Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mengungkap misteri 2


__ADS_3

Perasaan Hakam begitu campur aduk disaat mengetahui bahwa Ibunya telah melakukan hal yang membuat orang yang ia cintai pergi dari rumahnya, orang yang selama ini ia hormati dengan teganya telah melakukan hal tersebut kepada Rahel yang begitu lemah lembut.


Ini adalah kesalahannya juga, karena mengenalkan sosok Rahel kepada Ibunya, akan tetapi ia tidak menduga bahwa Ibunya akan melakukan hal sekeji itu untuk memisahkan keduanya.


Hakam pikir dengan mengenalkan Rahel kepada Ibunya, Ibunya akan segera menyetujui pernikahannya, karena Hakam begitu mencintai sosok gadis yang bernama Rahel.


Akan tetapi hal itu terjadi diluar dugaannya, ia begitu frustasi karena tidak menemukan sedikitpun jejak dimana Rahel pergi meninggalkannya.


Ibunya begitu kecewa dengan kepergian dari anak semata wayangnya, akhirnya ia pergi kedukun untuk membawa Hakam kembali kepadanya dan melupakan semuanya tentang Rahel.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk pergi ketempat dimana Rahel bekerja, sesampainya di sana, ia melihat Rahel yang hendak pergi dari tempat itu.


"Ael". Panggil Hakam.


Hakam segera berlari mendekat kearahnya, Rahel yang melihat kedatangan Hakam segera putar balik dan menghindar dari Hakam ia tidak ingin bertemu dengan Hakam untuk saat ini, akan tetapi tangan Hakam berhasil menghentikannya.


"Ael, berhenti!! Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi". Mohon Hakam kepada Rahel.


"Maafkan aku Kak, sebaiknya Kak Hakam melupakan aku saja, ini demi kebaikan kita juga".


"Ael, aku ngak mau, beberapa hari ini aku terus mencarimu, kenapa kau pergi meninggalkanku, apa karena Ibuku yang telah mengatakan sesuatu kepadamu!! Katakan kepadaku apa yang dikatakan olehnya!!".


"Kenapa Kakak bawa tas seperti ini? Apa kakak pergi dari rumah? Kenapa Kak?".


"Ael, aku pergi mencarimu, kau taukan kalo aku tidak bisa jauh darimu, pliss Ael ayo pulang".


"Kak, biar bagaimanapun Kakak harus patuh dengan orang tua Kakak, seburuk apapun orang tua kita, mereka tetaplah yang telah melahirkan dan membesarkan kita, Kak, syurga seorang laki laki akan selamanya berada dikaki Ibunya, berbeda dengan wanita, setelah menikah mereka akan menjadi milik suaminya".


"Tapi Ael, aku sudah terlanjur sayang sama kamu, aku tidak ingin pisah dari dirimu".


"Maafkan aku, mungkin hubungan kita harus berakhir saat ini, sebaiknya Kakak lupakan saja diriku dan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama".


Rahel melepaskan pegangan tangan Hakam, dengan berat hati ia melangkah menjauh dari tempat itu, awalnya ia datang ketempat itu hanyalah untuk mengundurkan diri, karena ia tidak ingin bertemu lagi dengan Hakam yang akan menambah sakit dihatinya.


Tak disangka bahwa Hakam jauh lebih cepat untuk menyusulnya sampai ditempat itu tepat waktu, hal itu membuat Rahel tidak bisa melupakan sosok orang yang begitu berarti baginya.


"Ael.. tunggu aku, jangan tinggalkan aku, aku mohon Ael". Hakam terus mengejar Rahel.


Dikejauhan terlihat sebuah truk bermuatan melaju dengan cepatnya menuju ke tempat dimana Hakam sedang mengejar Rahel.


Tin tin tin


Brakkk


Suara bising tersebut membuat Rahel segera menoleh kebelakang dan menemukan sosok Hakam yang tengah terbaring dijalanan karena sebuah truk bermuatan tiba tiba menabraknya.


"Kakak!!!!".


Sontak membuat seluruh masyarakat yang lewat tempat itu segera berkumpul untuk melihat keadaan dari korban tersebut, melihat trusknya telah menabrak orang membuat sopir truk tersebut menghentikan lajunya dan melihat kondisi prnah yang telah ditabraknya.


