
Bayu merasa khawatir dengan sendirinya, dan akhirnya ia lebih memilih untuk menelpon Vano terlebih dahulu, disaat itu Vano sudah berada didalam angkutan umum dengan Nadhira.
"Halo Van, gimana apa kamu sudah menemukan keberadaan Nadhira? Apa Nadhira mau ikut dengan kalian?".
"Baguslah kalo kalian sudah bersama dengan Nadhira, kamu nggak perlu khawatirkan tentang yang ada disini, kamu sekarang dimana?".
"Kami masih berada dijalan, belum sampai ketujuan, kalo sudah sampai nanti aku kabarin lagi"
"Baiklah, kamu harus sampai secepatnya sebelum kita sampai dilokasi itu, aku tidak tau lagi harus bagaimana caranya untuk menghadapi emosi Rifki, sebaiknya kamu minta kepada sopir itu untuk melajukan mobilnya dengan cepa".
"Oke"
Bayu merasa sedikit tenang ketika mendengar bahwa Vano dan Nadhira sudah berada didalam angkot dan akan melaju kearah markas tersebut.
Bayu tidak bisa menikmati perjalanan itu dengan tenang, ia terus memikirkan apa yang akan terjadi ketika mereka telah sampai didalam markas tersebut.
Tak beberapa lama kemudian mereka telah sampai disebuah gedung tujuan mereka, Rifki segera turun dari motornya dan melepas helmnya. Ia menatap bagunan tersebut dengan geramnya, seakan akan ia ingin sekali menghancurkannya.
"THEO..... KELUAR KAMU!!!, HADAPI AKU SEKARANG!!! KELUAR, JANGAN JADI PENGECUT!!!". Teriak Rifki didepan markas tersebut.
Didalam markas Theo sedang berbincang bincang dengan anak buahnya, ia merasa senang karena telah menghajar anak buah Rifki, kesenangan itu segera lenyap ketika suara Rifki bergema didepan gerbang markasnya.
"Tak kusangka ia akan datang secepat ini". Ujar Theo.
"Bos, mereka datang dengan jumblah yang banyak, bagaimana kita bisa menghadapinya?". Salah satu anak buahnya berbicara kepada Theo dengan tergesa gesa.
"Bukankah anak buahnya mudah dikalahkan, kenapa kau begitu cemas?".
"Sepertinya kali ini, ia datang dengan anak buah yang berbeda daripada sebelumnya, lalu bagaimana kita bisa mengalahkannya?".
"Apa? Kumpulkan semua anggota kita saat ini!!!".
"Baik bos".
Theo segera mengumpulkan anak buahnya didalam gedung tersebut, dan segera mempersiapkan diri mereka untuk melawan anggota geng Rifki.
Theo telah memasang perangkap didalam markasnya untuk menghadapi Rifki dan anggotanya apabila mereka sudah terpojok dan tidak bisa melawan lagi.
Disatu sisi, Bayu begitu gelisah karena Nadhira tak kunjung datang ketempat itu, ia tidak ingin perkelahian ini terjadi tetapi ia juga tidak bisa menghentikan tindakan yang dilakukan oleh Rifki saat ini.
"THEO!!! KELUAR KAMU!!! ATAU AKU ROBOHKAN PAGAR INI!!! KELUAR!!! AKU TAU KAU ADA DIDALAM, CEPAT KELUAR HADAPI AKU". Rifki terus berteriak didepan pagar markas tersebut.
Markas milik Theo dibangun jauh dengan permukiman warga, markas itu dikelilingi oleh sebuah lapangan yang cukup besar dan beberapa pohon melingkari tempat itu.
Sehingga suara berisik apapun tidak dapat terdengar dari permukiman warga, markas itu tidak akan menganggu masyarakat sekitar, hanya saja gedung tersebut tidak dapat dilihat karena rimbunnya pepohonan.
Setiap pengunjung yang melewati tempat itu mereka tidak akan menyangka bahwa adanya markas tersebut, mereka hanya akan melihat pepohonan yang begitu rimbun setiap kali mereka melewatinya.
Rifki tetap berdiri didepan pintu gerbang tersebut, diikuti oleh seluruh anak buahnya, Rifki begitu marah ketika mendengar bahwa anggotanya telah terluka, bagi Rifki mereka adalah saudaranya sehingga ia tidak terima jika saudaranya dihajar habis habisan oleh anggota geng lain.
Apalagi ia mengetahui bahwa anggotanya tidak melakukan kesalahan akan tetapi mereka menerima sebuah pukulan dari orang lain, mereka tidak mengetahui apa kesalahan mereka sebenarnya tiba tiba saja mereka dikeroyok oleh geng lain.
"Bos merek tidak mau keluar juga, apa yang harus kita lakukan?". Tanya Reno.
"Tunggu beberapa menit lagi, jika mereka tidak segera keluar hancurkan saja pagarnya". Jawab Rifki dengan datarnya.
