
Apa yang dilakukan oleh Nadhira kali ini menyita banyak perhatian yang tertuju kepadanya saat ini, akan tetapi Nadhira tidak menghiraukan hal itu karena ini adalah rencananya dan juga rencana Rifki untuk menguji para peserta yang akan diuji ditempat itu.
Hanya seorang anak lelaki yang diuji oleh keduanya, sementara perempuan tidak, karena Gengcobra lebih membutuhkan seorang lelaki untuk menjadi anak buah Rifki bukan seorang wanita karena tugas yang akan mereka terima jauh lebih berat.
Akan tetapi biasanya jika ada seorang wanita yang memiliki jiwa tanggung jawab yang begitu tinggi, jujur dan baik, akan dimasukkan kedalam perusahaan milik Rifki sebagai karyawannya.
"Apa yang gadis itu lakukan?".
"Entahlah, berani sekali dia menantang seseorang seperti itu apalagi tingkatnya jauh lebih tinggi daripada dirinya, memang cantik sih tapi cantik saja tidak akan mampu membuat seseorang kalah darinya dengan begitu mudahnya".
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi aku lupa dimana".
"Benarkah?".
"Iya, tapi aku lupa dimana aku bertemu dengan dirinya waktu itu".
"Apa gadis itu adalah gadis yang kamu pernah ceritakan kepadaku, gadis yang sama yang pernah melawan seorang copet yang ada dipasar".
"Ah iya aku baru ingat, tapi saat itu aku tidak tau bagaimana caranya untuk melawan copet tersebut, dan ngak ada yang melihat perkelahiannya karena tidak ada yang berani untuk mendekat ketempat dimana copet itu sembunyi".
"Kalau begitu, gadis itu juga bukan tandingan kita".
"Tapi kenapa gadis dan pemuda itu tiba tiba datang ketempat ini? Dan lihatlah pemuda itu nampak biasa saja ketika gadis itu menantang kakak senior kita".
Dan banyak lagi yang sedang membicarakan tentang Nadhira ditempat itu, Rifki mampu mendengar apa yang mereka katakan akan tetapi Rifki hanya bisa berdiam diri sambil menikmati cerita mereka.
Sementara disatu sisi, Nadhira sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki tingkat paling tinggi ditempat itu, Nadhira yang sudah terbiasa dengan situasi seperti itu dirinya sama sekali tidak merasakan takut dalam menghadapi sosok yang ada didepan saat ini.
Tatapan lelaki yang telah Nadhira buat jatuh tersungkur itu begitu tajam kearah Nadhira, Nadhira menanggapi tatapan tersebut dengan senyuman yang memiliki maksud tertentu.
Perlahan lahan Rifki juga berjalan menuju ketempat dimana Fajar berada tanpa sepengetahuan dari Fajar sendiri karena fokusnya kini tengah terarah kepada Nadhira yang berada jauh darinya.
Pandangan pemuda itu seakan akan mengintimidasi Nadhira yang ada didepannya saat ini, tanpa basa basi pemuda itu segera melontarkan sebuah pukulan kepada Nadhira, Nadhira yang melihat itu segera menghindar dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari pukulan tersebut, akan tetapi Nadhira masih belum memiliki peluang untuk dapat menyerang kembali sosok pemuda itu.
"Sepertinya kau cukup hebat untuk menutupi kelemahanmu". Guman Nadhira pelan dan dapat didengar oleh pemuda itu.
"Untuk apa aku memberitahukan tentang kelemahanku kepadamu? Aku tidak cukup bodoh untuk melakukan hal itu, tidak akan ada orang yang dengan mudah memberitahukan kelemahannya pada musuhnya". Ucap pemuda itu.
Seluruh siswa sekarang memutari keduanya dan memberikan keduanya ruang untuk bertarung dengan leluasa, sementara Rifki terus berjalan mengitari mereka yang tengah menyaksikan pertarungan keduanya itu yang menurut mereka begitu asik dan seru untuk dilihat.
"Jika kau tidak menemukan peluang untuk menyerang maka buatlah peluangmu sendiri agar dapat menyerang". Ucap Rifki dari kejauhan yang langsung dibalas anggukan oleh Nadhira.
Rifki memang sengaja mengajak Nadhira untuk datang kepelatihan Gengcobra, hal itu bertujuan untuk menguji kemampuan Nadhira juga agar dirinya mengetahui apa kekurangan dari gerakan yang Nadhira lakukan sehingga dirinya mampu membimbing Nadhira agar lebih baik lagi kedepannya dan menutup semua kekurangannya.
