
"Apakah kalian pernah berfikir, bagaimana kelak jika orang tua kalian sudah tiada? Atau kalian pernah berfikir kalau anak anak kalian akan memperlakukan kalian sebegitu rupanya kepada kalian?". Tanya bu Martha.
Seluruh peserta yang berada disitu, para anggota OSIS, dan para guru hanya bisa merenung mengenai apa yang baru saja bu Martha katakan, kesunyian menyelimuti tempat itu.
Hanya terdengar suara isak tangis dari peserta didik, dan suara bu Martha yang terdengar dimalam hari itu, dan sesekali suara gemuruh para hewan hewan kecil menghiasi malam tersebut.
Bu Martha terus berjalan, kini ia menyentuh sebuah punggung seorang gadis, gadis itu tengah terisak tangisnya, gadis itu tidak lain adalah Nadhira.
"Apa yang akan kamu lakukan ketika orang tuamu berada disini saat ini? Apa yang akan kau sampaikan kepada mereka?". Tanya bu Martha.
Mendengar pertanyaan itu terlontarkan, membuat Nadhira mencurahkan isi hatinya selama ini, bertapa ia sangat ingin bertemu kembali dengan ibu tercintanya.
"Aku ingin memeluk mama, jika diizinkan aku ingin bertemu dengannya sekali saja, semoga mama bahagia disisi-Nya, mama aku sangat merindukanmu, maafkan aku karena tidak bisa menjadi seperti apa yang mama inginkan selama ini, izinkan aku untuk tidur dipangkuanmu ma, izinkan aku melepaskan semua kerinduan ini". Ucap Nadhira yang terus terisak tangis.
"Jadi mamamu sudah tiada nak? Maafkan ibu karena mengingatkanmu kepada almarhumah". Ucap bu Martha sambil memeluk Nadhira.
"Ibu tidak salah, ini adalah takdirku bu, yang terjadi haruslah terjadi".
"Semoga almarhumah diterima disisi-Nya, kamu yang semangat ya, mamamu pasti sudah bahagia disyurga-Nya, ditemani para bidadari yang cantik jelita".
"Iya bu".
Bu Martha melepaskan pelukannya dari Nadhira, ia mulai berjalan mendekati murid murid yang lainnya, malam itu adalah malam air mata karena begitu banyak airmata yang tumpah karenanya.
Rifki mengetahui bahwa yang baru saja berbicara adalah suara dari Nadhira meskipun suara itu tertutupi oleh isak tangisnya, tetapi Rifki yakin bahwa itu adalah Nadhira.
Airmata Rifki tiba tiba mengalir begitu derasnya, biar bagaimanapun ia dapat merasakan apa yang tengah Nadhira rasakan, ia juga sangat merindukan sosok ayahnya yang telah lama pergi entah kemana.
Didalam hati kecilnya, Rifki hanya berharap bisa bertemu dengannya, meskipun perpisahan itu begitu tidak adil baginya, awalnya ia sangat membenci papa kandungannya tetapi karena janji yang ia buat dengan mamanya membuatnya melupakan kebencian itu.
"Papa.... Pulanglah, kami bertiga menunggumu". Guman Rifki.
Awalnya isak tangis itu begitu lirih terdengar, tetapi setelah Nadhira membuka suaranya membuat isak tangis itu bertambah kerasnya, mereka dapat merasakan kesedihan yang mendalam dari ucapan tersebut.
Nadhira merasakan kesedihan dibalik cerita yang bu Martha katakan, ketika ia mendengar bahwa sang ayah meninggal karena menjual organ tubuhnya hanya demi menyekolahkan anaknya, membuat hatinya tersayat sayat.
Ketika Nadhira mendengar bahwa sang anak tega mengusir ibunya sendiri dan akhirnya ibunya mengalami kecelakaan sampai akhirnya meninggal dunia, membuat jantung Nadhira merasa begitu sakit.
Mereka tidak mengetahui siapa yang tengah berbicara sebelumnya, yang mereka ketahui dari suaranya bahwa itu adalah seorang gadis yang tengah berbicara.
