Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kepasar 3


__ADS_3

Penjual ikan tersebut tersenyum mendengar ucapan dari Nadhira, ia segera memasukkan ikan yang dimaksud olehnya kedalam plastik, ikan itu begitu lucu. Ikan yang Nadhira beli adalah ikan koki yang memiliki warna merah dan oren.


Nadhira menerima plastik berisi ikan tersebut dengan senangnya, ia juga menyodorkan uang kepada sang penjual tersebut. Terlihat penjual tersebut begitu kaget menerima uang dari Nadhira, karena dagangannya belum laku sedari pagi sehingga ia tidak memiliki uang kembalian.


"Kembaliannya buat bapak saja"


Setelah mengatakan itu Nadhira bergegas untuk pergi dari situ, karena ia buru buru ingin segera pergi kepanti asuhan, Ketika penjual itu mengangkat kepalanya, ia menemukan bahwa gadis yang membeli ikan tersebut sudah berjalan menjauhinya.


Nyatanya apa yang Nadhira ucapkan, penjual itu tidak mendengarnya dengan jelas. Karena faktor usia membuat pendengarnya sedikit bermasalah, sehingga ia tidak bisa mendengar ucapan Nadhira.


Penjual itu berbicara kepada seseorang yang berdagang disebelahnya untuk menitipkan barang dagangannya sebentar, penjual ikan tersebut segera bergegas berlari untuk mengejar Nadhira dan juga ibu angkatnya yang mulai jauh darinya.


"Neng kembaliannya!".


Nadhira yang berjalan pergi dari tempat penjual ikan tersebut segera menghentikan langkahnya ketika penjual itu memanggilnya, Nadhira menoleh kebelakang dan menemukan bahwa kakek tua tersebut sudah berada dibelakang dengan nafas yang tersegal segal.


Nadhira bergegas mendatangi penjual tersebut dan memeganginya agar tidak jatuh, Nadhira begitu terkejut melihat apa yang dilakukan oleh penjual ikan tersebut. Nadhira membantu kakek itu untuk kembali ketempat ia berdagang, dan memberinya sebotol minuman.


"Kenapa bapak berlarian seperti tadi?". Tanya Nadhira.


"Itu neng kembaliannya belum, kenapa neng sudah pergi saja".


"Kembalian itu buat bapak saja ya, anggap saja itu adalah rezeki bapak yang dititipkan kepada saya, mohon bapak terima ya, semoga menjadi berkah untuk bapak sekeluarga".


"Terima kasih neng, semoga Allah membalas kebaikan neng, neng selalu dilindungi oleh-Nya, dan dilancarkan rezekinya". Mata penjual tersebut berkaca kaca mendengar ucapan Nadhira.


Nadhira tersenyum kepada penjual tersebut, Nadhira berpamitan untuk pulang kepada penjual itu. Nadhira dan ibu angkatnya segera bergegas pergi, penjual tersebut tidak berhenti untuk mengucapkan sykur dan doa doa atas kebaikan yang Nadhira lakukan kepadanya.


Bi Ira hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh anak angkatnya, baru kali ini ia dan anak angkatnya pergi berdua didunia luar. Bi Ira merasa bahagia ketika bisa keluar bersama anak angkatnya, ia tidak menyangka bahwa anak angkatnya yang seorang anak orang kaya memiliki sifat yang dermawan dan baik hati.

__ADS_1


Melihat sikap yang dimiliki oleh Nadhira, membuatnya teringat akan sahabatnya. Sikap Nadhira tidak berbeda jauh dari sikap sahabatnya yang telah lama terpisah dengannya, tiba tiba ia merasa begitu merindukan sahabatnya tersebut.


"Andai dia ada disini". Guman bi Ira.


Nadhira yang tengah berjalan dengan santainya tiba tiba menatap bi Ira dengan penasaran karena ia mampu mendengar gumannya, meskipun ditengah tengah keramaian Nadhira masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa yang ibu katakan? Ibu merindukan seseorang?".


"Melihat perbuatan Nadhira kali ini, ibu jadi teringat sosok sahabat ibu, kalian berdua memiliki sifat yang sama, tetapi ibu dan dia sudah terpisah begitu lama, karena ia melanjutkan pendidikannya".


"Ibu jangan sedih, kalau ibu merindukannya lihat aku saja, kan ibu bilang ia sangat mirip denganku".


Bi Ira mengusap kepala Nadhira dengan pelan, sedikit terharu karena perkataannya. Nadhira sebenarnya gadis yang baik hati dan periang ketika diluar rumah, tetapi jika ia berada dirumah ia akan menjadi pendiam dan jarang tersenyum, ia hanya akan tersenyum ketika berada didekat bi Ira.


Keduanya berjalan ketempat dimana becak terparkir rapi, ketika melewati sebuah warung makan Nadhira menghentikan langkahnya, ia menatap kearah warung makan tersebut. Nadhira mendekat kearah warung makan tersebut setelah menaruh belanjanya dibecak yang akan ia naiki.


Bukan warung itu yang membuatnya tertarik, tetapi seorang gadis kecil yang sedang menangis dipinggir warung itu. Pakaian kumuh dan tubuhnya begitu kurus dan kulitnya sebagai mengelupas karena penyakit kulit yang ia alami, Nadhira berlutut didepan gadis kecil itu, yang berusia sekitar 7 tahunan.