Rahel segera menabrakkan dirinya kepada tubuh yang lemas tidak berdaya itu, ia segera memeluk Hakam dengan eratnya meskipun darah Hakam yang berlinang dimana mana.


"Ael,,, jangan tinggalkan aku". Ucap Hakam dengan lirihnya karena rasa sakit yang ia terima.


"Kakak bertahan ya, kita akan membawa Kakak kerumah sakit, Ael mohon agar Kakak bertahan".


"Pak!! Tolong bantu saya!! Bawa dia kerumah sakit cepat Pak tolong!!". Teriak Rahel meminta bantuan kepada masyarakat sekitar.


Akan tetapi kebanyakan dari mereka hanyalah melihat saja dan enggan untuk mengulur tangan untuk membantu Rahel, bahkan banyak diantara mereka yang sengaja mengambil foto dari kejadian tersebut.


Rahel segera berusaha untuk membangunkan tubuh Hakam yang tidak berdaya tersebut, percumah saja ia meminta bantuan kepada masyarakat sekitar, sopir truk tersebut juga membantu Rahel mencari tumpangan untuk membawa Hakam kerumah sakit.


Pakaian Rahel bersimbah darah, darah milik Hakam yang melekat pada pakaiannya, Hakam kehilangan begitu banyak darah sehingga harus cepat cepat membawanya kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Kakak bertahanlah, kita akan segera pergi kerumah sakit".


Beberapa dari mereka yang melihat seorang gadis tengah berusaha untuk membawa Hakam kemobil yang telah dihentikan oleh pemilik truk, segera membantu Rahel.

__ADS_1


Diperjalanan Rahel terus menangis ketika melihat sosok seorang yang paling ia cintai terbaring lemah dan tidak berdaya.


"Ael jangan menangis". Ucap Hakam dengan susah payahnya, ia tidak tega melihat Rahel menangis.


"Kakak bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai".


"A...ku i...ngin is...tira...hat, Ka...kak a...kan per...gi ter...le...bih da...hu...lu". Ucap Hakam dengan terbata bata, sambil sesekali nafasnya terputus putus.


"Tidak Kak, akulah yang akan pergi lebih dulu daripada Kakak, aku tidak akan bisa hidup tanpa Kakak, aku mohon bertahanlah demi Ael".


Rahel memegang erat tangan Hakam yang lemah tersebut, meskipun tangannya penuh dengan darah ia tidak memperdulikannya, yang terpenting adalah keselamatan dari Hakam.


"Pak, tolong cepat sedikit!!".


"Baik Neng, kita akan sampai sebentar lagi".


Beberapa menit kemudian akhirnya mobil tersebut segera sampai dirumah sakit, para suster berlarian dan segera membawa tubuh Hakam masuk kedalam ruang operasi karena luka yang dialami oleh Hakam.


Rahel menunggu didepan ruang operasi dengan begitu gelisahnya, ia tidak ingin Hakam kenapa kenapa, tak beberapa lama kemudian akhirnya Ibu dari Hakam datang ketempat itu.


"Apa yang kau lakukan dengan anakku!!".


Plakkk...


Tanpa basa basi Nita segera menampar Rahel yang sedang menangis itu, ia begitu tidak sabarannya karena anak satu satunya masuk kerumah sakit hanya karena gadis itu.


"Dasar anak pembawa sial!!! Pergi dari sini, aku tidak mau melihat wajahmu lagi".


Nita mendorong tubuh Rahel hingga terjatuh dilantai rumah sakit tersebut, Rahel tidak bisa berkata kata lagi karena biar bagaimanapun ini adalah kesalahannya juga karena telah membuat Hakam terluka seperti ini.


Air matanya tidak mampu ditahan lagi, Rahel merasa begitu bersalah kepada Hakam, ini kesalahannya kenapa ia harus muncul didepan Hakam, kenapa ini terjadi kepadanya.


"Pergi kamu dari sini, pergi!!!". Teriak Nita.


Teriakan itu mampu mendatangkan beberapa perawat dan satpam yang berjaga ditempat itu, mereka segera membantu Rahel untuk berdiri dari tempat itu.


