
Karena berbicara terlalu banyak membuat Raden Kian terus terbatuk dan mengeluarkan darah segar disetiap batuknya itu, Rahayu yang melihat itu merasa bimbang harus bagaimana ia menyikapinya.
Ia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi kepada dirinya yang telah begitu yakin dengan seseorang yang selama ini ia kenal, Raden Kian yang menyadari perubahan sikap dari Rahayu hanya bisa menghela nafas karena ia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi kepada keduanya.
"Maaf kan ak u Ayu, hi dupku su dah tidak lama lagi, se baiknya tinggal kan tem pat i ni se belum orang orang i tu me nemu kan ke bera daanku". Ucap Raden Kian dengan terbata bata karena luka dalamnya.
"Tidak!!! Jangan tinggalkan aku Mas, aku tidak mau kehilangan dirimu".
"Ayu, den garkan a ku, ja ga diri mu ba ik baik, ma afkan aku".
Raden Kian terus menggenggam erat tangan Rahayu dengan senyuman yang begitu tulus yang ia berikan, begitupun sebaliknya, Rahayu terus meneteskan airmatanya karena perkataan yang dilontarkan oleh Raden Kian, seakan akan untuk bicara pun hal itu membuat Raden Kian terlihat kesakitan yang mendalam, Rifki yang menyaksikan hal itu hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berkata apa apa.
Sekuat apapun seseorang mereka juga memiliki kelemahan tersendiri tetapi mereka lebih memilih untuk menyembunyikannya daripada harus mengatakannya, belum tentu seseorang yang ia ceritai sangat peduli kepadanya, mereka lebih memilih untuk bersikap kuat dihadapan semua orang yang menurutnya bergitu berarti.
"Pangeran!!".
"Kau!!".
Tiba tiba seseorang masuk kedalam gubuk tua itu dengan gelisahnya dan memanggil Raden Kian dengan sebutan Pangeran, Raden Kian hanya tersenyum tipis kepada orang itu dengan senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada siapapun.
"Bertahanlah Pangeran Kian".
Orang itu segera membuat Raden Kian terduduk bersila dengan begitu lemahnya, sementara orang itu segera duduk dibelakang Raden Kian, orang itu memerintahkan Rahayu untuk memegangi Raden Kian agar tidak terjatuh dan Rahayu segera melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Orang itu segera mengalirkan energinya kepada Raden Kian, Raden Kian yang merasakan adanya energi lain yang masuk kedalam tubuhnya membuat dia memejamkan matanya, rasa hangat segera mengalir dari telapak orang itu menuju kearah jantung Raden Kian, hal itu membuat Raden Kian merasa sedikit nyaman dan sakit yang ia rasakan perlahan lahan mulai berkurang.
Ketika Raden Kian mulai bisa duduk dengan benarnya membuat Rahayu perlahan lahan melepaskan pegangannya dari tubuh Raden Kian, perlahan lahan pernafasannya kembali normal berkat orang tersebut, tak beberapa lama kemudian orang itu juga memuntahkan darah segar hal itu membuat Raden Kian segera membuka matanya.
"Tidak!! Hentikan!! Kau bisa mati karena ini".
"Nyawaku tidak akan berarti apa apa jika aku tidak bisa menyelamatkan Pangeran".
"Tidak Birawa!! Jangan korbankan nyawamu hanya untuk menolongku, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi".
Orang yang dipanggil Raden Kian sebagai Birawa sama sekali tidak mempedulikan mengenai nyawanya yang akan melayang ketika menolong Raden Kian, Birawa adalah sahabat Raden Kian sejak kecil, keduanya selalu bermain bersama dan tumbuh bersama dikerajaan sehingga tali persaudaraan mereka begitu kuat satu sama lain.
Sejak mengetahui bahwa sahabatnya telah mengambil pusaka berharga dikerajaan tersebut dan dikejar kejar oleh banyaknya pasukan, membuat Birawa secara diam diam pergi mencari keberadaan dari Raden Kian.
Ketika Birawa sedang melintas disebuah desa, Birawa teringat bahwa ditempat itu dahulunya bukanlah desa melainkan hutan belantara, Birawa mencari informasi dari desa tersebut mengenai bagaimana caranya desa itu berdiri, dan tentang siapa yang telah mendirikan desa tersebut.
