Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 28


__ADS_3

Wanita itu menusukkan pedang tersebut kearah tubuhnya sendiri tanpa perlu berfikir panjang lagi, hingga menembus punggungnya, setelah itu ia mencabut pedang tersebut dari dalam tubuhnya, pedang pun terlepas dan perlahan lahan tubuh wanita itu terjatuh keatas rerumputan.


"Ka u te lah mem bu nuh sua miku, su atu ha ri nan ti a nak mu a kan me ra sakan a pa yang a ku ra sakan, dan a nak i tulah yang a kan men ja di pe nye bab ke han curan ke luar gamu". Ucap wanita itu dengan terbata bata karena luka yang ia ciptakan sendiri.


Wanita itu terjatuh tepat disamping suaminya yang sudah tidak bernyawa itu, wanita itu berusaha untuk dapat mengenggam erat tangan suaminya untuk terakhir kalinya sebelum nyawanya benar benar melayang.


"Maafkan aku Mas". Ucap wanita itu lirih dengan mulut yang penuh dengan darah.


Indah yang berada dibelakang tubuh Panji hanya bisa menutup telinganya rapat rapat agar dirinya tidak mendengar apapun yang tengah diucapkan oleh wanita itu kepada anaknya yang bahkan belum terlahir itu.


"Mas apa yang dia katakan, kenapa anak kita mendapatkan doa doa yang begitu buruk, aku takut Mas". Ucap Indah lirih dengan diiringi oleh tangisan.


Indah memeluk erat bayi tersebut dan mengusap perutnya, ia tidak menyangka bahwa ucapan itu begitu sangat menusuk dirinya, anaknya bahkan mendapat doa doa yang begitu buruk meskipun anak tersebut belumlah lahir kedunia ini.


Panji yang mendengar suara lirih Indah, hanya bisa mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan, dirinya tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Panji hanya bisa mengusap kepala Indah pelan untuk menenangkan pikiran istrinya itu.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa dadaku tiba tiba sakit seperti ini, apakah racun itu mulai kambuh lagi? Bagaimana ini, bagaimana jika Indah mengetahuinya". Batin Panji menjerit sambil merasakan rasa nyeri didalam dadanya itu.


Panji merasakan tubuhnya terasa begitu sakit seakan akan seperti tenaganya terkuras begitu banyaknya dan juga dihantam oleh benda yang begitu keras dan tajam didadanya, setelah kematian Danuarta racun yang ada di dalam tubuh Panji yang tersisa sudah dimuntahkan oleh Panji akan tetapi luka yang timbul akibat racun tersebut masih membekas didalam tubuh Panji.


Darah yang sebelumnya telah menetes dimulut Panji karena tendangan dari Danuarta adalah darah yang bercampur dengan racun yang ada didalam tubuhnya, racun itu tercipta dari kekuatan hitam sehingga jika pengirimnya tiada maka racun tersebut ikut keluar dari dalam tubuh orang yang dituju oleh ilmu gaib tersebut.


Panji terlihat begitu lemas saat ini, setelah melakukan pertarungan dengan Danuarta yang cukup lama sekaligus bertarung dengan orang orang suruhan Danuarta membuat Panji begitu kelelahan apalagi ditambah dengan luka yang ia alami saat ini.


Wanita itu perlahan lahan mulai tidak sadarkan diri, dan nyawanya pun melayang, setelah itu tiba tiba Panji menjatuhkan dirinya berlutut diatas rerumputan yang ada ditempat itu karena kelelahan sekaligus luka yang ada ditangan kirinya.


"Mas, apa yang terjadi denganmu". Ucap Indah yang ikut serta berlutut disamping suaminya.


"Semuanya sudah berakhir, kau tidak perlu mencemaskan diriku Indah, semuanya akan baik baik saja". Ucap Panji pelan.


Indah memandangi luka sayatan yang ada ditangan kanan Panji, luka sayatan tersebut begitu lebar dan dalam sehingga membuat terlalu banyak darah yang keluar dari luka tersebut, wajah Panji saat ini terlihat begitu pucatnya seakan akan tidak ada darah yang mengalir diwajahnya itu.


