
Nadhira dapat mendengar isak tangis yang bi Ira keluarkan hanya untuk memohon agar Rendi melepaskan Nadhira dan mengampuni nyawa Nadhira, bi Ira tidak ingin kehilangan sosok anak yang seperti Nadhira yang selalu menghormatinya, Nadhira mengingatkannya dengan sahabatnya yang telah lama pergi entah kemana, sampai saat ini sahabatnya tersebut tidak pernah memberinya kabar sama sekali.
Terakhir kali sahabatnya memberikan kabar ketika sahabat akan menikah dengan seseorang yang telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengannya, bi Ira belum sempat datang ke pernikahan itu karena jaraknya begitu jauh dari tempat ia tinggal setelah kejadian itu ia dan sahabatnya tidak pernah bertemu, tetapi sesekali keduanya saling memberi kabar melalui sebuah surat.
Tetapi setelah 16 tahun terakhir sahabatnya tidak pernah mengiriminya surat hingga sekarang keduanya tidak pernah berkomunikasi, bi Ira sering mengirim surat kepada sahabatnya tetapi ia tidak pernah menerima surat balasan dari sahabat.
Nadhira masih tetap memejamkan matanya dihadapan papanya, Nadhira dapat merasakan bahwa pisau yang ada dilehernya tengah bergetar karena tangan Rendi yang tidak bisa berhenti untuk bergetar hebat.
Melihat seorang gadis yang begitu pasrah dihadapannya saat ini membuatnya merasa begitu bimbang untuk mengambil keputusan yang tepat untuk menghadapi masalah ini, Rendi seketika teringat ketika pertama kali ia menggendong bayi yang baru lahir, bayi itu tidak lain adalah Nadhira.
Ketika itu Rendi dan Lia lah yang menemani Nadhira untuk tumbuh dewasa, ketika Nadhira terjatuh karena belajar berjalan Rendi merasa begitu khawatir sementara Lia dengan siaganya segera menolong Nadhira dan membuatnya bangkit kembali.
"Nadhira mohon sama papa, segera lakukan itu jangan biarkan Nadhira menunggu terlalu lama pa, Nadhira sudah siap memberikan nyawa Nadhira kepada papa, Nadhira sangat ikhlas mengenai hal itu, jangan biarkan Nadhira terus menanggung rasa bersalah seperti ini pa". Ucap Nadhira yang menyadarkan lamunan dari Rendi.
"Tuan aku mohon jangan ambil nyawa Nadhira". Bi Ira menangis melihat Nadhira yang begitu pasrahnya.
"Tidak!!! Jangan bunuh gadis kecil itu, bagaimana aku bisa menolongnya sementara aku sendiri tidak bisa merasuki tubuhnya". Teriak Nimas tetapi tidak dapat didengar oleh siapapun.
Rendi hanya bisa berdiam diri, ia tidak sanggup untuk melakukan hal itu terhadap Nadhira, Nadhira merlahan lahan membuka kedua matanya yang mulai memerah karena tangisannya, hal pertama yang ia lihat adalah mata papanya yang mulai berair, Rendi ikut menangis disaat itu.
Nadhira melirik kearah pisau itu yang masih berada dileher Nadhira saat ini, Nadhira menelan ludah dengan susah payah, tidak ada kata kata yang mampu keluar dari mulut Rendi, sementara bi Ira tengah terduduk dilantai yang tidak jauh dari Nadhira yang tengah berdiri dihadapan papanya.
"Bukankah papa sangat menginginkan nyawa Nadhira?". Tanya Nadhira dengan senyumannya. "Maka ambillah pa, Nadhira janji Nadhira tidak akan melawan papa yang ingin mengambil nyawaku, jika papa tidak percaya maka papa bisa mengikat kedua tangan Nadhira".
Nadhira mengarahkan kedua tangannya kehadapan Rendi, Rendi hanya melihatnya sekilas dan pandangannya kembali terarah kepada wajah Nadhira yang sudah mulai pucat dengan kedua matanya yang juga mulai memerah, bibir Nadhira tidak berhenti bergetar setelah mengucapkan hal itu.
"Mas aku pu.....".
