Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sudut pandang Rendi


__ADS_3

Nandhita sama sekali tidak takut dengan ancaman dari Sena, Sena segera melontarkan sebuah pukulan kepada Nandhita akan tetapi Nandhita dengan mudah menghindari pukulan itu dan berbalik untuk melakukan pukulan kepada Sena.


Akan tetapi ketika Nandhita siap untuk kembali mengayunkan tangannya kepada Sena akan tetapi Rendi segera menepis ayunan tangan Nandhita yang membuat Nandhita semakin kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Rendi saat ini kepadanya.


"Sudah cukup! Jangan bertengkar lagi kalian berdua ditempat ini".


"Kenapa Papa menghentikanku! Apa perempuan ini lebih berarti daripada anak Papa sendiri! Kenapa Papa harus membela dirinya?" Bentak Nandhita.


"Papa tidak bermaksud seperti itu Nak, Papa tidak ingin kalian bertengkar didalam situasi seperti ini, Dhita ini tidak seperti apa yang kau dengar sebelumnya Nak, dengarkan Papa, Papa bisa jelaskan semuanya kepadamu" Ucap Rendi yang berusaha memegang tangan anaknya.


"Papa jahat, Papa lebih membela perempuan ini daripada keluarga Papa sendiri! Aku tidak menyangka bahwa Papa lebih melindungi pelaku yang sebenarnya daripada anak Papa sendiri" Ucap Nandhita sambil mengibaskan tangannya agar tidak disentuh oleh Rendi.


"Dhita ini tidak seperti apa yang kau dengar, Papa bisa menjelaskan semuanya kepadamu, percayalah dengan Papa Nak".


"Aku tidak butuh penjelasan dari orang yang sangat jahat seperti Papa, aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa kalian berdua adalah penyebab kematian Mamaku, aku tidak akan tinggal diam soal ini, aku benci kalian berdua!".


"Dhita hentikan!".


Nandhita segera bergegas pergi dari tempat itu dengan berlinangan air mata yang begitu derasnya, akan tetapi Sena dan juga Rendi berusaha untuk menghentikannya, keduanya tidak ingin bahwa ada yang mengetahui hal itu sehingga akan menyebabkan keduanya masuk kedalam penjara yang bahkan tidak diinginkan oleh keduanya.


"Dhita! Dengarkan Papa, ini tidak seperti apa yang kau dengar Nak".


"Aku benci Papa! Papa jahat!".


"Berhenti! Aku bisa saja menyakiti Adik kesayangan mu itu dengan mudah jika kau berani beraninya mengatakan hal ini kepada semua orang yang hadir dirumahmu ini" Ancam Sena.


Mendengar ancaman itu membuat Nandhita menghentikan langkahnya dan segera berbalik menatap keduanya, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Nadhira apalagi pembunuh itu masih mampu berkeliaran dengan bebasnya.


Nandhita mengepalkan kedua tangannya dengan sangat eratnya ketika mendengar ancaman dari Sena waktu itu, sepertinya ancaman Sena tidak main main kepadanya, dengan mata memerah Nandhita menatap tajam kearah keduanya, Rendi dapat melihat kemarahan telah menyelimuti dirinya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan Adikku? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku akan selalu melindunginya" Ucap Nandhita dengan penuh keyakinan akan hal itu.


"Bagaimana kau bisa melindungi Adik kesayanganmu itu dariku? Aku masih punya cara untuk dapatkan membunuh orang tanpa menyentuhnya sedikitpun".


"Jangan sakiti Nadhira! Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini! Dia hanya seorang gadis kecil!" Bentak Rendi.


"Apa yang kau inginkan! Jangan pernah sakiti Adikku, dia belum mengerti apa apa soal ini! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!".


"Lupakan apa yang kau dengar saat ini, dan biarkan aku menikah dengan Papamu, maka Adikmu itu akan baik baik saja, jika kau berani melaporkan hal ini maka nyawa Adikmu akan menjadi taruhannya".