"Mas, ada apa dengan dirimu? Kenapa wajahmu begitu pucat seperti itu Mas? Katakan kepadaku!". Indah merasa begitu paniknya ketika melihat suaminya seperti itu saat ini.


"Aku tidak apa apa Indah, hanya saja aku begitu lelah". Ucap Panji dengan senyuman kepada Indah.


Meskipun dalam keadaan tersenyum Panji juga merasakan sakit yang luar biasa sangat didalam tubuhnya akan tetapi dirinya tidak ingin memperlihatkannya dihadapan Indah karena ia tidak akan mampu untuk melihat Indah begitu khawatir dengan dirinya saat ini.


Indah membantu Panji untuk berdiri dan berusaha untuk membawa Panji kembali kerumahnya untuk istirahat, Indah membopong tubuh Panji dengan susah payahnya karena Panji terlihat begitu lemah dan tidak berdaya sehingga membuat Indah harus berusaha untuk dapat membopong tubuh Panji menuju rumahnya.


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Panji dan Indah sampai juga dirumahnya, Indah segera membantu Panji untuk tidur diatas ranjangnya dengan susah payahnya, Panji merasa beruntung ketika dipertemukan dengan Indah yang selalu ada untuknya selama ini.


"Maafkan diriku telah membuatmu kesusahan". Ucap Panji pelan kepada Indah dengan sebuah senyuman yang begitu tulus kepada Indah.


"Apa yang kau katakan Mas? Ini adalah kewajibanku sebagai seorang istrimu, kau sama sekali tidak membuatku kesusahan, justru aku sangat beruntung karena bisa selalu ada untukmu Mas, jangan katakan maaf seperti itu Mas, bagiku kau adalah jalan menuju syurga-Nya".

__ADS_1


"Kau memang indah, sesuai dengan namanya".


Indah menidurkan bayi tersebut seranjang dengan suaminya, setelah itu Indah bergegas untuk mengambil sesuatu yang dapat menghentikan pendarahan untuk Panji yang sedang terluka.


Indah kembali kekamar tersebut dengan membawakan sebaskom air dingin, beberapa lembar kain bersih, dan juga bahan obat obatan yang telah ditumbuk halus untuk dijadikan sebagai obat untuk menghentikan pendarahan.


Indah segera membersihkan bekas darah yang ada ditangan Panji agar tidak menjadi infeksi dengan menggunakan kain yang ia bawa dan juga air yang telah ia siapkan untuk membasuh luka yang dialami oleh Panji tersebut.


"Tahan ya Mas, mungkin ini akan terasa sedikit sakit". Ucap Indah sambil pelan pelan memberikan obat herbal itu kepada luka yang dialami oleh Panji.


Panji hanya bisa meringis ketika obat itu bersentuhan dengan lukanya, ketika dirinya terluka rasa sakitnya tidak begitu terasa akan tetapi disaat obat obatan itu bersentuhan dengan lukanya Panji mulai menyengir karena rasa perih yang ia rasakan.


Indah yang melihat Panji seperti itu, mengarahkan tangannya yang memberi obat tersebut begitu pelan dan beberapa kali meniup luka yang ada ditangan tersebut agar rasa perihnya dapat berkurang dan tidak seperti sebelumnya.


Setelah selesai membersihkan dan memberi obat kepada Panji, Indah segera membalut luka tersebut dengan salah satu kain yang telah is bawa sebelumnya.


Dan disaat itulah Panji berusaha untuk meraih pipi Indah dengan tangannya yang tidak terluka, ia tidak henti hentinya untuk menatap wajah cantik Indah, hal itu membuat Indah sedikit merasa malu ketika ditatap oleh suaminya seperti itu.


"Kamu juga terluka sayang". Ucap Panji pelan sambil menghapus darah yang sudah mengering dipipi Indah.


Seketika itu juga Indah baru menyadari bahwa keningnya kini tengah terluka akibat dari benturan yang ia dapatkan setelah melakukan kejar kejaran dengan Danuarta.


