
Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak demi membawa ibunya kerumah sakit, akan tetapi setelah sampai dirumah sakit keduanya segera ditolak oleh para petugas rumah sakit hanya karena sang anak tidak mampu membayar fasilitas yang ada dirumah sakit tersebut.
Karena kondisi Ibunya yang sudah keritis parah sehingga membuat Ibunya harus kehilangan nyawanya karena tidak mendapatkan pertolongan dari pihak rumah sakit tersebut.
Akan tetapi pihak rumah sakit tidak merasa bersalah karena tidak dapat menolong ibu ibu itu, jika itu yang terjadi kepada seseorang yang memiliki begitu banyak harta mereka akan merasa bersalah karena tidak dapat menolong nyawanya.
Banyak sekali bangunan bangunan yang tinggi yang dibangun ditengah tengah masyarakat, para petinggi negara bilang bangunan tersebut dibangun untuk mensejahterakan rakyat, namun apa buktinya? Justru rakyat akan sengsara karena mereka hanya akan melayani masyarakat yang kaya raya.
Ya, banyak sekali para pejabat yang telah lupa dengan tanggung jawab yang mereka emban selama ini, mereka bilang itu demi kepentingan rakyat, tapi nyatanya justru malah menyengsarakan rakyat.
Gedung gedung tinggi dibangun menjulang keangkasa, akan tetapi masyarakat kecil tidak akan pernah mampu untuk menikmati megahnya bangunan tersebut karena mereka tidak memiliki biaya untuk masuk kedalamnya.
Jalan jalan tol dibangun dengan bagusnya, akan tetapi masyarakat kecil tidak akan mampu untuk melewatinya karena mereka tidak memiliki mobil yang bisa dikendarai untuk melewatinya.
Seorang masyarakat kecil mencuri makanan karena mereka kelaparan justru mendapatkan hukuman yang begitu berat, akan tetapi para pejabat yang memakan uang rakyat dilepaskan begitu saja, kadang kala mereka akan dimasukkan kepenjara dengan kemewahan yang begitu melimpah seakan akan itu bukanlah penjara, melainkan hotel bintang lima.
Ada yang kamu akan dihormati banyak orang dan dianggap saudara kemanapun kamu berada saat ini, hal itu berbeda jauh dari dirimu ketika tidak memiliki banyak uang, sedangkan jika tidak ada uang kamu akan dipandang rendah oleh semua orang di manapun kamu berada, bahkan saudaramu sendiri pun tidak akan menganggapmu saudara.
"Kau benar, uang bukanlah segalanya, akan tetapi segalanya juga butuh uang dizaman seperti ini, aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu kepadamu, setelah ini, temui pelatihmu, kau akan tau apa tujuanku datang kemari kali ini". Ucap Rifki dengan tersenyum puas karena jawaban yang diberikan oleh Fajar kepadanya.
"Maksudmu apa Rif?". Tanya Fajar.
"Orang yang banyak tau biasanya akan mati lebih awal". Ucap Rifki dengan santainya.
Fajar tidak bisa berkata apa apa lagi mendengar jawaban dari Rifki, sementara para siswa yang ada ditempat itu juga hanya bisa berdiam diri karena mereka tidak mengetahui tentang apa yang terjadi dilapangan itu saat ini.
"Kakak!!".
Tiba tiba suara seorang gadis kecil terdengar oleh telinga Rifki, nampaknya Rifki begitu mengenali suara tersebut, Rifki segera menoleh kearah sumber suara itu berasal, Rifki menemukan bahwa ada seorang gadis kecil yang tengah berlarian kearahnya.
Seorang gadis kecil yang berusia 9 tahunan berlarian menuju kearah dimana Rifki berada saat ini, Rifki yang melihat gadis itu berlari kearahnya membuat dirinya segera berdiri dan menghadap kearah gadis kecil itu.
Rifki begitu terkejut ketika gadis kecil itu tiba tiba mendatanginya dilapangan tempat mereka berlatih beladiri, melihat kedatangan seorang anak kecil ditempat itu membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Rifki dan juga anak kecil itu.
"Siapa anak kecil itu?". Tanya Fajar kepada Nadhira yang ada disampingnya saat ini.
"Dia adalah Adik dari Rifki, namanya Ayu". Nadhira menjawab pertanyaan Fajar.
"Kenapa aku baru tau kalau Rifki punya seorang adik perempuan yang sangat cantik".
"Apa kau berniat menaruh perasaan kepada Adiknya Rifki itu Jar? Dia masih kecil loh, belum ngerti soal cinta cintaan, dirinya saja masih baru masuk sekolah dasar". Tanya Nadhira dengan keheranan.
