Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Terjebak


__ADS_3

Nadhira dengan perlahan lahan segera bergegas mendekat kearah suara Pak Mun berasal, tempat itu terlihat seperti sebuah goa yang sengaja dibuat oleh mereka untuk menyembunyikan sesuatu didalamnya, tempat itu hanya diterangi oleh cahaya obor yang sedikit redup ditempat itu.


Ketika Nadhira melangkah, tiba tiba dirinya salah menginjak sebuah lantai dan akhirnya lantai itu terbuka dengan sendirinya hal itu membuat Nadhira terjatuh kedalamnya sementara tali yang mengikat antara dirinya dan Theo mendadak terputus seketika itu juga.


"Akh...".


"Dhira!".


Setelah Nadhira terjatuh seketika itu juga lantai tersebut menutup kembali sehingga Theo tidak bisa menolong Nadhira, Theo terus mencoba untuk merobohkan lantai lantai itu tapi nyatanya dia tidak bisa melakukan itu karena lantainya begitu kuat.


"Dhira! Dhira kau dimana! Aku pasti akan menolongmu, bersabarlah Dhira" Ucap Theo dengan khawatirnya.


"Apa yang terjadi dengan Non Dhira!" Teriak Pak Mun.


"Dhira terjebak Pak".


"Apa! Bagaimana bisa?"


Theo segera berdiri untuk bergegas menemui Pak Mun dengan mengikuti arah suara Pak Mun, ketika jaraknya cukup dekat dengan Pak Mun, Theo membuka matanya lebar lebar dan menemukan begitu banyak anak kecil dan juga beberapa orang dewasa tengah dikurung didalamnya.


"Tolong kami"


"Kenapa kalian bisa dikurung disini?".


"Kami tidak sengaja menemukan sebuah keanehan dari makam itu, tanpa sengaja kami ditangkap oleh mereka dan dikurung disini" Ucap seseorang dengan sangat lemasnya.


Semua orang yang dikurung didalam tempat itu hanya diberi makan sehari sekali itu pun dengan makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi sehingga tubuh mereka terlihat begitu menyedihkan karena kurangnya asupan makan dan minuman.


Theo terlebih dahulu menyelamatkan Pak Mun dengan cara menendang pintu penjaranya hingga pintu tersebut terbuka dengan sendirinya karena kerasnya tendangan yang Theo berikan, setelah itu Theo segera membuka ikatan kedua tangan dan kaki Pak Mun.


"Dimana Non Dhira?" Tanya Pak Mun.


"Dia, dia terjebak dibawah tanah, aku tidak tau bagaimana caranya untuk menolongnya Pak Mun, aku sudah mencoba untuk membukanya tapi aku sama sekali tidak bisa melakukannya".


"Gawat, didalam sana penuh dengan bahaya, aku mendengar dari mereka bahwa dibawah sana adalah tempat yang sangat mengerikan untuk didatangi, bagaimana kalo Non Dhira dalam bahaya karena masuk kedalam sana".


"Apa? Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Pak Mun, kita harus segera menolongnya, aku tidak ingin kalau terjadi sesuatu dengan Dhira disana, bagaimanapun caranya kita harus mengeluarkan Nadhira dari tempat itu".


"Selamatkan mereka dulu, setelah ini kita harus mencari Non Dhira, kita hanya bisa berdoa semoga Non Dhira baik baik saja sekarang".


"Baik Pak".


Theo segera bergegas untuk menyelamatkan orang orang yang menjadi sandra ditempat itu, pintu tahanan mereka lebih keras daripada tempat dimana Pak Mun dikurung sebelumnya, sehingga ia harus menggunakan sebuah golok yang ada ditempat itu untuk merusak pintu pintu tersebut.


"Terima kasih Mas, telah menolong kami semua dari tahanan orang orang jahat itu" Ucap salah satu orang yang menjadi tahanan kepada Theo.


"Terima kasih Kak, karena bantuan Kakak kami bisa lepas dari sini dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga kami" Ucap salah satu anak kepada Theo.


Theo merasa tersentuh hatinya karena begitu banyak orang yang berterima kasih kepadanya, selama ini orang orang tidak pernah mengatakan hal itu karena biasanya mereka hanya akan marah kepada apa yang dilakukan oleh Theo.


"Sama sama, sebaiknya kalian secepatnya pergi dari sini dan meminta warga desa untuk menolong kalian, disini terlalu bahaya bagi kalian" Ucap Theo.


"Tapi bagaimana kami bisa keluar dari sini? Apakah anda tidak ikut keluar dengan kami?".


