
Mobil yang dikendarai mereka melesat menuju kemarkas milik Rifki, didalam mobil tersebut Nadhira dan Rifki terus bercanda gurau mereka tidak menghiraukan lingkungan sekitarnya dapat dilihat sesekali seseorang terasa sebal karena canda gurau tersebut.
"Apa Susi ada dimarkas? Ajak dia juga lah".
"Kayaknya hari ini dia ngak bisa datang deh Dhir, soalnya sibuk dengan tugasnya, kan dia mau jadi dokter".
Keempat sahabat itu selalu berkumpul dimarkas Rifki ketika libur sekolah, akan tetapi Susi jarang ikut berkumpul karena ia sibuk dengan pelatihan dan sekolahnya, Susi ingin menjadi dokter yang sangat profesional terhadap pasiennya.
Mereka terus melanjutkan perjalanan mereka hingga sampailah disebuah tempat yang memiliki gerbang yang cukup tinggi tempat itu begitu besar bagi kedua wanita itu, sementara bagi Rifki tempat itu begitu biasa saja.
Tak lama kemudian ada seseorang yang membuka gerbang markas itu, setelah pintu gerbang itu terbuka dapat dilihat tempat yang cukup indah didalamnya, Laksmi begitu terpanah melihat keindahan tepat tersebut sementara Lina hanya menatapnya sekilas, ia begitu gugup karena tempat itu dipenuhi oleh laki laki.
Setelah mobil berhenti beberapa anak buah Rifki mendekati mobil tersebut dan membukakan pintu mobil untuk Rifki dan Nadhira, setelah itu mereka keluar dari mobil tersebut.
"Oh iya Ren, tolong antarkan kedua wanita itu kekamar belakang yang kosong itu". Ucap Rifki sambil menunjuk kearah kursi belakang mobil.
"Siapa mereka Tuan Muda?". Tanya Reno.
"Mereka adalah pembantu baru ditempat ini". Jelas Rifki.
"Jelaskan kepada mereka juga mengenai peraturan yang berlaku ditempat ini, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun". Perintah Rifki lagi kepada Reno yang dibalas anggukan olehnya.
"Baik Tuan Muda".
Rifki segera meninggalkan tempat itu sambil menggandeng tangan Nadhira dan mengajak Nadhira untuk kehalaman belakang, seperti biasa mereka akan bercanda tawa bersama dengan Bayu dan Vano.
Tetapi kali ini Rifki mengajak Nadhira untuk bermain fighter bareng dihalaman belakang, untuk menguji kemampuan Nadhira dalam beladiri, keduanya sudah berdiri diatas matras dihalaman belakang markas besar itu.
"Kamu bawa tongkat yang aku berikan?". Tanya Rifki.
"Bawa dong Tuan Muda, selalu aku bawa". Jawab Nadhira dengan riangnya.
"Baguslah, awas aja kalo sampe ngak bawa".
Keduanya berada ditengah tengah matras dan saling berhadapan satu sama lain, sementara anak buah Rifki berada diluar markas sambil melihat perkelahian yang akan terjadi ditengah tengah matras tersebut.
"Ayo Dhira kalahkan Tuan Muda!! Yang kejam itu, kamu pasti bisa!!! Semangat!!!". Teriak Bayu.
"Ayo Tuan Muda jangan mau kalah dengan seorang gadis!!". Teriak Vano mendukung Rifki.
Seketika tempat itu menjadi begitu ricuh, beberapa anak buah Rifki mulai berkumpul digazebo yang sering Rifki gunakan untuk bersantai maupun bercanda gurau, dan sebagian dari mereka ada yang memutari matras dimana Nadhira dan Rifki berdisi saat ini.
"Tuan Muda, sepertinya bukan kita yang terlalu bersemangat untuk bertarung, tetapi mereka". Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah anak buah Rifki yang terus menyoraki keduanya menggunakan tongkat yang ada digenggamnya saat ini.
"Kau benar, apa kau merasa gugup?".
"Tidak, hanya merasa tertarik aja dengan mereka bersorak seperti itu, jadi makin bersemangat".
Halaman belakang tersebut begitu ramai sorakan anak buah Rifki yang mendukung Rifki maupun Nadhira yang hendak bertarung, sorakan itu terdengar sampai dikamar kedua wanita yang dipekerjakan oleh Rifki sebagai pembantu.
