Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Apakah aku sudah diakhirat?


__ADS_3

Nadhira tersenyum kepada Rendi saat itu, seraya berkata, "Untuk apa Dhira bertahan jika Papa tidak ingin melihat Nadhira lagi hidup didunia ini, hidup Dhira sudah tidak lama lagi Pa, Dhira merasa bahagia ketika melihat Papa selamat sebentar lagi Dhira akan pergi untuk menyusul Mama".


"Tidak Nak, kau harus bertahan, Papa mohon jangan tinggalkan Papa seperti ini Nak, kembalilah Dhira, Papa tau kau pasti sangat kecewa dengan Papa tapi Papa mohon kembalilah Nak, hanya dirimu yang Papa punya Dhira, jangan tinggalkan Papa".


"Papa tidak akan sendiri, masih ada Amanda yang akan menemani Papa selama aku tiada, Dhira sudah tidak bisa lagi bersama sama dengan Papa, maafkan Dhira Pa, Dhira sangat menyayangi Papa".


"Papa tau, kau pasti sangat kecewa dengan sikap Papa selama ini, apa yang harus Papa lakukan agar kau kembali bersama Papa, katakan kepada Papa, Dhira"


"Papa tidak perlu melakukan apa apa untuk meminta maaf kepada Dhira, karena Dhira sudah memaafkan kesalahan Papa sebelum Papa meminta maaf kepada Dhira, Dhira hanya mengikuti kemauan Papa".


"Jangan tinggalkan Papa Dhira, Papa menyesal karena telah melakukan hal itu kepadamu dan menyuruhmu untuk meminum racun itu".


Nadhira nampak tersenyum dengan lembut kearah Rendi dan berkata, "Waktuku sudah habis Pa, Dhira pamit pulang, terima kasih atas segalanya yang telah Papa berikan kepada Dhira selama ini". seiring tubuhnya yang perlahan lahan mulai memudar.


"Jangan tinggalkan Papa, Dhira"


Rendi menangis sejadi jadinya ketika tubuh Nadhira perlahan lahan mulai memudar dari hadapannya, dan akhirnya tubuh Nadhira hilang dari pandangannya, kini yang ia ingat hanyalah senyum Nadhira sebelum Nadhira menghilang.


"Dhira!"


Tiba tiba Rendi terbangun dari tidurnya dengan keringat yang telah membasahi seluruh tubuhnya, nampaklah Amanda yang tengah duduk disampingnya dengan mencoba untuk mengompres tubuh Rendi.


"Papa sudah bangun, Papa kenapa teriak teriak seperti itu dan juga badan Papa terasa sangat panas, apa Papa sakit?"


"Dimana Dhira? Aku harus bertemu dengannya, dia tidak boleh pergi".


"Kemana kita akan mencari dia? Dia telah dibawa oleh orang orang itu pergi entah kemana".


"Aku harus pergi mencari dia!" Ucap Rendi dan langsung bergegas untuk berdiri.


"Tidak Pa, aku tidak akan membiarkan Papa pergi dalam kondisi seperti ini" Ucap Amanda dan langsung bergegas menyusul Rendi.


Rendi berlari keluar rumahnya dengan sempoyongan karena Rendi sedang demam tinggi, Amanda terus berlari mengejarnya karena dirinya takut Rendi kenapa kenapa karena sakitnya itu.


"Pa berhenti, Papa sedang sakit"


"Aku harus menyusul Dhira, Dhira tidak boleh pergi meninggalkan diriku"


Tepat di pintu depan rumahnya, Rendi tiba tiba terjatuh karena rasa pusing yang ia rasakan saat ini, hal itu membuat Amanda bergegas mendatanginya dan mengajak Rendi untuk kembali kekamarnya.


"Aku tidak mau masuk, aku harus menyusul Dhira, Dhira tidak boleh pergi".


"Tidak Pa, aku tidak akan mengizinkan Papa untuk pergi, Papa masih sakit saat ini".


Amanda terus memaksa Rendi untuk masuk kedalam kamarnya dengan cara paksa, ia tidak suka jika melihat Rendi terus memikirkan tentang Nadhira, gadis yang membuat Mamanya pergi meninggalkan dirinya seperti ini.


"Tidak Manda, aku ingin bertemu dengan Dhira"


"Ini sudah Malam Pa, Papa juga tidak tau kemana mereka membawanya pergi, kalau pun ketemu apa mereka akan mengizinkan Papa untuk menemui gadis sialan itu".


"Manda! Dhira adalah Kakakmu, tidak pantas kau mengatainya seperti itu".Suara Rendi yang mulai meninggi didepan Amanda.


