
"kenapa bapak memperlakukanku seperti tahanan pak? Bagaimana tentang reputasiku? Nanti reputasiku dipertanyakan apakah aku murid atau seorang tahanan, yah bagaimana lagi, bapak kan tidak punya perasaan.... Aaaa".
Cerocoss Nadhira diperjalanan menuju kekantor, ketika gurunya lelah mendengar omelan dari Nadhira, ia mengeratkan pegangan kedua tangannya sehingga membuat Nadhira menjerit keras.
"Kalau kau tidak diam juga, ku patahkan nih kedua tangan". Ancam gurunya.
"Baiklah baiklah, tapi aku mohon pak, tanganku sakit, bagaimana kalau bapak memegang baju ku saja? Aku tidak akan kabur pak! Aku janji.....".
Sebelum Nadhira menyelesaikan perkataannya, tatapan sang guru begitu tajam membuatnya berhenti untuk berbicara. Ia lalu menundukkan kepala, bukan karena takut kepada sang guru melainkan malu karena dipegang seperti tahanan.
Ketika diperjalanan, tiba tiba kedua orang itu ditahan oleh sosok yang Nadhira kenal, Nadhira menatap sosok tersebut dengan perasaan yang campur aduk.
"Ada masalah apa pak?".
"Ah.. ini Rif, pak Roni mau mencari menantu katanya, mangkanya ia menangkapku seperti ini, aaaa.... Baiklah baiklah aku diam!"
Mendengar ucapan Nadhira, membuat guru olah raga tersebut mengeraskan pegangan tangannya membuat Nadhira berteriak kesakitan.
"Kamu ini ya dari tadi terlalu banyak omong kosong! Kamu!",menunjuk kearah Rifki"kembali kekelas, sebentar lagi kelas akan dimulai". Ucap gurunya.
"Baik pak".
Setelah itu guru dan murid tersebut melanjutkan perjalanannya menuju kekantor, tanpa banyak bicara Nadhira masuk kekantor.
"Pak sebenarnya yang salah adalah Nadhira, murid baru itu hendak makan tetapi Nadhira merebutnya dan melemparkannya kepadaku! Yang membuat masalah awal adalah Nadhira bukan saya pak!"
Disana Clara sudah duduk didepan guru BK ia menceritakan karangan palsu dan seolah olah dibuat asli olehnya meskipun hanya sedikit bagian yang dihilangkan.
"Tidak pak, kejadiannya tidak seperti itu, aku meminta baik baik makanan itu pada anak baru itu, tetapi ia tidak mau memberikannya...."
Bela Nadhira tetapi sebelum selesai menjelaskan Clara memotong kata katanya
"Tuh kan bener pak, dia tidak mau memberikannya mangkanya Nadhira merebutnya, dan membuangnya"
Brak
Nadhira memukul meja yang ada diruangan BK, untuk menghentikan perdebatannya dengan Clara. Tetapi tindakannya itu membuatnya menerima satu tamparan dari guru BK.
"Pak! Biarkan saya menjelaskan dulu". Pinta Nadhira sambil memegangi pipinya.
__ADS_1
"Butuh penjelasan apa lagi, orang kamu yang salah bukan aku". Sela Clara.
"DIAM KALIAN BERDUA!!!". bentak guru BK. "Tindakan kalian sudah diluar batas kesabaran saya selama ini, selalu saja kalian berdua yang membuat onar sekolah ini, apa kalian mau dikeluarkan dari sekolah".
"Dia duluan pak!"
"Dia pak!"
"HENTIKAN!! Sekali lagi kalian tidak bisa diam, maka kalian akan dikeluarkan dari sekolah ini!" Wajah guru Bk seketika berubah warna menjadi merah tomat.
Keduanya seketika diam membisu, mendengarkan nasehat dari gurunya. Sesekali keduanya injak injakan kaki sehingga membuat guru BK tersebut memijat keningnya dan sesekali mengeleng gelengkan kepalanya, rasa lelah menyelimuti dirinya ketika menghadapi kenakalan kedua murid tersebut.
Sedangkan dikantin sekolah, Reta dan murid baru itu telah selesai memesan makanan kesukaan masing masing. Reta hanya memesan cemilan sedangkan Widya memesan nasi.
"Bukankah guru itu terlalu keras dengan dia?". Tanya murid baru.
"Dia? Ah... Maksudnmu Nadhira? Dia pantas mendapatkannya". Jawab Reta dengan santainya.
"Kenapa?"
"Em.... Menurut mu gimana sikap Nadhira?"
Reta tertawa mendengar jawaban dari Widya tentang sikap Nadhira. Sedangkan Widya hanya memandanginya dengan perasaan heran, bagaimana bisa ketika temannya masuk kekantor ia malah tertawa tertawa terbahak bahak.
