
Setengah jam kemudian, Rifki mendengar bahwa orang yang akan membeli anak kecil yang mereka culik akan segera tiba dilokasi. Lebih tepatnya mereka sedang berada diluar hutan.
Rifki mengirim pesan kepada anak buahnya dan menyuruh mereka untuk segera bersiap siap, tak lupa juga ia mengirim kepada Reno agar ia memberitahukan pesannya kepada para polisi agar mereka juga bersiap siap.
Rifki juga tidak tinggal diam, ia mencoba mendekati beberapa penculik yang sedang menjaga anak anak yang mereka sandra. dengan diam diam Rifki melempari mereka dengan jarum yang ia bawa, dan perlahan lahan tubuh mereka mulai tumbang dilantai. Melihat para penculik tiba tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri membuat beberapa anak ketakutan dan ada yang hampir menjerit tetapi langsung ditahan oleh Rifki.
"Sttt... Jangan berisik, apa kalian mau dijual?".
Seluruh anak yang ada disitu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar pertanyaan yang Rifki lontarkan kepada mereka semua. mereka sangat ketakutan mereka hanya mampu pasrah melihat kondisi mereka.
"Bagus! Aku akan membebaskan kalian, tapi kalian harus menuruti apa ucapanku, kalian mengerti?".
"Mengerti kakak". Jawab mereka serempak.
Rifki mulai membuka ikatan kaki dan tangan anak anak itu. Setelah selesai Rifki tidak menemukan anak yang ia cari, yakni adik tiri dari Nadhira. Rifki bertanya kepada anak anak itu tentang keberadaan dari Amanda, Rifki juga menyebutkan beberapa ciri cirinya.
"Kami tidak tau kak, mereka membawa kakak itu kemana, kami dengar bahwa ia mencoba melarikan diri tetapi akhirnya tertangkap". Jawab salah satu anak yang paling tua diantara mereka.
"Baiklah, kalian jangan jauh jauh dariku, aku akan membawa kalian keluar dari sini".
"Tapi kak, diluar adalah hutan bagaimana kami bisa kabur?".
"Diluar banyak polisi, kalian akan aman disana".
Rifki menjelaskan kepada mereka tentang situasi diluar markas, tak lupa juga ia menyeret tubuh para penculik dan memasukkannya kedalam ruangan dimana anak anak itu disekap, ia juga menguncinya dari luar.
"baiklah ikuti aku, jangan sampai ada yang terpisah, karena didalam masih banyak penculik yang sedang berjaga".
"baik kak". jawab mereka pelan.
Rifki membimbing anak anak kearah dimana dia datang sebelumnya, membantu mereka untuk melewati pagar markas. Setelah semuanya keluar dan menyerahkan mereka kepada anak buahnya, Rifki kembali masuk kedalam markas demi mencari dimana Amanda berada.
"Rif sekarang bagaimana? para pembeli anak itu sudah datang, dan mereka membawa banyak sekali pengawal, jika para polisi tidak segera bertindak aku takut mereka bisa kabur kapan pun". ucap Raka memperingati Rifki
"lalu aku harus bagaimana? apa kamu mempunyai solusi terhadap ini?".
"bagaimana kalau kamu suruh mereka mengepung markas ini, aku lihat semuanya sudah berada didalam markas, anak buahmu juga sudah berjaga dibelakang gedung ini".
"baiklah aku akan memberi tahu mereka untuk segera mengepung gedung ini".
Tak disangka ketika Rifki masuk justru ia menjatuhkan beberapa barang karena keteledorannya. Mendengar barang yang jatuh, para penculik yang bertugas segera berlari kearahnya. Sebagian yang ada diluar juga ikut masuk kedalam dan memeriksa apa yang terjadi didalam, mereka menemukan Rifki berada dimarkas mereka.
"sekarang bagaimana Rif?" tanya Raka yang dapat didengar oleh Rifki saja.