Akan tetapi hal itu tidak berlangsung begitu lama, karena teriakan dari pelatih tersebut membuat mereka kembali berbaris seperti sebelumnya dan mengabaikan tentang pemuda dan anak kecil itu.
"Ayu". Ucap Rifki pelan.
Rifki begitu terkejut dengan kedatangannya tiba tiba ketempat seperti ini, setelah jarak keduanya semakin dekat, Rifki segera berlutut didepan gadis kecil itu, gadis kecil itu segera menabrakkan diri ketubuh Rifki.
Rifki merasa senang dengan kedatangannya, Rifki memeluk gadis kecil itu dengan eratnya, seakan akan dirinya begitu sangat merindukan sosok gadis kecil yang ada dihadapannya saat ini, gadis itu pun juga ikut memeluk Rifki dengan eratnya seakan akan ia juga sangat merindukan Rifki.
"Ayu sangat merindukan Kakak Rifki". Ucap gadis kecil itu yang tidak lain adalah Adik kandung Rifki.
"Kamu kenapa kesini Ay? Apa Mama baik baik saja? Kamu kesini sama siapa?". Tanya Rifki sambil memandang kearah wajah Adiknya itu.
"Mama baik baik saja Kak, kenapa Kakak tidak pernah menemuiku selama ini? Apa Kakak tidak merindukanku?". Tanya Ayu dengan polosnya.
"Maafkan Kakak ya Ay, Kakak tidak pernah mengunjungimu dan juga Mama, kamu tadi kemari sama siapa Dek?". Ucap Rifki yang lagi lagi memeluk adiknya itu.
__ADS_1
"Sama Papa Kak, aku senang sekali bisa bertemu dengan Papa Kak, Papa orangnya juga baik seperti Kakak Rifki". Ucap Ayu.
"Papa? Apa Papa pulang Dek? Kemana dia sekarang? Kakak ingin menemuinya". Tanya Rifki yang terkejut dengan ucapan Adiknya itu.
Selama ini Papanya tidak pernah pulang kerumah, kenapa kali ini tiba tiba Papanya pulang, Rifki begitu sangat terkejut dengan kabar kepulangan Papanya akan tetapi kenapa dirinya baru mengetahui tentang hal itu, kenapa Papanya tidak mengabarinya bahwa dirinya sudah pulang.
"Aku ngak tau kemana Papa sekarang pergi Kak, tadi sebelum Papa mengantarku kemari dia bilang bahwa Papa menyuruh Kak Rifki untuk menemuinya dihutan malam ini".
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Papa tiba tiba datang dan memintaku untuk menemuinya dihutan malam hari? Kenapa tidak dirumah atau didalam markas? Apa yang sebenarnya Papa sembunyikan dariku". Batin Rifki.
"Papa mengatakan apa lagi kepada Adek?". Tanya Rifki lagi lagi kepada Ayu.
"Papa bilang Kakak harus menemuinya malam ini, ada hal yang ingin dibicarakan kepada Kakak Rifki, aku tidak tau apa yang ingin Papa bicarakan Kak".
Rifki terdiam dan melamun cukup lama sambil memandangi wajah Adiknya itu, sampai sentuhan Nadhira menyadarkannya dari lamunannya itu.
"Ada apa Rif?". Tanya Nadhira dengan keheranan.
"Ngak apa apa kok Dhir, ayo aku antar kamu pulang, sebentar lagi langit juga akan gelap". Ucap Rifki sambil mengajak Nadhira dan Adiknya pergi dari tempat itu.
Tidak lupa Rifki memberikan sebuah jaket kepada Nadhira untuk menutupi seragam siswa dasar tersebut agar tidak menyita banyak perhatian, sedangkan dirinya sendiri lebih memilih untuk melepaskan baju tersebut karena sebelumnya Rifki juga memakai baju lengan pendek sehingga dengan mudah Rifki melepaskan baju siswa dasar itu.
Diperjalanan Rifki terlalu banyak melamun dengan apa yang dikatakan oleh Ayu, sedangkan Nadhira hanya bisa berdiam diri, ia tidak tau lagi harus mengatakan apa kepada Rifki, Nadhira dapat melihat sebuah kebingungan dari raut wajah Rifki.
Hingga akhirnya ketiganya sampai didepan rumah Nadhira, setelah sampai dirumah Nadhira, Nadhira segera turun dari sepedah milik Rifki dan memandangi wajah Rifki yang terlihat bingung itu.
"Apa yang kamu pikirkan Rif?". Tanya Nadhira lagi.
"Ngak ada kok Dhir, ya sudah kamu masuk dulu, sebentar lagi juga akan gelap".
"Kan ada Ayu, bagaimana kalau nanti Ayu ngikutin Kakaknya yang tidak bisa diam untuk berbicara? Siapa juga nanti yang repot kalo bukan aku".
