
Beberapa bulan kemudian, Nadhira dan Rifki dinyatakan lulus dari sekolah tersebut, hari ini adalah hari perayaan kelulusannya sehingga sekolahnya mengadakan sebuah acara Purnasiswa atau disebut dengan acara perpisahan dari sekolah.
Ada suka maupun duka bercampur menjadi satu disekolahan tersebut, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba juga disaat sudah mulai merasa nyaman dengan teman teman sekelasnya tiba tiba sebuah acara kelulusan memisahkan mereka semua.
Setelah mereka berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik dalam Ujian Nasional mereka dinyatakan lulus dari sekolah tersebut, kelulusan adalah hal yang dinanti nantikan oleh semua orang akan tetapi kelulusan juga adalah hal yang paling ditakuti bagi mereka karena akan adanya sebuah perpisahan.
Kali ini Nadhira dan yang lainnya berangkat kesekolah dengan berpakaian ala kelulusan, Nadhira memakai riasan wajah yang tipis akan tetapi mampu terlihat begitu cantik dan selaras dengan pakaiannya yang berwarna biru terang hal itu membuat Nadhira semakin cantik apalagi ditambah dengan gelang yang melingkar dipergelangan tangannya.
Sementara Rifki berangkat kesekolah dengan celana hitam bersepatu mengkilat berbaju putih dan berjas hitam, ada sebuah pita dikerah bajunya, dan terdapat sebuah buket bunga yang begitu indah ditangan kanannya.
Sebelum acara dimulai, Rifki segera mendatangi Nadhira yang duduk bersama dengan Rahma didepan pintu ruangan yang akan digunakan sebagai ruangan perpisahan.
"Happy graduation day for you Nadhira Novaliana Putri". Ucap Rifki sambil memberikan sebuah buket bunga kepada Nadhira.
"Terima kasih Rifki". Ucap Nadhira sambil menerima buket bunga tersebut.
"Ciee Dhira". Seru Rahma.
Melihat Rifki yang memberikan sebuah buket bunga kepada Nadhira membuat semua siswa yang ada ditempat itu segera menoleh kepada keduanya, banyak yang iri dengan hal itu apalagi Amanda yang berada dikejauhan dari tempat itu.
Amanda hanya bisa mengepalkan kedua tangannya ketika melihat Nadhira tersenyum kepada Rifki, sudah lama Amanda menyukai Rifki akan tetapi Rifki selalu menolaknya atau bahkan tidak menganggapnya ada.
Tidak ada seorang pun yang memberinya sebuah buket bunga dan tidak ada siapapun yang mengucapkan selamat kepadanya, karena sikap Amanda yang tidak disukai dikelasnya sehingga tidak ada yang mengucapkan kepadanya ataupun bahkan memberikan sebuah buket bunga kepadanya.
"Kenapa sih Nadhira harus mendapatkan semuanya! Seharusnya aku yang berhak mendapatkannya". Ucap Amanda dengan marahnya.
Rasa iri dan dengki selalu menyelimuti hatinya, seakan akan Amanda tidak terima jika Nadhira mendapatkan semuanya, apalagi mendapatkan kasih sayang dari orang yang ia cintai itu.
Akan tetapi bukan rasa cinta yang ia miliki melainkan sebuah hasrat untuk memilikinya, Amanda sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk membedakan mana cinta dan mana sebuah hasrat sehingga ia tidak mengetahui perasaan apa yang ia miliki untuk Rifki saat ini yang ada dihatinya hanyalah sebuah ambisi untuk mendapatkan Rifki.
Nadhira sangat senang karena mendapatkan sebuah buket bunga dan ucapan dari Rifki, tetapi dirinya juga sedih karena sebentar lagi Rifki akan pergi keluar negeri meninggalkannya, dan bahkan sampai sekarang Rifki tidak mengetahui bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata itu dari tubuh Nadhira.
Rahasia permata itu disimpan begitu rapatnya oleh Pangeran Kian sehingga tidak ada seorangpun yang tau bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata tersebut dari tubuh seseorang yang telah menelannya itu.
