
Nadhira hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Rendi mengenai Dwija, melihat anggukan Nadhira membuat Rendi menghela nafas panjang, Rendi ingin sekali bertemu dengan Dwija untuk menanyakan soal Lia yang menghilang dan bahkan jenasahnya sama sekali tidak ditemukan kepadanya akan tetapi dirinya terlambat untuk menyadari bahwa kini Dwija telah tiada.
Rendi tidak menyangka bahwa setelah sekian lama ia mencari sosok Dwija, Nadhira sendiri yang berhasil menemukan tentang keberadaannya akan tetapi dirinya terlambat untuk dapat menyelamatkan nyawa Dwija dari ledakan bom tersebut yang membuat tubuhnya hancur berkeping keping didalam sebuah goa buatan yang ada didesa Flamboyan.
"Hanya Dwija saja yang tau dimana keberadaan dari Mamamu yang sebenarnya Dhira, apa ketika kau bertemu dengan Dwija, dia tidak mengatakannya kepadamu soal Lia?".
"Apa yang Papa katakan itu benar? Apakah benar Mama masih hidup sampai sekarang Pa? Pak Dwija sama sekali tidak mengatakannya kepadaku".
Nadhira sangat berharap bahwa Lia memang benar benar masih hidup, Nadhira nampak bersemangat ketika Rendi berkata seolah olah bahwa Lia masih hidup sampai sekarang akan tetapi keberadaannya memang masih disembunyikan oleh Dwija.
"Pa katakan kepadaku yang sebenarnya? Apakah Mama memang masih hidup? Katakan kepadaku Pa".
"Papa juga tidak tau Dhira, hanya Dwija yang tau tentang kebenaran itu, selama ini Papa terus mencoba untuk mencari tau tentang keberadaan Dwija tapi Papa tidak berhasil menemukannya justru kabar tentang kematiannya yang Papa dapatkan, dan kau mengatakan bahwa Dwija sudah tiada beberapa hari yang lalu".
"Kenapa Papa tidak mengatakannya kepadaku sebelumnya? Bahwa Mama masih hidup, Pak Dwija tidak mengatakan apapun soal keberadaan Mama, ia bilang bahwa ia sudah mencari Mama disepanjang sungai itu tapi dia tidak menemukannya, aku tidak tau mana yang benar dan mana yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang berbohong kepadaku".
"Waktu kecelakaan itu terjadi, Dwija yang mengetahui segalanya, dan dia juga mengetahui bahwa ada orang yang memang sengaja membuat Lia celaka waktu itu, dia sangat marah kepada Papa karena Papa tidak dapat menyelamatkan nyawa Lia, saat itu Papa tau bahwa Dwija sangat mencintai Lia dan dia rela melakukan apapun demi Lia".
"Tidak mungkin! Pak Dwija bilang bahwa dia adalah sahabat Mama waktu Mama masih kecil dulu, dan perasaan itu tidak ada didalam hati Pak Dwija karena dia sangat menyayangi Mama Sena".
"Kau tidak tau yang sesungguhnya Dhira, apa yang dikatakan oleh Dwija itu tidak benar, semuanya salah Papa karena Papa tidak mempercayai Lia sebelumnya, seandainya Papa dulu lebih percaya dengan Lia mungkin kejadian waktu itu tidak akan pernah terjadi Dhira".
"Jadi maksud Papa adalah Pak Dwija memang telah berbohong kepadaku? Tapi kenapa dia harus mengatakan hal itu? Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi diriku".
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada Dwija?".
Nadhira menceritakan kepada Rendi tentang dirinya yang bertemu dengan sosok Dwija didalam sebuah goa buatan dengan keadaan yang sangat memilukan dan menyayat hati yang ada didesa Flamboyan beberapa hari yang lalu dan bagaimana sebuah bom sengaja diledakkan disana agar membuat Dwija tidak mampu untuk diselamatkan sebelumnya.
"Begitu banyak luka sayatan yang dalam ditubuh Pak Dwija, dan begitu bekas darah yang berubah warna dibaju milik Pak Dwija saat itu, bagaimana mungkin kalau Pak Dwija adalah pelaku dibalik kecelakaan Mama waktu itu".
"Bagaimana bisa dia mengalami hal seperti itu Dhira? Apa yang terjadi dengan dirinya?".
"Semua karena Mama Sena yang menyiksanya Pa, Pak Dwija tidak salah dalam hal ini"
"Tidak mungkin!".
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan selain mengetahui kebenaran dari mulut orang lain, Rendi merasa begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Dwija telah tiada karena sebuah bom yang telah dipasangkan kepadanya atas perintah dari Sena, apalagi dengan kabar tentang kematiannya beberapa tahun yang lalu.
