Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Nadhira memiliki kakak?


__ADS_3

Setelah Nadhira tenang, bi Ira segera menuntunnya kembali ketempat tidurnya sambil membawakan kotak obat untuk Nadhira, ia juga tidak lupa untuk menyimpan kembali foto tersebut kembali ditempat sebelumnya foto itu berada dan menguncinya dengan rapat sebelum ibu tiri Nadhira melihat dan merebutnya dari tangannya.


Itu adalah foto satu satunya yang Nadhira punya, ia tidak ingin kehilangan foto tersebut, apalagi sampai dibakar habis oleh mama tirinya, ia tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi, disaat foto foto mamanya dibakar habis tanpa mempedulikan tangisan dirinya dikala itu.


Disaat itu adalah saat terberat bagi Nadhira ketika ia melihat foto foto almarhum mamanya yang terpajang rapi dirumah itu dihancurkan tanpa belas kasihan, meskipun mamanya sudah tiada tidak sepantasnya Sena melakukan hal itu kepada Nadhira hanya untuk membuat mereka lupa dengan sosok Lia.


Meskipun tanpa foto Nadhira tidak akan pernah lupa mengenai sosok mamanya yang jauh lebih baik daripada Sena, seandainya Lia berada diposisi Sena saat ini ia tidak akan pernah melakukan apa yang tengah dilakukan oleh Sena saat itu.


"Ibu tau... Bertahun tahun yang lalu mama sering bilang kepadaku, ketika mama sudah tiada nanti mama akan selalu ada bersamaku dengan sosok yang berbeda, aku sekarang mengerti sosok yang berbeda itu adalah ibu Ira, kita dipertemukan dengan tanpa sengaja". Ucap Nadhira lirih dan tatapannya seakan akan menatap kekosongan.


Pertemuan keduanya terjadi begitu saja, bi Ira juga tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan anak dari sahabatnya, sementara Nadhira juga tidak menyangka bahwa bi Ira yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan ibu adalah sahabat dari mamanya yang telah mama pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah kembali untuk selama lamanya.


Semakin hari hubungan keduanya semakin erat layaknya seorang anak pada ibu kandungnya, Nadhira merasakan sebuah kenyamanan didalam tubuh bi Ira seperti yang ia rasakan ketika ia masih bersama dengan mamanya sehingga Nadhira begitu bahagia ketika bersama bi Ira, Nadhira sudah menganggap bi Ira seperti mamanya sendiri.


Selama ini bi Ira telah memberikan cinta dan kasih sayang yang besar kepada Nadhira layaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, meskipun Nadhira bukanlah anak kandungnya akan tetapi bi Ira selalu memperlakukannya dengan baik.


Bi Ira adalah orang yang memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu besar, akan tetapi karena dirinya yang hidup serba kekurangan harta dan juga minimnya pengetahuannya membuat bi Ira selalu dipandang rendah oleh orang orang yang berada disekitar selama ini.


"Mama memiliki dua orang anak, tetapi kakakku ia lebih memilih tinggal bersama dengan kakek dan nenek, usianya masih 20 tahunan sekarang".


"Apa? Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya selama ini?".


Bi Ira sangat sangat tidak dapat percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Nadhira baru saja, karena bertahun tahun dia bekerja ditempat ini, ia sama sekali tidak pernah mendengar bahwa Nadhira masih memiliki seorang kakak yang sedang tinggal bersama kakek dan neneknya.


"Aku juga sudah lama tidak melihatnya, terakhir kali aku bertemu dengannya disaat mama tiada, tetapi ketika di pernikahan papa, ia juga tidak hadir karena ia tidak terima ketika papa menikah lagi dan melupakan mama, oleh sebab itu kakak Dhita tidak pernah pulang sampai sekarang". Jelas Nadhira.


Ketika disaat papanya menikah lagi, hal itu membuat Nandhita begitu kecewa kepada papanya, karena jenazah mamanya belum juga ditemukan tetapi papanya lebih memilih untuk mencari pengganti dari mamanya, hal itu menyebabkan Nandhita sangat membenci keputusan yang diambil oleh papanya dan memutuskan untuk tidak lagi pulang kerumah papanya hingga saat ini.