Rifki juga merasakan kesedihan dan tidak ikhlas untuk meninggalkan Nadhira dalam keadaan seperti ini, apalagi permata itu akan menjadi ancaman untuk Nadhira dikemudian hari, akan tetapi Nimas selalu meyakinkannya bahwa dirinya akan menjadi pelindung Nadhira selama Rifki pergi.
Rifki segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam ruangan tersebut, kedatangan Rifki yang menggandeng tangan Nadhira untuk masuk kedalamnya membuat semua orang menatap kearahnya apalagi dengan Nadhira yang membawa sebuah buket bunga ditangannya.
Wajah Nadhira yang menampakkan senyuman tipis dan berjalan bersama dengan Rifki membuat keduanya seperti seorang pengantin baru, meskipun itu diacara wisuda.
Keduanya segera duduk ditempat yang telah disediakan, Rifki memilih tempat duduk disebelah Nadhira, seakan akan Rifki tidak ingin jauh dari Nadhira meskipun hanya sebentar.
"Dhira, kamu cantik". Ucap Rifki kepada Nadhira.
"Makasih". Jawab Nadhira yang merasa malu karena pujian yang dilontarkan oleh Rifki.
"Tapi kenapa harus ada kesedihan didalamnya?". Tanya Rifki menatap kearah Nadhira.
Sedari tadi Nadhira tengah menahan tangisnya, karena pertanyaan Rifki sebulit air mata lolos dari pelupuk matanya, Rifki segera menghapus air mata itu menggunakan ibu jarinya.
"Kamu masih memikirkan tentang kepergianku?". Tanya Rifki kepada Nadhira yang dibalas anggukan olehnya.
"Jangan nangis ya, aku akan secepatnya kembali ketanah air, kamu tidak akan sendirian kok, Bayu dan yang lainnya juga akan menemanimu nantinya, aku harap setelah kepergianku kamu akan baik baik saja sampai aku kembali, kita kan masih ada waktu bersama untuk beberapa hari kedepan".
"Entah mengapa aku hanya takut kamu pergi meninggalkanku untuk saat ini, aku juga tidak bisa menghentikan kepergianmu Rif". Ucap Nadhira pelan dengan mata yang berkaca kaca.
"Aku akan secepat kembali untukmu Dhira, aku hanya minta kepadamu jangan pernah lepaskan gelang ini, karena Raka ada didalamnya, dia akan menjagamu untukku, maafkan aku, hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang, maafkan aku Dhira, maafkan aku aku harus pergi". Ucap Rifki yang berulang ulang kali meminta maaf kepada Nadhira.
__ADS_1
Beberapa tetes air matanya mampu lolos dipelupuk mata Nadhira, Rifki terus mengusapinya, suasana perpisahan membuat Nadhira sangat merasa sedih, apalagi beberapa anak sedang menyanyikan sebuah lagu perpisahan khas perpisahan sekolah.
Nadhira hanya bisa mengigit bibirnya agar tangisnya tidak mengalir begitu deras, perpisahan kali ini begitu membekas dihati Nadhira, bukan hanya berpisah dengan teman sekelasnya dirinya juga berpisah dengan sosok seorang pemuda yang sangat berarti baginya yang selalu menemaninya disaat suka maupun disaat duka.
Melihat Nadhira yang menahan tangisnya, membuat hati Rifki terasa seperti tersayat sayat, entah mengapa disaat melihat Nadhira sedih dirinya ikut sedih akan tetapi ketika melihat Nadhira senang dirinya begitu bahagia.
"Ketika aku kembali nanti, aku tidak ingin melihatmu cengeng seperti ini lagi, ingat itu". Ucap Rifki sambil mencubit hidung Nadhira.
"Auh... Sakit tau Rif". Keluh Nadhira ketika hidungnya dicubit oleh Rifki, hal itu membuat Rifki tertawa.