Nadhira tidak menceritakan tentang tanda lahir yang ada dibahu kirinya kepada Rendi karena bagi Nadhira hal itu tidak boleh diketahui oleh siapapun meskipun itu Ayah kandungnya sendiri, Nadhira berpikir bahwa tidak seharusnya hal itu dikatakan kepada siapapun.
"Pak Dwija memang mengatakan kepadaku bahwa dia memang telah mencari Mama Lia sebelumnya tapi dia tidak menemukan keberadaan dari Mama saat itu Pa, tapi Mama Sena segera menangkap dirinya dan mengurung dirinya disebuah goa yang dijaga dengan sangat ketatnya agar rahasia yang ia miliki tetap aman tanpa ada yang berani untuk membocorkan rahasia itu".
"Itu tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi Dhira, tidak mungkin hal itu terjadi kepada dirinya, untuk apa dia harus melakukan itu demi Lia? Dwija memang memiliki perasaan pada Lia".
"Kenapa Papa bisa seyakin itu? Pak Dwija melakukan itu semua hanya untuk menyelamatkan teman masa kecilnya Pa, tidak lebih dari itu, dan aku melihat sendiri bagaimana kondisinya waktu itu Pa, tidak ada kebohongan yang ia ucapkan".
"Asal kau tau Dhira, dialah yang memisahkan dirimu dari Lia, dia tidak ingin melihat kita bahagia seperti sebelumnya".
"Aku sama sekali tidak mengerti maksud Papa".
Rendi mengatakan bahwa Dwija adalah penyebab dibalik kematian dari Lia, Dwija sengaja membuat mobil itu mengalami sebuah rem blong karena ia tidak ingin melihat Rendi dan Lia bahagia.
"Lalu untuk apa Pak Dwija melakukan itu Pa? Pak Dwija tidak mungkin tega mencelakai Mama, tidak ada bukti yang jelas, lalu bagaimana Papa bisa menuduh Pak Dwija seperti itu, Pa jangan memfitnah orang yang bahkan orang itu telah tiada".
"Dhira, Papa sama sekali tidak berniat untuk memfitnah dirinya, tapi ini kenyataannya Dhira, jangan percaya dengan ucapannya, dialah dalang dibalik kecelakaan yang dialami oleh Lia".
"Tidak mungkin Pa, lantas apa tujuan Mama Sena mengurungnya seperti itu?".
"Awalnya aku tidak percaya bahwa Dwija adalah pelakunya, pada waktu kecelakaan itu terjadi Dwija sangat marah kepada Papa dan mengatakan bahwa Papa tidak mampu menjaga Lia, tapi setelah Papa cari tau ternyata Dwija sendiri yang melakukan rencana yang disusun oleh Sena".
__ADS_1
"Entah siapa yang harus aku percaya saat ini Pa, siapa yang telah berbohong kepadaku dan siapa yang mengatakan kejujuran kepadaku, aku tidak tau soal itu, siapa yang dapat aku percaya sekarang? Apakah aku harus percaya Papa ataukah aku harus percaya dengan ucapan Pak Dwija? Siapa yang benar dan siapa yang salah?".
"Percayalah sama Papa Nak, kau baru mengenal Dwija tapi kau sudah lama mengenal Papa, apa kau tidak bisa mempercayai Papa lagi?".
"Sangat sulit bagiku untuk memutuskan hal itu sekarang Pa, aku tidak tau kebenarannya seperti apa, apa yang sebenarnya terjadi kepada Mama waktu itu, aku tidak tau harus percaya dengan siapa".
Perasaan Nadhira rasanya seperti campur aduk sekarang ini, disaat dirinya mencari tau tentang kematian Mamanya tidak ada yang mau memberitahu hal itu kepadanya akan tetapi disaat dirinya sudah mengetahuinya, Rendi datang dan mengatakan hal yang berbeda dari apa yang ia ketahui selama ini.
"Aku bisa jelaskan semuanya kepadamu Nak".
"Penjelasan apa lagi yang bisa Papa katakan kepadaku? Siapa yang bisa mengatakan semuanya dengan jujur kepadaku Pa? Aku harus percaya kepada siapa sekarang? Tidak ada yang bisa aku percaya saat ini Pa, semuanya telah membohongiku".
"Percayalah Dhira, Dwija telah menyembunyikan keberadaan dari Mamamu, dia yang membuat keluarga kita berpisah seperti ini".