"Baik bos".
__ADS_1
Mendengar perintah itu membuat Bayu merasa gelisah karena Nadhira tak kunjung datang ketempat itu, ia tidak tau lagi bagaimana caranya untuk menghentikan Rifki yang sudah siap untuk bertarung dengan anggota geng Theo.
Bayu terus berdoa agar Nadhira segera sampai ditempat itu sebelum adanya korban diantara keduanya, ia sangat faham akan watak Rifki yang keras kepala, sekali sudah memutuskan maka tidak ada yang bisa mengubah keputusannya tersebut.
Bayu mengetahui perasaan Rifki kepada Nadhira, sehingga Bayu berfikir dengan kehadiran Nadhira ditempat ini akan mampu meredahkan emosi Rifki yang saat ini tengah membara.
Sedangkan diposisi Nadhira saat ini, ia berlarian untuk dapat sampai ketempat itu, mereka turun dari angkutan umum begitu jauh dari markas karena jalan menuju markas tidak dilalui oleh angkutan umum.
Nadhira terus lari, ia tidak menghiraukan kelelahannya, nafasnya ikut memburu karena belari begitu lama, ia tidak mempedulikan hal itu yang ada dikepalanya hanyalah mengenai Rifki dan anggota kelompok Rifki yang lainnya, ia tidak ingin terjadinya perkelahian antara kedua belah pihak yang dapat menimbulkan banyak korban.
Nadhira dan lainnya segera bergegas berlari, Vano sesekali melihat kearah jam tangannya untuk memeriksa waktu. Karena kencangnya Nadhira berlari sehingga membuatnya terjatuh dijalanan.
"Nadhira!! Kamu ngak papa?". Tanya Vano sambil membantunya berdiri.
"Aku ngak papa, kita harus cepat menghentikan mereka".
Nadhira kembali berlari meninggalkan Vano yang berada dibelakangnya, akhirnya Vano ikut berlari mengejar Nadhira, dengan nafas memburu Nadhira masih tetap berlari.
"Tapi Nadhira, jika kakimu sakit jangan dipaksa berlari".
"Aku tidak papa".
Nadhira tidak menghiraukan perkataan Vano, ia kembali berlari menuju markas milik Theo tersebut, ia tidak ingin Rifki kenapa kenapa, didalam hatinya ia menangis dan begitu menghawatirkan keadaan Rifki.
Ketika jarak antara posisinya dan tempat dimana Rifki berdiri lumayan dekat, Nadhira mampu mendengar teriakan Rifki yang menyuruh Theo untuk segera membuka gerbang markasnya.
Sedangkan Rifki saat ini sedang menunggu Theo untuk membukakan gerbangnya, Rifki dapat melihat anggota Theo mulai keluar dari markasnya, tanpa banyak bicara Theo segera membuka gerbangnya dan menyerang kelompok Rifki dengan tiba tiba.
Terjadilah perkelahian antara dua kelompok, kelompok yang dipimpin oleh Rifki kalah jumlah dari yang dikeluarkan oleh Theo, tetapi mereka dengan mudah menangkis setiap serangan yang kelompok Theo berikan.
Rifki saat ini berhadapan dengan Theo, Theo terus menyerang kearah Rifki dengan kasarnya sementara Rifki hanya bisa menangkis serangan tersebut, Bayu segera membantu anggota geng Rifki untuk menyerang balik anggota Theo.
Tiba tiba Nadhira sampai ditempat tersebut dan berteriak untuk menghentikan mereka, tetapi teriakan itu diabaikan oleh mereka, mereka tetap saling berkelahi satu sama lain.
Ketika ketiganya sampai, Vano dan temannya segera bergabung dengan yang lainnya dan menggantikan posisi Bayu yang tengah berkelahi dengan anggota geng Theo, sementara Bayu segera bergegas melindungi Nadhira.
"Bayu". Ucap Nadhira.
"Aku fikir kamu tidak akan datang Nadhira". Ucapnya sambil melawan seseorang yang berada didekatnya.
Nadhira juga tidak tinggal diam saja, ia membantu Bayu untuk mengalahkan mereka yang berada ditempat itu, Nadhira berusaha untuk mendekat kepada Rifki yang sedang bertarung dengan Theo.
"Bagaimana aku tidak datang jika hal ini menyangkut dengan Rifki, apakah aku akan membiarkannya".
Nadhira ikut berkelahi untuk bisa mencapai posisi dimana Rifki berada saat ini, ia sama sekali tidak mempedulikan lututnya yang tergores aspal ketika ia berlari ketempat ini.
Ketika jaraknya dan Rifki begitu dekat, Nadhira segera memeluk Rifki dari depan dengan eratnya sehingga pukulan yang dilontarkan oleh Theo mengenai punggung Nadhira dengan kerasnya, melihat pukulannya salah sasaran ia segera menghentikan perkelahian itu.
"Akh..."