Birawa mendapatkan banyak informasi dari desa tersebut, warga desa juga menjelaskan bagaimana ciri ciri seorang pemuda yang telah mendirikan desa itu, ciri ciri yang mereka sebutkan begitu mirip dengan sosok sahabatnya yang selama ini ia cari, sayangnya setelah ia sampai didesa tersebut ternyata Raden Kian telah pergi meninggalkan desa tersebut sebelum kedatangannya.
Warga desa juga memberitahu bahwa sosok mantan kepala desanya telah jatuh cinta dengan seseorang yang berada didesa sebelah, mendengar itu Birawa segera bergegas menuju kedesa itu untuk mencari tau dimana keberadaan sahabatnya.
Sesampainya didesa yang ditunjukkan oleh warga desa Mawar Merah, Birawa segera mencari tau dimana rumah milik gadis yang dicintai oleh sahabatnya, tetapi setelah mengetahui rumahnya ia begitu terlambat akan hal itu, ternyata gadis yang ia cari telah pergi meninggalkan rumahnya dengan diam diam.
Birawa terus mencari kemana perginya gadis itu dan juga sahabatnya, sampai akhirnya ia menemukan sebuah gubuk tua ditengah hutan, ia juga mendengar suara tangisan seorang gadis dari dalam gubuk tersebut, mendengar tangisan itu membuat Birawa spontan untuk menuju tempat itu, sesampainya disana ia melihat sahabatnya yang terbaring lemah karena terkena luka dalam yang begitu parah.
Birawa segera bangkit dari duduknya tetapi masih terus mengalirkan tenaga dalamnya kepada Raden Kian, Birawa memutari tubuh Raden Kian hingga keduanya kini tengah berhadapan satu sama lain, Raden Kian memangis melihat sahabatnya yang tengah mengalirkan tenaga dalamnya kepada dirinya, sementara sahabatnya tersebut karena disisa hidupnya ia mampu menyelamatkan nyawa dari sahabatnya.
__ADS_1
"Hentikan Birawa!!! Jangan lakukan hal seperti ini, aku mohon hentikan!!! Kau bisa mati".
"Pangeran, terima kasih atas kebaikan Pangeran selama ini kepada saya dan keluarga saya, nyawaku tidak berarti apa apa jika tidak bisa menyelamatkan Pangeran, akh.... ".
"Birawa!!!".
Wajah Birawa semakin pucat seakan akan tidak ada darah yang mengalir di sekujur tubuhnya, Birawa seketika tumbang dihadapan Raden Kian dengan perlahan, Raden Kian yang melihat itu segera bergegas menangkap tubuhnya dan memangku tubub Birawa dengan lembutnya.
"Tidakk!!!! Arghhhh.....". Teriak Raden Kian atas kematian dari sahabatnya.
Birawa meninggal dengan keadaan tersenyum karena dirinya berhasil memenuhi keinginan terakhirnya yakni menyelamatkan Raden Kian, luka dalam yang dimiliki oleh Raden Kian kini sebuh tetapi belum sembuh secara total, karena terlalu parahnya luka tersebut.
Raden Kian begitu terpukul karena kematian dari sahabatnya hanya karena menyelamatkan nyawanya, setelah memakamkan jenazah tersebut Raden Kian seakan akan tidak memiliki semangat untuk hidup, Raden Kian selalu melamun seorang diri digubuk tua tersebut, tetapi Rahayu tidak pernah meninggalkan dirinya meskipun ia mengetahui bahwa sosok pemuda yang bersamanya saat ini bukanlah rakyat biasa melainkan seorang Pangeran.
Setelah kejadian itu, Raden Kian memutuskan untuk pergi mengembara sementara Rahayu memutuskan untuk tetap ikut dengannya, melihat permintaan dari Rahayu, Raden Kian mengajak Rahayu untuk pulang kerumahnya dan menikah disana. Setelah keduanya resmi menjadi pasangan suami istri, Raden Kian melanjutkan pengembaraannya bersama wanita yang ia cintai hingga keduanya dikaruniai seorang anak lelaki dan malam ini adalah kelahirannya.