"Pa, tidak mungkin Pak Dwija melakukan itu, untuk apa dia menyembunyikan Mama? Jikalau Mama masih hidup sampai sekarang, kenapa dia sama sekali tidak menemuiku? Ataupun hanya memberi kabar kepadaku Pa, Pak Dwija sendiri bilang bahwa dia tidak menemukan keberadaan dari Mama setelah sekian lama melakukan pencarian disekitar sungai itu Pa, justru yang ia temukan hanyalah orang bayaran dari wanita itu".
"Dia mengatakan kepada Papa, kalau dia telah menyembunyikan Lia ditempat yang aman sehingga Papa tidak bisa menemuinya Dhira".
"Mama sudah bahagia disana Pa, didalam pelukan Sang pencipta, Allah pasti senantiasa memberikan limpahan kasih sayang kepadanya, bagaimana mungkin Mama masih hidup? Kalaupun dia masih hidup sampai sekarang, kenapa dia tidak kembali kepada kita saat ini juga Pa?".
"Dhira Mamamu begitu marah kepada Papa, itu sebabnya dia lebih mendengar Dwija daripada Papa Nak, dengarkan Papa dulu, Papa bisa ceritakan semuanya kepadamu".
"Maka ceritakanlah Pa".
"Maka dengarkanlah Papa".
Rendi menceritakan kepada Nadhira tentang kejadian yang terjadi kepada Lia waktu itu, Nadhira mendengarnya dengan seksama tanpa ingin ada yang terlewatkan sedikitpun.
*Flash back on*
Rendi mengajak Lia datang kerumah Sena untuk menyelesaikan masalah diantara keduanya, ketika dirinya baru saja tiba Rendi melihat Dwija berada dikejauhan seperti sedang mengawasi pergerakan dirinya dan juga Lia.
Rendi mengatakan kepada Lia mengenai maksud dari kedatangannya ketempat itu, Lia begitu terkejut dengan maksud yang disampaikan oleh Rendi mengenai seorang anak kecil yang keduanya temui ditempat itu.
Lia begitu sangat marah dan kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Rendi, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu menggunakan mobil yang dipakai oleh Rendi sebelumnya, akan tetapi siapa sangka bahwa mobil itu telah sengaja dibuat rem blong oleh seseorang suruhan dari Sena.
"Aku harus menyusul Lia dan memastikannya bahwa dia baik baik saja" Ucap Rendi dan langsung bergegas menyusul Lia mengunakan mobil milik Sena yang ada ditempat itu.
"Mas jangan pergi!" Teriak Sena tanpa dipedulikan oleh Rendi saat ini.
Rendi segera mengejar mobil yang dikendarai oleh Lia, dari kejauhan dirinya dapat melihat bahwa mobil tersebut memasuki sebuah jurang yang cukup dalam, dan mobil itu meledak begitu kerasnya ketika menabrak sebuah pohon yang cukup besar didepannya saat itu juga.
"Lia!!" Teriak Rendi ketika menyaksikan mobil itu meledak dengan kerasnya.
Rendi segera bergegas keluar dari mobilnya untuk memastikan keadan dari Lia, akan tetapi dirinya tidak sengaja bertemu dengan Dwija disana dan Rendi segera bergegas mendatangi Dwija.
"Puas kau melihat Lia kecelakaan seperti ini" Ucap Dwija dengan emosinya sambil memegangi kerah baju Rendi dengan kuatnya.
"Apa yang kau katakan!".
Bhukk...
Tanpa aba aba Dwija segera memukul perut Rendi dan mendorong Rendi hingga terjauh di depannya, Rendi hanya bisa menggeram kesakitan karena pukulan itu, tidak hanya begitu saja akan tetapi Dwija segera menghajar Rendi dan melontarkan beberapa pukulan kepada Rendi.
"Kau telah mencelakai Lia!"
"Aku tidak akan pernah bisa untuk mencelakai istriku sendiri Dwija! Untuk apa aku melakukan itu!" Teriak Rendi sambil menahan rasa nyerinya.
"Asal kau tau, gara gara dirimu datang menemui Sena dengan membawa Lia bersamamu, lihat apa yang terjadi dengan Lia sekarang! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Lia, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu Rendi!".
__ADS_1
"Aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi!".
"Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Lia lagi setelah ini, kau lelaki baji*gan yang pernah aku temui Rendi, kau tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari Lia".
Dwija segera bergegas meninggalkan Rendi ditempat itu dengan marahnya dan berjalan kearah sungai yang berada diujung jurang tersebut demi mencari Lia yang diduga tubuhnya terpental dari mobil tersebut dan masuk kedalam sungai yang arusnya sangat deras itu.
