
Keesokan paginya Nadhira terbangun dengan semangat seperti sebelumnya, ia juga membasuh mukanya agar kembali segar. Ia memulai pagi dengan bersemangat, seperti biasa selesai sarapan pagi, kedua gurunya datang dan memberinya soal untuk dikerjakan. Nadhira segera menerima soal soal tersebut dengan bersemangat.
Nadhira mulai membaca soalnya dan dengan cepat ia menjawab, karena soal yang ia baca telah ia pelajari sebelum ia tertidur. Soal demi soal ia jawab dengan hati hati dan juga dengan teliti agar tidak ada yang salah dalam mencoret jawaban, beberapa jam berlalu dan akhirnya Nadhira selesai untuk mengerjakan soal ujian tersebut.
"Mengapa ini seperti dalam mimpiku kemarin?". Guman Nadhira
"Dhira mimpi apa?". Tanya guru perempuan.
"Mimpi mengerjakan soal bu". Nadhira senyum semanis mungkin sambil menghadap kearah gurunya.
Setelah itu Nadhira memberikan kertas ujian tersebut kepada gurunya, mereka menerima kertas itu dengan hati hati agar tidak terjadi kerusakan dikertas tersebut. Nadhira kembali membaringkan tubuhnya dengan bantuan dari bi Ira.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Nadhira, jaga kesehatannya juga". Ucap guru perempuan.
"Iya pak, bu,, terima kasih".
Kedua gurunya berpamitan untuk kembali kesekolah dan menyerahkan kertas ujian Nadhira kepada pihak sekolah. Nadhira menyaksikan kepergian gurunya dalam diam hingga keduanya sudah tidak lagi terlihat oleh kedua mata Nadhira.
"Bu, bagaimana keadaan papa? Sejak aku tersadar aku belum bertemu dengannya sama sekali, aku sangat merindukannya, apa papa sangat marah kepadaku, sampai sampai ia tidak mau menjenguknya walaupun hanya sesaat". Ucap Nadhira kepada Bi Ira.
"Tuan masih ada pekerjaan yang penting nak, kalau pekerjaannya sudah selesai dan ada waktu senggang tuan dan nyonya pasti datang kok, Nadhira tidak boleh sedih kan ada ibu angkatnya Dhira disini". Jawab bi Ira.
Nadhira tersenyum lalu memeluk tangan kiri bi Ira dengan erat, ia juga mengusap usapkan tangannya kepada kulit tangan ibu angkatnya, Nadhira begitu senang karena bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu. Sudah 3 tahun sejak mamanya meninggal, hanya bi Ira yang selalu menemaninya.
"Bu jika suatu hari aku tiba tiba menghilang dari bumi ini, apakah ibu akan terus mencariku?". Tanya Nadhira tiba tiba.
"Kenapa tiba tiba menanyakan hal itu, Ibu janji nak, ibu akan terus mencarimu dimanapun dirimu berada".
"Ku harap disaat itu, ibu harus melupakanku".
"Mengapa? Apa yang terjadi"
Nadhira hanya diam dan menerbitkan senyum tipisnya ketika mendengar pertanyaan dari ibu angkatnya, bi Ira mampu merasakan ada kesedihan dibalik senyuman itu membuatnya merasa begitu gelisah.
Bi Ira merasa aneh mengapa Nadhira bisa tiba tiba menanyakan hal itu kepadanya, menghilang dari bumi bukankah itu berarti meninggal. Tanpa bi Ira sadari Nadhira hampir meneteskan airmatanya.
*****
Hari ini adalah hari terakhir Ujian Nasional dilaksanakan, Nadhira dan teman temannya sedang sibuk dalam kegiatannya masing masing. Kali ini Rifki selesai lebih dahulu daripada yang lainnya, karena mata pelajaran kali ini adalah kesukaannya.
Rifki duduk terdiam dibangkunya sambil menatap jam dinging yang terus berputar dihadapannya, Rifki tersenyum sendiri ketika menghayalkan seorang gadis yang bermain bersamanya. Hayalan itu tidak berlangsung lama karena tiba tiba ia dikejutkan oleh seorang guru yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Ada apa pak?". Tanya Rifki.