Nadhira tidak mengetahui dengan jelasnya, tetapi yang Nadhira ketahui bahwa kakaknya sakit hati kepada papanya karena menganggap bahwa papanya telah melupakan sosok seorang wanita yang selalu ada bersamanya selama ini.


Nandhita ingin sekali mengajak Nadhira untuk tinggal bersamanya saat itu, tetapi Nadhira memutuskan untuk tetap tinggal bersama papanya dan akan selalu menjaganya, tanpa Nadhira sadari bahwa saat itu ia sedang berada dibawah kendali seseorang untuk tetap tinggal bersama papanya.


"Kakak juga bilang bahwa aku akan mengerti segalanya ketika aku dewasa, tetapi sampai sekarang aku tidak mengerti apa alasannya yang membuatnya pergi dari rumah ini dengan tangisan hingga saat ini, ia tidak pernah berkunjung kemari".


"Mungkin ada alasan lain yang membuat dirinya tidak bisa datang kemari".


"Aku tidak tau bu, aku hanya merasa aneh karena kepergiannya saat itu dari rumah dengan tiba tiba, aku merasa ada yang disembunyikan olehnya, tapi aku tidak tau, apa yang dikatakannya, sepertinya ada maksud tersembunyi dibalik perkataannya, aku hanya takut kakak kenapa kenapa".


Nadhira mengingat kembali apa yang dikatakan oleh kakaknya, ketika dewasa ia akan mengerti segalanya, tetapi kenapa sampai sekarang ia tidak mengerti juga, apakah dirinya kurang dewasa untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh kakaknya itu.

__ADS_1


Nadhira juga menjelaskan kepada ibu angkatnya mengenai kakaknya yang sejak kecil sudah tinggal dengan kakeknya, Nadhira mengatakan bahwa itu adalah keputusan dari mamanya agar kakaknya menjadi teman untuk orang tuanya yang hanya tinggal berdua dengan pasangannya.


Tetapi kepergiannya kali ini begitu berbeda daripada sebelumnya ketika mamanya masih ada, dan kepergiannya saat ini begitu lama, bahkan Nandhita sama sekali tidak pernah berkunjung lagi untuk menjenguk dirinya maupun papanya.


"Apakah mungkin ada banyak hal yang sengaja disembunyikan oleh kakakmu nak? Aneh juga kalo kakakmu tiba tiba pergi begitu saja".


"Iya sih bu, tapi apa? Aku sama sekali tidak mengetahuinya". Keluh Nadhira.


Bi ira memang tidak mengetahui hal ini sebelumnya, bahkan ia terkejut ketika ia mendengar bahwa Lia sudah memiliki dua orang anak, sementara anak yang satunya tidak pernah ia temui karena sejak kepergian dari Lia, anaknya bahkan tidak pernah datang ketempat itu lagi.


Nadhira bahkan selama ini tidak pernah mengungkit masalah kakaknya didepan bi Ira, karena itu bi Ira mengira bahwa Nadhira adalah satu satunya anak kandung yang dimiliki oleh Rendi, akan tetapi perkiraannya itu salah karena Nadhira masih memiliki seorang kakak perempuan yang selama ini pergi dari rumah dan tinggal bersama orang tua Lia.


"Setelah mama pergi, segalanya berubah, kakak ngak pernah datang lagi untuk menjengukku, bahkan ketika aku berada dirumah sakit kakak juga tidak datang, sementara papa berubah menjadi sangat emosional kepadaku, entah kesalahan apa yang telah aku lakukan kepadanya". Guman Nadhira mengingat kembali perlakuan papanya kepada dirinya ketika mamanya pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Nadhira ngak boleh sedih, kan papa Nadhira sudah kembali seperti dulu yang menyayangi Nadhira kan?".


