
Nadhira memejamkan matanya saat ini seakan akan dirinya tengah tertidur dengan pulasnya, Nadhira beranggapan bahwa pemuda itu adalah Rifkinya yang telah lama pergi meninggalkan dirinya akan tetapi jika Nadhira tersadarkan dari mabuknya wajah asli pemuda itu akan terlihat.
Pemuda itu kembali membawa Nadhira masuk kedalam kamar tersebut dan membaringkannya lagi diatas kasur yang ada dikamar itu dengan perlahan lahan dan kembali menutupi tubuh Nadhira dengan menggunakan selimut yang tebal itu.
Pemuda itu duduk disamping Nadhira sambil memegangi tangan Nadhira dengan erat, wajah cantik Nadhira terlihat begitu jelasnya sehingga membuat pemuda itu tidak henti hentinya untuk menatap wajah Nadhira yang sedang mabuk itu.
"Aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan Dhira, sebrengs*k brengs*knya diriku aku tidak akan pernah merenggut kehormatan seorang wanita, apalagi wanita itu adalah dirimu Dhira".
Pemuda itu berdiri setelah mengatakan hal itu, merasakan bahwa pemuda itu hendak pergi membuat Nadhira segera terbangun dari tidurnya dan memeluk pinggang pemuda itu dengan eratnya.
"Jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku lagi Rifki" Ucap Nadhira pelan.
"Aku tidak akan pergi Dhira, tidurlah aku akan menjagamu disini".
"Aku pernah kehilanganmu waktu itu dan aku tidak mau kehilangan dirimu lagi untuk yang kedua kalinya Rifki, aku mau bersamamu".
"Aku tidak akan pernah pergi darimu Nadhira, tidur ya, ini sudah malam".
Nadhira tetap memeluk pemuda itu meskipun kini dirinya tengah memejamkan kedua matanya akan tetapi Nadhira tidak mau melepaskan pelukannya itu, dia takut bahwa ketika dirinya melepaskan pelukannya ia akan kehilangan Rifki lagi.
Dengan pelan pemuda itu mengusap kepala Nadhira, hingga Nadhira mampu tertidur dengan pulasnya, dengan perlahan lahan pemuda itu kembali membaringkan tubuh Nadhira agar Nadhira bisa beristirahat dengan leluasanya.
Pemuda itu segera bergegas keluar dari kamar Nadhira karena dia tidak ingin hasratnya bertambah besar ketika melihat seorang wanita tidur didepannya, ia tidak ingin melupakan bahwa Nadhira bukanlah miliknya saat ini sehingga dirinya memutuskan untuk pergi sebelum semuanya terjadi tanpa kemauannya.
Pemuda itu menutup pintu kamar dimana Nadhira sedang tertidur saat ini dengan eratnya dan begitu pelannya agar Nadhira tidak terganggu dalam tidurnya hingga menyebabkan dirinya terbangun kembali, setelah itu dia bergegas untuk pergi dari tempat itu.
Satu jam kemudian ia kembali untuk memeriksa Nadhira apakah Nadhira masih tertidur dengan lelapnya atau belum, akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika melihat pintu kamar itu sudah terbuka dengan lebar lebarnya dan dirinya segera bergegas untuk memastikan keadaan Nadhira.
"Nadhira tidak ada dikamarnya? Kemana perginya gadis itu lagi, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat melelahkan untukku"
Pemuda itu begitu terkejut ketika melihat Nadhira sudah tidak ada lagi didalam kamar itu, dia segera memanggil anak buahnya untuk mencari dimana keberadaan dari Nadhira.
"Dhira kamu dimana?" Ucapnya sambil berlari mencari sosok Nadhira disetiap ujung bangunan itu.
Malam itu tidak ada yang bisa istirahat dengan tenangnya karena keributan tentang Nadhira yang hilang membuat mereka tidak henti hentinya untuk terus mencari Nadhira hingga ketemu.
"Apa kalian sudah menemukan Nadhira?" Tanya pemuda itu.
"Tidak Bos, kami sudah mencari disepanjang markas ini tapi tidak menemukannya juga"
"Aku tidak mau menerima alasan apapun, cepat temukan dirinya atau kalian yang akan menerima konsekuensinya".
"Baik Bos".