"Kau!" Ucapnya sambil menuding Sena, "Dasar perempuan licik, jika kau berani menyakiti Adikku aku tidak akan pernah tinggal diam!".


"Oh... Aku sangat takut dengan ancamanmu itu" Ucap Sena sambil tersenyum mengejek kearah Nandhita dengan senyum liciknya itu, "Tapi kau tenang saja, selama kau diam maka Adikmu itu akan aman ditanganku".


Nandhita mengepalkan tangannya lebih erat lagi daripada sebelumnya Nandhita tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nadhira, tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengalah kepada Sena saat ini, seorang pembunuh seperti Sena akan mampu dengan mudah untuk melakukan pembunuhan lagi dan hal itulah yang paling ditakuti oleh Nandhita.


"Cih.." Nandhita tanya membuang mukanya dari pandangan Sena maupun Rendi, rasanya ia sudah begitu sangat membenci keduanya.


Kedua tangan Nandhita terasa begitu gatal ingin sekali menampar pipi Sena lagi dengan sangat kerasnya karena kemarahan yang ada didalam hatinya kepada Sena maupun Rendi, akan tetapi Rendi selalu melindungi Sena dari kemarahan Nandhita, Nandhita hanya bisa pasrah karena dia tidak ingin Nadhira dalam bahaya.


"Aku sangat kecewa sama Papa, Papa begitu jahat kepadaku dan juga Dhira, aku tidak ingin bertemu dengan Papa lagi setelah ini, bagi Dhita sekarang ini adalah Papa sudah tiada! Aku tidak lagi memiliki seorang Papa yang kejam sepertimu! Dan aku tidak ingin memiliki Ayah seperti dirimu dan aku anggap bahwa hubungan kita sampai disini!".


Ucapan Nandhita terasa begitu tajam kepada Rendi, Rendi yang mendengarnya pun merasa hatinya tengah tersayat sayat biar bagaimanapun juga Nandhita adalah anak kandungnya sendiri, seorang Ayah akan menangis jika mendengar kata kata itu keluar dari mulut anaknya sendiri.


Ayah mana yang tidak sakit ketika melihat anaknya memutuskan hubungannya dengan dirinya begitu saja seperti yang dialami oleh Rendi, akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa dengan keputusan yang diambil oleh Nandhita karena kesalahannya begitu besar kepada Nandhita dan Nadhira.


Kedua putrinya pantas untuk membencinya karena biar bagaimanapun juga dirinyalah yang menjadi penyebab dibalik kematian dari Lia, ia mengetahui penyebab kematian dari Lia akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa sekarang.


Dengan rasa kecewanya, Nandhita segera bergegas pergi dari tempat itu dan mengemasi barang barangnya yang akan ia bawa pergi dari tempat itu, ketika berhadapan dengan Nadhira, Nandhita akan berpura pura bahwa dirinya baik baik saja dan dia hanya sedih karena kehilangan Lia.


Nandhita ingin sekali membawa Nadhira pergi dari tempat itu akan tetapi dirinya tidak akan mampu melakukan itu karena ancaman dari Sena yang mengatakan bahwa kalau dia berani membawa Nadhira pergi dari tempat itu, maka ia akan menyewa beberapa pembunuh bayaran untuk membunuh keduanya beserta dengan Kakek dan Neneknya juga.


"Ku harap kau baik baik saja disini Dhira, maafkan Kakakmu ini yang tidak bisa berbuat apa apa sekarang" Guman Nandhita pelan sambil memandangi rumah itu.


Nandhita tidak mampu untuk meninggalkan Nadhira ditempat itu, akan tetapi dirinya begitu kecewa dengan Papanya apalagi dia tidak akan sanggup untuk melihat Papanya menikah lagi dengan orang yang telah membunuh Mamanya itu.

__ADS_1


"Apa kau akan pergi dari sini Dhita?" Tanya Rendi dengan nada sedihnya.


