak, tuh di jalan raya gustam ada kecelakaan beruntun, dan diduga ada dua puluh lima korban kecelakaan itu, sepulub orang meninggal ditempat, enam orang luka parah langsung dilarikan kerumah sakit terdekat dan yang lainnya luka ringan".
"Innalilahi, kapan itu Bu kejadiannya?"
"Sekitar dua jam yang lalu"
"Kejadiannya seperti apa itu Bu? Kenapa bisa korbannya begitu banyak seperti itu?"
"Iya Neng, kan dilampu merah itu ada mobil berhenti karena terhalang lampu merah, sekitar ada tiga mobil yang sedang mengantri menunggu lampu hijau menyala dan beberapa kendaraan bermotor gitu Neng, ceritanya itu ada mobil kontruksi yang muatannya banyak eh mobilnya itu rem blong pas lampu merah itu dan menabrak mobil mobil itu" Ucap tukang sayur itu bercerita.
"Ya Allah sampai segitu parahnya, semoga yang meninggal dunia ditempatkan ditempat yang terbaik disisi-Nya dan yang terluka semoga segera disembuhkan".
"Aamiin"
"Terus sopir truk itu apa baik baik saja Pak?"
"Iya Neng dia selamat, cuma luka luka dikit saja, dia segera diamankan oleh pihak berwajib karena mengendarai mobil truk yang rem blong"
Nadhira seketika diam ketika mendengar kabar kecelakaan tersebut, tiba tiba Nadhira merasa sedih begitu saja seperti ada yang hilang dari hidupnya, hal itu membuat Nadhira melamun sesaat.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bi Ira ketika melihat Nadhira yang sedang melamun.
"Aku tiba tiba kepikiran sama Papa, bagaimana kabar Papa sekarang ya Bu?"
"Tuan pasti baik baik saja Nak, kenapa Dhira ngak menjenguk Tuan saja?"
"Aku tidak mau bertemu dengan Mama Sena lagi Bu, dan aku juga tidak bisa menemui Papa".
"Dia sudah dimasukkan kedalam penjara Nak, setelah dirimu tidak sadarkan diri waktu itu, orang orang menangkapnya dan membawanya masuk kedalam penjara saat itu juga".
"Benarkah?"
Bi Ira menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi digedung itu setelah Nadhira tidak sadarkan diri, Nadhira begitu terkejut ketika mendengar bahwa Sena sudah ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara oleh Reno dan anak anak Gengcobra.
Pesta yang berujung ricuh itu menjadi topik pembicaraan hangat bagi orang orang yang menghadiri acara ulang tahun itu, banyak sekali orang yang membicarakan tentang kejadian yang mengejutkan diacara ulang tahun Amanda.
"Setelah itu apa yang terjadi dengan Papa?"
"Sejak kedatangan Bayu ditempat itu membuat Tuan tersadarkan akan kejahatan dari Nyona Sena".
"Ternyata cerita yang diceritakan oleh Kakak waktu itu kurang lengkap ya Bu"
"Eh Nak, kenapa tangan kamu berdarah seperti itu?".
"Hah darah? Akh..."
Nadhira segera menoleh kearah tangannya, dan menemukan bahwa darahnya sudah menetes ketanah tempat dimana dirinya berpijak saat ini, Nadhira sama sekali tidak merasakan sakit ketika tangannya terluka akan tetapi ketika dirinya sadar bahwa dirinya sedang terluka rasa sakit itu mulai muncul ditangannya.
"Pak tolong tangan Dhira terluka" Teriak Bi Ira memanggil satpam rumah tersebut.
"Astaga Non Dhira kenapa? Kenapa bisa berdarah seperti ini".
Satpam tersebut segera berlarian untuk mendekat kearah Nadhira dan memeriksa keadaan Nadhira, satpam tersebut mengajak Nadhira ke posnya untuk mengobati luka Nadhira, dengan perlahan lahan satpam tersebut meneteskan betadin diluka Nadhira.
Luka Nadhira memang kecil akan tetapi darah yang dihasilkannya begitu banyak yang menetes keluar, sudah menghabiskan kapas begitu banyak akan tetapi darahnya tidak berhenti untuk mengalir keluar.
Setelah sekian lama berusaha untuk menghentikan pendarahan yang dialami oleh Nadhira, akhirnya darah yang mengalir itu berhenti keluar karena obat tetes yang diberikan oleh satpam itu kepada luka yang Nadhira miliki.
"Kenapa bisa terluka seperti ini sih Non" Guman satpam penjaga rumah itu.
"Mungkin gara gara aku ngak fokus tadi pas latihan pakai tongkat Pak, jadi tanganku yang terkena tajamnya tongkat itu, tapi jangan khawatir Pak, ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri kok".
"Ya ampun Non lain kali hati hati kalau mau latihan tongkat berbahaya itu, jangan sepelekan luka yang kecil Non nanti bisa infeksi kalau tidak segera diobati, kalau Nyonya besar sampai tau, bisa bisa saya diomelin Non"
"Ngak kok Pak, Bapak ngak bakal kena omel Oma kok, kan Dhira yang salah disini bukan Bapak".
"Iya kalo didepan Non ngak bakal diomelin, tapi kalo dibelakang Non mah diomelin sampai keakar akarnya kali Non".
"Kenapa ngak Bapak omelin balik saja, kan jadi seru nantinya Pak"
"Iya seru sih seru, besoknya langsung dipecat tanpa digaji sama sekali saya".
...Terima kasih sudah mampir dan memberi dukungan, selamat menunaikan ibadah puasa ...
__ADS_1