"Manda tidak pernah menganggap dia sebagai Kakak sampai kapanpun itu, bagi Manda, Dhira adalah orang yang paling Manda benci, dia merebut semuanya dariku Pa, dan gara gara dia, aku pernah hampir celaka"


Suara Amanda tidak kalah tinggi daripada Rendi, Amanda terus memaksa Rendi untuk masuk kedalam rumah tersebut, melihat itu membuat Rendi merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh Amanda kepadanya.


Dan bahkan sampai saat ini,. Nadhira tidak pernah memperlakukan Rendi sedemikian rupanya, kedua putrinya itu memiliki watak yang berlawanan satu sama lain.


*****


Nadhira terbaring tidak berdaya didalam sebuah ruangan dengan selang yang terpasang ditubuhnya itu, berbagai macam obat telah diberikan kepada Nadhira melalui selang infusnya.


Tiba tiba seorang wanita yang berpakaian seperti suster berlari masuk kedalam ruangan tersebut dengan terburu buru, suster tersebut tidak memperhatikan Reno dan David yang terus bertanya kepada dirinya.


"Bagaimana Sus?" Tanya seorang dokter yang tengah menangani Nadhira.


"Kami berhasil menemukan penawarnya Dok" Ucap sang suster dengan sebuah kelegaan.


"Alhamdulillah, mana penawarnya? Biar aku bisa memberikannya kepada pasien".


"Ini Dok" Ucapnya sambil menyerahkan sebuah botol kecil kepada dokter tersebut.


Dokter tersebut segera memasukkan cairan penawar itu pada suntikan dan menyuntikkannya kedalam tubuh Nadhira.


"Kita tunggu reaksinya, jika masih tetap sama, maka kita tidak bisa menyelamatkannya, karena kondisinya semakin melamah setiap detiknya" Ucap sang dokter.


"Kita harus bisa menyelamatkannya Dok".


"Kita harus berusaha untuk menyelamatkan nyawa gadis ini, kita tunggu beberapa menit lagi, jika tidak ada reaksi dari penawar itu, kita harus mencari penawarnya lagi".


"Iya Dok".


Setelah menunggu reaksi dari penawar racun itu cukup lama didalam ruangan ICU, akhirnya kondisi Nadhira semakin membaik dan mampu melewati masa kritisnya itu karena penawar itu berhasil menetralkan racun yang ada didalam tubuh Nadhira saat ini.

__ADS_1


Dokter dan para suster tersenyum bahagia karena usahanya tidak sia sia untuk menyelamatkan nyawa Nadhira, dengan keringat yang membasahi tubuh mereka bercampur dengan air mata bahagia karena usaha mereka tidka sia sia, mereka menjatuhkan tubuhnya kelantai dengan perasaan lega.


"Sus tolong beritahu kepada keluarga pasien, bahwa pasien sudah melewati masa kritisnya" Ucap dokter seraya bangkit dari duduknya.


"Baik Dok".


Suster tersebut segera berjalan keluar dari ruangan, ketika dirinya membuka pintu itu, dirinya langsung disambut oleh dua orang lelaki dihadapannya, keduanya adalah Reno dan David yang terus menanti perkembangan dari kondisi Nadhira.


"Bagaimana Sus? Apa Nadhira baik baik saja?" Tanya Reno ketika melihat seorang suster keluar.


"Alhamdulillah Pak, pasien berhasil melewati masa kritisnya, kami akan segera memindahkannya kedalam ruang rawat agar pasien bisa beristirahat dengan nyaman".


"Alhamdulillah, Allah masih menyayangi Dhira" Ucap David dengan rasa bahagianya.


"Alhamdulillah Om, aku harus memberitahukan hal ini kepada Bi Ira, dia pasti akan merasa senang" Ucap Reno dan segera bergegas menuju keruang tempat mereka menidurkan Bi Ira karena pingsannya.


"Iya Nak"


Tepat disaat Reno memasuki ruangan itu, Bi Ira sudah sadarkan diri dari pingsannya, melihat Reno yang memasuki ruangan membuat Bi Ira segera bergegas untuk bangkit dari tidurnya.


"Bagaimana keadaan Nadhira?" Tanya Bi Ira.


"Dhira baik baik saja Bi, dia sudah berhasil melewati masa kritisnya, Bibi istirahatlah, Bibi pasti cape kan?"


"Tidak, aku ingin bertemu dengan Nadhira, bawa aku kesana untuk menemuinya".