"Untuk apa aku bertahan ditempat seperti ini dengan orang seperti anda? Kau tidak pantas untuk disebut sebagai seorang Ayah bagiku atau Nadhira, aku sangat kecewa dengan dirimu".


"Dhita, dengarkan penjelasan Papa Nak, ini tidak seperti apa yang kau dengar sebelumnya, Papa sama sekali tidak.....".


Sebelum Rendi menyelesaikan perkataannya, Nandhita segera memotong ucapan itu dengan nada yang lebih tegas daripada sebelumnya.


"Papa? Kau bahkan tidak pantas untuk sebutan itu".


"Dhita Papa mohon jangan marah kepada Papa seperti ini Dhita, maafkan Papa"


"Tidak ada maaf untuk dirimu atas apa yang kau lakukan kepadaku dan Mama".


"Papa tidak bermaksud untuk hal itu Dhita, Papa minta maaf".


Rendi segera berlutut dan menangis didepan anak perempuannya itu, ia berusaha untuk bisa meminta maaf kepada Nandhita sebisa yang ia mampu, akan tetapi Nandhita hanya membuang muka dari Rendi dan tidak mempedulikan perkataan yang keluar dari mulut Rendi sekarang.


Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Nandhita, Nandhita segera bergegas keluar dari kamarnya menuju kekamar Nadhira untuk berpamitan kepadanya, Nadhira yang baru saja terbangun dari tidurnya begitu terkejut ketika melihat Kakaknya yang berpamitan kepadanya dan mengatakan bahwa dia harus kembali melanjutkan pendidikannya.


"Kenapa Kakak harus pergi secepat ini?" Tanya Nadhira dengan sedihnya.


Nandhita segera memeluk tubuh Adiknya itu dengan eratnya seakan akan tidak ingin meninggalkan Nadhira bersama dengan Rendi, akan tetapi Nandhita tidak memiliki pilihan lain, dapat dilihat bahwa sekarang Nandhita sedang menahan tangisnya agar tidak pecah dihadapan Nadhira.


"Jika kau besar nanti kau akan mengerti semuanya Dhira, untuk saat ini Kakak harus pergi demi melanjutkan pendidikan Kakak, jaga dirimu baik baik ya, Kakak tidak bisa untuk selalu ada disampingmu dan tidak bisa selalu melindungimu"


"Kakak tidak perlu khawatir soal Dhira, Papa akan selalu menjaga Dhira disini dan akan melindungi Dhira dari bahaya apapun, apa yang belum Dhira ketahui Kak? Kakak kan bisa memberitahu Dhira sekarang, kenapa harus menunggu besar?".


"Belum waktunya kau mengetahuinya Dhira, lebih baik kau lebih fokus saja dengan sekolahmu, Kakak harap kau bisa menjadi wanita yang sukses dimasa depan dan menjadi kebanggaan untuk Mama" Ucapnya sambil melirik kearah Rendi dengan tatapan yang tidak begitu suka dengan Rendi.


"Iya Kak, Dhira berjanji akan belajar dengan sungguh sungguh untuk mewujudkan harapan Kakak, kalau ada waktu jangan lupakan Dhira".


"Kau memang Adikku yang paling baik, Kakak bangga memiliki Adik seperti dirimu, Kakak akan selalu mengingat Dhira".


"Justru Dhira yang harus berhati hati"


"Iya Kak".


Nadhira tidak menyadari tatapan yang tidak menyukai Rendi itu karena Nadhira belum berfikir sampai disana dengan usianya yang masih kanak kanak itu, Nadhira hanya berpikir bahwa memang sudah saatnya untuk Kakaknya kembali kerumah Nenek dan Kakeknya untuk melanjutkan pendidikannya yang belum tuntas itu.


Dengan berat hati Nadhira melepaskan kepergian dari Kakaknya itu, meskipun sangat berat untuk dilakukan akan tetapi ia harus melakukan itu, sementara itu Rendi hanya bisa berdiam diri tanpa adanya kata kata yang keluar dari mulutnya ketika melihat kepergian dari Nandhita.


