
Tangis seketika pecah diantara keduanya, Nadhira berusaha untuk bisa berdiri tepat dihadapan pembantunya. Lukanya terus mengeluarkan darah, airmatanya jatuh bercucuran.
Keringat membasahi tubuh Nadhira, panas dingin menerjang suhu badannya. Nadhira membuka mulutnya tetapi tiada kata yang ia keluarkan, hanya tangisan yang dapat berbicara.
"Bibi tau? Sejak kecil aku tidak suka melihat orang yang terluka didepanku, bagiku itu lebih sakit daripada apa yang aku alami saat ini".
"Bibi tau non, non selalu melakukan apapun agar orang lain bahagia, tapi luka non masih belum kering, jangan memaksakan seperti ini, bibi tidak kuat melihatnya".
"Kenapa bibi begitu peduli denganku? Kenapa tidak membiarkanku mati saja?".
"Non, jangan katakan hal seperti itu non, hidup adalah sebuah anugrah, jangan non sia siakan"
Air mata terus menetes membasahi kedua pipi mereka, Nadhira tersenyum ditengah tengah derasnya airmata. Tangan kirinya mengeluarkan darah, dan naik melalui selang infus ditangannya. Cairan yang bermula berwarna putih bersih kiri berubah menjadi warna merah darah, pandangan keduanya saling bertemu.
Rasa sakit ditangan kirinya mulai ia rasakan, Nadhira hanya melihatnya sekilas setelah itu pandangannya kini terarah kepada sosok wanita yang ada didepannya
"Kenapa bibi melakukan itu? Bibi bilang, bibi mengerti perasaanku, apa aku akan rela jika bibi terluka? bagaimana perasaanku ketika melihat bibi terluka?". Bentak Nadhira.
"Maksud non apa? Bibi tidak mengerti".
"Aku marah dengan bibi, kenapa bibi melakukan itu hanya untukku? Jika bibi mengerti perasaanku mengapa bibi kelakukan itu".
"Maafkan bibi non, bila bibi bersalah kepada non, tapi bibi mohon non istirahat kembali, luka non bisa makin parah, setelah non sembuh, non bebas menghukum bibi jika bibi melakukan kesalahan yang menurut non tidak bisa dimaafkan".
"Menghukum bibi? Hukuman apa yang pantas ku berikan kepadamu bi, beri tau aku, aku tidak ingin melihat bibi terluka, maafkan aku bi".
Bi Ira sama sekali tidak mengerti tentang ini semua, ia bingung melihat sikap anak majikannya tetapi ia begitu sedih ketika melihat Nadhira kesakitan. Nadhira berlutut didepan bi Ira dengan begitu tiba tiba.
"Apa yang non lakukan, berdirilah non jangan bikin bibi takut". Membantu Nadhira untuk berdiri.
Setelah Nadhira sadarkan diri, ketika Rifki hendak pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Nadhira memegangi tangan Rifki dan mencegahnya untuk pergi meninggalkannya.
"Rif, dimana bi Ira? Mengapa hanya ada dirimu disini?" Tanya Nadhira kepada Rifki, ia merasa aneh. Kenapa harus Rifki yang menjaganya bukan anggota keluarganya.
"Bi Ira masih belum sehat total". Secara refleks ia menjawab dengan jujur.
"Ha? Apa maksudmu, bi Ira sakit apa? Kenapa bisa sakit?".
__ADS_1
"Namanya juga manusia Dhir, pastilah bisa sakit".
"Rif, katakan yang sejujurnya, bi Ira sakit apa?".
"Sebenarnya, hanya sakit ringan aja kok Dhir, karena habis mendonorkan darah untukmu, jadi dia harus istirahat sebentar untuk memulihkan staminanya lagi"
"Didalam tubuhku ada darah bi Ira? Kenapa dia melakukan itu, bagaimana kalau dia kenapa kenapa".
"Kamu ngak usah khawatir Dhira, bi Ira baik baik saja kok, sebentar lagi pasti akan kesini".
Setelahnya Rifki meninggalkannya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Nadhira teringat tetang perkataannya, kenapa orang lain lebih peduli tentangnya daripada keluarganya sendiri.
Nadhira menarik kedua tangan pembantunya, dan ia menatap keatas lebih tepatnya menatap wajah bi Ira dengan teliti. banyak airmata yang mengalir disana, tanpa ada yang menghentikannya mengalir.
"Aku berhutang nyawa kepadamu bi, darahmu telah mengalir dalam nadi dan seluruh tubuhku, gara gara diriku kau merasakan sakit dan tidak bertenaga untuk beberapa hari, mengapa bibi melakukan hal itu hanya untuk menyelamatkan nyawaku, siapa diriku bagimu bi? Kau bagaikan malaikat tak bersayap yang dikirim oleh Tuhan kepadaku".
