
Nadhira menceritakan kepada Rifki ketika ia sedang sibuk membaca buku milik Rifki, tiba tiba seorang gadis bernama Dinda mengebrak mejanya dengan keras, sehingga membuatnya begitu sangat terkejut.
Dinda mengatakan bahwa Nadhira menggunakan sesuatu untuk menarik perhatian Rifki, sehingga Rifki hanya mampu tertarik kepada Nadhira, hal itu membuat kesempatannya untuk mendekati Rifki terbuang sia sia.
"Kau tau kan Rif, kalau aku tidak memakai apapun untukmu". Tanya Nadhira.
"Iya Nadhira, aku percaya kok".
Setelah selesai mengatakan hal itu, Dinda merebut dengan paksa buku yang Nadhira baca sebelumnya, ketika Nadhira mengetahui bahwa tidak semua orang boleh membacanya, Nadhira merebut kembali buku tersebut dan menyimpannya didalam tas miliknya.
Nadhira bangkit dari duduknya untuk berdiri mensejajarkan dirinya dengan Dinda dan memandangi Dinda dari bawah ke atas, Nadhira berteriak
"Sudahku katakan sebelumnya bahwa siapapun yang merebut Rifki dariku, harus berhadapan denganku".
"Kau pikir aku takut denganmu, kamu hanya bisa berlindung dibalik Rifki kan, untuk apa aku harus takut padamu".
"Siapa yang berlindung dibalik Rifki, asal kau tau ya, aku bisa melawan siapapun asal itu menyangkut keselamatan Rifki".
"Eleh siapa juga yang percaya dengan ucapanmu, dasar gadis lemah".
Nadhira memukul Dinda dengan sangat kerasnya, keduanya saling pukul memukul, tanpa Dinda sadari aura jahat telah menyelimuti Nadhira, Nadhira tidak mengetahui kapan terakhir kalinya kesadarannya diambil oleh seseorang.
Hal itu membuat Nadhira menyerang begitu liarnya, tak lama kemudian Rifki datang tepat waktu untuk menghentikan Nadhira, entah selama dihadapan Rifki, kekuatan permata itu menjadi begitu lemahnya.
Nadhira menceritakan apapun yang ia ingat sebelumnya kepada Rifki, Rifki mendengarnya sambil menyandarkan kepalanya dimeja menggunakan tangannya menatap Nadhira yang sibuk dengan ceritanya.
Nadhira terlihat begitu kesal saat ia bercerita tentang Dinda, Rifki hanya mengangguk angguk mengiyakan ceritanya. Rifki tiba tiba mengulurkan tangannya kepada Nadhira, Nadhira terdiam beberapa saat sebelum ia tersadar apa yang dimaksud Rifki saat ini.
Nadhira segera mengeluarkan sebuah buku milik Rifki dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada Rifki yang sedang mengulurkan tangan saat ini.
"Apa kamu ngak mau mengatakan sesuatu?". Tanya Rifki.
"Maksudmu apa?".
"Ya seperti kenapa bisa kamu kehilangan kesadaran seperti itu atau apa gitu, kamu ngak pengen berbagi cerita denganku?".
"Sebenarnya ada, tapi aku ngak tau harus jelasinnya gimana". Nadhira menunduk mendengar pertanyaan Rifki.
Rifki melihat sekelilingnya, banyak siswa yang sedang menatap kearahnya, mereka berfikir Rifki akan marah kepada Nadhira karena Nadhira dengan berani membaca buku milik Rifki, tetapi fikiran mereka salah, justru malah sebaliknya.
"Kamu berhutang satu penjelasan denganku". Ucap Rifki.
Nadhira tersenyum kepadanya dan mengangguk, keduanya pun bergegas kekantin karena sudah waktunya untuk istirahat dan mengisi perut mereka.
__ADS_1
*****
Hari terus berganti hingga suatu hari Nadhira dengan kesadarannya yang sudah diambil, mendatangi sebuah rumah yang ditinggali oleh sepasang suami istri yang bernama Rahel dan Dian, kebetulan saat itu Rahel tidak ada dirumah, ia sedang bertugas diluar kota.
Sepasang suami istri itu adalah anak pertama dari pasangan paruh baya yang pernah dibunuh oleh Nadhira ketika raganya diambil alih oleh mahluk itu, kebetulan saat itu Rahel sedang melakukan tugas diluar kota untuk beberapa hari.