"Bibi tenang dulu, ada Om David yang menjaganya saat ini, sekarang yang terpenting adalah istirahatlah dengan baik, ini sudah larut malam Bi, tidak baik jika Bibi terus berjaga seperti ini, Reno datang kemari hanya untuk memberitahu Bibi bawa Nadhira baik baik saja agar Bibi bisa beristirahat".


"Tapi aku ingin bertemu dengan dia, aku mohon"


"Bibi bisa bertemu dengannya besok pagi, karena Nadhira masih dalam tahap penanganan, aku akan kesana untuk menemani Om David, kalau ada kabar tentang Nadhira aku akan segera memberitahukan hal itu kepada Bibi, sekarang Bibi istirahatlah".


"Tapi Nak..."


"Percayakan semuanya kepadaku Bi, Dhira pasti baik baik saja".


"Kau yakin?"


"Iya Bi".


Menjelang pagi Nadhira sudah dipindahkan ke ruang rawat, akan tetapi Nadhira belum juga sadarkan diri, masih ada selama oksigen yang terpasang rapi pada hidungnya.


Nadhira mulai mengernyitkan dahinya karena hidungnya merasa tidak nyaman karena adanya selang oksigen yang terpasang disana, ia juga merasa nyeri dibagian tangannya yang terpasang infus dan juga beberapa bagian tubuhnya yang terkena suntikan obat.


Pandangan Nadhira seakan akan terasa begitu buram sehingga dirinya tidak terlalu jelas ketika memandang sekelilingnya, Nadhira juga merasakan bahwa sebuah tangan mengenggam erat tangannya.


"Dhira, kau sudah siuman Dek?"


Terdengar suara seorang perempuan disebelah Nadhira akan tetapi Nadhira tidak mampu melihatnya dengan jelas, suara itu terasa tidak asing bagi Nadhira seakan akan Nadhira mengenali suara tersebut dengan sangat jelas.


"Siapa?" Suara Nadhira lirih.


"Om tolong panggilkan dokter, Dhira sudah siuman".


"Iya Nak".


Nadhira mengernyitkan dahinya ketika dirinya mendengar beberapa orang sedang berbicara didekatnya akan tetapi dirinya tidak mampu untuk membuka matanya karena efek cahaya yang mampu membuatnya silau.


Nadhira terbaring tidak berdaya diatas kasur rumah sakit, Nadhira mencoba untuk memahami ucapan orang orang yang ada disekitarnya saat ini, entah apa yang mereka bicarakan hal itu membuat Nadhira tidak terlalu mengerti apa yang tengah orang orang itu bicarakan saat ini.


"Akhirnya kau bangun juga dari pingsanmu Dhira, kau membuatku lelah semalaman".


"Nimas, apakah itu kamu?" Batin Nadhira.


"Iya Dhira, ini aku Nimas, untung saja racun itu tidak membuatmu lupa ingatan juga".


"Kapan aku hilang ingatan karena racun? Kemarin kan hanya pura pura, kenapa disini berisik sekali? Siapa mereka?"


"Mereka adalah keluargamu Dhira"


"Keluargaku? Kenapa aku sama sekali tidak mengenali suara mereka? Apa mereka adalah keluargaku yang telah lama meninggal sehingga kita bisa bertemu diakhirat?"


Dokter pun segera datang untuk memeriksa keadaan Nadhira, dan memberikan beberapa suntikan kepada Nadhira melalui selang infusnya, Nadhira merasakan perih ketika obat obatan itu masuk kedalam tubuhnya melewati jarum infus itu.


"Bagaimana keadaanya Dok? Kenapa dia belum membuka matanya juga?" Tanya wanita itu dengan antusias kepada sang dokter.


"Butuh waktu untuk dirinya menyesuaikan pencahayaan disekitarnya, sebentar lagi dia akan sadarkan diri, kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya priksa".


"Iya Dok, terima kasih".


Dokter tersebut segera meninggalkan ruang rawat inap Nadhira, wanita itu kembali duduk disamping Nadhira dan memperhatikan setiap gerakan yang ditimbulkan oleh Nadhira.


"Nimas, apakah diakhirat juga ada dokter?"

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan Dhira? Bukalah matamu maka kau akan mengetahui semuanya".


"Aku tidak mampu untuk melakukan itu Nimas, rasanya seperti ada lem yang sangat kuat dikelopak mataku sehingga aku tidak bisa membukanya".


"Teruslah berusaha Dhira, kau pasti bisa melakukanya".


Nadhira terus berusaha untuk bisa membuka kedua matanya, meskipun itu berat akan tetapi dirinya sama sekali tidak menyerah sedikitpun dan terus berusaha sebisa mungkin untuk membuka matanya.