Ketika melihat wajah Widya yang keheranan, Reta menghentikan tawanya. "Ah maaf,, kamu murid baru disini jadi belum sepenuhnya mengenal Nadhira, di pantas mendapatkannya karena selalu membuat masalah tetapi selalu kabur, oh iya kalau dikelas kamu hati hati dengan ketiga orang, yang pertama adalah orang yang kamu temui, kedua Nadhira, dan ketiga... Ah kurasa kau tidak perlu mengenalnya, dia tidak tertarik untuk membuat masalah kepada orang lain".
"Kenapa? Apakah karena mereka hebat dalam beladiri?"
"Bukan! Sudahlah lupakan, kita bahas yang lain aja".
Keduanya tiba tiba berhenti berbicara dan menikmati pesanan mereka yang datang, setelah selesai makan keduanya langsung bergegas masuk kedalam kelas.
Pelajaran sudah dimulai sekitar 5 menit yang lalu, Reta menyuruh Widya untuk duduk dibangkunya sedangkan ia menghadap kepada guru yang tengah mengajar. Keduanya berbincang bincang cukup lama, setelahnya Reta langsung duduk dan membuka bukunya.
Setelah beberapa lama kemudian, Nadhira masuk kedalam kelas. Dengan tersenyum yang sulit diartikan, ia segera duduk dibangkunya setelah mendapatkan izin dari guru yang mengajarnya.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan kearahnya dari Vina dan juga Reta, tetapi Nadhira hanya diam membisu dan sesekali tersenyum menanggapi pertanyaan dari temannya.
Tak beberapa lama Clara juga memasuki kelas, sikap yang ia tunjukkan sama persis seperti Nadhira. Keduanya sama sama diam dan tidak menceritakan apa apa.
__ADS_1
Ketika jam pelajaran selesai, dan seluruh murid membubarkan diri, Widya mendekati Nadhira dan menarik tangannya agar Nadhira menghentikan langkahnya.
"Maaf untuk yang tadi". Ucap Widya sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf? Untuk apa?". Jawab Nadhira dengan santai.
"Karena aku, kamu dipanggil kekantor, dan berantem dengan dia, aku juga telah mengabaikan peringatanmu sebelumnya".
Nadhira hanya tersenyum mendengarkan ucapan tulus dari Widya. Ia menepuk pundak Widya beberapa kali, dan berjalan meninggalkan Widya sendiri.
Ketika jaraknya dengan Nadhira sudah jauh, Widya baru tersadar dari lamunannya, ia berlari untuk mengejar Nadhira. Masih banyak pertanyaan yang ada dikepalanya.
Widya beberapa kali memanggil Nadhira, Tetapi Nadhira tidak mendengarnya, Nadhira seperti melamun. Ketika Widya menyentuh tangannya, ia tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?". Tanya Nadhira
"Itu..... Apa kamu baik baik saja? Sejak kembali dari kantor, kamu seperti tidak fokus pada lainnya".
Nadhira tersenyum kearahnya. "Kamu ngak perlu memperdulikanku, tidak akan terjadi apa apa pada diriku, yah meskipun aku akan dikeluarkan dari sekolah.. hehe".
"Apa? Apa kamu akan dikeluarkan dari sekolah?".
"Sudah jangan fikirkan! Ini bukan masalah besar, lagi pula yang terlibat disini adalah aku bukan kamu, pulanglah, orang tuamu pasti menunggu kepulanganmu!".
"Tapi...."
Setelah mengucapkan hal tersebut Nadhira berjalan meninggalkan Widya yang tengah mencerna kata kata Nadhira, menurutnya Nadhira telah menyembunyikan sesuatu darinya.
Setelah pandangannya tidak dapan melihat Nadhira lagi karena tertutup oleh gedung, Widya berlutut ketanah, dan berfikir bahwa Nadhira akan dikeluarkan dari sekolah ini gara gara membela dirinya.
Dijalan Nadhira berjalan sendirian, Nadhira merasa ada yang mengikutinya tetapi ia mengabaikannya dan terus melanjutkan perjalanannya.
Tiba tiba dada Nadhira terasa sakit, ia terjatuh ditanah sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Pandangannya sedikit buram dan terasa berat, tiba tiba ada yang mengulurkan tangan kepadanya dan memberikan sesuatu seperti obat.
"Minumlah ini, rasa sakitmu pasti akan berkurang". Ucap seseorang itu.
Nadhira menerima obat itu tanpa berfikir panjang karena rasa sakit yang ia alami. Nadhira tidak melihat dengan jelas siapa yang telah memberinya obat, ketika selesai memberinya orang tersebut menghilang.
Nadhira mengeluarkan botol minumnya dan segera meminum obat tersebut. Beberapa menit kemudian sakitnya perlahan menghilang dan pandangannya kembali normal.
__ADS_1
Nadhira menoleh kesekelilingnya tetapi tidak menemukan siapapun, ia segera bangkit dan mengibaskan pakaiannya yang kotor karena terkena tanah.