Satu keluarga itu terdiri dari empat orang, sepasang suami istri dan juga dua orang anak yang masih berusia belia, seorang gadis kecil yang berusia sekitar 4 tahunan dan seorang laki laki kecil yang masih berusia 2 tahun dan hampir mendekati 3 tahun
Wajah Nadhira ditutupi menggunakan sebuah kain hitam, iblis itu tidak ingin seluruh dunia mengetahui siapa pelaku sebenarnya, sehingga membahayakan rencana yang pernah ia susun sebelumnya.
Saat itu Dian sedang tidur dengan nyenyaknya tiba tiba pintu cendela kamarnya terbuka lebar dengan sendirinya, dan angin kencang masuk kedalam kamar tersebut membuatnya bangun seketika. yang pertama kali ia lihat adalah sebuah bayangan seseorang yang mendekatinya.
"Siapa kamu!?!". Dengan ketakutan Dian melemparkan beberapa benda yang ada didekatnya.
"Aku datang untuk membalas dendam, atas keluarga yang pernah leluhurmu bantai". Iblis itu bersuara sangat mengerikan.
Awalnya wanita itu tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh sosok yang ada didepannya saat ini, tiba tiba ia teringat oleh cerita ayahnya ketika ia masih berusia remaja. Tanpa ia sangka bahwa dendam itu begitu mendalam, ia teringat dengan bagaimana caranya kedua orang tuanya meninggal.
Kematian keduanya sangat tidak wajar, waktu itu ia beserta saudara saudaranya tidak tau apa penyebab dari Kematian itu, sekarang secara langsung ia mengetahuinya bagaimana kedua orang tuanya direnggut nyawanya.
"Tidak!! jangan, aku mewakili mereka untuk meminta maaf padamu, kesalahan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kami, aku mohon, lepaskan kami". Dian menangis sambil memohon kepada sosok yang ada dihadapannya saat ini.
"Jika aku tidak bisa bahagia maka orang lain juga tidak aku izinkan untuk bahagia".
"Aku mohon kepadamu, lupakan dendam itu, kau juga sudah membunuh ayah dan ibuku, aku punya dua anak yang masih kecil, biarkan aku merawatnya, setelah mereka dewasa kau bebas memunuhku".
Karena tangan itu berada di lehernya membuatnya kesulitan untuk bernafas dan bergerak untuk melawan sosok itu, berkali kali ia memukul tangan itu tetapi sosok itu sama sekali tidak melepaskan pegangan tangannya. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka lebar menampakkan sosok anak perempuan kecil yang berusia sekitar 4 tahun.
"Ibu". Ucap gadis kecil itu dengan polosnya.
Melihat seseorang yang sedang mencekik leher ibunya membuat anak itu terlihat begitu terkejut dan terjatuh duduk dilantai, ia menangis menjerit dan berteriak "Lepaskan ibuku".
Nimas yang melihat itu tidak tinggal diam, Ia mendatangi gadis itu dengan menyeret tubuh Dian dan membuatnya tidak sadarkan diri tetapi tangannya masih mencengkeram erat leher dari Dian.
Dian yang melihat anaknya sudah tidak sadarkan diri, ia ingin berteriak histeris karena berfikir anaknya sudah tewas tetapi karena tangan yang ada dilehernya membuatnya tidak bisa mengeluarkan satu kata pun, ia hanya bisa menangis melihatnya.
Ketika nyawa hampir diujung tanduk, tiba tiba sosok lelaki dengan menggunakan penutup wajah datang dan meraih tangan Nadhira untuk menghentikan hal itu, sosok itu segera memeluk Nadhira dan berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Nadhira dari leher wanita itu.
"Sadarlah!!! Jangan lakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya". Ucap lelaki itu.
Entah mengapa kekuatan Nimas berkurang dihadapan sosok lelaki tersebut, sehingga ia harus melepaskan cengkraman tangannya dari leher wanita yang ada didepannya.
Setelah pegangan tangannya terlepas, lelaki itu segera membawa Nadhira pergi dari situ dan menjauhi rumah itu, dengan lemasnya Dian berusaha untuk mendekat kearah anaknya terbaring dilantai. Ia merasa bersyukur ketika masih merasa detak jantung dari anaknya, tadinya ia berfikir bahwa nyawa anaknya sudak tidak lagi tertolong tetapi siapa sangka anaknya masih bisa selamat.
__ADS_1
Dian berusaha untuk menstabilkan kondisinya, karena dicekik begitu lama membuat merasa sangat lemas, tetapi kekuatan seorang ibu memaksanya untuk bangkit dan melindungi anak anaknya.
