
Suara suara mengerikan dari luar kamarnya mampu didengar oleh Nadhira dari dalam dengan sangat jelasnya, Nadhira juga mampu mendengar suara perkelahian diluar rumahnya, Nadhira menduga bahwa itu adalah Raka yang sedang berkelahi.
Ekspresi wajah Nimas berubah ketika mendengar pertarungan itu, akan tetapi Nadhira tidak mampu melihatnya, Nimas terlihat begitu cemas dengan Raka yang menghadapi para roh itu sendirian diluar sana, jika Raka kalah maka jiwanya akan ikut kalah.
"Ada apa diluar sana, kenapa Raka belum kembali juga, apakah telah terjadi sesuatu dengannya, aku harus memeriksanya sendiri". Ucap Nimas.
"Apa kau akan meninggalkanku sendirian disini Nimas? Bagaimana kalau mereka berhasil untuk masuk kedalam kamar ini selama kau tidak ada disini? Apa yang harus aku lakukan nantinya jika sendirian disini?". Tanya Nadhira.
"Bukan seperti itu Dhira, aku harus memeriksa keadaan Raka, sudah lama dia keluar tapi belum kembali juga, aku hanya takut bahwa rohnya telah dihancurkan oleh mahluk mahluk itu, kau tenang saja didalam sini, jangan sekali kali keluar dari dalam, meskipun kau mendengar suara Ayahmu atau Ibu angkatmu, aku akan melindungi ruangan ini dengan kekuatan permata iblis".
"Aku sangat takut Nimas, bagaimana kalau roh roh itu berhasil masuk kedalam kamar ini selama kau tidak ada didalam sini?".
"Intinya jangan keluar dari kamar ini, meskipun roh roh itu berubah wujud menjadi orang yang paling berarti bagimu sekalipun itu, jangan sampai kau keluar dari kamarmu, meskipun ada yang mengetuk pintu dan menanyakan keadaanmu didalam, jangan sesekali membukakan pintu itu atau berbicara kepada orang itu, mahluk gaib tidak akan mampu untuk masuk kedalam ruangan ini, meskipun mereka terus memaksakan diri, mereka tidak akan mampu menembus sebuah perisai yang diciptakan oleh Rifki saat ini".
"Aku hanya takut Nimas, lalu bagaimana kalau keluargaku yang masuk kedalam kamar ini sementara kamar ini sudah aku kunci dengan rapatnya".
"Mereka tidak akan melakukan itu Dhira, mereka tidak akan sembarangan masuk kedalam kamar seorang gadis, karena seorang gadis juga mempunyai privasi sendiri dan tidak semua orang bisa keluar masuk tanpa izin dari pemilik kamar".
"Aku mengerti Nimas".
"Jaga dirimu baik baik Dhira, tunggu sampai aku kembali, ketika aku kembali aku akan mengatakan sesuatu kepadamu, kau memang tidak bisa melihatku tapi kau bisa mendengar suaraku".
"Iya, cepatlah kembali kemari, aku takut ketika roh roh itu masuk kedalam kamar ini, sementara kau tidak ada didalamnya untuk melindungiku".
"Jangan takut, mereka tidak akan bisa menembus prisai ini, Rifki mu itu telah membuatnya dengan sangat kuatnya sehingga tidak ada yang bisa masuk kedalamnya dengan mudah".
Nimas segera menghilang dari tempat itu untuk memeriksa keadaan Raka yang sudah lama pergi dari tempat itu, ia hanya ingin memastikan bahwa Raka sedang baik baik saja, Nimas muncul disaat yang tepat karena Raka sedang berhadapan dengan sosok mahluk yang lebih kuat daripada Raka.
Sosok mahluk itu memiliki tubuh begitu besarnya dan terlihat begitu menyeramkan dengan bulu bulu hitam yang menutupi kulitnya, kedua matanya terlihat begitu menakutkan karena lebarnya dan juga warna matanya yang merah menyala, dengan gigi gigi taring yang cukup tajam dan sangat kokoh.
Mahluk itu jauh lebih kuat daripada Raka, sehingga membuat Raka yang sedang berhadapan dengan mahluk itu terlihat begitu kewalahan, Nimas segera mengambil alih perkelahian itu dan menyerang kearah mahluk yang menyeramkan itu.