"Kakak kan Kakaknya Ayu, kenapa Ayu tidak boleh seperti Kakak?". Tanya Ayu dengan polosnya.
"Adek mau jadi Adeknya Kakak yang baik kan? Jadi Adek harus nurut sama Kakak, ngak boleh jadi seperti Kakak, Adek harus jadi yang terbaik". Ucap Rifki sambil mengusap kepala Adiknya itu.
"Kenapa Kak? Emang Kakak bukan Kakak yang baik apa? Kenapa aku tidak boleh seperti Kakak? Kakak kan baik orangnya, ngak pernah marah sama aku".
"Kenapa kamu jadi banyak bicara seperti ini hmm? Belajar dari mana bicara seperti ini? Apa Mama yang mengajari Adek mengatakan ini kepada Kakak?".
"Ngak Kak, bukan Mama yang mengajari ku berbicara seperti itu, tapi Kakak sendiri yang mengajariku".
"Sudah sudah, ayo pulang Dek, nanti kalau ngak balik balik kerumah, Mama marah lo sama Adek".
Rifki segera berpamitan kepada Nadhira untuk pulang, sedangkan Ayu pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Rifki, melihat tingkah Ayu ketika berpamitan kepada Nadhira yang begitu terlihat menggemaskan menurut Nadhira membuat Nadhira tersenyum kearah Ayu.
Nadhira segera masuk kedalam rumahnya sesuai dengan permintaan Rifki, Rifki tidak akan pergi sebelum melihat Nadhira masuk kedalam rumahnya, setelah bayangan Nadhira sudah tidak terlihat, Rifki segera memacu sepedah motornya untuk meninggalkan tempat itu bersama dengan Ayu.
Sepedah motor yang dikendarai oleh Rifki tersebut melaju dengan memecah kesunyian sore ini, tak beberapa lama kemudian akhirnya keduanya sampai juga dirumah milik Rifki.
Rifki segera mengajak Ayu untuk masuk kedalam rumahnya, Rifki ingin menemui Mamanya sebelum dirinya menuju kehutan untuk menemui Papanya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum... Ma, Rifki pulang". Ucap Rifki sambil mengetuk pintu rumahnya.
"Waalaikumussalam, akhirnya kau pulang juga Nak". Sahut seseorang dari dalam.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian akhirnya, pintu rumah tersebut dibuka oleh Putri Mama dari Rifki, Rifki segera mencium tangan dari Mamanya itu, Mamanya segera memeluk anaknya karena dirinya begitu merindukan sosok anaknya itu.
"Bagaimana kabar Mama?". Tanya Rifki yang masih berada dipelukan Mamanya.
"Alhamdulillah Mama baik baik saja Nak, seperti yang kamu lihat, bagaimana keadaanmu juga Nak?". Tanya Putri balik kepada Rifki.
"Rifki baik Ma, maafin Rifki yang tidak pernah pulang kerumah, Mama boleh kok memarahi Rifki".
"Mama tidak akan pernah bisa marah kepada anaknya Rif, ya sudah ayo masuk dulu, kamu pasti capek kan habis latihan".
Rifki segera mengangguk kepada Mamanya itu, dan mengikuti Mamanya untuk masuk kedalam, Putri memerintahkan kepada pembantunya untuk membuatkan Rifki minuman, karena Rifki tidak pernah datang kerumah tersebut membuat pembantunya merasa panggling terhadap Rifki.
"Aku ingin berbicara sama Mama berdua". Ucap Rifki dan langsung mengajak Mamanya untuk masuk kedalam kamarnya.
Putri yang mengerti apa yang ingin dibicarakan oleh Rifki hanya bisa mengikuti kemauan dari anaknya, Rifki tidak ingin pembicaraannya itu didengar oleh orang lain apalagi sampai didengar oleh Adiknya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sama Mama, Nak?". Tanya Putri ketika keduanya sudah berada dikamar.
"Sejak kapan Papa pulang Ma? Kenapa Mama tidak memberitahukan hal ini kepadaku?".
"Sebenarnya Papamu baru saja pulang Nak sekitar 2 jam yang lalu, ada banyak hal yang ingin dia dibicarakan denganmu, sebaiknya cepatlah pergi untuk menemuinya didekat desa Mawar Merah". Ucap Putri memerintahkan Rifki untuk segera menemui Papanya dihutan.
"Kenapa harus menemuinya dihutan malam malam seperti ini Ma? Kenapa dia tidak bisa langsung saja menemuiku disini? Apa perlu aku menemuinya dengan cara seperti ini tiba tiba? Untuk apa aku menemuinya? Apa sih sebenarnya kemauan lelaki itu?". Tanya Rifki dengan kesalnya karena tiba tiba sosok lelaki yang tidak pernah menemuinya itu memintanya untuk bertemu dihutan dan bahkan hutan itu cukup berbahaya.