Tak beberapa lama kemudian Sena dan Amanda baru saja pulang dari belanja, keduanya begitu terkejut ketika baru pertama kali membuka pintu rumah tersebut, diruang tamu Rendi tengah mengarahkan sebuah pisau dileher Nadhira, sementara Nadhira masih tetap berdiri dengan pasrahnya.
Sena juga melihat kearah dimana pembantunya berada yang tengah menangis dengan terduduk dilantai rumah tersebut, Amanda segera memeluk tangan Sena karena ia begitu takut melihat papanya yang membawa sebuah pisau yang diarahkan kepada Nadhira.
Kedatangan keduanya membuat senyuman diwajah Nadhira mulai berkembang, Sena segera melepaskan belanjaannya dan berlari kearah suaminya, Sena memeluk lengan suaminya yang tidak membawa pisau, ia juga menatap kearah Nadhira yang kini tengah tersenyum dengan lebarnya meskipun airmatanya mengalir.
"Kebetulan sekali mama sudah pulang, aku ingin mama menjadi saksi bahwa aku ikhlas kehilangan nyawa ditangan papa, jika ada pihak berwajib yang nantinya akan menangkap papa, aku harap mama bisa membebaskan papa dari hukuman, karena ini bukan salah papa, melainkan karena keinginanku untuk mati ditangan papa".
"Apa yang kau katakan Nadhira". Ucap Rendi dengan gemetaran.
"Mama aku pinjam hp mama, untuk merekam apa yang ingin aku bicarakan".
"Apa yang kau inginkan Dhira? Mas tolong jangan lakukan itu". Ucap Sena menanggapi ucapan Nadhira.
Jika Nadhira sampai mati dihadapannya saat ini, hal itu tidak akan berujung baik bagi Sena, bisa saja usaha yang selama ini ia lakukan akan menjadi sia sia karena kepergian dari Nadhira.
Sena pun ikut terkejut ketika melihat sebuah luka goresan dileher Nadhira yang mulai mengeluarkan darah, luka itu berada dibeberapa senti dari mata pisau yang dipegang oleh Rendi saat ini. Sena menduga bahwa luka itu disebabkan oleh Rendi dengan menggunakan pisau tersebut, tetapi anehnya pisau itu tidak berlumuran darah.
__ADS_1
Sena melakukan hal yang diinginkan oleh Nadhira dengan cara merekam kejadian itu atas permintaan dari Nadhira, sementara Amanda masih terpaku diposisinya yang sama, ia tidak ingin melihat darah karena kejadian itu, sehingga ia menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya sambil berjongkok dilantai.
"Sudah ma?".
"Sudah".
"Aku Nadhira Novaliana Putri, dengan sepenuh hati mengatakan bawa aku memberikan nyawaku kepada papa Rendi, aku tidak ingin masalah ini sampai dipengadilan, saya mengaku bahwa hal ini adalah kemauan dari diri saya sendiri".
"Apa yang kau katakan Nadhira!!!". Teriak Rendi.
Melihat suaminya yang berteriak membuat Sena segera mematikan rekaman yang ada di hpnya tersebut, Rendi terlihat begitu marah sehingga membuat Nadhira memejamkan kedua matanya untuk segera menerima tebasan tersebut.
"Maafkan aku, maafkan semua kesalahan yang telah aku lakukan, terima kasih kepadamu Rifki karena kau selalu ada untukku, mungkin hari ini adalah pertemuan terakhir kita, terima kasih atas semuanya". Batin Nadhira menjerit.
Nadhira memejamkan matanya dengan erat tetapi airmatanya terus mengalir membasahi kedua pipinya, ia begitu pasrah apabila papanya mengambil nyawanya, dapat terdengar isak tangis dari mulut Nadhira dan bibir yang terus terbuka dan tertutup tetapi tidak ada satu kata pun yang dapat keluar dari mulutnya.
Rendi segera menarik pisau yang ada ditangannya tersebut, setelah itu ia seperti seakan akan akan mengayunkan pisau itu keleher Nadhira dengan begitu cepatnya.
"Arghhhh.... ". Teriak Rendi.
