
Nadhira terus memaksakan diri untuk bangkit berdiri, ia tidak memperdulikan perkataan bi Ira, yang ada difikirannya hanyalah tentang Amanda, sudah dua hari Amanda tidak juga ditemukan.
"Bagaimana aku bisa tenang bi? Sedangkan Manda disana menderita, ini semua salahku, ini kesalahan ku bi, ini salahku". Tangis Nadhira pecah.
"Sabar non Dhira, ini bukan salah non Dhira sepenuhnya". Bi Ira menghentikan langkah Nadhira dengan cara memeluknya.
"Bagaimana ini bisa disebut bukan salahku? Kalau saja aku bisa menemukannya lebih awal, mungkin Manda akan baik baik saja... Hiks... Hiks... Hiks...".
"Kita berdoa saja non, semoga non Amanda baik baik saja".
Nadhira jatuh tak sadarkan diri dipelukan bi Ira. Wajah Nadhira begitu pucat dan terasa panas. Bi Ira menidurkannya kembali, ia segera bergegas keluar dari kamar Nadhira.
Bi Ira berlari kekamar majikannya, berulang ulang kali ia mengetuk pintu tetapi tiada sahutan dari dalam kamar. Ia terus mencoba mengetuk pintu, dan akhirnya keluarlah sosok Sena dari dalam kamar.
"Ada apa sih bi, berisik sekali... Haa... ". Sena menguap didepan pintu.
"Non Dhira nyonya". Bi Ira berkata sambil gugup.
"Kenapa lagi sih". Tanya Rendi dari dalam kamar dengan tiba tiba.
"Non Dhira demamnya tinggi sekali tuan, apa ngak sebaiknya kita bawa kerumah sakit, kasihan non Dhira". Jawab bi Ira dengan terbata bata.
"Kira in ada apa an, udahlah bi, belikan saja obat warung, nanti juga sembuh sendiri".
Brak
Setelah mengatakan hal itu, Sena langsung menutup pintu kamarnya dengan keras dan tidak memberikan kesempatan untuk bi Ira melanjutkan perkataannya. Bi Ira merasa khawatir dengan keadaan Nadhira yang terus bertambah panas suhu tubuhnya, tapi disatu sisi kedua orang tuanya tidak memperdulikannya.
Bi Ira kembali kekamar Nadhira untuk menjaganya, sebelum sampai dikamar Nadhira ia mendengar suara bel rumahnya berbunyi pertanda ada tamu yang datang. Bi Ira segera membukakan pintunya dan terlihat sosok laki laki yang berkulit putih bersih sedang berdiri didepan pintu.
"Nadhiranya ada bi?". Tanya laki laki itu.
"Siapa ya? Ada keperluan apa ya mencari non Dhira?".
__ADS_1
"Saya teman sekelasnya bi, nama saya Theo".
"Maaf sebelumnya tetapi non Dhira baru saja tidur, non Dhira lagi sakit, kalau ada perlu nanti saya sampaikan kepadanya".
"Apa Nadhira masih demam bi?". Tanya Theo yang sedikit khawatir.
Setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya Theo pergi dari rumah Nadhira. Bi Ira segera pergi ke warung terdekat dari rumah majikannya untuk membeli obat untuk Nadhira. Setelahnya ia pergi kekamar Nadhira, ia memandangi wajah Nadhira yang mengingatkannya kepada sahabatnya.
Melihat Nadhira yang tertidur dengan tenangnya membuat siapapun yang melihatnya akan ikut merasakan ketenangan. Bi Ira terus mengompresnya dan berharap suhu tubuh Nadhira segera menurun.
Tiba tiba terlihat sebuah kerutan diwajah Nadhira, menandakan bahwa Nadhira telah sadar. Tak lama kemudian Nadhira mulai membuka kedua kelopak matanya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah dari pembantunya.
"Bi, apakah ada kabar dari Rifki?". Tanya Nadhira yang tiba tiba kepada bi Ira.
"Belum ada non". Ucap bi Ira sambil menggelengkan kepalanya. " Oh iya non tadi ada temen non Dhira kesini, kalau ngak salah namanya Theo".
"Theo? Untuk apa dia kemari bi? Apa dia mengatakan sesuatu?".
"Dia hanya bertanya tentang keadaan non Dhira saja, setelahnya ia langsung pamit pulang non".