"Nak, apa kau masih marah kepada Papamu? Bukankah Mama pernah bilang, apapun yang dilakukan oleh Papamu itu juga demi kebaikanmu Nak, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya celaka". Ucap Putri menanggapi kekesalan Rifki.
"Kebaikan! kebaikan! kebaikan! kebaikan seperti apa itu Ma? Bagaimana bisa seseorang yang meninggalkan anak dan istrinya itu demi kebaikan Ma? Aku sama sekali tidak habis pikir, kebaikan seperti apa itu Ma?". Tanya Rifki yang mulai meneteskan air matanya.
"Mama tau, kamu masih marah kepadanya Nak, Mama mohon kepadamu, jangan pernah membenci Papamu Nak". Ucap Putri dengan berlinangan airmata dan menghamburkan dirinya untuk memeluk putra satu satunya itu.
Entah mengapa rasa kesalnya terhadap Papanya itu tidak pernah hilang sampai sekarang, meskipun Rifki sudah mencoba untuk menghilangkan rasa kesalnya itu akan tetapi rasa kesalnya tersebut sekarang mulai muncul kembali ketika mengetahui bahwa Papanya memintanya untuk menemuinya dihutan.
"Kenapa? Kenapa hal ini harus terjadi kepada keluarga kita Ma? Lelaki itu bahkan tidak pernah pulang kerumah, kenapa Mama masih menyayangi lelaki seperti itu".
Tangis Rifki pecah seketika, bukan hanya perempuan saja yang bisa menangis, lelaki juga bisa untuk menangis, hanya kepada Mamanya saja Rifki terlihat begitu lemahnya, hanya kepada Mamanya Rifki mencurahkan semua perasaan yang selama ini ia pendam seorang diri ketika Kakeknya pergi meninggalkannya entah kemana.
Tubuh Rifki bergetar karena tangisannya itu, Putri mampu merasakan bahwa putranya itu terlihat begitu lemah dengan perasaannya sendiri, selama ini Rifki tidak pernah terlihat begitu rapuh seperti sekarang ini.
"Apa yang kau katakan Nak? Seandainya kau mengetahui apa yang dilakukan oleh Papamu, kau tidak akan mampu berkata sedemikian ini Nak, tidak ada seorang Ayah yang sanggup melihat anak anaknya sangat membencinya seperti ini Nak, biar bagaimanapun juga dia adalah Ayahmu, kau juga adalah seorang lelaki Nak, bagaimana nanti jika anakmu membencimu seperti ini?". Ucap Putri sambil membelai rambut Rifki.
"Aku sama sekali tidak pernah membenci Papa Ma, aku hanya tidak suka dengan sikapnya itu, yang telah meninggalkan kita seperti ini tanpa tau apa tujuannya sebenarnya Ma, apalagi memintaku untuk menemuinya dihutan malam malam seperti ini".
"Mama tau, kau pasti terluka karena hal ini, tapi Mama mohon kepadamu, mengertilah apa yang sedang dilakukan oleh Papamu, Nak".
Dengan kesabarannya, Putri terus mencoba untuk menenangkan hati Rifki yang kian memanas ketika mengetahui bahwa Papanya pulang walaupun hanya sesaat dan memintanya untuk menemuinya dihutan.
Bukan hal mudah bagi Rifki untuk menerima semua yang telah dilakukan oleh Papanya kepadanya, apalagi ketika baru pulang setelah sekian lama tiba tiba meminta dirinya untuk menemuinya dihutan.
"Aku tidak tau lagi harus bersikap seperti apa selanjutnya Ma, aku bahkan tidak mengenali siapa sosok Ayahku yang sesungguhnya". Air mata Rifki terus bercucuran.
"Temuilah Papamu sekali saja Nak, biarkan dia menjelaskan apa yang dia lakukan selama ini, kau akan mengerti tentang hal itu, mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama ketika kau berada diposisi Papamu Nak". Ucap Putri meminta Rifki untuk menemui suaminya itu.
"Baiklah Ma, aku akan menemuinya setelah ini, sesuai dengan perintah Mama".
"Terima kasih Nak". Ucap Putri.
Putri memeluk tubuh Rifki dengan begitu eratnya, sudah berbulan bulan dirinya tidak pernah bertemu anaknya itu, begitupun dengan Rifki yang merasa begitu nyaman ketika berada dipelukan Mamanya, seakan akan beban yang selama ini ia tanggung perlahan lahan mulai menghilang.
__ADS_1