Pemuda itu terus mencari keberadaan dari Nadhira yang hilang dari kamarnya, ketika pemuda itu melewati taman belakang markas tersebut tanpa sengaja dirinya menemukan Nadhira yang tengah terbaring diatas rerumputan.
Melihat itu dirinya segera bergegas untuk mendatangi Nadhira dan memeriksa keadaannya, ia begitu terkejut karena Nadhira yang sudah terbaring diatas rerumputan, pemuda itu takut kalau Nadhira kenapa kenapa karena pemuda itu berpikir untuk apa Nadhira tiduran ditempat seperti itu kalau tidak terkena sesuatu.
Ketika sampainya ditempat Nadhira terbaring, pemuda itu begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira terbaring diatas rerumputan dengan seekor kelinci yang sengaja ia rawat dimarkasnya.
"Dhira, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya pemuda itu kepada Nadhira.
"Kelinci ini sangat nakal, dia tidak mau tidur kalau aku tidak menceritakan kisah kepadanya"
Pemuda itu sontak menepuk jidatnya mendengar jawaban dari Nadhira, ia tidak habis pikir dengan apa yang tengah dilakukan oleh Nadhira saat ini, bagaimana bisa seekor kelinci itu tiba tiba menurut hanya dengan Nadhira yang menceritakan sebuah kisah kepada kelinci itu.
Pemuda itu ikut serta duduk disamping Nadhira, dengan pelan pelan pemuda itu mengajak Nadhira untuk kembali kekamarnya karena malam semakin larut dan seluruh penghuni markas itu tidak ada yang tertidur kali ini karena adanya Nadhira yang sedang mabuk berada dimarkas itu.
"Dhira kita masuk kekamar ya".
"Tapi bagaimana dengan kelinci ini? Nanti dia sendirian disini, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dia nanti?".
__ADS_1
"Biarkan dia tidur dirumahnya Dhira, ini sudah malam, kita juga butuh istirahat untuk esok hari".
"Alu tidak mau, aku mau tidur disini dengan kelinci kelinci ini"
"Kalau kamu tidur disini nanti kamu kedinginan dan masuk angin, Dhira tidur didalam ya, biar kelincinya tidur dirumahnya".
"Baiklah".
Pemuda itu membantu Nadhira untuk bangkit dari tidurnya, dengan perlahan lahan pemuda itu memapah tubuh Nadhira untuk kembali masuk kedalam kamarnya, karena Nadhira tidak bisa berjalan dengan benar sehingga membuat pemuda itu harus memapahnya.
Pemuda itu langsung membawa Nadhira kembali masuk kedalam kamar yang telah disiapkan untuk Nadhira sebelumnya, pemuda itu membaringkan tubuh Nadhira perlahan lahan ketempat tidur yang ada didalam kamar tersebut.
"Nadhira tidur dengan nyenyak ya".
"Jangan tinggalkan aku Rif".
"Aku tidak akan meninggalkan Nadhira kok, Nadhira tidur ya, aku akan ada disini untuk menemanimu".
"Iya".
Nadhira mulai menejamkan matanya, pemuda itu nampak kelelahan malam ini sehingga dirinya memutuskan untuk tidur dikursi yang ada didalam kamar tersebut agar dirinya bisa menjaga Nadhira juga dari dalam kamar itu.
Pemuda itu pun larut dalam mimpinya, pemuda itu bermimpi sedang berjalan jalan dengan Nadhira disuatu tempat yang cukup indah untuk dibayangkan, keduanya tampak begitu bahagianya kali ini, hanya dengan melihat senyuman keduanya saja setiap orang akan berpikir bahwa mereka terlihat begitu bahagianya.
Hingga sesuatu terjadi didalam mimpi tersebut, Rifki hadir dalam mimpi tersebut dan berusaha untuk merebut kembali Nadhira yang telah berada disampingnya, Rifki sama sekali tidak membiarkan Nadhira untuk bersama dengan dirinya.
Theo berusaha untuk merebut kembali Nadhira yang ada didalam pelukan Rifki, akan tetapi Rifki berhasil melontarkan sebuah pukulan yang sangat keras kepadanya hingga dirinya jatuh tersungkur, tidak hanya tersungkur saja, Theo rasanya jatuh dari sebuah tebing hingga membuat terkejut sampai didunia nyata.
"Mimpi apa itu tadi".