Rifki ingin melihat secara langsung bagaimana Nadhira menghadapi orang lain diluar sana, karena dirinya belum pernah melihat langsung ketika Nadhira melawan orang lain sebelumnya, Rifki hanya mendengarkan saja tentang hal yang dilakukan oleh Nadhira diluaran.
Pertarungan itu semakin seru ketika beberapa anak mulai berteriak untuk menyemangati senior mereka, dan memberikan saran saran terbaik mereka agar senior mereka dapat mengalahkan Nadhira, akan tetapi hal itu hanya ditanggapi senyum oleh Rifki.
"Kuatkan kuda kudamu, serang bagian kakinya". Ucap Rifki memberi saran untuk Nadhira.
Hal itu segera dilakukan oleh Nadhira, dan berhasil membuat pemuda tersebut terjatuh kembali dalam posisi berlutut didepan Nadhira, ketika pemuda itu terjatuh dirinya segera bangkit karena ia tidak ingin reputasinya hancur karena dikalahkan oleh seorang gadis yang masih berpakaian siswa dasar itu.
__ADS_1
"Jangan pernah berambisi untuk menang, karena kemenangan sesungguhnya adalah dirinya yang mampu menyerap setiap ilmu yang diberikan oleh pelatih kepadanya". Ucap Nadhira menasehati sosok pemuda yang ada dihadapannya.
Pemuda itu nampak tidak mempedulikan ucapan yang Nadhira lontarkan, sehingga pemuda itu kembali menyerang kearah Nadhira dengan ganasnya seakan akan Nadhira terlah meremehkannya sehingga membuat pemuda itu tidak terima jika dikalahkan oleh seorang gadis.
"Bagaimana tentang anak itu Tuan Muda?". Bisik pelatih tersebut kepada Rifki.
"Menarik, tapi pemuda itu tidak layak untuk masuk kedalam Gengcobra, karena ambisinya untuk menjadi yang terkuat dan merendahkan orang yang kedudukannya lebih rendah darinya, dia juga meremehkan ilmu beladiri yang telah anda berikan". Ucap Rifki pelan sambil menyaksikan pertandingan.
"Bagaimana cara Tuan Muda untuk mengetahuinya?".
"Anda lihat saja pertarungan itu, bagaimana caranya untuk menyerang musuhnya, dirinya seakan akan memandang rendah musuhnya itu karena pakaian yang dikenakan oleh musuhnya, dari situ saja sudah dapat dilihat bahwa dia tidak cocok untuk masuk kedalam Gengcobra".
"Anda benar Tuan Muda".
Rifki kembali memutari area pertandingan itu, untuk melihat para siswa yang ikut dalam pelatihan beladiri itu secara seksama, akan tetapi fokusnya masih tertuju kepada Nadhira yang tengah berada ditengah tengah area pertandingan itu.
"Langkah memutar, serang bagian belakang". Ucap Rifki kepada Nadhira.
Hal itu seketika dilakukan oleh Nadhira, sehingga membuat musuhnya itu kewalahan dan menciptakan sebuah celah untuk menyerang musuhnya, Nadhira segera menyerangnya hingga membuat lelaki itu terjatuh kembali dengan roll depan.
Suasana lapangan itu kembali ricuh ketika mereka mengetahui bahwa jagoannya kalah dalam pertandingan yang tiba tiba itu, dan dengan mudah siswa dasar mengalahkannya.
Nafas Nadhira mulai memburu karena telah melakukan beberapa gerakan untuk menyerang seorang pemuda ditempat itu, akan tetapi Nadhira masih ingat pesan yang diberikan oleh Rifki untuk mengatur kembali nafasnya agar dirinya mampu bertahan hingga 10 menit pertarungan.
Rifki mengajarkan kepada Nadhira tentang bagaimana caranya untuk mengatur nafas disaat terdesak, sehingga dirinya mampu untuk bertahan paling lama maksimal 10 menit, bagi petarung yang ada digelanggang hal itu sudah sangat luar biasa karena mampu bertahan selama 10 menit.
Bagi siapapun bertarung 10 menit tanpa jeda adalah hal yang luar biasa, karena kebanyakan dari mereka hanya mampu bertahan maksimal 5 menit pertarungan tanpa jeda sedikitpun, asal mereka mampu mengatur nafasnya mereka akan mampu bertarung lebih lama daripada kemampuan maksimal yang mereka miliki.