Disaat gerhana bulan merah anak pertama dari pasangan suami istri itu lahir kedunia ini, Rahayu melalui malam itu dengan perjuangan yang begitu besar, sementara Raden Kian merasa begitu gelisah ketika mendengar sang istri kesakitan didalam kamarnya bersama dengan seorang dukun beranak.
Raden Kian tidak tega melihat hal itu, ia segera masuk kedalam ruangan itu dan memeluk istrinya yang sedang berjuang, pelukan itu seketika membuat Rahayu mampu melewati malam tersebut.
"Aaaa....". Rahayu memegangi tangan Raden Kian begitu eratnya.
"Oek... Oek...". Terdengar suara tangisan bayi tersebut dengan begitu nyaringnya.
Mendengar tangisan dari sang bayi membuat Raden Kian dan Rahayu merasa begitu lega setelah perjuangan yang cukup panjang, sekarang keduanya telah resmi menjadi ayah dan ibu dari bayi yang baru lahir itu.
Dukun beranak tersebut segera memandikan sang bayi untuk membersihkan darah yang menempel pada kulit bayi tersebut, setelah itu ia segera membungkus bayi itu dengan kain yang tebal untuk menghangatkan tubuhnya.
"Silahkan pak".
Dukun beranak itu segera menyerahkan bayi mungil yang ia gendong kepada Raden Kian, ia juga menjelaskan kepada mereka bagaimana caranya untuk merawat bayi dengan baik dan benar, Rahayu mendengarnya dengan seksama begitupun dengan Raden Kian yang tidak ingin ketinggalan satu informasi sedikit pun.
Raden Kian merasa begitu bahagia atas kelahiran anaknya, ia terus mengucap syukur karena anaknya lahir dengan selamat, begitupun dengan sang ibu dari anak yang berada digendongnya saat ini. Raden Kian memeluk bayi mungil itu dengan erat dan sesekali menciuminya.
Setelah itu Raden Kian mengucapkan sesuatu ditelinga bayi mungil itu, setelah mengucapkannya Raden Kian segera mengadzaninya ditelinga sang buah hati.
Suaranya begitu merdu hingga membuat Rifki sampai meneteskan airmatanya sementara didunia nyatanya membuat Rifki merasa begitu tenang, dan keringat yang mengalir dikulitnya perlahan lahan mulai kembali normal.
"Mas, kau akan memberi nama siapa?". Tanya Rahayu dengan lembutnya.
"Dia adalah anak dari Kuswanto, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kerajaan ataupun marga Jayaningrat, karena ketampanan yang ia miliki, kelahirannya disaat terjadinya sebuah gerhana merah darah, aku beri nama dia, Panji Abriyanta, dia akan mewarisi seluruh kemampuanku begitupun dengan anak dan cucunya kelak".
Nama Panji Abriyanta disebutkan dengan lantangnya diruangan itu, Rahayu merasa begitu bahagia ketika nama itu diucapkan oleh suaminya, setelah memberikan nama Raden Kian memberikan bayi itu kepada Rahayu untuk diberi ASI.
"Abriyanta?". Guman Rifki yang melihat kelahiran anak pertama dari Raden Kian dan Rahayu. "Apakah... Tidak!!! Tidak mungkin!!!".
Dialam nyata, kening Rifki berkerut ketika ia mendengar nama Abriyanta disebutkan didalam mimpinya, ia begitu terkejut mengenai kebenaran itu, ia segera membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
"Tidak!!!! Arghhhh......". Teriak Rifki ketika ia terbangun dari mimpi yang begitu panjangnya.
__ADS_1
Nafas Rifki begitu memburu ketika ia terbangun dari tidurnya, mimpi yang ia alami terasa begitu nyata, ia melihat kesebuah jam dinding yang ada dikamarnya, jam itu menunjukkan pukul 3 pagi.
Tok... Tok... Tok...
"Tuan Muda apa kau baik baik saja?". Ucap seseorang dibalik pintu kamar Rifki.
"Aku baik baik saja, kalian tidak perlu khawatir". Jawab Rifki kepada orang itu.
"Baiklah jika Tuan Muda baik baik saja, kami permisi dulu".