"Kenapa? Mau mukul? Silahkan mau mukul sebelah mana, disini, disini, atau disini?". Tanya Rifki ketika melihat Nadhira mengangkat tangannya, Rifki menunjuk kearah pipinya, pinggangnya, dan yang terakhir adalah dada bidangnya.
"Akan ku pukul jantungmu!".
"Kenapa ngak hati saja? Kalo jantung nanti aku mati".
"Jangan mati, aku ngak mau itu terjadi, aku harap Allah memanggilku sehari sebelum dirimu, bahkan sehari saja aku tidak akan mampu tanpa kehadiranmu".
"Kenapa kamu meminta kepada Allah seperti itu?".
"Karena aku tidak ingin kehilanganmu, jika aku yang pergi terlebih dahulu, aku tidak akan merasakan kehilangan dirimu".
"Jangan katakan seperti itu Dhira, kita tidak akan tau takdir Allah akan seperti apa nantinya, jangan pernah menganggapku adalah segalanya bagimu, agar ketika kita tidak ditakdirkan bersama kamu tidak akan terluka begitu dalamnya". Ucap Rifki sambil menghapus air mata Nadhira.
"Meskipun nantinya kita tidak akan bisa bersama lagi, aku akan mencoba untuk mengikhlaskan semua yang akan terjadi dikemudian hari, meskipun nantinya aku yang akan terluka dan aku tidak ingin kamu menanggung semua sakitnya".
"Sejuta luka mampu kamu tahan seorang diri akan tetapi tidak dengan sakitnya, kamu berhak untuk bahagia Nadhira, apapun pilihanmu nantinya, aku akan selalu mendukungnya".
Nadhira menatap kearah Rifki dengan kedua mata yang sedikit membengkak karena menangis, sementara Rifki memandang kearah Nadhira dengan tatapan yang begitu lembutnya.
"Setelah 7 tahun itu jika Allah berkehendak, insya Allah aku akan datang untuk menemui kedua orang tuamu pada saat itu juga".
Riasan diwajah Nadhira sedikit luntur karena menangis, akan tetapi Nadhira masih terlihat begitu cantiknya dengan pakaian berwarna biru terang tersebut.
Acara perpisahan pun dimulai, seluruh siswa menampilkan bakat mereka masing masing diatas panggung hiburan tersebut, ada yang menyanyi, menari, teater, berpuisi dan lain sebagainya untuk menghibur para peserta yang datang.
Dan diacara seperti itu, Nadhira lebih memilih untuk diwalikan oleh Bi Ira sesuai dengan keinginan Nadhira sendiri, sementara Amanda diwalikan oleh Sena dan Rendi, Nadhira terlihat begitu bahagia ketika berada didekat Ibu angkatnya tersebut daripada didekat keluarganya sendiri.
Ketika penerimaan sebuah tropi diatas panggung, Nadhira berdiri disamping Ibu angkatnya dengan wajah yang memancarkan sebuah senyuman yang begitu cantik dan bahagia.
Bi Ira merasa beruntung karena dapat menjadi wali murid untuk Nadhira, ia begitu bahagia dan sesekali menampakkan sebuah senyuman entah kepada siapa sedangkan ekspresi itu berbeda jauh dari wajah Rendi yang berada sedikit jauh dari mereka saat ini, Rendi terlihat begitu iri ketika melihat Nadhira begitu bahagianya bersama dengan pembantunya.
"Mengapa dia lebih bahagia dengan orang lain". Guman Rendi ketika melihat Nadhira tersenyum bahagia bersama dengan pembantunya.
"Apa yang kamu katakan Mas? Bukankah kamu juga adalah orang lain bagi anak itu? Dia bahkan bukan anak kandungmu, bisa jadi kan pembantu kita adalah ibu kandungnya sehingga mereka bisa merasa begitu dekat". Ucap Sena dengan sewotnya.
"Apa yang kau katakan! Nadhira adalah anakku".
"Kenyataannya dia bukan anakmu Mas!". Bantah Sena. "Aku harus memisahkan Rendi dengan anak itu secepat mungkin". Batin Sena menjerit.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu diacara seperti ini".