Pemuda itu meneriksa jam yang tengah melingkar ditangannya itu, jam tersebut masih menunjukkan pukul setengah dua malam, dan malam tersebut masih cukup panjang untuk sampai dipagi hari.
Pemuda itu segera mengusap wajahnya dengan kasar agar mimpi itu tidak terjadi didunia nyata, ketika pandangannya tertuju kepada tempat tidur Nadhira ternyata Nadhira sudah tidak berada dikamarnya lagi.
"Ya ampun kemana lagi sih perginya gadis ini, tidak bisa kah dia tetap berada didalam kamar untuk malam yang panjang ini, Haa... Aku masih ngantuk" Ucap pemuda itu sambil menguap.
Pemuda itu langsung bergegas memanggil anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk mencari tau dimana keberadaan dari Nadhira saat ini, markas itu kembali bergemuruh dan banyak orang yang tengah berlalu lalang hanya untuk mencari dimana keberadaan dari Nadhira yang tiba tiba menghilang dari kamarnya.
Banyak diantara mereka yang sedang mencari keberadaan dari Nadhira dengan menguap begitu lebar karena rasa ngantuknya, seketika itu juga mereka dibuat terjaga oleh Nadhira.
"Cepat cari dimana Nadhira berada!" Teriak pemuda itu memerintahkan anak buahnya.
Seluruh penghuni markas seketika itu juga dibuat kebingungan oleh Nadhira yang tiba tiba menghilang dari kamarnya, meskipun pemuda itu sudah menjaganya dari dalam akan tetapi Nadhira masih bisa keluar dari kamar itu dengan diam diam.
"Bos sepertinya dia sudah tidak ada dimarkas ini, kami sudah mencarinya disepanjang markas ini"
"Bagaimana bisa itu terjadi? Cepat cari dia lagi, kalian harus menemukan dirinya saat ini atau tidak kalian tidak diizinkan untuk tidur sampai Nadhira ditemukan!".
"Baik Bos".
Mereka terus mencari dimana keberadaan dari Nadhira diseluruh ujung markas tersebut, seluruh penghuni markas terlihat begitu hebohnya ketika mendengar bahwa gadis yang dibawa oleh pemimpin mereka hilang entah kemana.
Pemuda itu segera bergegas kegerbang utama tempat itu untuk menanyakan tentang Nadhira ditempat itu, siapa tau penjaga gerbang markas tersebut mengetahui tentang keberadaan Nadhira.
"Apa kalian melihat Nadhira keluar dari tempat ini?" Tanyanya kepada penjaga gerbang.
"Tidak Bos, kami tidak melihat siapapun keluar dari markas tanpa seizin dari Bos, yang keluar setelah Bos berada dimarkas hanyalah anak buah Bos saja dan tidak ada yang lainnya Bos".
"Lalu kemana perginya Nadhira! Apa yang kalian lakukan sejak tadi ha? Bagaimana bisa seorang gadis dapat lolos dengan mudah dari pengawasan kalian, bagaimana kalau Nadhira dalam bahaya diluar! Dia sedang mabuk saat ini".
Tiba tiba terlihat seseorang datang untuk menemui pemuda itu dengan sangat tergesa gesa, sesampainya orang itu didepan orang yang dituju orang itu tidak langsung mengatakan sesuatu kepadanya melainkan mengatur nafasnya terlebih dulu sebelum melapor.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kau menemukan dimana Nadhira?".
"Iya Bos... Dia.. dia.. ".
"Kenapa dengan dia? Katakan yang jelas!".
"Dia ada diatas atap bangunan utama Bos".
"Apa? Bagaimana dia bisa manjat disana!"
Pemuda itu segera bergegas ketempat dimana orang itu maksudkan, pemuda itu begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira sedang berada diatas atap bangunan markas itu, pemuda itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira kali ini.
Sesampainya ditempat yang ia tuju, ia begitu terkejut ketika melihat Nadhira dengan santainya duduk ditepi atap bangunan itu dengan kaki yang bergelantungan, bukan hanya itu saja, Nadhira pun bernyanyi nyanyi disana tanpa rasa takut akan jatuh.
"Bintang kecil dilangit yang tinggi, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan berlari jauh tinggi ketempat kau berada" Suara Nadhira bernyanyi.