Plakk... Bhuukk....


Nita terus saja menghujani Rahel dengan pukulan sehingga membuat para satpam itu kewalahan karena emosi seorang ibu yang bergejolak ketika melihat anaknya masuk kedalam rumah sakit.


"Ibu tolong tenang, ini rumah sakit, jangan bikin keributan ditempat ini, hormati yang lain juga".


"Sebaiknya Mbak pulang dulu, biarkan Ibu ini tenang, mari Mbak ikut aku".


Rahel dengan berlinangan airmata hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi kepadanya, rasa sakit yang ada diwajahnya adalah balasan baginya karena telah menyakiti Hakam.


Satpam tersebut segera mengajak Rahel untuk meninggalkan tempat tersebut, Rahel hanya bisa patuh kepada mereka.


"Pak kalau terjadi apa apa kepada Hakam tolong beri tahu kepadaku ya Pak". Dengan tangisan Rahel berkata kepada satpam tersebut.


"Iya Mbak, kami akan sesegera mungkin memberitahukan ini kepada Mbak, Mbak ya sabar ya, mungkin Ibu tadi hanya emosi karena keadaan yang menimpa anaknya".


"Terima kasih Pak".


Rahel segera pergi meninggalkan tempat itu dengan berat hati, diperjalanan dirinya terus menjadi tontonan bagi orang yang telah ia lewati, hanya karena pakaiannya yang bersimbah darah.


Pandangan Rahel seakan akan kosong, sehingga ia tidak mempedulikan apa perkataan orang mengenai dirinya, yang ia pikirkan adalah bagaimana keadaan dari Hakam, ia tidak bisa menjaga Hakam untuk saat ini, dan ia harus meninggalkan Hakam disaat kondisi Hakam kritis seperti sekarang ini.


Rahel segera masuk kedalam rumahnya, dan masuk kedalam kamar mandi, ia menguyur tubuhnya perlahan lahan untuk membersihkan darah yang ada menempel dibajunya.


"Kak... Maafin aku". Isak tangis keluar dari mulutnya.


Rahel membasuh tubuhnya sambil menangis dikamar mandi tersebut, ia begitu sedih ketika membayangkan kecelakaan itu yang terjadi tepat dihadapannya.


"Kak,, Ael mohon, lupakan Ael, Ael harap Kakak menemukan yang terbaik dari Ael, lupakan Ael, Ael tidak ingin Kakak menderita hanya karena Ael".


Sementara disatu sisi Nita menunggu Hakam didepan ruang operasi, tak beberapa lama kemudian Ayah Hakam datang untuk melihat kondisi anaknya.

__ADS_1


Ayahnya sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, beberapa hari yang lalu Hakam pergi dari rumah, menurut perkataan dari istrinya Hakam sedang mencari pekerjaan yang baru.


Setelah beberapa hari kemudian Hakam mampu melewati masa masa kritisnya, dan ia terbangun dari tidur panjangnya, hal pertama yang ia cari adalah keberadaan dari Rahel.


"Bu, dimana Rahel?". Tanya Hakam kepada Ibunya.


Dan disaat itu juga Ayahnya sedang pergi bekerja, sehingga Ayahnya tidak mengetahui tentang siapa itu Rahel yang hubungan apa yang dimiliki putranya dengan wanita itu.


"Dia pergi dengan laki laki lain Nak, dia pergi meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, sudahlah jangan bahas dia lagi".


"Tidak!! Rahel tidak seperti itu, Ibu pasti berbohong kan? Aku mau Rahel ada disini".


"Untuk apa Ibu berbohong kepadamu Nak, buktinya ia tidak ada disini kan?".


"Ngak!! Ngak!! Aku mau cari Ael, Rahel sudah janji kepadaku, ia tidak akan pernah meninggalkanku, Ngak!! Rahel hanya milikku".


Ibunya segera memberi Hakam minuman yang telah dicampur minuman yang ia dapatkan dari dukun untuk melupakan sosok Rahel dalam hidup anaknya.


Hal itu mampu membuat anaknya melupakan sosok Rahel untuk sementara waktu, setelah Hakam keluar dari rumah sakit dan tubuhnya kembali sehat seperti semula, Hakam masih mengonsumsi minuman tersebut tanpa dirinya sadari.


Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena terlalu sering diberikan minuman itu membuat jiwa Hakam menjadi lemah, dan akhirnya merubah dia menjadi gila mendadak.


Melihat anaknya seperti itu membuat dirinya begitu marah kepada Rahel, ia tidak terima jika anaknya mengalami kegilaan seperti ini, akhirnya ia menelusuri dimana keberadaan Rahel selama ini.


Sementara disatu sisi Rahel begitu senang ketika ia mendengar kabar dari seorang satpam yang menjaga rumah sakit dimana Hakam dirawat mengatakan bahwa Hakam sudah diperbolehkan untuk pulang beberapa hari yang lalu.


Rahel pulang kerumahnya dengan bahagia, ia juga membelikan Adiknya makanan untuk mereka makan siang ini.


"Dek? Kakak bawa makanan nih, ayo makan".


Ucap Rahel sambil membuka bungkusan yang telah ia beli sebelumnya, akan tetapi tidak ada sahutan dari Adiknya, Rahel segera bergegas mencari Adiknya kesekelilingnya rumahnya tetapi tidak menemukan juga.


"Dek? Adek dimana? Jangan bikin Kakak cemas dong, Dek??".


Rahel begitu cemas ketika melihat Adiknya tidak ada dirumah, ia sudah mencari kemana mana tetapi tidak ia temukan juga, ia menemukan selembar kertas dibawa mejanya dan segera membukanya.


Isi surat itu adalah sebuah acaman yang ditujukan kepadanya, jika dia berani mendekati Hakam lagi maka Adiknya akan celaka karena itu, Rahel tau betul bahwa surat itu dibuat oleh Ibu dari Hakam.


Itu artinya Adiknya saat ini sedang berada ditangan orang itu, dan akan dicelakai setiap saat jika Rahel mendekati Hakam, tak beberapa lama kemudian datanglah 3 orang laki laki kerumahnya.


"Siapa kalian!!".


"Sttt... Jangan teriak teriak seperti itu cantik, nanti tenagamu habis sia sia".


"Keluar kalian dari sini!!".


"Ayoyo.. galak kali kau ini, jangan galak galak, mari kita bersenang senang".


"Tidak!!!".


Rahel segera berusaha untuk keluar dari rumah tersebut, dan berlari menjauhi tempat itu, begitupun dengan ketiga orang laki laki itu yang terus mengejar Rahel, mereka ingin melecehkan Rahel atas perintah dari seseorang.


Rahel terus berlari menghindar dari ketiga orang itu, ia tidak tau lagi harus bagaimana untuk menghadapi ketiganya, tanpa ia sadari bahwa ia berlari memasuki hutan yang begitu jauh dari tempat dia tinggal.


Ketiga orang itu adalah suruhan dari Nita, ia ingin membuat hidup Rahel hancur seperti kehidupan anaknya, ia tidak akan membiarkan Rahel hidup bahagia walaupun hanya sesaat.


Kejar kejaran itu berlangsung cukup lama didalam hutan tersebut, Rahel dengan nafas yang tersengal sengal memaksakan diri untuk terus berlari menjauhi dari para pria yang tengah mengejarnya saat ini, ketika Rahel sudah tidak mampu lagi untuk berlari tiba tiba Rahel terjatuh.


"Akh... ".


Rahel terjatuh karena beberapa ranting membuatnya terjatuh, dan ketiga pria itu berhasil menangkap Rahel dan memaksa Rahel untuk memuaskan nafsu mereka, akan tetapi Rahel tidak tinggal diam begitu saja.


Rahel dengan sesegera mungkin mengambil sebuah batu yang cukup besar yang berada tidak jauh darinya, ia segera memukulkan batu tersebut kepada kepalanya sendiri hingga mengeluarkan darah yang begitu deras mengalir.


Awalnya ketiga pria itu mengira bahwa Rahel akan melawan ketiganya dengan batu yang ada ditangannya saat itu, akan tetapi dugaan mereka salah besar, justru Rahel membuat dirinya sendiri menderita dengan rasa sakit akibat batu tersebut.


****Terima kasih atas dukungannya****

__ADS_1


__ADS_2