"Syukurlah akhirnya kau sadar juga".
Tanpa banyak kata, Rendi segera mengakhiri perdebatan itu, ia tidak ingin membuat perhatian seluruhnya terarah kepada keduanya dalam acara seperti ini, bagaimana kata orang nanti jika keduanya terus bertengkar diharapan semua orang seperti ini.
Belakang ini, Rendi dan Sena selalu saja bertengkar untuk masalah pribadi mereka, karena beberapa tahun membina hubungan keluarga, Sena belum juga memberikan keturunan untuk Rendi.
__ADS_1
Diatas panggung Rifki dinobatkan sebagai siswa terbaik peringkat pertama ditahun ini, begitupun Nadhira yang dinobatkan sebagai siswa terbaik kedua setelah Rifki, dan seorang gadis dari kelas lain juga menduduki peringkat ketiga sebagai siswa terbaik.
Mendengar nama Nadhira yang dipanggil kedepan dengan gelar siswa terbaik, membuat Rendi berdiri dari duduknya ketika hendak melangkah Bi Ira terlebih dahulu digandeng oleh Nadhira menuju keatas panggung tersebut untuk menerima tropi.
"Ada kata kata yang ingin disampaikan didepan semua orang Nak?". Tanya seorang guru yang menjadi pembawa acara dalam acara tersebut.
Nadhira mengangguk menjawab pertanyaan tersebut, guru itu segera mempersilahkan Nadhira untuk berbicara diatas panggung.
"Assalamualaikum". Ucap Nadhira.
"Waalaikumussalam". Jawab seluruhnya.
"perkenalkan nama saya Nadhira Novaliana Putri, saya disini hanya ingin menyampaikan banyak banyak terima kasih kepada sosok yang ada disamping saya". Nadhira menunjuk kearah dimana Bi Ira berdiri saat ini.
"Maafkan Dhira yang selalu membuatmu khawatir selama ini, maafkan Dhira karena Dhira telah menjadi seorang anak yang tidak patuh selama ini, meskipun dirimu bukanlah Ibu kandungku akan tetapi cinta dan kasih sayang selalu kau limpahkan untukku, terima kasih Ibu". Ucap Nadhira dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.
Bi Ira segera memeluk tubuh Nadhira yang ada disampingnya, dirinya begitu bahagia dan terharu mendengar perkataan Nadhira, dia hanyalah seorang pembantu rumah tangga akan tetapi Nadhira sudah menganggapnya sebagai ibunya sendiri selama ini.
Nadhira membalas pelukan dari Bi Ira dengan begitu eratnya seakan akan tidak mau melepaskannya, Rifki yang juga berada diatas panggung tersebut hanya bisa tersenyum bahagia untuk Nadhira akan tetapi ada setitik air mata dipelupuk matanya ketika melihat Nadhira yang memeluk Bi Ira begitu eratnya, Rifki dapat merasakan bahwa kerinduan Nadhira kepada Mamanya begitu dalamnya, akan tetapi mampu terobati karena adanya sosok seperti Bi Ira.
"Tante Lia, aku harap kau bahagia disyurga-Nya, dan lihatlah anakmu dari syurga, dia sangat merindukanmu Tante, tetapi tiada kata kata yang mampu terucapkan dari mulutnya, maafkan aku Tante, aku harus pergi untuk meninggalkannya". Ucap Rifki dengan pelannya ketika melihat eratnya pelukan Nadhira kepada Bi Ira.
"Apa Ibu kandungnya meninggal Tuan Muda?". Tanya seorang lelaki yang ada disamping Rifki untuk menjadi walinya.
"Iya, Ibunya sangat baik, cantik, dan penyayang, akan tetapi takdir merenggutnya begitu saja karena sebuah kecelakaan yang menimpanya, mobilnya masuk kedalam jurang, akan tetapi tanda tanda jasadnya tidak ditemukan sampai sekarang". Ucap Rifki yang tetap memandang kearah Nadhira.