Nadhira menarik tangan bi Ira dari keningnya, ia menggenggam tangan bi Ira dengan erat dengan kedua tangannya yang begitu lemasnya.
"Aku ngak papa bi, hanya sedikit kelelahan saja, bibi ngak usah khawatir, sebentar lagi pasti akan membaik, terima kasih atas keperdulian bibi". Ucap Nadhira dengan tulus.
"Syukurlah kalau non Dhira sudah membaik, Selamat ulang tahun non, bibi berharap yang terbaik untuk non Dhira".
Mendengar ucapan selamat ulang tahun dari bi Ira, membuat Nadhira diam membisu. Nadhira memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan bi Ira, terlihat sebuah senyuman tercipta dari wajahnya yang cantik.
"Bibi tau darimana kalau hari ini ulang tahunku?".
"Bibi kemarin ngak sengaja mendengarnya, ketika non dan tuan sedang berbicara mengenai hari ulang tahun, bibi ngak menyangka bahwa ulang tahun non Dhira malah berujung seperti ini".
"Ini semua sudah takdir bi, kita hanya bisa pasrah terhadap semuanya". Bibirnya tersenyum tetapi airmatanya ikut menetes. "Dan semuanya sudah terjadi bi, aku hanya mampu berharap ketika aku membuka mata semuanya akan baik baik saja, semoga aku bisa berbuat baik tanpa melukai hati orang lain".
__ADS_1
Tiba tiba keduanya mendengar suara seseorang mengetuk cendela kamar Nadhira. Nadhira dan juga bi Ira saling berpandangan satu sama lain, mereka berdua cukup heran karena tidak pernah ada yang datang lewat cendela.
Bi Ira segera bangkit hendak melihat siapa yang ada dibalik cendela dikamar Nadhira. Nadhira juga tidak mau tinggal diam, ia ikut bergegas berdiri untuk melihat siapa yang datang meskipun kakinya masih sakit dan berjalan pun harus dengan pincang.
Ketika bi Ira mulai membuka cendelanya, bi Ira dan orang yang ada dibalik cendela keduanya sama sama terkejutnya. Sosok lelaki kurus yang sedikit berbody dengan rambut yang pendek rapi muncul tiba tiba dibalik cendela.
"Rifki?". Ucap Nadhira ketika melihat sosok yang ada diluar cendela.
Ketika melihat Nadhira, Rifki segera meloncat dan masuk kedalam kamarnya, ketiganya duduk dikursi yang ada dikamar Nadhira.
"Kenapa kamu datang lewat cendela?". Tanya Nadhira yang penasaran.
"Sebenarnya aku sudah mengetuk pintu tapi tidak ada yang membukakannya, jadi ya terpaksa loncat pagar"
"Lalu bagaimana dengan Amanda?"
"Nadhira aku sudah menemukan dimana markas penculik itu, tapi ....."
"Tapi kenapa Rif katakan"
"Markasnya berada didalam hutan, sebaiknya kita membawa beberapa polisi kesana, aku yakin disana banyak anak yang juga diculik".
"Apa kamu yakin Rif?"
"Iya Nadhira aku sangat yakin, sebaiknya kita segera bergegas, sebelum terjadi sesuatu dengan mereka".
"Baiklah kalau gitu aku akan memberitahu papa dan mama dulu".
Nadhira bergegas menuju kekamar orang tuanya, sementara Rifki diantar oleh bi Ira keruang tamu untuk menunggu kedua orang tua Nadhira melakukan tindakan.
Tak beberapa lama kemudian, Rendi dan Sena keluar dari kamarnya dan langsung menemui Rifki yang sedang berada di ruang tamu. Tak lupa juga Rendi segera menghubungi pihak kepolisian.
Rifki dan Nadhira segera menaiki mobil milik Rendi. Rifki terus menunjukkan jalan kepada Rendi, sementara dibelakang mobil yang mereka naiki terdapat beberapa mobil polisi yang mengikutinya.
__ADS_1
Sesampainya disekitar lokasi penculikan, mereka semua bersembunyi dibalik semak semak yang tak jauh dari sebuah gubuk yang cukup besar. Gubuk itu memiliki banyak sekali penjaga, Rifki juga menggerakkan anak buahnya untuk ikut serta mengepung gubuk tersebut.