Kakeknya selalu menanamkan ilmu padi kepada Rifki, yakni semakin berisi maka semakin menunduk, meskipun sehebat apapun ilmu beladiri yang dimiliki oleh Rifki, Rifki tidak pernah menunjukkannya kepada siapapun, karena Rifki sadar bahwa diatas langit masih ada langit, seberapa hebatnya dirinya pasti akan ada yang lebih hebat dari dirinya.
Kakeknya juga selalu bilang kepada Rifki bahwa semakin tinggi kedudukan kita maka akan sama seperti sebuah pohon yang menjulang tinggi keawan, jika terkena badai dirinyalah yang pertama kali terkena, jika ada angin kencang dirinya terancam akan robohnya, semakin tinggi kedudukan maka akan semakin besar ujian yang akan dihadapi nantinya.
Allah tidak akan menguji suatu kaum sebelum kaum tersebut mampu melewatinya, jika kamu merasa ujianmu terlalu berat maka pasrahkan diri kepada Allah dan berusahalah untuk lepas dari masalah itu.
Rifki berjalan mendekat kearah dimana Fajar berada saat ini, Fajar terlalu fokus dengan pertarungan Nadhira melawan seniornya itu sehingga dirinya tidak menyadari bahwa Rifki sudah berada dibelakangnya dengan jarak yang hanya berkisar sekian senti saja.
Dengan sengaja Rifki mendorong Fajar menuju ketengah tengah lapangan dan tepat didepan Nadhira yang sudah memulihkan pernafasannya itu, Nadhira terkejut karena Fajar yang tiba tiba sudah berada didepannya itu, akan tetapi rasa keterkejutannya itu berubah menjadi senyuman ketika mengetahui bahwa Rifkilah yang telah mendorong Fajar kehadapan.
"Jika sudah berdiri ditengah pertandingan jangan harap untuk turun kembali, apa kamu tidak terima jika seniormu sudah aku kalahkan?". Ucap Nadhira dengan pelannya kepada Fajar.
"Tidak, aku tidak mau melawan seorang wanita". Ucap Fajar dan berusaha untuk kembali ketempatnya sebelumnya akan tetapi pandangannya segera tertuju kepada Rifki.
"Kenapa dengan seorang wanita? Kamu pengecut Jar, tunjukkan kepada wanita yang sombong ini, bahwa lelaki lebih hebat daripada wanita". Ucap salah satu senior Fajar yang berada ditempat itu.
"Tidak, aku tidak mau Kakak senior, meskipun aku dianggap pengecut sekalipun aku tidak peduli, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa untuk melawan seorang wanita". Ucap Fajar dengan tegasnya.
"Kalau begitu biar aku saja yang melawanmu!". Ucap salah satu senior itu dan pandangannya kini tertuju kepada Nadhira yang berada dihadapannya.
"Memang aku tidak bisa melawan seorang wanita, akan tetapi aku bisa menjadi lawanmu saat ini untuk menggantikan wanita ini sebagai lawanmu".
Rifki tersenyum tipis kearah Nadhira, begitupun Nadhira yang juga tersenyum kearah Rifki, mereka memang tidak salah memilih Fajar untuk ikut bergabung dalam anggota Gengcobra.
__ADS_1
Nadhira hanya bisa kagum dengan keputusan yang telah diambil oleh Fajar, sedangkan Rifki segera berjalan mendekat kearah dimana pelatih tersebut berada saat ini.
"Bagaimana Tuan Muda? Apakah anda sudah menemukan seseorang yang tepat untuk bergabung di Gengcobra untuk saat ini?". Tanya pelatih tersebut sambil berbisik kepada Rifki.
"Setelah aku memutari mereka, aku menemukan ada 3 orang yang dapat bergabung dalam Gengcobra, aku harap Bapak melatih mereka yang telah aku pilih dengan sungguh sungguh sebelum mereka masuk kedalam Gengcobra".
Kembali ketengah lapangan, Fajar berdiri disamping Nadhira, dan dihadapan seseorang yang sebelumnya dipanggil Fajar sebagai Kakak senior, Fajar mengira bahwa ini adalah sebuah kesalah pahaman yang telah dilakukan oleh Nadhira sebelumnya.
"Jar, apa kamu yakin bisa menghadapi seniormu itu?". Tanya Nadhira dengan perasaan yang sedikit ragu dengan apa yang akan dilakukan oleh Fajar.
"Aku tidak yakin Dhira, tapi apa salahnya untuk mencoba, lagian kamu sih kenapa menantang seseorang yang berada dipelatihan ini".
"Tapi aku tidak minta kamu untuk melindungiku, aku bisa jaga diri sendiri kok".