"Kerjakan Ujiannya jangan kebanyakan melamun". Ucap guru tersebut.
"Apa yang harus dikerjakan pak? Semua sudah ku kerjakan, apa ada lagi?". Rifki tersenyum kearah gurunya.
Guru tersebut mengambil lembar jawaban milik Rifki, dan memeriksanya agar tidak ada jawaban yang kosong, setelah lama memeriksanya akhirnya ia mengembalikan kertas itu dimeja Rifki.
"Baiklah, jangan menganggu yang lain". Ucapnya sambil berjalan menjauhi meja Rifki.
"Baik pak".
Sementara disekolah lain, nampak Amanda sedang mengerjakan Ujiannya dengan penuh keraguan. Dua kali ia ketahuan menyontek temannya, pertama ia ketahuan mengambil soal yang telah dijawab oleh temannya, yang kedua ia ketahuan memakai Hp untuk mencari jawaban di internet. Karena ia ketahuan memakai hp membuat pihak sekolah harus menyita hpnya dan mengancam akan memberikan nilai yang buruk kepadanya.
Amanda benar benar merasa frustasi untuk mengerjakan soal soal tersebut, berkali kali ia membaca ulang tetapi ia tak kunjung menemukan jawabannya. Ia tidak pernah belajar lebih tepatnya ia selalu mengandalkan temannya untuk menjawab soal soal ujian selama ini.
Amanda berfikir ujiannya kali ini akan sama seperti ujian ujian sebelumnya nyatanya kali ini begitu berbeda dari sebelumnya, nilai yang buruk terus terbayang dalam ingatannya.
Guru pengawas yang ada dikelasnya terus saja mengawasi setiap gerakannya membuatnya sedikit tidak nyaman, Amanda menghela nafasnya dan mengerjakan sebisanya. Ia selesai paling terakhir dari teman temannya, membuatnya pulang paling terlambat dari yang lain.
Diruang rawatnya, Nadhira sedang mengerjakan ujian dengan seperti biasanya. Bi Ira sedang memperhatikannya dari kejauhan sedangkan kedua gurunya duduk dikursi sebelah Nadhira, ruangan itu benar benar tenang.
Nadhira dan kedua gurunya berbincang bincang cukup lama, suasana yang tadinya begitu sunyi sekarang sedikit ramai. Tak beberapa lama kemudian kedua gurunya berpamitan untuk kembali kesekolah.
"Alhamdulillah selesai juga bu". Ucap Nadhira.
"Semoga Nadhira mendapatkan nilai yang bagus".
"Aamiin". Ucap keduanya secara bersamaan.
Beberapa jam kemudian datanglah seorang laki laki yang hendak menjenguk Nadhira, dia adalah teman sekelas Nadhira. Laki laki itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan angkuhnya, dibelakangnya ada dua orang yang tengah mengikutinya sambil membawa buah tangan.
Ketika hendak masuk kedalam ruangan Nadhira, dua orang yang berjaga disitu segera menghalanginya untuk masuk dan menanyai siapa dia dan juga apa hubungannya dengan Nadhira.
"Perkenalkan namaku Theo, sebentar lagi pasti akan menjadi pacarnya". Jawab Theo dengan sombongnya.
"Bagaimana mungkin Nadhira bisa menyukai orang sepertimu, ku lihat lihat ia tidak akan menyukai tipe sepertimu". Ucap salah satu dari dua orang yang menjaga didepan ruang rawat Nadhira.
"Ah mungkin itu Nadhira yang dulu, dan mungkin saja ia sudah berubahkan siapa yang tau". Theo tertawa sambil menatap keduanya dengan tajam.
Yang ditatap merasa tidak nyaman membuat keduanya akhirnya membuat keributan didepan ruangan tersebut, Nadhira yang awalnya sedang beristirahat dengan tenang dan mulai sedikit terganggu karena ulah mereka.
__ADS_1
Nadhira meminta kepada ibu angkatnya untuk keluar ruangan dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka membuat keributan didepan ruangannya. Nadhira berfikir bahwa ulah mereka bisa menganggu yang lainnya juga karena kebisingan yang membuat banyak orang tidak bisa beristirahat dengan nyaman.