"NADHIRA!!!". Bi Ira dan juga Sena berteriak bersamaan sambil memejamkan mata mereka.
"Allahu Akbar". Teriak Nadhira.
Nadhira mengerutkan dahinya ketika mendengar suara sesuatu seperti benda yang dilemparkan dan membuat sebuah kaca pecah tetapi dirinya sama sekali tidak merasa sesuatu yang mengenai dirinya, ia hanya merasakan sebuah udara dingin menabrak dirinya.
Rendi tidak bisa melukai Nadhira begitu saja, ia tidak ingin kehilangan Nadhira sehingga Rendi melemparkan pisau tersebut kearah cendela dengan begitu kerasnya dan membuat kaca cendela itu pecah seketika, cara Rendi melemparkannya membuat sebuah udara berhembus sehingga membuat Nadhira merasa hawa dingin.
Nadhira masih memejamkan kedua matanya, tiba tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh kedua bahu Nadhira, tangan itu menariknya dan Nadhira merasakan seseorang tengah memeluknya dengan erat untuk saat ini sehingga membuat Nadhira meneteskan airmatanya.
"Maafkan papa nak, papa tidak akan sanggup untuk melakukan hal seperti itu, maafkan papa, karena papa sudah bersikap jahat kepadamu selama ini nak". Bisik Rendi ditelinga Nadhira.
Mendengar bisikan tersebut membuat Nadhira membuka kedua matanya dan melihat papanya tengah memeluknya dengan erat, pelukan itu tidak pernah Nadhira rasakan selama ini, airmata Nadhira menetes dibaju Rendi, ia begitu sangat bahagia ketika papanya memeluknya seperti ini.
Dengan lemasnya Nadhira menggerakkan tangannya untuk memeluk Rendi kembali, Nadhira menangis sejadi jadinya dipelukan papanya, baru kali ini Nadhira merasakan pelukan itu begitu hangatnya seakan akan hal itu adalah sebuah mimpi.
Terdengar isak tangis dari keduanya membuat bi Ira membuka matanya dan menemukan bahwa ayah dan anak itu tengah berpelukan, hal itu membuat hatinya merasa bahagia karena Rendi memeluk Nadhira dengan eratnya seakan akan Rendi tidak ingin berpisah dengan Nadhira.
"Hiks... Hiks... Kenapa papa menginginkan nyawaku? Kenapa papa mengatakan hal seperti itu, aku merasa aku sudah tidak pantas lagi untuk hidup didunia ini, apa papa tau? Aku begitu sedih ketika mendengar papa mengatakan hal hal seperti itu hiks... Hiks...". Ucap Nadhira sambil terisak tangisnya.
"Maafkan papa nak, papa tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu, papa janji papa akan menjadi orang tua yang terbaik untuk Nadhira, maafkan papa, papa mohon jangan lakukan hal seperti itu lagi, sebenarnya papa sangat menghawatirkanmu nak, karena melihatmu masuk kedalam mobil orang yang sama sekali tidak papa kenali".
"Apa papa sungguh menghawatirkan diriku?". Nadhira begitu senang ketika mengetahui bahwa papanya sangat menghawatirkannya.
"Kamu tau, papa sudah berjam jam menunggumu pulang nak, jangan pernah melakukan hal itu lagi, sungguh papa tidak bisa kehilangan dirimu, maafkan papa yang selama ini telah berubah, maafkan papa".
__ADS_1
"Papa ngak salah kok sama Nadhira, bagi Nadhira yang berlalu sudahlah berlalu, sekarang Nadhira begitu senang ketika mengetahui bahwa papa tengah menghawatirkan Nadhira, selama ini Nadhira berfikir bahwa papa sudah tidak mempedulikan Nadhira lagi".
"Maafin papa nak, papa salah, maafin papa".
"Papa jangan tinggalin Nadhira lagi".
Rendi memeluk Nadhira dengan erat seakan akan ia takut untuk kehilangan sosok seperti Nadhira, perlahan lahan Nadhira mulai menutup matanya dan tubuhnya mendadak begitu lemasnya, Nadhira melepaskan pelukan tersebut dengan pelannya, Nadhira mulai tidak sadarkan diri diperlukan sang ayah.