"Nimas kepalaku terasa sangat pusing lagi, mungkin aku akan hilang ingatan lagi" Batin Nadhira mengeluh.


"Berani kau hilang ingatan lagi, ku buat kau jadi berkeping keping, menyusahkan sekali".


"Aku kan suka membuatmu kesusahan".


"Barang siapa yang menyusahkan orang lain, maka hidupnya akan kesusahan".


"Emang kau adalah orang? Kau kan hantu".


"Diamlah Dhira! Buka matamu saja".


"Ngak bisa, seperti ada lem yang sangat kuat merekat disana".


"Dasar lemah, kenapa kau selalu mengeluh sih belakangan ini, beda dari Nadhira yang aku kenal".


"Kenapa kau tidak suka mendengarkan suaraku? Tutuplah telingamu itu, sejak Rifki pergi aku tidak punya teman bercerita lagi, hanya kau yang aku miliki sekarang Nimas, apa kau juga ingin pergi dariku? Pergilah, pergi yang jauh dariku".


"Kau mengusirku Dhira?"


"Bukannya kau yang ingin pergi? Aku tidak mau bangun lagi, aku ingin bertemu dengan Mama, kenapa takdir selalu mempermainkan diriku? Apa salah yang pernah aku lakukan selama ini? Kenapa takdir begitu kejam".


Nimas ingin sekali menjitak kepala Nadhira untuk menyadarkan dirinya mengenai ucapannya itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu untuk menyentuh tubuh Nadhira, mendengar suara suara yang ada disekitarnya membuat Nadhira perlahan lahan mulai membuka matanya.


"Kakak" Ucap Nadhira lirih ketika melihat gambaran wajah Nandhita disampingnya.


"Dhira kau sadar Dek, iya Dek ini Kakak"


Nandhita menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk adik satu satunya itu dengan sangat eratnya, ia merasa bahagia ketika mengetahui bahwa Nadhira sudah sadarkan diri sata ini.


"Apakah aku sudah diakhirat? Hingga aku bisa membayangkan bahwa akan bertemu kembali dengan Kak Dhita disini, dimana Mama Lia Kak? Aku ingin bertemu dengannya, bawa aku untuk menemuinya sekarang" Ucap Nadhira sambil berusaha untuk membuka matanya dengan lebar.


"Dek, apa yang kau katakan, kau masih berada didunia ini bersama Kakak".


"Bagaimana bisa? Bukannya aku sudah meminum racun itu, aku hanya ingin bertemu dengan Mama, aku ingin menemuinya, Mama pasti senang ketika melihatku datang menemuinya".


"Kau masih ada didunia Dhira, apa kau tidak merasakan pelukan Kakakmu ini?"


"Aku hanya merasa ingin minum, aku haus Kak" Ucap Nadhira dengan manjanya.


"Biar Kakak ambilkan minum untuk Dhira".


"Terima kasih Kak".


Nandhita tersenyum kepada Nadhira karena sifat manja Nadhira keluar, Nandhita membantu Nadhira untuk duduk bersandar setelah itu Nandhita segera mengambil gelas yang berisikan air putih dan membantu Nadhira untuk meminumnya.


"Dasar manja" Gerutu Nimas.


"Kenapa? Apa Kau iri? Syukurlah, aku suka membuatmu iri seperti ini" Batin Nadhira.


"Ngak biasa saja".


"Kau sudah bangun Nak?" Ucap Bi Ira yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.


"Ibu kau juga ada diakhirat? Bagaimana bisa?"


"Akhirat apa sih Nak? Kamu masih ada didunia".


"Yah, kenapa aku tidak jadi pergi, padahal aku sudah merasa bahagia sebelumnya" Ucap Nadhira dengan rasa kecewanya karena dirinya selamat.


"Kau memang aneh Dhira, mereka menangis sesenggukan hanya agar dirimu kembali kedunia ini, tapi kau justru malah cemberut seperti itu karena Tuhanmu masih menginginkan dirimu hidup" Gerutu Nimas ketika melihat Nadhira dengan wajah kecewanya itu.


"Diam kau! Jangan membuatku semakin pusing"


"Dhira apa yang kau katakan? Kakak tidak mengucapkan apapun" Ucap Nandhita kebingungan.


"Bukan Kakak yang bilang, tapi mahluk ini terus menggerutu didepanku" Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah ruang hampa.


"Tidak ada siapa siapa disini Dhira".


"Heyy... Kakakmu tidak bisa melihat diriku kali! Jangan lupakan hal itu"


...Repot ya kalau berurusan dengan Nimas hehe...


...Jangan lupa Like dan Komen Kakak🄰...

__ADS_1


__ADS_2