Nandhita sendiri segera bergegas keluar dari rumah itu tanpa berpamitan kepada Rendi, bahkan hanya sekedar menatap kearah Rendi saja rasanya Nandhita tidak mampu karena rasa kecewanya yang terlalu mendalam itu.


Nadhira tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Kakak dan Papanya itu, Nadhira juga tidak mengetahui adanya pertengkaran diantara keduanya, dan bahkan ketika Rendi menikah dengan Sena sekaligus itu Nandhita juga tidak hadir dalam pernikahan itu.


Ketika Nadhira bertanya kepada Nandhita melalui telfonnya Nandhita tanya menjawab bahwa dirinya begitu sibuk untuk menghadiri acara pernikahan itu dan dia tidak punya waktu untuk berkunjung kerumah itu, bagi Nandhita mendengar kabar bahwa Nadhira baik baik saja sudah cukup baginya tanpa harus datang dan bertemu dengan Rendi maupun Sena.


Setelah pernikahan itu terjadi, Nandhita sudah tidak lagi memberi kabar kepada Nadhira, dan tanpa sengaja Rendi mendengar Sena berbicara kepada seseorang melalui telfonnya.


"Pekerjaan yang bagus Dwija, berkat dirimu aku bisa masuk kedalam rumah ini".


"Tidak tidak, kita tidak bisa bertemu mulai saat ini".


"Kau tau kan kalau aku sudah menikah dengan Rendi sekarang ini? Aku sudah menjadi istrinya bukan istrimu lagi".


"Aku sudah tidak ada hubungannya dengan dirimu itu Dwija".


Entah apa yang keduanya bicarakan, Rendi dapat melihat bahwa obrolan itu terlihat begitu menyenangkan bagi keduanya, entah kepada siapa Sena berbicara akan tetapi ketika nama Dwija disebutkan Rendi yakin bahwa Sena sedang berbicara dengan Dwija diseberang telfon itu.


Rendi berniat untuk mencari tau tentang dimana keberadaan dari Dwija saat ini, ia hanya ingin meminta penjelasan dari Dwija tentang apa yang telah ia lakukan kepada Lia waktu itu, ia ingin mengetahui siapa orang yang telah diperintahkan oleh Sena untuk menyabotase mobilnya itu.


Setelah beberapa lama pencarian itu akhirnya Rendi dapat bertemu kembali dengan Dwija, Dwija dengan santainya berjalan kearah Rendi yang ada didepannya saat ini.


"Katakan kepadaku yang sebenarnya! Kau kan yang menyabotase mobilku waktu itu kan! Sehingga membuat Lia mengalami kecelakaan! Kau harus bertanggung jawab atas semua ini Dwija!" Ucap Rendi dengan geramnya kepada Dwija.

__ADS_1


"Untuk apa aku melakukan itu Rendi? Jangan percaya dengan wanita licik itu, aku tidak pernah melakukan itu Rendi, demi Allah aku tidak pernah berencana untuk mencelakakan Lia".


"Aku mendengarnya sendiri, kau sedang mengobrol dengan Sena lewat ponsel, dan dia mengatakan bahwa kau yang telah membuat mobilku mengalami rem blong waktu itu, aku sama sekali tidak percaya dengan kata katamu Dwija, kau pembohong".


"Kau salah paham Ren, aku sama sekali tidak pernah mengobrol dengan istrimu itu setelah aku dan dia bercerai, apalagi terlibat dalam kasus pembunuhan yang dialami oleh Lia, rupanya wanita licik itu memfitnahku".


"Aku sama sekali tidak percaya dengan dirimu Dwija!".


"Terserah kau mau berkata apa Ren, tuduhanmu sama sekali tidak beralasan, kau bahkan sama sekali tidak memiliki bukti apapun soal itu".


"Dimana Lia sekarang? Aku yakin bahwa dia masih hidup sampai saat ini, dimana kau menyembunyikan dirinya Dwija! Hanya kau satu satunya yang mencari dia waktu itu kan? Dan tim SAR juga tidak mampu menemukan keberadaannya".