"Selamatkan Nadhira sekarang, aku akan menghadapi makhluk ini terlebih dulu, nyawa Nadhira sedang dalam bahaya". Ucap Nimas kepada Raka.
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu untuk menghadapi mereka sendirian, Nadhira akan aman selama dirinya masih berada didalam kamar itu, tapi dirimu tidak akan bisa menghadapinya seorang diri". Bantah Raka.
"Dasar keras kepala!".
Nimas segera bergegas untuk melawan mahluk itu dengan setengah kemampuannya, walaupun hanya setengah saja akan tetapi mahluk itu berhasil menyeimbangkan gerakannya dengan gerakan Nimas walaupun dengan susah payahnya.
Raka juga tidak tinggal diam, dirinya segera bergegas menuju ketempat mahluk mahluk lain yang ingin masuk kedalam kamar Nadhira untuk menghalanginya agar mereka tidak dapat masuk kedalam kamar Nadhira.
Dari kejauhan tempat itu, sosok seorang pemuda tengah bersembunyi dibalik semak semak belukar yang tidak jauh dari rumah Nadhira, orang itu terus saja memperhatikan perkelahian itu, orang itu nampaknya bukanlah orang biasa karena orang itu mampu melihat perkelahian itu artinya dirinya bukanlah orang biasa melainkan orang yang memiliki ilmu kebatinan yang dalam.
__ADS_1
"Ratu iblis sendiri yang turun tangan? Apa yang harus aku lakukan sekarang, mereka begitu kuat, aku harus membawa gadis itu pergi secepatnya dari sini, sebelum semuanya terlambat nantinya". Ucap pemuda itu dengan pelannya.
Disatu sisi dari tempat pemuda itu bersembunyi terdapat beberapa tetua dan para pemuda yang terlihat begitu ahli dalam hal gaib sedang mengitari rumah Nadhira tersebut, mereka terlihat begitu geramnya ketika melihat Ratu iblis sedang bertarung dengan mahluk suruhannya.
"Sial, bagaimana caranya mahluk mahlukku bisa menandingi kekuatan Ratu iblis itu, mereka bisa kalah jika melawan Ratu iblis itu terus terusan seperti itu". Ucapnya dengan sangat marah.
"Lalu bagaimana sekarang Tuan? Apakah kita akan mundur sekarang jika mereka berhadapan dengan Ratu iblis, kalau mereka sampai kalah maka kita juga yang akan menanggung semuanya". Ucap salah satu orang yang berada didekat pria paruh baya itu.
"Mundur kau bilang ha? Tiada kata mundur bagi Mbah Tejo, dukun paling sakti yang ada didunia". Ucap pria paruh baya tersebut yang memperkenalkan namanya sebagai Mbah Tejo.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan?".
"Kita harus bisa menculik gadis itu dan mendapatkan permata itu darinya".
Orang orang itu telah mengincar permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira saat ini, setelah sekian lama mereka menyusun rencana untuk mendapatkan permata itu akhirnya hari ini tiba juga, disaat gerhana bulan merah disaat itulah kekuatan permata itu meningkat begitu pesatnya.
Ada sekitar 4 orang dukun yang ahli dalam hal gaib sedang mengitari rumah Nadhira, mereka tidak akan menyia nyiakan kesempatan sebesar yang mereka tunggu tunggu ini, jika mereka gagal kali ini maka mereka tidak akan mampu mendapatkan permata itu lagi karena gerhana bulan merah akan terjadi dalam waktu yang cukup lama.
Disuatu ruangan terdapat seorang wanita yang tengah duduk didepan lilin berwarna merah, dihadapan wanita itu terdapat sosok seorang pemuda berusia paruh baya yang tengah berpakaian serba hitam bagaikan seorang dukun sakti, wanita itu tidak lain adalah Ibu tiri Nadhira.
"Mbah, Ratu iblis itu sudah berada didalam genggamanku, kita harus memanfaatkannya untuk mencapai tujuan kita, kau akan mendapatkan permata yang kau incar itu sementara diriku akan mampu membalaskan dendamku". Ucap Sena.