"Apa kau tidak menganggapku teman Dhira? Karena pacarmu itu melibatkanku dalam masalah seperti ini, kalau bukan karena dia aku tida akan berada disituasi seperti ini, jadi aku tidak punya pilihan lain selain menghadapinya".
"Aku kagum denganmu Jar". Ucap Nadhira.
Nadhira perlahan lahan mundur dari posisinya saat ini, untuk membiarkan Fajar bertarung dengan seniornya itu, meskipun Fajar baru belajar beladiri selama 3 tahun, itu jauh lebih cukup untuk dapat menghadapi seseorang yang ada dihadapannya saat ini jika dirinya mampu menguasai setiap gerakan dan pengetahuan yang diberikan oleh pelatih kepadanya.
Melihat Nadhira yang mundur secara perlahan, membuat Rifki segera mendekatinya dan berdiri disamping Nadhira, sementara Fajar sedang bersiap siap untuk memasang kuda kuda demi menghadapi Kakak seniornya itu.
"Fokus pada mata lawanmu Jar". Ucap Rifki kepada Fajar dengan perlahan yang sekarang sudah berada didepannya. "Gerakan lawan mampu dilihat dari kedua matanya, jangan pernah ragu untuk memberikan sebuah pukulan kepada lawanmu".
"Baiklah".
Rifki terus membimbing Fajar untuk menyerang kearah seniornya, meskipun Fajar tengah kewalahan karena ilmu beladirinya yang kalah jauh dari seniornya tersebut membuat Fajar sangat kesulitan untuk menghadapi seniornya.
Akan tetapi karena bimbingan yang diberikan oleh Rifki kepadanya membuatnya sedikit merasa bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan dari seniornya itu, meskipun luka memar tengah mengancamnya saat ini.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya pertarungan itu berhenti juga, tidak ada yang menang dalam pertarungan itu karena perbedaan kecepatan gerakan mereka, karena Fajar tengah melawan Kakak seniornya sementara kekuatan kekuatan keduanya berbeda cukup jauh.
Karena kelelahan membuat Fajar membaringkan tubuhnya ditengah tengah lapangan itu beserta dengan Kakak seniornya yang juga ikut membaringkan tubuhnya untuk mengatur pernafasannya kembali.
Rifki segera mendatangi tempat dimana Fajar terbaring saat ini dan membantunya untuk berdiri, Fajar rela bertarung dengan Kakak seniornya hanya untuk menggantikan Nadhira untuk melawannya.
"Kau baik baik saja?". Tanya Rifki kepada Fajar.
"Rasanya aku hampir mati gara gara dirimu, kau melibatkanku dalam masalah seperti ini". Keluh Fajar sambil mengusapi keringat yang ada diwajahnya.
"Untung saja masih hampir mati, belum mati beneran aja kenapa kamu sudah mengeluh seperti itu". Ucap Rifki dengan santainya.
"Kau enak tinggal bilang begitu, aku masih belum siap ketemu dengan Tuhan ku dalam posisi seperti ini, emang kalau aku mati, kau mau bertanggung jawab ha? Kau juga telah melibatkanku dalam perkelahian ini". Cerocos Fajar tanpa hentinya.
"Kamu minta tanggung jawab berapa? Apa 10 juta? Atau 20 juta, aku juga bisa memberimu 50 juta sekaligus, tinggal minta saja".
"Kau kira nyawa seseorang bisa digantikan dengan uang ha? Meskipun 1 miliar uang yang kau miliki pun tidak akan bisa menggantikan nyawa seseorang yang telah tiada, apa uangmu itu akan mampu untuk menghidupkannya kembali? Apa dengan uang kau mampu bernegosiasi dengan malaikat maut agar mengembalikan nyawa seseorang yang telah diambil olehnya?". Tanya Fajar dengan mencurahkan seluruh perasaannya saat ini kepada Rifki.
Dizaman sekarang banyaknya orang orang yang berlinang harta dan melupakan bahwa nyawa lebih penting daripada sebuah harta, banyak yang mengabaikan masyarakat yang kesusahan akan tetapi dengan leluasa melayani masyarakat yang kaya raya.
Banyak sekali rumah sakit ternama yang menolak begitu banyak pasiennya hanya karena pasiennya tidak mampu membayar pelayanan yang akan diberikan oleh pihak rumah sakit tersebut, berbeda jauh dengan pasien dari keluarga kaya raya, yang akan mendapatkan pelayanan terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit tersebut karena mereka mampu membayarnya tanpa harus mengandalkan BPJS.
__ADS_1