"Kalian renungkan apa yang ibu ucapkan, ibu ingin kalian selalu mengingatnya, ketika kalian pulang ibu ingin kalian meminta maaf kepada kedua orang tua kalian, dan merubah sikap kalian".
Bu Martha berjalan mendekat kearah dimana api unggun itu ada, dan ia berdiri didekatnya. Rasa panas mulai menyengat didalam tubuhnya.
"Ketika kalian kecil, orang tua mengantarkan kalian sampai didepan pintu sekolah, ketika kalian dewasa mereka mengantar kalian sampai depan pintu rumah ketika kalian akan berangkat bekerja, tapi apa yang kalian lakukan? Justru sering membentaknya!! Berkata kasar kepadanya!!
__ADS_1
Apa yang kalian pikirkan ha? Kita dilahirkan dari rahimnya, dibesarkan olehnya, dan bahagia karenanya, sekolah diberikan uang jajan, sepatu dan tas yang bagus, baju selalu rapi, tetapi apa balasan kalian? Kalian sering menyakiti perasaannya, begitu sakit nak".
Bu Martha terus mengelilingi mereka, dan menatatap satu persatu muridnya yang sedang menutup mata, ia dapat melihat kain kain yang menutupinya tengah basah karena air mata.
Setelah mengatakan hal itu, bu Martha menyuruh mereka untuk berdiri dan bergandengan tangan kepada teman yang berada disebelahnya, bu Martha memindahkan Nadhira dari posisi awalnya.
Bu Martha tidak ingin teman sebelah Nadhira sampai mengetahui bahwa yang tengah berbicara sebelumnya adalah Nadhira, ia tidak ingin akan timbulnya sebuah pembulian antara mereka.
Setelah itu bu Martha menyuruh mereka semua untuk membuka penutup matanya, hanya terlihat kedua mata mereka memerah karena menangis. Kata kata yang terucapkan dari mulut bu Martha dan ucapan Nadhira mampu menembus masuk kehati mereka.
Bukan hanya mereka yang mendengarkan ucapan bu Martha, dan bahkan Raka yang merupakan mahluk gaib hanya mampu berdiam diri mendengar pertanyaan yang terlontarkan olehnya.
Pandangan pertama kali yang Rifki lihat adalah wajah Nadhira yang berada dekat dengannya, dapat ia dengar isak tangis darinya.
"Nyatanya waktu sudah larut malam, kalian diizinkan untuk kembali ketenda masing masing, tidur dengan nyenyak dan fikirkan apa yang ibu katakan sebelumnya". Ucap bu Martha.
"Iya bu". Jawab mereka serempak.
Semua murid yang ada ditempat itu segera membubarkan diri dan masuk kedalam tendanya masing masing karena waktu sudah begitu larut sehingga mereka segera tertidur dengan pulasnya.
Mengapa setelah menangis rasa kantuk akan segera datang, karena Allah ingin mengistirahatkan hatimu dan menenangkan fikiranmu.
Sementara Rifki masih berada diluar ditemani oleh Fajar, keduanya kembali melakukan hal yang sama, yakni membakar jagung yang dibawa oleh Fajar sebelumnya.
"Kau tau? Baru pertama kali aku mendapatkan teman sepertimu". Ucap Fajar kepada Rifki..
"Kamu jarang tersenyum kepada orang lain, selalu terlihat begitu menakutkan, tetapi sebenarnya dirimu begitu baik, beda dari yang lainnya".
"Kau!!... Belajar dari mana kata kata itu, jangan gunakan kata kata seperti itu, aku bukan cewekmu, gunakan saja untuk cewekmu, konyol".
"Woe... aku masih waras kali, masak iya cowok setampan diriku menyukai sesama jenis yang benar saja kau!!".
Rifki segera merebut jagung yang dibakar oleh Fajar sebelumnya dan segera memakannya dengan lahapnya, Fajar hanya membuka matanya lebar lebar, dengan susah payah ia membakarnya tiba tiba direbut paksa oleh Rifki.
"Eh kau, enak saja makan punya orang, bakar sendiri napa". Protes Fajar.