Pria paruh baya itu begitu terkejut ketika mendengar bahwa Ratu iblis berada ditangan Sena, Ratu iblis adalah sosok mahluk astral yang sangat sulit dan tidak mungkin tunduk kepada manusia, apalagi dengan mudahnya menunduk dihadapan Sena.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu bahwa Ratu iblis itu ada didalam genggaman tanganmu?". Tanya pria paruh baya itu kepada Sena.
"Iya Mbah, Ratu iblis itu sendiri pernah mendatangiku dan melakukan apa yang aku suruh sebelumnya". Jawab Sena dengan pedenya.
"Kau salah besar, dia bukannya memihak kepadamu melainkan memanfaatkanmu untuk mencapai tujuannya sendiri".
"Maksud Mbah apa? Aku sama sekali tidak mengerti tentang hal itu". Tanya Sena dengan penasarannya kenapa orang itu mengatakan hal itu.
"Kau salah besar, justru Ratu iblis tengah memihak kepada gadis itu saat ini, biar bagaimanapun gadis itulah yang sedang membawa permata yang sangat dilindungi olehnya selama ini".
"Apa!! Ternyata Ratu iblis itu membohongiku".
"Dan kau mempercayai ucapannya dengan begitu mudahnya? Sudah ku katakan padamu bukan? Jangan mempercayai ucapan Ratu iblis, Ratu iblis adalah roh yang paling licik yang pernah ada, dia tidak akan pernah memihak kepada siapapun tanpa maksud tertentu untuk mencapai ambisinya sendiri, ambisi mahluk itu begitu besar dan dirinya tidak akan menyerah begitu mudahnya kepada manusia apalagi seperti dirimu, kau paham!!".
"Maafkan saya Mbah, saya telah salah menilai mahluk itu, lalu apakah mahluk itu sudah memihak kepada Nadhira?".
"Demi mencapai tujuannya dia akan melakukan apapun itu, meskipun harus memihak pada seorang gadis sekalipun itu, setelah tujuannya tercapai maka nyawa gadis itu tidak akan berharga baginya lagi, Ratu iblis akan dengan mudah membunuh seseorang yang sudah tidak berarti baginya, termasuk juga gadis itu setelah tujuannya tercapai".
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Mbah? Untuk dapat mencapai tujuan kita saat ini".
__ADS_1
"Tunggu saja waktu yang tepat untuk bereaksi, biarkan para dukun lainnya berusaha berjuang untuk melawan Ratu iblis itu, setelah kekuatan Ratu iblis melemah kita akan menyerangnya dan mengalahkannya, aku akan mendapatkan permata itu sementara kau akan mencapai tujuanmu".
"Baiklah Mbah, jika itu rencana anda". Ucap Sena dengan senyuman sumringahnya.
Banyak sekali yang memperebutkan permata itu untuk kepentingan mereka sendiri, menurut mitos yang beredar didunia perdukunan, permata itu adalah suatu kekuatan yang sangat besar dan tidak tertandingi sehingga banyak yang ingin mendapatkannya agar dapat hidup abadi.
Mereka merasa terkejut ketika mengetahui bahwa seorang gadis biasa bisa dengan mudah membawanya keluar dari desa yang sudah terbengkalai itu, tanpa perlu melawan para mahluk yang menunggu ditempat itu, sehingga membuat mereka berpikir bahwa gadis itu bukanlah gadis biasa karena seluruh mahluk gaib tidak mampu mencegahnya untuk keluar dari tempat itu.
Ada sesuatu yang berbeda dari Nadhira dibandingkan gadis pada umumnya, sehingga dirinya dengan mudahnya membawa pergi permata itu, akan tetapi kenyataannya Nadhira adalah korban dari Ratu iblis yang ingin membalaskan dendamnya, para mahluk itu tidak mampu mencegah Nadhira keluar dari desa itu karena atas perintah dari Nimas sendiri.
Nadhira adalah seorang gadis yang memiliki tanda lahir dibahu kirinya berupa simbol yang sangat rumit yang telah ditakdirkan untuk menghancurkan permata itu agar tidak menjadi penyebab pertarungan besar demi memperebutkan permata itu, hal itulah yang menyebabkan Nimas memasukkan permata itu kedalam tubuh Nadhira agar Nadhira tidak dapat menghancurkan permata itu.