Pukulan yang mengenai punggung Nadhira membuat keduanya termundur beberapa langkah, Nadhira dapat merasakan tulang punggung telah ditempa oleh sesuatu yang begitu keras.
"Nadhira, apa yang kamu lakukan?". Teriak Rifki begitu terkejut sekaligus khawatir kepada Nadhira.
"Hentikan!!". Teriak Nadhira.
Nadhira melepaskan pelukan tersebut dan menghadap kepada Theo yang berada didepannya, Nadhira membelakangi Rifki. Seakan akan Nadhira akan menggantikan posisi Rifki untuk berkelahi dengan Theo.
__ADS_1
"Hentikan anggotamu Theo!". Ucap Nadhira.
Theo dan Rifki segera menghentikan anggotanya masing masing untuk tidak saling menyerang satu sama lain, kedatangan Nadhira membuat semua orang merasa terkejut karena adanya seorang gadis diantara puluhan pemuda.
"Nadhira dia dulu yang menyerang, kami hanya melindungi diri". Theo membela dirinya.
"Lantas bagaimana dengan anggota ku yang tiba tiba kau serang ha?". Ucap Rifki.
"Karena aku tidak terima kau mengalahkanku wak....". Jelas Theo.
Plakkk
Tiba tiba Nadhira dengan marahnya menampar pipi Theo dengan begitu kerasnya, sementara Theo hanya mampu memegangi pipinya yang terasa panas.
"Jika kamu tidak terima kenapa tidak melawan secara one by one? Ngak perlu melibatkan mereka!!". Teriak Nadhira.
"Baiklah jika itu maumu". Ucap Theo.
Theo memerintahkan salah satu anggotanya untuk membuka gerbang markas tersebut dengan lebarnya, ia menyuruh anggota geng Rifki masuk kedalam markas, untuk menyaksikan pertarungan tunggal diantara kedua pemimpin kedua kelompok tersebut.
Nadhira dan Rifki segera berjalan memasuki markas tersebut, Nadhira berjalan dengan pincangnya karena luka akibat ia terjatuh dan juga punggungnya yang terasa nyeri.
"Bagaimana cideramu karena pukulan tadi? Seharusnya kamu tidak melakukan itu Nadhira". Rifki begitu menghawatirkan keadaan punggung Nadhira.
"Ngak papa kok Rif".
Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira dan menggendongnya, Nadhira hanya bisa pasrah dalam gendongan Rifki. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini, ia tidak ingin membuat Rifki marah karena ia memaksa untuk turun dan berjalan sendiri.
Jantung Nadhira berdetak dengan cepatnya, ini adalah pertama kali ia digendong oleh Rifki, sementara seluruh anggota geng Rifki hanya bisa menutup mulut mereka melihat pemimpin mereka takluk oleh seorang gadis.
Selama ini Rifki tidak pernah memperlakukan seorang gadis begitu baik seperti bagaimana ia memperlakukan Nadhira untuk saat ini, Bayu dan Vano yang berada dibelakang Rifki hanya bisa menahan tawa mereka karena keberhasilan usaha keduanya.
"Aku tidak akan menaafkan kalian berdua!! Lihat saja nanti". Ucap Rifki kepada keduanya.
"Bos maafkan kami". Ucap Vano sambil menahan tawanya.
"Apa salah kami? Seharusnya kau berterma kasih kepada kami, karena kedatangan Nadhira membuat tidak adanya korban dari anggotamu". Bela Bayu.
"Aku akan menghukummu nanti!!". Ucap Nadhira kepada Rifki.
"Iyaya... Apapun hukumannya, aku harus menerimanya dengan ikhlas". Jawab Rifki dengan santainya.
Mereka semua berjalan kedalam markas tersebut, dan sampai pada akhirnya mereka sampai disebuah ruangan yang beralaskan matras yang sangat lebar, Rifki menurunkan Nadhira disebuah kursi yang ada didalam ruangan tersebut.
Rifki berjalan memasuki arena dan langsung berdiri berhadapan dengan Theo, pandangan keduanya bertemu seakan akan keduanya sudah siap untuk bertarung.
"Tanpa taruhan perkelahian ini kurang menarik". Ujar Theo sambil melirik kearah Nadhira.
"Maksudmu apa!!". Ucap Rifki dengan geramnya.
"Bagaimana kalo kita taruhkan Nadhira, jika kau kalah jauhi Nadhira, jika kau menang maka aku akan jauhi Nadhira".
"Tidak!!! Aku tidak setuju akan hal itu". Bantah Nadhira.
"Kau gila apa!!". Teriak Rifki.
"Kenapa kau takut? Dasar pengecut".
__ADS_1
"Lebih baik aku disebut pengecut daripada harus menjadikan seseorang gadis sebagai taruhannya".
Seluruh anggota geng Theo tertawa mendengar jawaban dari Rifki, hanya demi seorang gadis ketua geng yang sok hebat mampu takluk didepan musuhnya.