Didalam kamar kedua wanita itu yang tengah menata pakaiannya kedalam almari yang telah disediakan dikamar tersebut, tetapi suara gemuruh tersebut segera menarik perhatian keduanya untuk segera menghentikan kegiatan mereka.
"Eh kenapa ramai sekali diluar?". Tanya Lina.
Lina merasa penasaran karena selama ia tinggal dipanti asuhan yang dipenuhi oleh anak anak tidak pernah mendengar suara gemuruh seperti saat ini, hal ini bukanlah hal biasa menurut dirinya karena suara itu begitu bergema dikamar yang mereka tinggali.
"Ngak tau Lin, bagaimana kalo kita lihat?". Ajak Laksmi.
"Ngak ah Mi, banyak anak cowok diluar".
"Ngak papa,, ayolah kita lihat".
Tanpa menunggu jawaban dari Lina, Laksmi segera menarik tangan Lina dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut menuju ketempat dimana asal suara tersebut karena kamar yang mereka tempati dekat dari halaman belakang markas tersebut.
Keduanya terkejut karena melihat begitu banyak laki laki disana, dan berbagai macam usia mereka, ditengah tengah para lelaki tersebut berdirilah Rifki dan juga Nadhira, masing masing membawa sebuah tongkat yang sama.
Nadhira adalah satu satunya seorang wanita yang berada disana dan dikelilingi oleh banyak lelaki, Lina begitu terkejut dengan itu, selama ini ia mengira bahwa Nadhira hanyalah anak orang kaya yang manja dan tidak berpengalaman dalam hal berkelahi.
"Rif, kayaknya anak buahmu begitu mendukungmu".
"Biarkan saja, rasanya seperti diatas gelanggang, apalagi ada supporter seperti mereka saat ini haha...".
"Dhir jangan pedulikan mereka, ayo semangat, aku pasti akan mendukungmu, kalahkan Tuan Muda yang songgong itu". Teriak Bayu kearah Nadhira.
__ADS_1
"Kalau aku menang, kau harus menelaktirku". Ucap Nadhira kepada Bayu yang ada ditepi matras itu.
"Kan ada Tuan Muda, kau tenang saja haha...".
Bayu tertawa kepada Nadhira dan juga Rifki, hanya Bayu yang berani bertindak seperti itu, apalagi mengatakan hal hal yang buruk kepada Rifki seperti mengatai Rifki kejam, songgong dan yang lainnya.
Nadhira dan Rifki mulai memasang kuda kuda mereka sambil memainkan tongkat yang ditangan mereka masing masing dan bersiap untuk bertarung, tetapi sebelum keduanya saling menyerang, Reno tiba tiba masuk kedalam arena itu, dan menghentikan keduanya.
"Eith.. tunggu dulu, ini ngak akan lengkap tanpa adanya wasit dan juri". Ucap Reno diantara keduanya.
"Kalo begitu kamu yang jadi wasitnya, biar Vano dan Bayu yang jadi jurinya". Ucap Nadhira sambil tersenyum.
"Baiklah". Ucap Reno, Vano, dan Bayu bersamaan.
Reno, Vano dan Bayu segera menempati posisi mereka masing masing untuk menjalankan tugas mereka sebagai wasit dan juri.
"Peraturannya siapa yang keluar matras lebih dulu dialah yang kalah, kedua siapa yang menyerah dialah yang kalah". Bayu mengumumkan peraturannya.
Nadhira tersenyum mendengar peraturan itu, ia hanya perlu mengeluarkan Rifki dari arena ataupun memaksa Rifki untuk segera mengaku bahwa dirinyalah telah kalah olehnya.
"Kamu sudah siap Dhira?". Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Sudah". Jawab Nadhira dengan semangatnya.
"Baiklah, mulai!!!".
Setelah aba aba dari Reno keduanya segera bergegas saling menyerang satu sama lain, Rifki hanya mengimbangi gerakan Nadhira yang terus menyerangnya tanpa ampun.
Setiap gerakan tongkat Nadhira mudah terbaca dengan jelas oleh Rifki sehingga Rifki dengan fokusnya tetap terarah kepada setiap gerakan yang dilakukan oleh Nadhira.
"Seperti ada kemajuan sedikit". Ucap Rifki sambil terus menangkis setiap serangan yang diberikan oleh Nadhira kepadanya.
"Kenapa hanya menangkis? Serang dong". Ucap Nadhira menanggapi ucapan Rifki.