"Iya sih bu, tapi aku hanya merasa sikap itu berbeda, seakan akan ada yang disembunyikan oleh mereka, kedatangan mama Sena juga secara tiba tiba, dan kejadian itu....". Nadhira tidak mampu melanjutkan perkataannya karena mengungkit masa Nimas.


Rasa sakit hati dan kebencian menjadi satu didalam hati Nadhira, meskipun Nadhira memanggil Sena sebagai mama tetapi ia sama sekali tidak akan pernah menganggapnya sebagai pengganti ibunya yang telah lama pergi dan tak kembali.


"Aku tidak tau lagi, langkah apa yang harus aku ambil selanjutnya, jika dia sampai tau".


Suara Nimas terasa seperti angin sejuk yang mampu menenangkan hati Nadhira, hal itu membuat Nadhira tersenyum tipis kearah ibunya, senyum yang begitu tulusnya, Nadhira hanya takut ketika mamanya mengetahui bahwa Nimas tidak lagi berpihak kepadanya dan akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya daripada sebelumnya.


"Apa yang kau maksud nak? Siapa yang tidak boleh mengetahuinya?". Tanya bi Ira dengan herannya.


"Bukan apa apa bu, hanya saja aku merasa takut saja untuk mengambil langkah selanjutnya, karena kak Dhita sama sekali tidak memberiku petunjuk apapaun mengenai kepergian waktu itu".


"Jangan takut, kan masih ada ibu disini yang akan menemanimu menggantikan Lia, meskipun demikian aku tidak bisa menggantikannya dengan sepenuhnya karena Lia begitu berarti bagi dirimu dan berarti juga bagiku nak, ibu akan selalu ada untukmu".


"Iya bu, terima kasih atas kehadiran ibu dalam hidupku selama ini, jika tidak aku tidak tau lagi apakah aku akan betah dirumah ini atau tidak, sejak kepergian mama, ini bukan lagi seperti rumah yang nyaman bahkan lebih buruk daripada penjara".


Nadhira memeluk ibu angkatnya dengan erat, ia begitu nyaman ketika berada didalam pelukannya, seakan akan dunia sudah tidak berarti baginya ketika ia berada didalam dekapan ibunya, bagi Nadhira bi Ira adalah orang yang sangat berarti setelah mamanya, karena bi Ira selalu ada untuk menemani Nadhira meskipun dirinya sering terkena omelan dari Sena gegara membela Nadhira.


*****


Disuatu tempat yang cukup gelap, tempat itu memang disengaja dibuat gelap dikarenakan sesuatu, duduklah seorang dengan pakaian serba hitam yang sedang duduk bersila sambil memejamkan matanya, didepannya terdapat perapian dan beberapa dupa yang tengah terbakar disana, dan juga ada beberapa jenis bunga yang bertaburan.


Tempat itu cukup luas nan juga mengerikan dan akan membuat siapapun yang masuk kedalam akan merasakan aura yang cukup mistis ditempat itu dan aura keabnormalan yang begitu kental, sehingga akan membuat orang biasa dengan mudahnya pingsan ditempat itu kecuali seseorang yang memiliki khodam penjaga yang akan menjaganya dari sesuatu yang berada ditempat itu.

__ADS_1


Suasana ditempat itu cukup sunyi dan sepi, seakan akan tidak ada kehidupan didalamnya, tetapi siapa sangka bahwa ditempat itu begitu banyak yang menghuninya, ada berbagai macam mahluk gaib yang tinggal ditempat itu karena panggilan dari sosok lelaki yang duduk bersila tersebut.


Mulut lelaki itu berkomat kamit seakan akan tengah membaca sebuah mantra, tak lupa juga dia menyiramkan beberapa bunga diatas perapian itu hingga terbakar menjadi arang, lelaki itu dikenal dengan dukun yang paling sakti ditempat itu, siapapun tidak berani berurusan dengannya karena mereka akan berakhir dengan kehilangan nyawa ataupun bahkan akan memiliki penyakit yang tidak akan ada obatnya.