"Ini sudah ngak sakit lagi kok, nanti juga sembuh".


Panji berusaha untuk bangkit dari tidurnya, biar bagaimanapun luka yang dialami oleh Indah bukanlah luka kecil seperti apa yang dia bilang, bagi Panji seberapapun luka kecil yang didapatkan oleh Indah bagi Panji itu adalah luka yang perluh untuk diperhatikan agar tidak terinfeksi.


"Oek.. Oek...".


"Kenapa menangis Nak, apa kau lapar". Ucap Indah kepada bayi tersebut.


Bayi tersebut menangis tiba tiba, sehingga membuat Indah segera bergegas untuk menggendongnya dengan eratnya, Indah juga berusaha untuk menenangkan bayi tersebut


Anak yang ada dipelukan Indah menangis begitu kerasnya hingga Panji dan Indah menoleh kearah anak itu yang tengah berada didalam gendongan Indah, Panji dan Indah tersenyum ketika melihat wajah dari anak Danuarta itu.


Indah segera memberikan bayi tersebut kepada Panji untuk digendongnya sementara dirinya bergegas menuju kedapurnya untuk mencari sesuatu yang dapat diminum oleh bayi yang tengah menangis itu.


Sesampainya didapur Indah tidak menemukan apapun dan hanya ada air dari hasil rebusan beras yakni tajin, Indah segera memasukkannya kedalam gelas dan memberinya sedikit garam, setelah itu ia memberikan air tajin itu kepada anak dari Danuarta.


Anak itu dengan lahapnya menghabiskan setiap suapan yang diberikan oleh Indah, Indah merasa bahwa anak itu begitu kelaparan saat ini, ia tidak ada pilihan lain untuk memberinya air tajin biar bagaimanapun asinya juga belum keluar sehingga tidak dapat memberikannya kepada bayi yang malang itu.


"Apa yang harus kita lakukan kepada anak yang malang ini Mas?". Tanya Indah.


"Kasihan dia jika tidak ada yang merawatnya, jika aku mengangkatnya sebagai anak, apa kau mau menerimanya sayang?". Tanya Panji sambil mengusap kepala anak itu dengan lembutnya.


"Aku sama sekali tidak keberatan Mas, dia akan menjadi teman anak kita nanti, tapi aku takut jika perkataan wanita itu menjadi kenyataan, aku sangat takut Mas, sangat". Ucap Indah sambil berlinangan air mata dengan memeluk bayi tersebut.

__ADS_1


"Kita akan mendidiknya nanti, aku akan berusaha sebisaku agar anak itu tidak membenci kita karena aku telah membunuh kedua orang tuanya". Ucap Panji dengan nada sedihnya.


"Iya mas".


Keduanya mengangkat anak dari Danuarta menjadi anak angkatnya sendiri, Indah tersenyum ketika menggendong seorang bayi yang terlihat begitu lucunya itu, mereka telah diberi dua orang malaikat yang akan menjadi pelengkap kehidupan mereka.


Karen Panji dan Indah tidak mengetahui siapa nama anak tersebut hal itu membuat keduanya memberikan nama anak tersebut dengan nama Galih Danta, kehidupan mereka berjalan normal.


Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan telah dilewatkan bersama, dan pada akhirnya hari ini tepat dimalam bulan purnama yang bersinar terang adalah hari kelahiran anak dari Panji, Panji merasa begitu bahagia dan juga merasa begitu cemas ketika melihat istrinya begitu kesakitan.


Didalam kamar Indah sedang berjuang untuk dapat melahirkan anak pertama mereka bersama dengan seorang dukun bayi, sementara diluar kamar tersebut Panji sedang mondar mandir dengan cemasnya kepada Indah yang terus menggeram kesakitan.


"Ya Allah tolong selamatkan Indah dan bayinya, hanya kepada-Mu lah aku memohon dan hanya kepada-Mu lah aku meminta pertolongan".


