
Orang yang mendatangi rumah Nadhira itu bukan orang biasa, ia adalah seorang dukun sakti yang beberapa tahun terakhir terus mengincar permata iblis itu, orang itulah salah satu dari mereka yang mendatangi desa Mawar Merah ketika Nadhira dan yang lainnya sedang melakukan camping.
Setelah mengetahui bahwa permata itu telah ditemukan, ia segera bergegas kembali kemarkasnya untuk membicarakan hal itu dengan seluruh anggotanya.
"Akhirnya aku menemukan orang yang mampu membawa permata itu keluar dari desa". Ucapnya.
"Lantas apa yang harus kita lakukan selanjutnya Datuk? Apa harus menculiknya untuk mengambil permata itu?". Tanya seseorang yang berada didekat orang yang dipanggil Datuk.
"Tidak, jangan terburu buru untuk hal itu, aku dapat merasakan sebuah kekuatan yang besar berada dibalik gadis itu, jika kita secara terang terangan melawannya kita akan kalah".
"Jadi apa rencana Datuk selanjutnya?".
"Kita cari kelemahannya dulu, dan mempersatukan para dukun untuk melawannya secara bersama sama".
"Baik Datuk".
Orang yang dipanggil sebagai Datuk tersebut tertawa begitu bahagianya karena ia dapat menemukan keberadaan permata itu, menurut mitos yang ia dengar permata tersebut mampu membuat seseorang hidup abadi.
Permata itu dijaga begitu ketatanya oleh para mahluk halus yang begitu kejam, setiap kali ia menyuruh anak buahnya untuk masuk kedalam desa Mawar Merah ia akan selalu mendapati bahwa anak buahnya telah tewas mengenaskan didalam desa tersebut.
Akhirnya ia menyebarkan sebuah mitos tentang desa tersebut, agar siapapun tidak berani untuk masuk kedalam desa Mawar Merah, sebenarnya mahkluk penghuni desa itu tidak akan membunuh orang sembarangan, mereka akan membunuh seseorang yang mampu membahayakan penghuni desa maupun permata.
Datuk itu berencana untuk menguasai permata iblis itu seorang diri, ia tidak ingin orang lain mengetahui apa yang ia rencanakan sehingga mitos mengenai pembunuhan didesa itu beredar.
*****
Setelah mengantar Nadhira pulang kerumahnya, Rifki segera bergegas kembali kemarkasnya untuk mengecek kondisi anak buahnya yang sudah ikut bersamanya untuk menyerang markas Theo.
Sesampainya ia dimarkas, ia segera disambut oleh seluruh anak buahnya, mereka menanyakan kondisi Rifki saat ini, mereka bahagia ketika melihat Rifki baik baik saja setelah kejadian itu.
"Mana mungkin ada yang bisa melukaiku sementara ada seorang wanita begitu pemberani berada disampingku". Ucap Rifki.
"Bos tidak marah denganku?". Ucap Vano tiba tiba.
"Bagaimana mungkin dia bisa marah Van, kita melakukan hal yang benar bukan, seharusnya dia berterima kasih denganku, bukan begitu Rif? Haha...". Sela Bayu tiba tiba.
"Aku marah denganmu, bisa bisanya kau mempunyai ide gila seperti itu!! Bagaimana kalo Nadhira dalam bahaya ha? Apa kau mau tanggung jawab!!". Ucap Rifki sambil memegangi kerah baju Bayu dengan eratnya.
Seluruh anak buahnya dan juga Bayu tiba tiba terkejut apa yang sedang dilakukan oleh Rifki saat ini, Bayu hanya mengangkat kedua tangan pertanda menyerah kepada Rifki, ia tidak akan mampu untuk melawan Rifki yang ilmu beladirinya lebih baik daripada dirinya.
"Tamatlah riwayatmu Bay". Guman Vano.
"Mungkin akan ada perkelahian lagi, aku hanya berhadap Bayu hanya mengalami luka ringan". Guman Reno.
Seluruhnya sibuk dengan pikiran mereka masing masing, mereka merasa begitu kasihan kepada Bayu yang saat ini sedang berhadapan dengan Rifki ketua mereka.
Bayu juga tidak mampu untuk menyakiti Rifki yang bisa membuat seluruh anak buahnya melawannya untuk melindungi Rifki, ia tidak ingin adanya permusuhan diantara keduanya yang mampu menyebabkan dirinya dibenci oleh sahabatnya sendiri.
"Pukul saja Rif jika kamu mau, aku mengakui bahwa aku salah membawa Nadhira ketempat itu, aku hanya ingin tidak ada korban lain dalam kejadian itu". Ucap Bayu dengan pasrahnya.