"Apa mungkin Ibunya masih selamat Tuan Muda, karena jasadnya tidak ditemukan, mungkin dia selamat akan tetapi dia lebih memilih untuk tidak kembali lagi".
"Seandainya itu benar, aku juga berhadap demikian, aku berhadap Tante Lia selamat, dan akan kembali suatu saat nanti jika waktunya sudah tiba, jika dia masih hidup, dia harus kembali".
Setelah Nadhira merasa tenang, dirinya mulai melepaskan pelukan tersebut dan kembali menghadap kepada para penonton diacara tersebut.
"untuk para orang tua yang ada disini, tolong jangan libatkan kami sebagai anak dalam permasalahan kalian, kamilah yang akan menjadi korban nantinya tanpa kalian sadari, untuk teman teman semua terima kasih atas semuanya, tetap semangat jangan menyerah meskipun hasil akhir tidak begitu memuaskan, selamat menempuh kehidupan baru masing masing".
Semuanya bertepuk tangan untuk Nadhira, mereka terbawa perasaan dan tersentuh ketika melihat Nadhira memeluk seorang wanita yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga itu dipanggil sebagai Ibunya sendiri.
Tidak akan ada yang sanggup melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nadhira saat ini, kebanyakan dari mereka tidak akan mau mengakui orang tuanya ketika mereka sukses besar.
Tanpa kalian sadari bahwa doa kedua orang tua adalah sebuah jembatan untuk menuju kesuksesan anak anaknya, apalagi doa seorang ibu yang layaknya sebagai ridho dari Illahi Rabbi.
Wahai orang tua, terutama seorang ibu, ucapanmu adalah doa yang akan dikabulkan oleh Sang Maha Pencipta, jadi jaga lisan kalian kepada anak anak kalian, jangan katakan sesuatu yang buruk kepada anak kalian ketika mereka melakukan sebuah kesalahan, jangan banding bandingkan mereka dengan yang lainnya karena tidak ada bunga yang akan mekar diwaktu yang bersamaan.
Kau boleh marah kepada mereka, tetapi jangan sampai mengatakan sesuatu yang buruk kepada mereka, jika ucapan itu dikabulkan oleh Allah maka anak anak kalian akan menjadi seperti apa yang kalian ucapkan.
Setelah sekian lama berada diatas panggung, mereka akhirnya turun dan kembali ketempat duduk masing masing tanpa terkecuali. Pandangan Nadhira jatuh kepada Papanya yang ada didekat tempat duduknya, Papanya menatapnya seakan akan sedang menyimpan sebuah kemarahan kepada Nadhira.
"Maafkan aku Pa, aku juga berhak untuk mengetahui tentang kematian Mama yang sebenarnya dan alasan apa yang membuat Kak Dhita pergi meninggalkanku sampai saat ini, jika hal itu ada hubungannya dengan Papa aku tidak tau lagi harus bersikap bagaimana nantinya". Batin Nadhira.
Nadhira memandang kearah Papanya tidak begitu lama karena dirinya langsung duduk ditempat duduknya sendiri disamping kanan Rifki dan disebelah Bi Ira.
"Nanti kita foto berdua ya Dhira, buat kenangan diluar negeri nantinya". Bisik Rifki kepada Nadhira yang ada disampingnya.
"Terserah kamu saja". Jawab Nadhira yang juga ikut berbisik kepada Rifki.
Rifki tersenyum kearah Nadhira begitupun sebaliknya, perpisahan kali ini begitu membekas bagi keduanya, Nadhira harus terbiasa dengan ketidak hadiran Rifki disampingnya untuk selanjutnya, ia harus melangkahkan kakinya seorang diri untuk mengetahui kebenaran tentang kematian dari Mamanya.
Setelah acara selesai, Nadhira bergabung dengan teman sekelasnya untuk berfoto bersama mereka, dan Nadhira juga foto berdua dengan Rifki sebagai kenang kenangan ketika Rifki masih berada ditanah air.
__ADS_1