Dalam semedinya tiba tiba ia terpental mundur dengan kuatnya karena sebuah energi yang tiba tiba menabrak dirinya dengan begitu kuat, sehingga ia memuntahkan darah segar dari mulutnya dan dia juga mengalami sakit yang luar biasa didadanya karena benturan dari energi itu.


Uhuk... Uhuk...


Lelaki itu terus terbatuk batuk sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat benturan dari energi yang tiba tiba menabrak dirinya, ia berusaha untuk bangkit kembali dan duduk dengan benar dihadapan perapian itu untuk kembali membacakan sebuah mantra.


Tiba tiba terasa angin yang begitu mengintimidasi seakan akan ada kehadiran salah satu sosok yang begitu kuatnya berada ditempat itu, tak butuh waktu lama untuk sosok itu tergambar jelas dihadapan lelaki itu, sosok itu menatap tajam kearah sang lelaki, lelaki itu yang merasakan tatapan tajam dari sosok tersebut ia segera membuka matanya.


"Apa yang terjadi". Ucap laki laki itu terkejut ketika melihat sosok yang ia perintahkan untuk menguji kemampuan pelindung dari gadis yang memiliki permata iblis yang pernah ia temui ditepi jalan.


"Anak itu memang memiliki pelindung yang begitu kuat dibelakangnya, seorang pemuda dan juga ratu iblis ikut melindunginya, karena kau aku terluka!!! kau harus bertanggung jawab atas hal ini!!!". Ucap mahluk itu dengan geramnya.


Mahluk itu menceritakan kepada lelaki paruh baya itu mengenai apa yang ia ketahui tentang pelindung dari gadis itu, dan seberapa hebatnya mahluk yang selalu berada disampingnya dan juga sosok lelaki yang memiliki energi yang kuat tetapi samar samar, karena seseorang telah menyamarkan energi yang berada didalam tubuh lelaki yang selalu berada bersama gadis yang mereka maksud.


Sang lelaki langsung menyodorkan tangannya untuk digigit oleh mahluk itu untuk menghisap darahnya sebagai imbalan dari apa yang telah dilakukan oleh makhluk itu, sakit yang begitu dalam ia rasakan karena tangannya telah digigit oleh mahluk itu dan juga rasa sakit ketika darahnya dihisap.


Makhluk gaib itu juga meminta imbalan berupa tumbal seorang gadis, dukun sakti itu telah lama menyiapkan beberapa anak gadis yang telah ia culik untuk dijadikan sebagai tumbal olehnya, gadis gadis itu masih berumur belasan tahun.


Dengan sesegera mungkin Dukun tersebut memberikan kepada mahluk yang mengerikan itu satu orang gadis, dengan segera mahluk itu menikmati tubuh gadis yang malang itu, setelah itu mahluk itu membunuhnya dan membawa tubuh dari jasad gadis itu pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian dari sang mahluk itu, lelaki itu tertawa begitu puasnya dengan apa yang diberitahukan kepadanya mengenai semua informasi yang didapatkan oleh mahluk itu yang telah masuk kedalam tubuh gadis yang ia incar itu meskipun tangannya terasa begitu sakit karena ia telah memberikan darahnya kepada mahluk yang menyeramkan itu tetapi sakit itu segera terbayarkan.


"Akhirnya aku akan segera memiliki permata iblis itu, aku akan jadi abadi dengan kekuatan yang begitu besar.. hahaha....". Lelaki itu tertawa begitu menyeramkan.


...Happy New Year All Welcome to 2022...


...Jangan Lupa Jaga Kesehatannya Juga Ya 🥰 Jadikan Masalalu sebagai pelajaran, dan jadikan Masa Depan sebagai Awal Perjuangan menuju Kesuksesan...


...Tidak ada kata menyerah selama nyawa masih melekat pertanda dirimu begitu kuat, karena dirimu mampu bertahan hingga sekarang dengan cobaan yang begitu dahsyat...


...Ayo bangkit...


...Tahun Baru Semangat Baru...


...Salam Cinta Dari Author 🎊🥰...

__ADS_1


__ADS_2