Seluruhnya mengira bahwa Rifki akan berkelahi dengsn Bayu karena tindakan yang dilakukan Bayu saat itu, sementara Vano merasa kasihan kepada Bayu karena idenya itu, awalnya ia menolak untuk melakukan apa yang direncanakan olehnya tetapi karena paksaan Bayu sehingga ia mau melakukannya.
Semoga orang yang berada disitu tidak ada yang berani melakukan tindakan seperti yang Bayu lakukan saat ini, karena mereka akan mengetahui akhir dari rencana tersebut yang menyebabkan Rifki begitu marah.
__ADS_1
Melihat kemarahan diwajah Rifki, Bayu hanya mempersiapkan dirinya untuk dipukuli oleh Rifki, dan mempersiapkan dirinya untuk merasakan sakit akibat pukulan yang akan Rifki lontarkan kepadanya.
Tetapi siapa sangka Rifki justru melepaskan pegangan tangannya dari kerah baju Bayu saat itu, melihat hal itu semuanya tidak mempercayai apa yang ada dihadapannya saat ini, sementara Bayu merasa lega karena kemarahan Rifki sudah meredah.
"Bagaimana aku bisa memukulmu? Sementara yang kau lakukan itu demi kebaikan semua orang, tapi aku tidak menyukai caramu untuk membawa Nadhira ketempat itu". Ucap Rifki.
Bayu segera menjatuhkan pandangannya kepada Vano yang berada disampingnya, Vano yang dipandang Bayu dengan sedemikian rupanya membuatnya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung.
"Apa yang kamu lakukan?". Tanya Bayu kepada Vano.
Bayu tidak mengetahui apapun dan bagaimanapun caranya Vano untuk membawa Nadhira ketempat itu, yang ia ketahui hanyalah Nadhira yang mau ikut bersama Vano untuk menghentikan Rifki.
Vano seakan akan kehabisan kata kata didepan semua orang sehingga ia hanya mampu diam membisu, mereka yang berada ditempat itu menunggu jawaban dari Vano tentang apa yang ia lakukan untuk membawa Nadhira ke markas milik Theo.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Bayu kepada Vano, membuat Rifki juga menoleh kearahnya dan menunggu jawaban dari Vano, detak jantung Vano bertambah seketika karena pandangan semua orang tertuju kepadanya saat ini.
"Matilah aku!!" Batin Vano menjerit.
"Cara apa yang kamu pakai Van, beri tahu kepada mereka semua". Ucap Rifki dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya.
Vano masih tetap diam membisu tanpa mampu mengeluarkan satu kata pun, ia berpikir kali ini ia tidak akan lolos dari kemarahan Rifki, ia menoleh kearah Bayu yang tengah mengerutkan dahinya menunggu jawaban dari Vano.
"A... A... Aku". Ucap Vano dengan terbata bata.
"Jawab yang benar Vano!! Kalau tidak...." Ancam Rifki.
!!!!
Perkataan itu membuat jantung Vano ingin copot dari tempatnya, sehingga ia berusaha untuk menghindar dari semua orang dengan cara berlari, tetapi tanpa dia sangka justru semakin membuat terjerumus.
Kepergian Vano dari tempat itu membuat tanda tanya dikepala mereka semua yang ada ditempat itu, Rifki tersenyum kecil melihat tingkah Vano setelah itu wajahnya kembali datar seperti sebelumnya.
Sementara Bayu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya karena tingkah Vano, bagaimana caranya Vano membawa Nadhira ke markas Theo adalah pertanyaan besar dikepalanya, ia harus mengetahui jawaban dari pertanyaan itu.
"Van berhenti!!! Jawab pertanyaanku". Teriak Bayu sambil berlari mengejar Vano.
Terjadilah kejar kejaran antara keduanya dimarkas tersebut, Vano terus saja menghindar dari Bayu, sementara Bayu terus mengejarnya hingga dapat, melihat kejar kejaran itu membuat Reno menggelengkan kepalanya dan menepuk jidatnya.
"Eh kalian berdua hentikan!! Van, Bay hentikan jangan berlari larian!!". Teriak Reno dan akhirnya ikut mengejar Vano.
Ketiganya saling kejar kejaran, Vano berlari karena ingin menghindar dari pertanyaan pertanyaan yang tidak mampu ia jawab, karena kesalahannya yang membuat Rifki terlihat marah kepadanya.
Bayu berlari untuk mengejar Vano demi mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari Vano, Bayu hanya ingin mengetahui bagaimana cara Vano untuk membawa Nadhira kehadapan saat itu.
Sementara Reno yang mengejar keduanya hanyalah untuk menghentikan mereka bedua yang terus kejar kejaran, tetapi siapa sangka ia ikut terlibat dalam kejar kejaran tersebut.
Rifki hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan lebih memilih duduk digazebo miliknya ditemani oleh beberapa anak buahnya sambil memakan cemilan dan melihat mereka yang terus kejar mengejar ditaman belakang markasnya seperti sedang menonton sebuah film.