Rendi segera menelpon beberapa bantuan untuk mencari Lia, tak beberapa lama kemudian tim SAR datang dan langsung melakukan pencarian terhadap Lia, beberapa hari kemudian mereka tak kunjung menemukan keberadaan dari Lia yang jauh ke sungai itu diduga bahwa tubuh Lia telah hanyut dalam sungai itu sehingga mereka tidak dapat menemukannya.
Pencarian itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka menyerah untuk menemukan keberadaan dari Lia, Lia seakan akan menghilang begitu cepat dari dunia ini, hingga akhirnya Rendi mengikhlaskan kepergian dari Lia sehingga dirinya melakukan sholat gaib untuk mendiam Lia.
Rendi merasa sedih ketika melihat wajah Nadhira kecil yang terlihat begitu sedihnya setelah mengetahui bahwa Lia telah tiada, Nadhira tak henti hentinya menangis karena kehilangan orang yang paling ia cintai dan paling berharga bagi dirinya.
Ketika masih dalam keadaan berduka, Sena tiba tiba datang kerumahnya untuk menemui Rendi dan Sena ingin secepatnya menikah dengan Rendi setelah kepergian dari Lia.
"Apa kau bercanda soal ini ha?" Tanya Rendi dengan tidak percayanya dengan ucapan Sena yang meminta untuk dinikahi.
"Kenapa harus bercanda? Bukankah Lia sudah mati? Untuk apa ditangisi seperti itu? Lagian dia juga tidak akan pernah kembali lagi kedunia ini selamanya" Ucap Sena dengan mudahnya.
"Lalu bagaimana dengan Nandhita dan Nadhira? Apa mereka akan menerima hal ini, apalagi ketika mereka mengetahui bahwa kau penyebab dari kematian Lia saat itu?".
"Tidak akan ada yang tau selama kau tidak mengatakan hal itu kepada kedua anakmu itu, mereka juga tidak akan pernah berpikir hal seperti itu dan menganggap bahwa kecelakaan ini adalah hal yang normal saja".
"Bagaimana kalau sampai keduanya tau soal apa yang kau lakukan ini? Kau telah menyuruh orang lain untuk merusak rem mobilku sebelum dipakai oleh Lia waktu itu".
"Cukup Rendi! Aku melakukan ini hanya untuk bisa bersama dengan dirimu lagi seperti dulu, justru kau harus berterima kasih atas apa yang aku lakukan agar bisa bersama dengan dirimu, bukankah ini adalah sebuah kabar yang sangat bagus untuk kita berdua?".
"Tapi tidak seperti ini juga Sena! Kedua putriku sangat terluka saat ini, aku tidak bisa menikah denganmu dalam keadaan yang masih berduka atas meninggalnya Lia seperti ini".
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin menikah dengan dirimu Rendi".
"Iya kita akan menikah, tapi tidak sekarang Sena".
"Untuk apa kau menangis perempuan yang sudah mati? Dia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dunia ini walaupun kau menangis darah sekalipun itu, lagian untuk apa berduka lama lama seperti ini? Cepat atau lambat anak anakmu itu juga pasti akan segera melupakannya".
"Hentikan ucapanmu itu Sena! Bagaimana kalau mereka sampai mendengarnya? Mereka akan sangat marah kepadaku".
"Aku tidak peduli, memang kenyataannya Lia sudah mati, dan tidak bisa hidup kembali".
Ciarr....
Tanpa diketahui oleh Sena maupun Rendi, Nandhita tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya, Nandhita begitu terkejut hingga dirinya menjatuhkan sebuah gelas yang ia bawa saat ini.
"Dhita kau disini?" Ucap Rendi yang jauh lebih terkejut daripada Nandhita ketika melihat bahwa Nandhita sudah berada ditempat itu.
Plakk...
"Akh...".
Nandhita dengan marahnya segera bergegas mendekat kearah Sena dan menamparnya dengan sangat kuatnya hal itu sempat membuat Sena hampir saja terjatuh kelantai.
"Kau berani menamparku ha!" Ucap Sena dengan marahnya kepada Nandhita sambil memegangi pipinya yang terasa kebas karena tamparan keras dari Nandhita kepadanya.
"Kenapa tidak! Ternyata kalian berdua adalah penyebab kematian dari Mamaku, aku sama sekali tidak menyangka dengan apa yang aku dengar saat ini" Ucap Nandhita dengan shocknya.
"Dhita, ini tidak seperti apa yang kau dengar" Bela Rendi.
"Awas kau! Aku akan membalasnya!" Ucap Sena dengan geramnya kepada Nandhita.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...
__ADS_1