"Kalian tinggal ikuti saja jalan ini dan berhati hatilah, nanti akan ada sebuah tangga yang akan membawa kalian keatas, saya masih harus mencari teman saya yang hilang disini, saya percayakan kepadamu untuk menjaga anak anak ini" Ucap Theo kepada seorang lelaki yang jauh lebih tua daripada mereka.


"Baiklah Mas, semoga teman Mas segera ditemukan, sekali lagi terima kasih atas bantuan anda yang begitu sangat berarti bagi kami".


Theo hanya mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk segera meninggalkan tempat itu, dengan berat hati mereka meninggalkan Theo dan Pak Mun ditempat itu demi menyelamatkan diri mereka yang telah disekap beberapa tahun terakhir.


Seorang gadis kecil berlari kembali kearah Theo, gadis itu tidak lain adalah Ratih yang selama ini dicari oleh Ningsih, ternyata Ratih masih hidup akan tetapi dirinya dikurung didalam penjara bawah tanah itu bersama dengan orang orang yang menjadi tahanan saat ini.


Awalnya Ratih ikut bersama dengan orang orang tersebut untuk mencari jalan keluar akan tetapi dirinya berlari kembali untuk mendatangi Theo dan juga Pak Mun yang tengah berdiri ditempatnya.


"Ada apa? Kenapa tidak ikut dengan yang lainnya menuju keluar dari tempat ini?" Tanya Theo kepada anak kecil itu.

__ADS_1


"Kakak sangat baik kepada kami, kata Ibu kalau ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita harus berterima kasih kepadanya".


"Kau begitu manis, siapa namanya?"


"Namaku Ratih Kak".


"Ratih? Anak dari Bu Ningsih? Ternyata kau masih hidup Ratih"


"Iya Kak, kenapa Kakak bisa kenal dengan Ibuku? Apakah Kakak pernah bertemu dengan dia?".


"Ibumu terus mencarimu Ratih, dia bahkan sangat merindukan dirimu, apa kau tidak ingin ikut dengan mereka agar bisa ketemu kembali dengan Ibumu itu? Dia pasti akan senang ketika mengetahui bahwa kau baik baik saja saat ini".


"Aku ingin bertemu dengan Ibu" Ucap Ratih dengan semangat, "Tapi apakah Kakak tidak ikut keluar bersama kami juga? Didalam sini sangat berbahaya bagi Kakak juga".


"Kamu keluar dulu bersama dengan mereka, nanti Kakak nyusul juga tapi setelah Kakak bertemu kembali dengan teman Kakak".


"Ada apa dengan teman Kakak? Apa dia juga dalam bahaya?"


"Iya, Kakak harus segera menemukannya sebelum semuanya terlambat nantinya"


"Baiklah, aku tunggu Kakak diluar, Kakak harus berhati hati karena disini banyak jebakannya".


"Iya, terima kasih sudah memperingatkan Kakak" Ucap Theo dengan senyum yang mengembang kepada Ratih.


"Sama sama Kak, terima kasih juga karena telah menolongku dan yang lainnya"


"Iya"


Ratih segera berlari kembali menyusul orang orang yang mencari jalan keluar itu, setelah bayangan mereka hilang dari tempat itu, Theo dan Pak Mun segera menelusuri tempat itu untuk mencari Nadhira yang tiba tiba terpisah dari Theo ditempat seperti itu.


"Dhira! Dhira! Dimana kamu".


Didalam sebuah kegelapan, terlihatlah sosok wanita yang tengah terbaring tidak sadarkan diri, dapat terlihat wanita tersebut mengeluarkan banyak darah karena kepalanya yang terbentur oleh benda keras yang menjadi sandarannya ketika terjatuh dari ketinggian, dia adalah Nadhira.


Diantara kegelapan tempat itu, Nadhira terbaring tidak berdaya diatas tumpukan tanah, dan tanah itu telah mengotori pakaian dan wajahnya, akan tetapi tangannya masih menggenggam dengan erat sebuah tabung kecil yang bertuliskan Kinara itu.


Kemanapun Nadhira pergi ia akan selalu membawa tongkat itu bersama dengan dirinya, ia bahkan tidak pernah meninggalkan tongkatnya karena baginya tongkat itu adalah harta paling berharga yang ia miliki selama ini begitupun dengan seseorang yang telah memberikan tongkat itu kepadanya.


"Dhira sadarlah, apa kau baik baik saja" Ucap Raka akan tetapi Nadhira tidak mampu untuk mendengar ucapannya itu.


Raka berusaha untuk membuat Nadhira sadarkan diri kembali, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu untuk melakukan itu, jangankan untuk menyentuh Nadhira berbicara dengan Nadhira saja dirinya tidak akan pernah mampu.