"Aku rasa mereka merindukan masa kecilnya".
"Kamu benar, mana mungkin anak yang sudah berusia remaja masih saja main kejar kejaran seperti itu".
"Memang MKKB".
__ADS_1
"Apa itu MKB?".
"MKKB kali, itu kepanjangan dari Masa Kecil Kurang Bahagia, Haha....".
"Biarkan mereka bernostalgia, yang terpenting kita makan cemilan". Ucap Rifki kepada anak buahnya.
"Benar bos, kalo begitu aku ambilkan cemilan lagi yang banyak". Ucap salah satu anak buahnya.
"Ah iya, sekalian ambilkan minuman untuk mereka, pasti mereka akan kelelahan akhirnya". Ucap Rifki mengiyakan sambil memerintah mereka.
"Baik bosku yang baik hati".
"Ngak usah alay".
Dibalik sikapnya yang keras kepala, Rifki selalu memperlakukan mereka dengan baiknya layaknya sebuah saudara sehingga ia begitu dihormati dimarkas tersebut bukan karena Rifki adalah penerus organisasi tersebut melainkan karena sikapnya yang selalu memanusiakan manusia.
Rifki tidak akan tinggal diam jika anggotanya melakukan kesalahan sekecil apapun, mereka akan diberikan hukuman oleh Rifki, tetapi jika mereka tidak melakukan kesalahan, Rifki tidak akan mempersalahkan akan hal itu.
Sebagai besar anggota yang ada ditempat itu adalah anak yatim piatu maupun gelandang yang ada dijalan, mereka dibiayai oleh kakeknya Rifki untuk bisa melanjutkan pendidikannya asalkan mereka akan setia kepada organisasi tersebut.
Bukan tanpa alasan kakeknya mendirikan organisasi tersebut, tetapi untuk hal itu mereka tidak mengetahui apa alasan sebenarnya dari terciptanya organisasi itu, bukan hal mudah untuk bisa masuk kedalamnya.
Mereka harus mengikuti pelatihan beladiri yang dilatih oleh pak siswono yang berada disebuah lapangan terdekat dari markasnya, sejak ia memasuki sekolah SMP Rifki tidak pernah ikut pelatihan tersebut, ia baru pertama kali datang lagi disaat ia mengantarkan Nadhira ketempat itu pertama kali.
Setiap anak yang mengikuti pelatihan gengcobra harus bisa menyelesaikan setiap tingkatan yang berada didalam beladiri tersebut, bukan hanya ilmu beladiri tetapi etika yang mereka milikilah yang mampu menjadikan mereka sebagai anggota geng Rifki.
Pengujinya langsung adalah Aryabima dan juga Rifki, jika mereka lolos mereka akan dibiarkan untuk masuk kedalam markas tersebut, tetapi jika mereka gagal mereka akan tetap ditempatkan di pelatihan itu sebagai senior tanpa bisa masuk kedalam markas.
Bayu saat ini masih berada ditingkat tinggi 5 tetapi ia bisa dengan mudah keluar masuk kedalam markas karena ia adalah sahabat Rifki dan juga kebaikan etika yang ia miliki sehingga Rifki sangat mengagumi Bayu dan membuatnya menjadi bagian dari geng tersebut.
"Hey hentikan Van, apa kamu ngak lelah berlari terus?". Tanya Bayu yang nafasnya mulai memburu.
"Eh kalian berdua bisa diam ngak sih? Apa kalian ngak lelah terus kejar kejaran seperti ini". Ucap Reno dengan kesalnya.
"Kenapa kalian terus mengejarku ha? Apa kalian ngak lelah, berhentilah!!". Teriak Vano dengan tergesa gesa.
"Van hentikan larimu!!". Teriak Bayu.
"Tidak mau, sebaiknya kau berhenti terlebih dahulu". Jawab Vano.
"Mari kita saksikan pertandingan kali ini permirsa siapakah yang akan menang, apakah pihak pengejar ataupun pihak yang dikejar, dan dan situasinya mulai memanas permirsa... Dan.... ". Seru seorang didekat Rifki sambil terus fokus kepada kejar kejaran itu.
Ketiganya terus berdebat tetapi mereka masih saja terus berlari untuk menghindari satu sama lain, sampai akhirnya ketiganya terjatuh secara bersamaan, dan saling tindih menindih satu sama lain.
"Gollllll". Teriak seseorang sambil berdiri dari duduknya.
"Yah.... Kalah deh".
"Ah ngak asik endingnya harus seperti itu".
"Tuhkan bener dugaanku".
Hal itu membuat para penonton kecewa, karena dukungan mereka semuanya kalah dalam kejar kejaran, tetapi kekecewaan itu segera berubah menjadi tawaan yang mengelegar.
__ADS_1