Dengan nafas yang melemah, Dian mencoba mengangkat tubuh anaknya dan membawanya untuk membaringkannya ketempat tidur, setelah itu ia bergegas pergi untuk mengambil minyak kayu putih untuk menyadarkan anaknya.
Setelah lama berlari akhirnya keduanya berhenti dipinggir jalan, Nimas merasa heran mengapa kekuatannya sama sekali tidak berfungsi saat itu, tetapi kesadaran Nadhira masih dikendalikan olehnya.
"Siapa kamu sebenarnya?". Tanya Nimas yang mengendalikan tubuh Nadhira.
"Apa maumu? katakan!!!, apa kau fikir dengan membunuh mereka semua arwahmu akan tenang ha!!! tidak Nimas, jangan lakukan hal itu, sudah berapa nyawa yang kau bunuh, apa kau fikir mereka benar benar bersalah dalam hal itu? apa kau pernah berfikir bagaimana nasip orang yang kau bunuh selama ini". Bentak lelaki itu.
"Jangan pernah ikut campur dalam urusanku, atau aku juga akan membunuhmu".
"Mau membunuhku, silahkan!!! kau membunuh begitu banyak orang, dan aku tidak akan membiarkan kau terus membunuh mereka yang tidak bersalah, keluarlah dari raganya".
"Tidak akan!!! kau tidak akan bisa memisahkan aku dari raga ini".
Nimas melepaskan pegangan tangan itu dan berusaha untuk menyerang lelaki itu, lelaki itu tidak tinggal diam, ia juga menyerang Nimas kembali, kekuatan Nimas begitu lemah sehingga lelaki itu dengan mudahnya untuk mengalahkan Nimas.
Nimas tidak mau menyerah begitu saja, ia terus bangkit dan bangkit untuk mengalahkan sosok lelaki yang ada didepannya, pertarungan itu berlangsung cukup lama karena keduanya tidak ada yang mau mengalah dan kekuatan kedua berat sebelah, tetapi lelaki itu tidak ingin melukai raga Nadhira membuat hanya bisa menyerang roh itu dengan separuh kemampuannya.
"Nimas dengarkan aku, kasihan tubuh yang kau kendalikan, jangan lakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya".
Nimas tidak mempedulikan perkataan dari lelaki yang sedang menjadi lawannya saat ini, ia terus melontarkan sebuah pukulan dan tendangan keras kearah lelaki itu.
"Kenapa aku tidak bisa mengalahkanmu?". Tanya Nimas keheranan.
Lelaki itu tersenyum dibalik penutup wajahnya, ia menggerakkan tangannya untuk membuka penutup wajah tersebut, ketika wajahnya sudah terlihat jelas, Nimas begitu terkejut melihatnya.
Nimas menghentikan serangannya kepada sosok yang ada dihadapannya, bagaimana mungkin kekuatannya sama sekali tidak dapat digunakan, dan akhirnya pertanyaan itu segera terjawab.
"Karena raga yang kau kendalikan tidak mengizinkan kau untuk melukaiku, Nimas apa kau fikir hilangnya kekuatanmu itu tanpa sebab ha?".
"Kau, bagaimana kau tau tentang kelemahanku?".
"Aku tau dari mana, kau sama sekali tidak berhak untuk mengetahuinya, Nadhira sadar!!! lawan iblis itu, rebut kembali kesadaranmu!!!". Teriak lelaki itu.
Sekilas Nadhira mendengar suara tersebut, dan ia berusaha untuk bangkit dari alam mimpinya, Nimas merasa kesakitan ketika Nadhira berusaha untuk merebut kembali kesadarannya.
Ketika kesadarannya berganti, kepada Nadhira terasa begitu berat dan seperti melayang, Nadhira memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, hal pertama yang ia lihat adalah sosok lelaki yang ada didepannya, pandangannya tidak begitu jelas sehingga ia tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas.
Perlahan lahan pandangannya tersebut berubah menjadi gelap, dan Nadhira tidak sadarkan diri, melihat Nadhira akan jatuh, lelaki itu segera bergegas mendekat kearah Nadhira, dan dengan sigap lelaki itu menangkap tubuh Nadhira agar tidak jatuh ketanah.
"Nadhira sadar!! Nadhira!!".
__ADS_1
Karena tidak ada respon yang diberikan oleh Nadhira, membuat lelaki itu segera mengangkat tubuh Nadhira, menggendong Nadhira dan membawanya pergi dari tempat itu.
*Siapa lelaki itu?? Next selanjutnya*