"Nadhira!! Kamu kenapa?". Seketika Rendi begitu terkejut ketika anaknya tidak sadarkan diri.
Rendi melepaskan pelukan tersebut, ia melihat bahwa Nadhira sudah tidak sadarkan diri, Rendi segera menyangga tubuh Nadhira agar Nadhira tidak terjatuh, Rendi menatap wajah Nadhira yang semakin pucat dilihatnya.
Rendi menyandarkan kepala Nadhira kepada dada bidangnya, ia mengusap poni Nadhira yang tengah menutupi wajah cantiknya, Rendi mengarahkan tangannya kepada luka yang ada dileher Nadhira yang mulai mengeluarkan darah lagi.
"Apa yang terjadi denganmu nak, maafin papa, papa tidak tau apa kesulitan yang kau alami selama ini, maafin papa". Guman Rendi begitu pelannya ditelinga Nadhira.
Rendi memeluk tubuh Nadhira dengan begitu eratnya, seakan akan ia merasakan sesuatu didalam hatinya, ia merasakan adanya ikatan batin yang begitu kuat antara dirinya dan Nadhira, tetapi jika bersama Amanda ia tidak akan merasakan sesuatu seperti sekarang ini, tetapi yang jelas Amanda adalah anak kandungnya.
"Tuan, Nadhira kenapa?". Tanya bi Ira yang melihat Nadhira sudah tidak sadarkan diri.
"Dia hanya pingsan bi, aku akan membawanya kekamar, sekalian buatkan dia minuman hangat".
"Baik Tuan".
Rendi menatap wajah Nadhira dengan lekatnya, bagaimana mungkin ia tidak tau mengenai luka sayatan dileher anaknya tersebut, setelah itu Rendi mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya menuju kekamar Nadhira.
Sesampainya ia dikamar Nadhira, ia segera membaringkan tubuh Nadhira kekasur, dan menata selimut untuk menyelimuti Nadhira, ia juga duduk disampingnya sambil memberikan minyak kayu putih dihidung Nadhira, agar Nadhira terbangun dari pingsannya.
"Papa, jangan tinggalin Dhira". Nadhira mengigau takut kehilangan papanya.
Rendi mengenggam erat tangan Nadhira. "Nak, papa disini, papa tidak akan meninggalkanmu, sadarlah".
Tak sengaja Rendi melihat kearah meja dekat dengan tempat tidur Nadhira, Rendi melihat ada bungkusan yang berisikan obat didalamnya, Rendi segera mengambil bungkusan itu dan memeriksa obat apa yang ada didalamnya.
Satu persatu Rendi membaca tulisan yang ada diobat itu, ternyata obat itu berguna untuk menghilangkan rasa nyeri untuk luka luar, membuat luka agar mudah mengering dan mengobati luka memar.
"Sejak kapan ia mengonsumsi obat obatan seperti ini? Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya".
Rendi mengambil sebuah tisu untuk mengusap keringat Nadhira yang membasahi luka tersebut dengan pelannya, setelah itu Rendi menuangkan sebuah salep keluka Nadhira dengan pelan pelan, ia juga mengusap luka ditangannya karena pisau itu telah menyayat tangannya sendiri ketika ia melemparkan pisau tersebut.
Luka itu begitu perihnya ketika bersentuhan dengan salep tersebut, Rendi sampai tidak tahan dengan perihnya ia lalu meniup luka yang ada ditangannya untuk menghilangkan rasa perih tersebut.
"Bagaimana kamu bisa tahan nak dengan luka seperti itu, aku tidak peduli siapapun ayah kandungmu yang sebenarnya, yang aku tau kau adalah anakku".
Rendi mengenggam erat tangan Nadhira dan beberapa kali mencium tangan Nadhira, Rendi berharap Nadhira segera sadar dari pingsannya, ia merasa tidak tega melihat Nadhira seperti itu, tetapi dihatinya ia begitu bimbang kenapa ia merasakan hal itu ketika ia bersama dengan Nadhira tetapi berbeda ketika ia bersama dengan Amanda.
__ADS_1