Panji tak henti hentinya untuk berdoa memohon keselamatan bagi Indah dan bayinya, ia merasa cemas saat ini ketika mendengar suara kesakitan Indah yang masih berada didalam kamarnya dengan seorang dukun bayi.


Panji tidak tega melihat Indah seperti itu, dan akhirnya dirinya tanpa berpikir panjang segera masuk kedalam kamar tersebut untuk menemani Indah, ia melihat Indah sedang berlinangan keringat dan air mata demi melahirkan anak mereka.


Panji segera memeluk tubuh Indah untuk menguatkannya sekaligus untuk menenangkan dirinya sendiri, Panji mengucapkan istighfar beberapa kali ditelinga Indah, dapat terdengar bahwa Panji juga menangis dan terisak pelan ditelinga Indah.


Panji begitu menyayangi Indah sehingga disaat Indah merasakan sakitnya melahirkan, dirinya juga mampu merasakannya sehingga membuatnya menangis tersendu sendu ketika melihat Indah yang sedang berjuang untuk dapat melahirkan anaknya.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya proses melahirkan telah selesai, seorang bayi imut keluar dari jalan lahirnya dengan selamat begitupun dengan Ibunya yang telah melahirkannya.


"Alhamdulillah Pak, anaknya laki laki". Ucap dukun wanita itu dengan semangatnya ketika mengetahui bahwa pasiennya telah melahirkan anak dengan selamat begitupun dengan bayi yang begitu sehat.


"Alhamdulillah, aku sudah menjadi seorang Ayah, sayang". Ucap Panji dengan begitu gembira dan merasa lega karena anak yang ia nanti nantikan akhirnya terlahir kedunia juga.


Malam hari ini, tangis bahagia telah menderai keduanya, Panji tak henti hentinya mengucapkan kata syukur atas kelahiran dari buah hatinya yang selalu ia nantikan kehadirannya didunia ini, Indah merasa bahagia ketika mengetahui bahwa anaknya terlahir dengan sehat.


Panji tak henti hentinya untuk mencium kening Indah dengan sayangnya dan rasa bersyukur yang begitu mendalam karena Indah telah rela berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya demi dapat melahirkan anak dari Panji.


"Sayang, terima kasih telah menjadi orang yang begitu sempurna untukku dan terima kasih telah sudi untuk melahirkan anak anakku, kau istri satu satunya dan wanita yang terbaik dalam hidup dan matiku sayang". Ucap Panji lirih ditelinga Indah dengan nada yang begitu romantis.


Indah tersenyum tipis ketika mendengar ucapan dari suaminya yang bagi dirinya adalah sebuah penyemangat, rasa sakit setelah melahirkan mendadak sirna dengan berganti rasa senang dan bersyukur atas kelahiran dari sang buah hati.


"Selamat Pak, anda sudah menjadi seorang Ayah". Ucap dukun wanita itu kepada Panji.


Dukun tersebut segera berpamitan pulang kepada Panji dan Indah setelah membersihkan tubuh bayi tersebut dari darah ditubuh bayi itu dan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan ketika merawat bayi, dukun tersebut segera memberikan bayi itu kepada Panji untuk di adzanin.


Panji menerima bayi tersebut dan segera menggendongnya dan memasukkannya kedalam pelukannya, bayi tersebut tertidur dengan pulasnya dibalik beberapa kain yang telah membungkusnya dengan rapi dan hangatnya.


"Allahuakbar........". Panji mengadzani anak tersebut.


Suara adzan Panji begitu merdu dan menenangkan hati dan pikiran Indah dan juga bayi itu yang mampu tertidur dengan pulasnya, dalam mengadzankan bayi itu air mata Panji terus mengalir.

__ADS_1


Dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya sudah menjadi seorang Ayah bagi anaknya, Panji teringat kembali dengan sosok Ibunya yakni Rahayu, ia berpikir bahwa mungkin dirinya dahulu juga seperti itu ketika ia dilahirkan kedunia ini, hal itulah yang membuat Panji menangis terharu.


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


__ADS_2