"Tinggal bakar lagi apa susahnya sih, masak iya tanganku yang bagus ini harus terkena arang yang hitam kan ngak lucu".
"Dasar resek lu,, kayak cewek aja takut kotor".
"Apa kau bilang!!".
"Bodoamat.... ". Merebut kembali jagung yang ada ditangan Rifki.
Fajar memberikan jagung yang belum dibakar kepada Rifki, sementara dia dengan enaknya menikmati jagung hasil dari bakarannya, meskipun hanya tersisa setengah karena habis dimakan oleh Rifki.
__ADS_1
Dengan keterpaksaannya akhirnya Rifki membakar jagung yang ada ditangannya tersebut, tak lama kemudian akhirnya jagung yang ia bakar telah matang.
Keduanya menikmati keindahan malam diarea perkemahan tersebut, hingga keduanya tidak sadar bahwa mereka tertidur ditempat itu dengan lelapnya.
*****
Dipagi harinya Rifki dan Fajar terbangun dari mimpinya, Rifki segera membersihkan tubuhnya diantara dinginnya udara dipagi hari. Rifki berendam didalam aliran air terjun yang berada didekat perkemahan, tak lama kemudian Fajar menyusulnya.
"Rif kamu ngak kedinginan jam segini sudah berendam?". Tanya Fajar.
"Kau tau ngak? Air dingin dipagi hari itu banyak manfaatnya, terutama untuk kesehatan tubuh, merilekskan pikiran dan menyegarkan tubuh". Jawab Rifki.
"Wah benarkah? Kalau begitu aku mau berendam juga".
"Silahkan, kalau kamu tahan dengan dinginnya air ini".
Fajar memasukkan jari tangannya kedalam aliran air tersebut, seketika itu juga membuat bulu kuduknya berdiri karena dinginnya air tersebut. Hal itu membuatnya ragu untuk masuk kedalam aliran air tersebut, meskipun hanya jarinya yang ia masukkan tetapi seluruh tubuhnya mampu merasakan dinginnya air itu.
"Bagaimana kamu bisa tahan dengan air sedingin ini?". Tanya Fajar yang tidak percaya apa yang ia lihat saat ini bahwa Rifki sedang berendam didalam air yang begitu dingin.
"Hanya membiarkan udara dingin itu masuk kedalam tubuh dan rasakan dingin itu akan perlahan lahan mengalir keseluruhan tubuhnya, tanpa kau melawan rasa dingin tersebut, bernafaslah seperti biasa saja, energi positif yang ada dibumi akan masuk kedalam tubuh dan menjernihkan pikiran, tetapi jika kau melawan rasa dingin tersebut tubuhmu akan merasa lemah dan akhirnya tidak akan tahan dengan udara yang dingin".
"Hah? Emang bisa seperti itu?".
"Bisalah".
"Emang kamu belajar dari mana? Kenapa aku baru tau tentang ini?".
"Kakekku yang mengajarkannya, sudahlah ini juga adalah ilmu yang turun temurun dari keluargaku, mau kau percaya atau tidak itu terserah dirimu".
Rifki memejamkan matanya dan menguyur wajahnya dengan air yang ada ditempat itu menggunakan kedua tangannya.
Rasa dingin dari air itu mengalir begitu saja masuk kedalam tubuhnya, Rifki merasakan tubuhnya seperti melayang karena begitu rileksnya udara diair terjun ketika pagi hari.
"Dasar anak yang misterius". Guman Fajar pelan.
"Hey...., apa yang kau ucapkan disitu? Kau fikir aku tidak bisa mendengarnya?".
"Tidak ada, aku hanya teringat sesuatu, aku pergi dulu".
"Yayaya... Pergi yang jauh".
"Hmm.... Kau mengusirku?".
"Terserah kau bilang apa, yang penting pergi aku mau ganti baju, oh iya sekalian tangkapkan ikan ditempat lain". Ucap Rifki dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah baiklah, ngak usah marah juga kali, kan bisa bilang baik baik". Gerutu Fajar dan langsung bergegas meninggalkan tepat itu.