Penghuni rumah Nadhira terlihat begitu sepi dan tidak terganggu sama sekali, sebelum kejadian ini Sena sempat memasukkan obat tidur kepada makanan yang tersedia dimeja makan setelah Nadhira memakannya sehingga hanya Nadhira dan Sena yang tidak terkena obat tidur itu.
Setelah Nadhira selesai makan disiang hari, Nadhira segera bergegas kekamarnya dan tidak keluar hingga malam hari, setelah Nadhira masuk kedalam kamarnya Sena dengan perlahan lahan dan hati hati menuangkan obat tidur kepada masakan yang telah dihidangkan dimeja makan itu, setelah itu Rendi, Amanda, dan Bi Ira makan, Bi Ira makan paling terakhir sendiri setelah Rendi dan Amanda selesai makan masakan itu.
Meskipun akan ada keributan seperti apapun dirumah itu Rendi, Amanda dan juga Bi Ira tidak akan terbangun dan terganggu dengan keributan itu karena efek dari obat tidur yang mereka konsumsi tanpa sepengetahuan mereka sendiri.
Saat ini Nadhira sedang duduk diujung ranjangnya seorang diri dan berharap pagi akan segera tiba, dirinya tidak tau lagi harus berbuat apa untuk saat ini karena diluar banyak sekali yang mengincar nyawanya saat ini.
Tok tok tok
Tiba tiba terdengar suara pintu diketuk, seseorang saat ini tengah mengetuk pintu jendela kamar Nadhira, entah siapa yang melakukan itu akan tetapi Nadhira tidak berani untuk membukanya karena dirinya teringat tentang pesan yang disampaikan oleh Nimas sebelumnya.
"Nak, Paman tau kau ada didalam saat ini, buka jendelanya sekarang, Paman ingin bertemu denganmu, Paman hanya ingin memastikan keadaanmu". Ucap orang itu sambil berusaha untuk mengetuk jendela kamar Nadhira.
Nadhira terlihat begitu ragu untuk membukakannya sehingga dirinya sama sekali tidak berani untuk bersuara, sebelumnya Nimas menghilang dari tempat itu, Nadhira sudah mematikan lampu yang ada dikamarnya sehingga kamar tersebut terlihat begitu gelapnya dan terlihat seakan akan tidak ada orang yang ada didalam kamar tersebut.
"Nimas kamu dimana? Kenapa kamu keluar begitu lama, kau bilang tadi kau akan keluar sebentar untuk memastikan keadaan Raka". Ucap Nadhira lirih.
Nadhira bersembunyi dibalik selimutnya dan memutuskan untuk tidur diatas ranjangnya agar dirinya merasa sedikit tenang, Nadhira menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut miliknya dan menutup kedua telinganya agar tidak mendengar suara suara yang sangat menyeramkan.
Tok tok tok
Lagi lagi jendela kamar Nadhira diketuk oleh seseorang dari luar, Nadhira sama sekali tidak berani untuk membukanya karena teringat tentang pesan yang diberikan oleh Nimas kepadanya bahwa hanya kamarnyalah yang tidak dapat dimasuki oleh roh roh jahat karena perlindungan yang diberikan oleh Rifki pada kamar tersebut.
"Nak jangan takut, ini Paman, Paman tidak akan menyuruhmu untuk keluar dari kamar ini, tapi tolong jawab ucapan Paman, Paman hanya ingin memastikan bahwa kamu baik baik saja didalam". Ucap seseorang itu lagi kepada Nadhira.
Nadhira begitu ketakutan saat ini, dirinya bingung harus berbuat apa, diluar kamarnya ada seseorang yang mengetuk pintu jendelanya dan suara suara mengerikan itu masih terdengar begitu jelasnya, hal itu membuat Nadhira berusaha untuk menutup telinganya dengan eratnya agar tidak mendengar suara suara yang menyeramkan itu.
"Sial... Bagaimana cara membuat gadis ini keluar dengan sendirinya! Siapa yang menciptakan perisai ini, kenapa begitu kuatnya hingga aku tidak bisa menembusnya dengan mudah". Ucap orang itu pelan agar Nadhira tidak mendengarnya.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...
__ADS_1