"Baiklah, terima ini!!".
Rifki mulai mengeluarkan beberapa gerakan untuk menyerang Nadhira, dengan cepatnya Nadhira menangkis gerakan tersebut, keduanya pun saling serang dan menyerang satu sama lain.
"Jangan pernah pelit dalam memberi langka, agar gerakanmu terlihat lincah, agar musuhmu tau bahwa dirimu hebat".
"Perhatikan juga mata lawan, karena kita dapat mengetahui setiap pergerakan lawan hanya melalui kedua matanya".
"Fokus adalah hal yang terpenting, kau harus memegangi senjatamu dengan benar".
Rifki juga memberitahukan kepada Nadhira kelemahan dari setiap gerakan yang dilakukan oleh Nadhira, dan juga kekuatan dibalik gerakan tersebut kepada Nadhira.
Beberapa menit kemudian keduanya telah diselimuti keringat yang terus membanjiri tubuh keduanya, dapat dilihat sesekali Nadhira menghela nafas panjang karena untuk mengalahkan Rifki adalah hal yang begitu menyusahkan menurutnya, dan ini hanyalah permainan tongkat sehingga membutuhkan tenaga yang banyak dikedua tangan mereka.
Melihat pertarungan keduanya itu membuat Lina begitu kagum kepada Nadhira, sementara ekspresi wajah Laksmi begitu berbeda dari apa yang ditunjukkan oleh Lina.
Laksmi mendatangi salah satu anak buah Rifki yang agak dekat dengan tempatnya berdiri saat ini.
"Kenapa mereka berkelahi seperti itu?". Tanya Laksmi kepada salah satu anak buah Rifki.
"Eh kamu bukannya pembantu baru ya?". Tanya balik pemuda itu.
"Iya".
"Pantes saja tidak tau, Tuan Muda hanya menguji kemampuan muridnya, lihatlah hebat sekali kan". Pemuda itu memuji setiap gerakan keduanya.
"Gitu saja dibanggakan". Gumanan mengejek Laksmi pelan tetapi mampu didengar pemuda itu.
"Apa maksudmu!!". Teriak pemuda itu.
Teriakan itu mampu didengar beberapa pemuda lainnya sehingga mereka segera mengalihkan fokus mereka dari pertandingan itu kearah pemuda yang berteriak itu.
Reno yang mendengar itu segera menghentikan pertarungan antara Nadhira dan Rifki, perhatian semuanya tertuju kepada pemuda yang tadi berteriak tersebut.
"Eh kau yang dibelakang kenapa berteriak?". Tanya Reno sambil menunjuk kearah pemuda yang tadi berteriak itu.
"Maafkan saya, Tuan Muda salah satu dari gadis ini berkata seperti merendahkan Nadhira".
"APA!!!". Teriak Rifki.
__ADS_1
"Tuan Muda maafkan saya, saya telah lancang". Ucap Laksmi yang ketakutan melihat kemarahan diwajah Rifki yang terarah kepadanya saat ini.
Lina yang berada dibelakang Laksmi hanya bisa terdiam diri tidak tau hal apa yang tengah terjadi ditempat itu, karena Lina sama sekali tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Laksmi kepada salah satu anak buah dari bosnya itu.
Rifki segera mendatangi tempat dimana Laksmi berdiri mematung, dan seluruh anak buahnya segera memberi jalan kepada Rifki untuk menuju ketempat dimana Laksmi berada.
Tetapi Nadhira seketika menggerakkan tongkat yang ada ditangannya untuk menghentikan langkah Rifki, hal itu membuat Rifki terkejut dan segera menoleh kearah darimana tongkat itu berasal.
"Aku menang". Ucap Nadhira.
"Aih bagaimana bisa!!".
"Karena Tuan Muda lebih dulu meninggalkan tempat ini kan?".
"Iyalah yalah kau yang menang".
Rifki segera mengalihkan tingkat tersebut dan berjalan menuju ketempat dimana Laksmi berada, sementara Nadhira membuang tongkat tersebut dan segera menyusul Rifki yang tengah terlihat marah itu.
"Kamu baru bekerja disini hari ini saja sudah berani beraninya menghina seseorang ditempat ini!! Apa kamu lupa itu!!!". Bentak Rifki kepada Laksmi.
"Maafkan saya Tuan Muda". Ucap Laksmi dengan gemetaran karena bentakkan dari Rifki itu.