__ADS_1
"ku harap mereka segera bertindak".
Rifki segera mengambil beberapa barang yang ia jatuhkan tanpa sengaja, ketika ia membalikkan badan sosok pria berbadan kekar berada dibarisan paling depan yang berdiri didepannya.
"Hay om". Rifki melambaikan tangan kepada mereka. "Sepertinya aku salah masuk kegedung ini, baiklah baiklah aku akan pergi". Ucapnya sambil tersenyum canggung.
"Siapa kamu?". Ucap pria berbadan kekar.
"ah perkenalkan om namaku Rifki, aku kabur dari rumah om, Maaf om, aku tersesat dihutan, aku kesini karena mau numpang makan, kali aja pemilik rumah ini baik". Ucap Rifki dengan polosnya.
"Tangkap dia". Sambil menodongkan senjata.
"Tunggu dulu om, boleh aku kekamar mandi dulu? Atau setidaknya beri aku minum atau makan gitu".
"Emang kamu pikir ini warteg hah?".
"Sudah dua hari belum makan om, apa om ngak kasihan sama aku? Lagian aku kan masih kecil mana bisa melawan kalian semua, anggap saja aku ini tamu om, om tau kan kalau tamu itu adalah raja". Ucap Rifki sambil melangkah maju kearah pria berbadan kekar.
"apa yang kamu lakukan?". tanya salah satu dari mereka.
Dengan gerakan cepat Rifki merebut senjata pisau yang pria berbadan kekar itu bawa. Setelahnya Rifki berlari mundur menjauh i pria tersebut, dengan sigap ketujuh orang yang ada disitu segera mengepung Rifki.
"Besar juga nyalimu bocah". Ucap salah satunya
"Umur boleh beda, tetapi kekuatan dan nyali kita sama". Ucap Rifki sambil memainkan pisau yang ada ditangannya.
Satu persatu penculik itu mulai menyerang Rifki dengan ganasnya, Rifki juga tidak mau kalah jika ia kalah maka nyawanya akan menjadi taruhannya. Tetapi pria berbadan kekar itu tidak ikut menyerangnya, ia hanya memerintahkan anak buahnya.
Perlahan lahan satu demi satu orang yang mengepung Rifki mulai mengalami cidera begitu juga sebaliknya, pertarungan itu sangat sengit. ketika semuanya sudah terjatuh dilantai Rifki masih berdiri tegak meskipun banyak luka sayatan ditubuhnya. Pisau yang ia bawa kini bercampur dengan darah, tatapannya kini terarah kepada pria berbadan kekar.
"Kenapa om? Aku lapar, boleh aku minta nasi?". Ucap Rifki sambil tersenyum, senyum yang sangat rumit untuk diartikan.
"Dasar bocah sialan, kamu mau makan hah? baiklah sini biar ku potong dagingmu lalu akan ku panggang".
Sringgg..
Pria itu mengeluarkan pisau yang lebih besar daripada pisau yang dibawa oleh Rifki. Dapat dilihat bahwa pisau yang dibawa pria itu lebih tajam dan mengkilap, Rifki hanya mampu melihatnya dalam diam.
"Kenapa? Apa kau takut hah? Hahahaha ....". Tawa pria itu melihat kediaman Rifki.
"Oh tentu tidak om, seorang raja tidak mungkin takut dengan bawahan seperti om". Rifki kembali tersenyum dingin.
"Berani sekali kau.. haa"
__ADS_1
"kenapa om berani sekali dengan anak kecil sepertiku? lagian dagingku juga tidak banyak, om ngak akan kenyang".
Pria itu mulai menyerang Rifki, Rifki terus menangkis serangannya. Dapat Rifki rasakan bahwa kekuatan mereka berbeda jauh, Rifki yang sudah dipenuh i oleh luka membuatnya sedikit lemas. Pria itu terus menyerang tanpa henti kearah Rifki, ia berniat membuat Rifki kelelahan dan akhirnya bisa dikalahkan.