"Apa Dhira mati? Ah tidak, dia masih bernafas, apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya terbangun? Apakah aku harus memasuki alam bawah sadarnya untuk membangunkan dirinya ini? Baiklah akan aku coba".


Didalam bawah sadarnya, Nadhira tengah bermain disebuah danau tempat dimana ia biasanya bermain dengan Rifki dan juga teman teman yang lainnya, terlihat Nadhira begitu bahagianya ditempat itu karena dirinya masih mampu untuk melihat senyuman dari Rifki ditempat itu.


"Dhira bangunlah, angkat tongkatmu itu, tunjukkan kepadaku kalau kau bisa melakukan segalanya, ayo bangkit kau pasti bisa" Ucap Rifki kepada Nadhira.


"Apakah aku harus berpisah denganmu lagi Rif? Aku tidak mau melakukan itu, aku ingin tetap disini dan bersama dengan dirimu".


"Jika kau tidak bangkit, kau akan berpisah denganku dan kita tidak akan pernah bertemu lagi, bangkitlah Dhira, tidak lama lagi kita akan bersama sama seperti dahulu lagi".


"Biarkan aku menatap wajahmu untuk sesaat lagi Rif, aku masih sangat merindukan dirimu, kau pergi terlalu jauh sehingga aku tidak bisa bertemu dengan dirimu lagi".


"Kau boleh menatap wajahku sepuasmu nantinya, untuk sekarang bangkitlah Dhira, kau pasti bisa melewati segalanya, aku sangat percaya kepadamu Dhira, sadarlah Dhira".


"Apakah setelah aku sadar kau akan hadir dalam kehidupanku lagi?"


"Aku selalu bersamamu Dhira, sedetikpun aku tidak pernah meninggalkan dirimu, aku akan selalu ada untuk dirimu, begitupun dirimu yang akan selalu ada didalam hatiku, bangkitlah Dhira".


"Cepat pulang Rif, aku sangat merindukan dirimu, aku ingin kita bersama lagi seperti dulu, ketika kau selalu melindungiku dan selalu ada untukku untuk menemani disetiap langkah kakiku".


"Dhira, jika waktunya telah tiba, kita akan bersama lagi, dan aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu walaupun itu hanya sesaat, bersabarlah, ayo bangkit Dhira, kau pasti bisa".


Pandangan Nadhira mulai menggelap, tubuh Nadhira yang terkurai lemah tidak berdaya diatas gundukan tanah tersebut mulai menggerakkan jari jari tangannya dengan perlahan lahan pertanda bahwa dirinya akan siuman sebentar lagi.

__ADS_1


Nadhira dapat merasakan bahwa tubuhnya sangat lemah sekarang ini, dirinya bahkan tidak mampu untuk bangkit dari tempat dimana dirinya terbaring saat ini, serasa tubuh terasa begitu sakit semua karena dirinya habis terjatuh kebawah dengan sangat kerasnya.


"Nadhira bangkitlah" Lagi lagi Nadhira mampu mendengar suara Rifki yang menyuruhnya untuk bangkit dari pingsannya.


Nadhira terus mencoba untuk dapat membuka kedua matanya yang sedang tertutup rapat bagaikan terkena sebuah lem yang sangat kuat itu, Nadhira berusaha untuk mengenggam erat benda yang ada ditangannya saat ini, dirinya terus mencoba dan mencoba untuk dapat membuka kedua matanya meskipun lagi lagi dirinya gagal.


Setelah sekian lama dirinya berusaha akhirnya Nadhira mampu untuk membuka matanya akan tetapi lingkungan sekitarnya yang sangat gelap membuat Nadhira menoleh kesana kemari untuk mencari adanya sebuah cahaya ditempat itu.


"Dimana aku?" Tanya Nadhira entah kepada siapa sambil memegangi kepalanya dengan erat.


"Akhirnya dia terbangun juga" Ucap Raka yang tidak dapat didengar oleh Nadhira.


Nadhira dapat merasakan bahwa adanya sebuah cairan kental yang tengah melekat kepada kepalanya dan juga rasa perih yang teramat sangat, kepalanya saat ini tengah terluka karena benturan yang ia terima setelah terjatuh ketempat itu, darah itu sepertinya sudah sedikit kering itu artinya dirinya sudah tidak sadarkan diri beberapa jam yang lalu.


Nadhira tidak dapat mengetahui beberapa jam lamanya ia tidak sadarkan diri ditempat itu, dan saat ini sedang pukul berapa, meskipun saat ini matahari sudah terbit akan tetapi ditempat itu masih terlihat gelap gulita karena tidak ada cahaya yang dapat masuk kedalamnya.


"Akh... Kenapa kepalaku terasa begitu sakit?"