"Sudah Rif, aku ngak papa kok, sudah jangan diteruskan lagi marahnya". Bujuk Nadhira sambil memegangi tangan Rifki.
Melihat Rifki begitu marah disaat itu, membuat Bayu segera mendekat kearah mereka, Bayu segera mengambil posisi ditengah tengah Rifki dan juga pembantu baru itu, Bayu memberi tanda kepada seorang pemuda untuk membawa Laksmi pergi dari tempat itu.
Pemuda yang melihat tanda itu segera membawa Laksmi pergi dari tempat itu, bersama dengan Lina juga, pemuda tersebut segera mengajak Laksmi dan Lina ketempat keduanya akan tinggal.
"Sudah Rif, biar aku yang akan mengajari keduanya agar tidak ada kesalahan lagi". Ucap Bayu menenangkan hati Rifki.
"Baiklah aku serahkan keduanya kepadamu, jangan sampek mereka mengulangi kembali kesalahannya".
"Minta tolong ambilkan minum". Ucap Nadhira kepada para anak buah Rifki.
"Biar aku saja yang mengambilnya". Vano menawarkan dirinya untuk mengambilkan air.
Rifki segera meninggalkan tempat itu dan menuju kegazebo tempatnya untuk bersantai, ia sudah tidak tertarik untuk melanjutkan latihannya karena kejadian yang ia alami saat ini.
*****
Setelah pemuda itu pergi meninggalkan Laksmi dan Lina dikamar yang akan mereka tempati, Laksmi segera membaringkan tubuhnya dikasurnya karena merasa lega, untuk saat ini ia selamat dari kemarahan bos barunya itu.
"Mi, apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Lina yang begitu penasarannya sedari tadi akhirnya terucap juga.
"Aku hanya tidak sengaja mengatakan sesuatu, kau tau sendiri kan kalo aku itu suka keceplosan dalam berbicara, sudahlah jangan dibahas lagi". Jawab Laksmi dengan kesalnya.
"Untung saja masih ada yang menyelamatkanmu dari kemarahan bos baru".
Tok tok tok
Tiba tiba pintu kamar keduanya diketuk dari luar, hal itu membuat keduanya segera bergegas menuju ke pintu tersebut untuk melihat siapa yang datang kekamarnya saat ini.
Didepan pintu berdirilah seorang pemuda yang tidak keduanya kenali, tetapi Laksmi merasa begitu yakin bahwa sosok pemuda dihadapan sekarang ini adalah pemuda yang sama yang telah menolongnya dari kemarahan Rifki.
"Ada apa ya?". Tanya Laksmi.
"Perkenalkan namaku adalah Bayu, wakil dari Tuan Muda, aku akan membimbing kalian bekerja ditempat ini, agar tidak ada lagi kesalahan yang akan kalian lakukan seperti tadi, untuk saat ini jangan keluar dari kamar ini sebelum aku datang kembali, karena Tuan Muda begitu marah hari ini, sekarang lain bisa istirahat nanti sore aku akan menjelaskan kepada kalian tentang peraturan yang berlaku ditempat ini".
"Baik Tuan". Jawab Lina dengan patuhnya.
"Kalau ada apa apa beritahukan kepadaku, kalian paham sendirikan bagaimana sikap laki laki?".
"Tapi Tuan bagaimana kalau ada yang melecehkan kami ditempat ini, tempat ini kan penuh dengan lelaki?". Tanya Lina ketakutan mendengar peringatan dari Bayu.
"Tenang saja, tidak semua lelaki itu sama, kalo ada yang berani melakukan itu, akan aku habisi sekarang juga ditempat ini!!".
Bayu segera meninggalkan tempat itu dan membiarkan keduanya mematung didepan pintu, setelah kepergian dari Bayu, Laksmi segera menutup pintu tersebut sementara Lina menjatuhkan dirinya dilantai dengan sedihnya.
"Belum juga bekerja, sudah membuat bos kita begitu marah". Keluh Lina dengan sedihnya.
Lina belum pernah merasa sekecewa itu karena tindakannya sendiri, tetapi baru kali ini ia merasakan hal itu, ini adalah pengalaman pertama kali bagi Lina menjadi pembantu rumah tangga, selama ini ia selalu bekerja ditoko yang gajinya tidak seberapa dibandingkan ketika ia bekerja ditempat ini.
~Terima kasih atas dukungannya~
__ADS_1