"Bos gadis itu sama sekali tidak mau turun dari atap sana, kami juga tidak tau dari mana dirinya naik sebelumnya karena tidak ada pijakan sama sekali untuk mencapai tempatnya".
"Nadhira kamu ngapain disana?" Teriak pemuda itu.
Mendengar suara itu membuat Nadhira menoleh kebawah dan menemukan keberadaan dari pemuda yang Nadhira panggil sebagai Rifki itu, melihat pemuda itu sudah berada dibawah membuat Nadhira bertepuk tangan dengan gembiranya.
Dapat dilihat bahwa beban yang ditanggung oleh Nadhira begitu banyak, sehingga ketika disaat Nadhira mabuk, Nadhira berbuat seperti seorang anak kecil karena dirinya sangat merindukan masa kecilnya yang penuh dengan canda tawa.
"Rifki lihat aku, aku disini" Ucap Nadhira sambil melambaikan tangan kepada pemuda itu.
"Kamu ngapain disana Dhira? Ayo turun gih, nanti kamu jatoh lo".
"Aku ngak mau turun, aku masih ingin melihat bintang dari sini, kemarilah Rif, bintanya bagus disini".
"Kita lihat dari bawah ya Dhira, ayolah turun nanti kamu jatoh lo, itu kan tinggi Dhira, Dhira turun ya".
Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya, Nadhira tidak mau turun dari atap bangunan itu, ketika pemuda itu memaksa Nadhira untuk turun, wajah ceria Nadhira seketika lenyap begitu saja dan berganti dengan wajah cemberutnya.
"Kamu bukan Rifki ku" Ucap Nadhira dengan nada yang dibuat pelan.
"Aku Rifkimu Dhira, ayo turun ya, nanti kamu jatuh, itu tinggi Dhira". Pemuda itu mengaku bahwa dia adalah Rifki yang sedang dirindukan oleh Nadhira.
"Tidak, kamu bukan Rifki ku, Rifki ku tidak pernah menolak keinginanku dan bahkan tanpa aku minta sekalipun Rifki sudah mengerti tentang kemauanku, kamu berbeda dari dirinya" Ucap Nadhira dengan nada sedihnya.
"Dhira turun dulu, biar aku jelaskan pelan pelan dibawah sekarang ya".
Pemuda yang dianggap Nadhira sebagai Rifki itu terus memaksa Nadhira untuk turun dari atap bangunan itu, akan tetapi Nadhira terus menolaknya karena pemuda itu bukanlah sosok Rifki yang ia cari.
"Tidak mau, aku hanya mau dengan Rifki, kau tidak akan bisa menjadi seperti Rifkiku! Rifkiku hanya ada satu didunia ini, dan orang lain tidak akan bisa menyamai dirinya meskipun mereka telah berusaha untuk dapat menjadi dirinya".
"Dhira ayolah turun dulu ya, aku akan membawa Nadhira bertemu dengan Rifki nanti jika Nadhira mau turun, Dhira turun ya?".
"Tidak mau".
Pemuda itu tidak bisa berbuat apa apa saat ini karena Nadhira tidak mau turun juga, pemuda itu segera memerintahkan anak buahnya untuk mengambilkan sebuah matras untuk Nadhira.
Biar bagaimanapun Nadhira saat ini masih berada dibawah alam sadarnya dan lebih tepatnya Nadhira masih mabuk sehingga mereka tidak bisa memastikan tengang apa yang akan dilakukan oleh Nadhira selanjutnya.
Anak buahnya telah selesai menata matras tepat dibawah Nadhira duduk saat ini, mereka tidak tau lagi bagaimana cara untuk mengajak Nadhira turun dengan mudahnya. Seandainya Rifki berada disitu Rifki tidak akan tinggal diam seperti ini, dia akan ikut serta memanjat atap rumah itu untuk menemani Nadhira diatasnya dan dengan perlahan lahan mengajak Nadhira untuk turun.
Benar saja dugaan pemuda itu tidak melenceng jauh dari hal itu, Nadhira tiba tiba tertidur pulas diatas atap bangunan itu dan tiba tiba Nadhira menjauhkan dirinya dari atap bangunan untung saja dengan sigap pemuda itu segera menangkap tubuh Nadhira dan keduanya terjatuh diatas matras yang telah disiapkan sebelumnya.
...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...
...Terima kasih ...
__ADS_1