"om aku lelah, apakah ada minuman?". tanya Rifki.
"apakah dengan mengulur waktu kau dapat selamat hah?".
Rifki tersenyum misterius ketika pria itu mengetahui bahwa ia tengah mengulur waktu agar para polisi dapat menangkap semua pelaku penculikan tersebut.
"yah ngak asik, om sudah mengetahui tujuanku".
"Rif hati hati, seperti ia mulai terpancing emosi, kau juga mulai kelelahan lihat darahmu keluar begitu banyak". Raka yang menyaksikan itu hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa apa.
pria itu terus memainkan pisau yang ia bawa dan mulai menyerang Rifki tanpa henti. Kesadaran Rifki mulai terpengaruhi, darahnya mulai bercucuran keluar tanpa henti. Pria itu mulai menyadari bahwa tenaganya juga mulai habis, nafasnya memburu.
Ketika Rifki lengah, pria itu menendang Rifki cukup keras hingga membuatnya termundur dan menabrak meja yang ada dibelakangnya, dan akhirnya Rifki terjatuh dilantai. Rifki merasa tubuhnya terasa sakit semua dan sulit untuk bangkit dari jatuhnya. ia memegangi perutnya yang berhasil terkena tendangan dari pria itu.
"Kenapa? Sakit ya.. hahaha ... Sini biar ku bantu hilangkan rasa sakitnya". Ucap pria itu sambil memainkan pisau yang ia pegang.
"Haha... Om om... Hanya seorang pengecut yang berani melawan anak kecil sepertiku... Uhuk... Uhukk...". Rifki terbatuk batuk sambil menegangi perutnya yang terasa sakit akibat tendangan pria itu.
"ayo bangkit, segitu saja kah kekuatanmu hah?".
"kenapa mereka lama sekali, Rif bagaimana kalau aku menggantikan mu sebentar, aku takut pria itu berhasil membunuhmu". saran Raka
"Baiklah, lakukan saja".
"lakukan apa hah bocah?".
Raka segera memasuki tubuh Rifki, membuat Rifki berada dialam bawah sadarnya. Raka mengendalikan tubuh Rifki dan membuatnya bangkit, Rifki tersenyum kearah pria berbadan kekar itu. pria berbadan kekar itu merasa heran dengan anak yang ada didepannya, karena mampu berdiri dengan tegak seakan tidak merasakan sakit sama sekali.
"kenapa om? bukankah kau yang menginginkan aku bangkit?". tanya Rifki yang tidak lain adalah Raka.
"bagaimana bisa, bagaimana bisa kau masih bisa berdiri".
"kenapa? apa om takut?".
Raka terus menyerang menggunakan raga milik Rifki. dan membuat pria itu beberapa kali terjatuh dan memiliki beberapa luka ditubuhnya hingga pria itu tidak dapat bangkit lagi. ketika raka hendak melanjutkan serangan tiba tiba ia terpental dan terpisah dari tubuh Rifki, Rifki mendapatkan kembali kesadarannya dan ia terjatuh dilantai.
"bagaimana ini terjadi? kenapa aku tiba tiba keluar, Rifki apa kau baik baik saja? tubuhmu lemah sekali". Raka kebingungan dengan apa yang ia alami.
"seperti raga ku menolak untuk kau rasuki". ucap Rifki pelan
__ADS_1
Pria itu mulai bangkit dengan berbagai macam luka dan mengambil kembali pisau yang terjatuh akibat serangan yang diberikan oleh Raka. pandangan Rifki segera mengarah kepada pria tersebut, Rifki membuka mata lebar lebar dan menatap pisau yang ada ditangan pria itu.
ketika pria itu hendak melemparkannya ke arah Rifki, membuat Rifki menejamkan matanya. pisau itu segera menembus kearah perutnya.