"Non jangan lakukan ini, bibi mohon jangan lakukan hal seperti ini, bagi bibi non sudah bibi anggap seperti anak sendiri, berdirilah non bibi ngak sanggup lihat non kesakitan seperti ini".
Berlinang airmata Nadhira ketika mendengar bahwa Bi Ira menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri, ia begitu bahagia ketika bi Ira mengatakal hal itu dihadapannya.
"Jika bibi menganggapku seperti putrimu sendiri maka izinkan aku memanggilmu ibu".
"mengapa tidak pantas? apakah menurut bibi aku terlalu buruk untuk menjadi anakmu? sehingga bibi tidak mau aku memanggilmu demikian".
"bukan begitu non, bibi hanya orang rendahan tidak pantas untuk dipanggil seperti seorang ibu".
"bibi memiliki kasih sayang yang besar, mengapa bibi merasa tidak pantas untukku panggil sebagai ibuku, aku merasa begitu buruk sehingga bibi menolak untuk aku memanggilmu ibu".
"bukan begitu non, baiklah non boleh memanggilku seperti itu, tapi bibi mohon agar non berdiri".
Bi Ira mencoba membantu Nadhira untuk berdiri, ia memegangi kedua pipi Nadhira dan mengusapnya dengan lembut. Lalu bi Ira memeluk Nadhira dengan erat, Nadhira merasa nyaman berada dipelukannya.
"Tentu non, kau boleh memanggilku seperti itu".
"Mulai sekarang bibi adalah ibuku, akhirnya aku punya ibu seperti yang lainnya, tolong jangan panggil aku nona lagi mulai sekarang bu".
"Iya nak".
__ADS_1
"Terima kasih bu telah hadir dalam kehidupanku, aku merasa begitu bahagia bisa bertemu seseorang seperti ibu". Nafas Nadhira mulai melemah dan ia tidak sadarkan diri dipelukan ibu angkatnya.
"Bertemu dengan dirimu adalah sebuah anugrah bagiku nak, apapun akan aku lakukan agar dirimu bahagia, dirimu mengingatkan ku kepada sahabat lamaku yang telah lama menghilang, kau anak yang baik nak, diusia semuda ini kau melewati begitu banyak cobaan, Nadhira apa kau tau ibu angkatmu ini merasa sangat beruntung memilikimu dan memanggilku ibu, nak istirahatlah kembali biarku panggilkan dokter untuk mengobati lukamu".
Beberapa menit kemudian bi Ira menunggu tiada respon juga dari Nadhira, ia mencoba mengoyang goyangkan tubuh Nadhira tetap saja Nadhira tidak meresponnya.
"Nadhira? Kamu kenapa?".
Ketika Nadhira hendak terjatuh, bi Ira segera menangkapnya. Ia beberapa kali memanggil nama Nadhira tetapi tiada respon darinya, bi Ira segera menidurkannya diatas kasur rumah sakit.
Bi Ira bergegas memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Nadhira, dokter segera datang dan masuk kedalam ruangan rawat sementara bi Ira ia diam membeku didepan pintu kamar tersebut.
"Semoga Nadhira baik baik saja".
Didalam ruangan dokter sedang memeriksa lukanya yang mengeluarkan darah, dan selang infus ditangan kiri Nadhira. Dokter itu membuka perban yang ada diperut Nadhira dan menemukan bahwa jahitannya sedikit terkoyak.
"Kenapa bisa begini, sus ambilkan jarum". Pinta dokter tersebut.
"Baik dok".
Beberapa saat kemudian, suster itu kembali membawa beberapa peralatan untuk mengobati luka Nadhira, tiba tiba nafas Nadhira tidak beraturan ketika jarum jahit menyentuh kulitnya yang terluka.
Nadhira mengerutkan dahinya, tubuhnya tiba tiba bergetar dan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Suster yang ada disitu membantu mengelap keringatnya, dan menyuntikkan obat penenang kepada Nadhira.
"Mama"
Kata itulah yang diucapkan oleh Nadhira beberapa kali, Nadhira terus memanggil mamanya. Setelah nafas Nadhira kembali normal, sang dokter melanjutkan untuk memberi perban kepada luka Nadhira.
Bi Ira terus menunduk didepan ruangan tempat Nadhira dirawat, sampai akhirnya pintu ruangan tersebut dibuka dari dalam oleh dokter yang menangani Nadhira. Mendengar pintu itu dibuka, bi Ira segera bergegas berdiri dihadapan sang dokter.
"Bagaimana keadaanya dok?".
"Kenapa keadaan pasien seperti ini? Pasien mengalami drop lagi, jika terus begini kondisinya akan memburuk bu, pasien terus memanggil mamanya, kami harap mamanya segera datang kemari".
"Tapi dok, mamanya sudah meninggal".
"Sebisa mungkin jangan membuatnya terasa tertekan ya bu".
__ADS_1
"Iya dok, apa saya sudah boleh melihatnya?".
"Silahkan bu".