Ketika mendengar teriakan Rifki dari kamarnya membuat beberapa anak buahnya terbangun dari tidurnya dan segera mengetuk pintu kamar Rifki untuk memastikan bahwa keadaan Rifki baik baik saja disaat itu.
Rifki masih terlihat begitu shock karena mimpi yang ia lalui malam ini, ia tidak pernah menduga bahwa ia akan bermimpi seperti ini, nafasnya begitu memburu karena hal itu.
"Tidak!! Ini bukanlah mimpi, tetapi ini adalah pengelihatan dimasa lampau, tapi mengapa ini terjadi kepadaku".
Ketika Rifki melihat kearah layar hpnya, itu menunjukkan tanggal dan bulan kelahirannya, itu artinya umur Rifki bertambah satu tahun, Rifki sekarang mulai masuk diusia yang ke 17 tahunnya.
Rifki segera bangkit dari tidurnya dan bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai mandi Rifki segera berwudhu untuk menjalankan sholat Tahajjud untuk menenangkan pikirannya.
Airmatanya terus berjatuhan disaat Rifki bersujud kepada Allah SWT, Rifki menangis disetiap gerakan yang ia lakukan, dan dapat terdengar suara isak tangisnya disetiap ia memanjatkan doa setelah selesai sholat tahajjud itu.
Setelah selesai berdoa cukup lama sampai terdengar suara adzan berkumandang di awang awang Rifki segera keluar dari kamarnya untuk melaksanakan sholat berjama'ah dengan seluruh anak buahnya yang muslim.
Setelah selesai sholat, Bram segera mendekat kearah Rifki yang tengah termenung sambil meneteskan airmatanya, perlahan lahan Bram mulai mengusap bahu Rifki sehingga membuat Rifki tersadar bahwa adanya seseorang yang berada disampingnya.
"Ada apa Tuan Muda? Mengapa dirimu terlihat begitu termenung kali ini?".
"Tidak ada apa apa Pak, hanya saja mimpi yang aku alami kali ini begitu menyedihkan".
"Kalo ada apa apa, Tuan Muda bisa bercerita kepada saya ataupun sahabat Tuan Muda, kamu akan mendengarkan dengan baik apa yang akan Tuan Muda sampaikan".
"Terima kasih Pak, Bapak bisa kembali melanjutkan tugas Bapak, aku masih ingin tetap disini".
"Baiklah kalau itu adalah keputusan Tuan Muda, saya permisi dulu".
Sesuai dengan keinginan Rifki, Bram segera meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Rifki seorang diri berada ditempat itu, ia tidak ingin membuat Rifki semakin tertekan karena kehadirannya ditempat itu sehingga ia memutuskan untuk pergi.
Rifki masih tetap mematung ditempat itu sendirian setelah seluruh anak buahnya meninggalkan tempat itu, Rifki mencoba untuk menenangkannya pikirannya yang sedang kacau saat ini, ia tidak menyangka bahwa bayi yang telah dilahirkan oleh Rahayu adalah anak yang diberi nama dengan marga Abriyanta, nama panjang Rifki juga adalah Abriyanta.
"Apakah aku adalah keturunan dari Kuswanto? Dan kepergian papa dan kakek ada hubungannya dengan ini semua?".
Rifki terus termenung dan memikirkan mimpi yang telah ia lewati malam ini, mulai dari pengejaran terhadap Raden Kian sampai dengan kelahiran dari Panji Abriyanta yang ia lihat melalui mimpinya.
"Tapi mengapa kakek bilang, Kuswanto adalah penyelamat keluarga kita, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kakek tidak pernah memberitahukan hal ini kepadaku sebelumnya".
Rifki memijat keningnya yang terasa begitu pusing, hingga menimbulkan bekas merah dikeningnya untuk merendahkan rasa sakit yang ia rasakan karena memikirkan akan hal itu, bukan kebetulan Rifki mengalami mimpi tersebut, tetapi ini sudah ditakdirkan untuk terjadi kepadanya.
Setelah sekian lama ia termenung dan akhirnya ia kembali kekamarnya untuk bersiap siap berangkat kesekolah, kini Rifki dan teman temannya kini sudah naik kelas menjadi kelas 2 SMA.
__ADS_1