"Ada apa nak?". Tanya bi Ira yang ikut menyusul kemana Nadhira pergi.


"Aku lapar kak, belum makan".


Nadhira mengajak gadis kecil itu masuk kedalam warung makan tersebut sedangkan bi Ira kembali kebecak, ketika gadis itu melangkahkan kaki masuk kedalam warung itu, ia tidak mendapatkan perilaku yang baik, melainkan segera diusir oleh sang pemilik warung.


Pemilik warung tersebut segera mengambil sapu untuk mengusirnya keluar dari tempat itu, anak itu bisa makan karena kebaikan beberapa orang yang memberinya makan selama ini. Pemilik warung tersebut marah ketika gadis itu masuk kedalam warungnya, karena ia berfikir bahwa penyakit yang diderita olehnya bisa menular kemana saja.


Ketika sapu itu melayang kearah gadis kecil itu, Nadhira tidak tinggal diam, ia segera menghalangi sang gadis sehingga membuat sapu itu mengenai punggungnya. Pemilik warung begitu terkejut ketika sapu itu terbentur oleh punggung pembelinya.


Nafas Nadhira mulai memburu, gadis kecil yang ada dihadapannya hanya mampu menatapnya dalam diam. Rasa sakit yang dirasakan oleh Nadhira tidak ia pedulikan, ia menatap gadis kecil yang ada didepannya sedang ketakutan.

__ADS_1


"Jika ibu tidak menyukai gadis ini, setidaknya jangan melakukan kekerasan, kami tidak keberatan untuk segera meninggalkan tempat ini, apa ibu tidak memiliki hati sama sekali, sehingga tega membiarkan gadis ini seperti ini, ayo dek kita pergi dari sini".


Nadhira menarik tangan gadis kecil itu dan bergegas meninggalkan warung dengan amarahnya, Nadhira mengajaknya ketempat becak yang ia naiki sebelumnya.


"Kok cepat sekali kembalinya nak?". Tanya bi Ira.


"Pemilik warung itu sangat kejam, sama sekali tidak memiliki perasaan, bu apakah dipanti asuhan masih bisa menerimanya?". Tanya Nadhira sambil menunjuk kearah gadis kecil itu.


"Masih kok nak,, oh iya namanya siapa ya?".


"Nama saya Fika tante".


"Fika,, nama yang bagus dek, sekarang adek ngak usah khawatir lagi, adek mau kan ikut sama kakak?". Tanya Nadhira.


"Mau kak".


Ketiganya segera menaiki becak tersebut, dijalan Fika menceritakan asal usulnya dan ternyata pemilik warung tersebut adalah tantenya. Kedua orang tuanya sudah tiada ketika ia masih bayi karena kecelakaan, orang orang selalu memanggilnya sebagai anak haram.


Tantenya selalu bilang bahwa dia adalah anak dari seorang pela**r, Fika tidak mengerti apa itu pel**r jadi dia mengabaikan hal itu, sejak usianya menginjak 5 tahun ia terjangkit penyakit kulit, sehingga tantenya tidak mau merawatnya lagi, ia dibiarkan tidur diluar, dan ditinggalkan dijalanan.


Fika menangis mencari keberadaan tantenya tetapi tak kunjung ia temukan, sisa makanan yang ada ditempat sampah ia makan karena kelaparan. Ia terus berjalan mencari arah jalan pulang, sampai akhirnya ia menemukan dimana tantenya berjualan.


Fika begitu senang karena bisa bertemu dengan tantenya lagi tetapi apa yang dilakukan oleh tantenya, tantenya mendorongnya hingga jatuh diluar warung, ia juga mengancam akan memukulnya ketika ia berani masuk kembali kedalam warung.


Ketika tantenya pulang kerumahnya, Fika tidak diajak pulang melainkan membiarkannya tidur diluar warung tersebut, tantenya juga menyebarkan berita bahwa penyakit Fika dapat menular jika ada orang yang menyentuhnya, sehingga tidak ada yang berani mendekati, hanya beberapa orang yang baik yang memberinya makan.


Pagi ini kebetulan Nadhira menemukannya, ia tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang lain mengenai gadis kecil yang sedang bersamanya saat ini.


Tak beberapa lama kemudian mereka sampailah dirumah Nadhira karena bi Ira harus memulangkan belanjaannya terlebih dahulu, Fika terkagum melihat rumah Nadhira yang sangat besar baginya. Nadhira tidak membawa Fika masuk kerumahnya, ia takut kalau mama tirinya akan marah karena membawa orang asing masuk kerumah apalagi dengan penampilannya saat ini.

__ADS_1


Bi Ira segera masuk kedalam dan menaruh belanjaanya dikulkas sebagai persediaan bahan makanan, ia juga meminta izin kepada sang majikan untuk pulang kepanti beberapa jam. Hari ini bi Ira gajian sehingga ia memutuskan pulang dan membantu adik adiknya yang ada dipanti tersebut.


Setelah mendapatkan izin, bi Ira segera bergegas keluar rumah dimana Nadhira dan juga Fika sedang menunggunya, Bi Ira menaiki becak tersebut dan becak itu berjalan.


__ADS_2