"Bu apa yang terjadi". Teriak Nadhira dari dalam.
Setelah mendengar teriakan tersebut, Theo segera menerobos untuk masuk kedalam ruangan dimana Nadhira dirawat. Nadhira yang awalnya memejamkan mata tiba tiba membukanya dengan lebar, ketika merasakan ada seseorang yang memeluknya dengan tiba tiba.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!". Teriak Nadhira sambil berusaha melepaskan pelukan itu.
"Tidak akan, aku sangat merindukanmu Dhira". Theo memeluk Nadhira dengan eratnya.
"Ibu!!! Tolong aku". Teriak Nadhira meminta bantuan kepada ibu angkatnya.
Melihat hal itu Bi Ira segera bergegas mendatangi Nadhira dan menarik kedua tangan Theo agar menjauh dari Nadhira. Kedua anak buah Rifki juga tidak tinggal diam tetapi mereka dihalangi oleh kedua anak buah dari Theo.
Nadhira terus memuluk Theo dengan kerasnya, Theo seolah olah tidak terganggu atas apa yang Nadhira dan bi Ira lakukan. Ekspresi Nadhira menunjukkan bahwa lukanya sedang terasa sakit kembali, keringat membasahi seluruh wajahnya.
"Jika kamu tidak melepaskan Nadhira, jangan salahkan aku bila aku panggilkan satpam untuk mengusirmu dari sini". Ancam Bi Ira.
Mendengar ancaman dari Bi Ira membuat Theo segera berdiri dan menatap bi Ira dengan tajam, kedua tangannya mulai mengepal seperti siap untuk memukul.
"Hanya seorang pembantu rendahan sepertimu berani mengancamku ha? Emang kau pikir siapa dirimu" ucapan Theo penuh emosi dan mendorongnya beberapa kali.
Memang selama ini bi Ira adalah pembantu rumah tangga, sejak ia masuk kedalam keluarga Nadhira dan mengenal Nadhira, Nadhira selalu memperlakukannya dan menghormatinya layaknya seorang anak kepada ibunya.
Demikian teman teman Nadhira yang ia kenal, mereka akan memperlakukannya dengan baik dan selalu menghormatinya meskipun terkadang mengajaknya bercanda bersama. Tapi tak satupun dari mereka yang merendahkannya seperti yang sedang Theo lakukan.
"Jangan sakiti ibuku". Teriak Nadhira sambil berusaha bangkit.
Langkah kakinya berhenti tepat dihadapan bi Ira, ia menoleh kearah Nadhira berada dan memastikan bahwa apa yang Nadhira ucapkan itu ia tidak salah mendengarnya. "Apa yang kau katakan Nadhira?"
Theo berjalan mendekat kearah Nadhira, satu demi satu langkahnya membuatnya sedikit demi sedikit mendekat kearah Nadhira, Nadhira menggenggam erat lukanya yang terasa sakit karena perbuatan Theo kepadanya.
"Iya Bu Ira adalah ibuku, dan akan selalu menjadi ibuku". Nadhira menatap Theo dengan tajam.
"Bagaimana bisa? Ibumu sudah meninggal sejak lama dan juga dia sangat kaya, bagaimana bisa menjadi seorang pembantu sepertinya". Theo sungguh tidak percaya apa yang telah Nadhira ucapkan sebelumnya, ia memandangi bi Ira dari bawah sampai keatas. "Jika dilihat lihat ia tidak pantas menjadi ibumu".
"Cukup!!!!". Teriak Nadhira. "Siapa dirimu yang berhak mengaturku, aku tidak butuh kau mengakuinya atau tidak, jika kau kesini hanya membuat masalah, lebih baik kau pergi dari sini, sebelum aku memanggil pihak keamanan untuk mengusirmu".
"Nadhira bukan itu maksudku, tolong dengarkan penjelasanku". Theo menggenggam erat tangan kanan Nadhira.
"Lepaskan!! Aku bilang LEPASKAN!!".
__ADS_1