Nampaknya Nadhira kesulitan untuk dapat bangkit dari tempat itu, samar samar karena cahaya obor dari kejauhan dirinya dapat melihat seseorang yang tengah diikat tangannya dengan cara membentangkan tangan, Nadhira terus berusaha untuk dapat bangkit kembali akan tetapi dirinya seperti tidak mampu untuk melakukan itu.


"Ayo Dhira kau pasti bisa" Ucapnya yang terus menyemangati dirinya sendiri.


Nadhira mencoba dan terus mencoba untuk bangkit walaupun dirinya terasa begitu lelah, Nadhira sama sekali tidak menyerah walaupun dalam kondisi seperti itu, darah yang ada di keningnya ikut bercampur dengan tanah yang ada disekitarnya, Nadhira terlihat begitu menyedihkan.


"Akh... Dimana aku? Kenapa disini begitu gelap? Apakah aku sudah diakhirat? Tapi kenapa aku masih mampu merasakan sakit".


Nadhira memegangi kepalanya yang terluka itu dengan eratnya karena rasa pusing dan juga perih ia rasakan, ia terus mencoba untuk bangkit dari tempat terbaring saat ini dengan susah payahnya.


Dengan kekuatan doa Nadhira mampu untuk bangkit kembali, meskipun dengan sempoyongan Nadhira mendekat kearah orang yang ia lihat pertama kali, setelah jaraknya hanya berpaut beberapa meter Nadhira dapat mengenali orang tersebut adalah Dwija yang selama ini ia cari.


"Pak Dwija"


Nadhira segera bergegas mendekatinya untuk memastikan keadaanya, ia begitu sedih ketika melihat Dwija yang kedua tangannya diikat oleh sebuah rantai yang teramat panjang, entah berapa lama dirinya sudah berada ditempat itu akan tetapi begitu banyak bekas cambukan diseluruh tubuhnya.


"Pak Dwija, akhinya aku menemukan dirimu disini, sudah beberapa tahun kita tidak bertemu dan kini kau begitu tersiksa ditempat seperti ini" Ucap Nadhira dengan nada sedihnya.


Mendengar namanya dipanggil membuat Dwija mulai mengernyitkan dahinya, sudah sekian lama ia tidak mendengar adanya suara gadis ditempat itu, yang selalu ia dengar hanyalah suara makian dan bentakan akan tetapi kali ini berbeda, hal itulah yang membuat Dwija membuka kedua matanya.


"Siapa kamu?" Tanya Dwija terkejut ketika melihat adanya seorang gadis didepannya.


"Sudah lama kita tidak bertemu Pak, aku adalah Nadhira, anak dari Rendi dan Lia".


"Dhira kau ada disini Nak? Melihatmu disini adalah hal yang sangat membahagiakan bagiku, apa kau sungguh Nadhira?".


"Iya Pak, aku adalah Nadhira".


"Kenapa kau ada disini? Tidak ku sangka aku bisa bertemu lagi dengan dirimu Nak, nyatanya aku sudah terlalu lama ditempat ini, sampai sampai kau sudah tumbuh sebesar ini Nak" Ucap Dwija dengan perasaan harunya ketika melihat Nadhira sudah ada di depannya saat ini.


"Apa yang terjadi dengan dirimu Pak, kenapa kau bisa terkurung seperti ini, siapa yang telah melakukan ini kepadamu Pak".


"Akhirnya kau sampai disini juga, aku sudah menunggumu begitu lama Nak, waktuku sudah tidak banyak lagi".


"Apa yang Bapak katakan? Aku sudah menemukan dirimu, kita akan keluar bersama sama Pak, kita bedua pasti akan selamat"


"Tidak Dhira, aku tidak bisa keluar dari tempat ini, kau tau alasan mereka mengurungku disini adalah agar aku tidak kabur sehingga mereka memberi bom didalam tubuhku, jika aku nekat untuk kabur dari tempat ini bersama denganmu maka kau akan ikut hancur bersama diriku".


"Pasti ada cara lain untuk hal itu Pak, tolong beritahu aku, aku akan melakukan apapun asal kau bisa selamat dari tempat ini".


"Dengarkan apa yang aku katakan Dhira, apa kau membawa HP untuk merekam? Mungkin saja ini sudah waktunya untuk dirimu mengetahui semuanya pada saat kejadian dimana Mamamu hanyut".


Nadhira meneteskan air matanya ketika mendengar perkataan Dwija, hal inilah yang ia cari selama ini, sebentar lagi dia akan mengetahui tentang hal apa yang terjadi kepada Mamanya waktu itu, dan sudah saatnya Nadhira untuk mengetahui semuanya.


"Aku membawanya Pak, apa yang ingin Bapak katakan kepada diriku".


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2