"Untuk apa kau memikirkan soal Lia lagi? Dia sudah bahagia tanpa hadirnya dirimu, dan kau tidak akan pernah bisa menemuinya sampai kapan pun itu, sudah ku katakan bukan? Jika terjadi sesuatu dengan Lia kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi".


"Omong kosong macam apa yang kau ucapkan itu! Kembalikan Lia kepadaku Dwija, aku berhak atas dirinya itu".


"Lelaki yang mampu menduakan istrinya tidak berhak untuk mendapatkan hati yang suci seperti Lia, kau tidak pantas untuk mendapatkan cinta Lia, aku tidak akan pernah membiarkan Lia kembali lagi bersama dengan dirimu sampai kapan pun itu juga".


"Dwija! Kau tidak bisa memisahkan diriku dengan Lia".


Dwija segera pergi meninggalkan Rendi ditempat itu, hal itu membuat Rendi segera mengejarnya akan tetapi dirinya kehilangan jejak dimana keberadaan dari Dwija, Rendi sangat yakin bahwa Dwija telah menyembunyikan sesuatu tentang Lia.


Rendi terus mencari tau soal Dwija akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan jejak kepergian dari Dwija yang ia dapatkan hanyalah kabar mengenai kematian dari Dwija, dan saat itu Rendi tidak mengetahui apapun lagi soal keadaan Dwija.


*Flash back off*


"Papa yakin bahwa Dwija mengetahui tentang keberadaan dari Lia, Papa mendengarnya sendiri bahwa Dwija yang telah menyabotase mobil Papa".


"Jadi benar bahwa Kak Dhita sudah mengetahui semuanya sebelumnya, entah harus seperti apa aku bersikap kepada Papa, Papa tega menghalangi Kak Dhita untuk memukul wanita itu".


"Dhira maafkan Papa, Papa salah karena membela wanita licik itu, Papa menyesal karena telah melakukannya Dhira".


"Dan soal Pak Dwija, apa Papa telah mengetahuinya sebelumnya? Tentang penderitaan dari Pak Dwija dan juga Ibunya Bu Dewi".


"Papa benar benar tidak tau soal itu Dhira".


Nadhira menghela nafasnya dengan kasar, tiba tiba kepalanya terasa begitu pusing karena lukanya yang belum sembuh, nafasnya mulai memburu tidak seperti sebelumnya, melihat itu membuat Rendi langsung panik dengan keadaan Nadhira.


"Apa yang terjadi denganmu Dhira?" Tanya Rendi dengan paniknya.


"Dadaku tiba tiba sakit Pa" Jawab Nadhira sambil menahan rasa nyerinya.


"Apa yang harus Papa lakukan Dhira".


Nadhira merasakan bahwa telah terjadi sesuatu dengan energi permata itu seperti sebelumnya, ia tidak tau kenapa dirinya merasakan hal seperti ini, tiba tiba Nimas muncul dihadapan Nadhira.


Tubuh Nadhira tiba tiba melemah dan hal itu membuat Rendi segera menyandarkan kepala Nadhira kedalam pelukannya, Nadhira hanya merasakan bahwa nafasnya yang mulai tidak teratur dan juga nyeri itu.


"Apa yang terjadi denganmu Dhira?" Tanya Nimas sambil menyalurkan energi kepada Nadhira.


"Aku tidak tau Nimas, tiba tiba aku merasakan nyeri ini dan juga dikepalaku" Jawab Nadhira melalui suara batinnya.


"Bertahanlah, sebentar lagi kau akan membaik, kau hanya terlalu banyak pikiran saja Dhira" Nimas segera menyalurkan energinya kepada Nadhira untuk mengurangi rasa sakit yang dialami oleh Nadhira.


"Iya Nimas".


Nimas begitu terkejut ketika menyalurkan energi itu kepada Nadhira, dan berguman pelan "Apa yang terjadi kepada keris pusaka xingsi"


Rendi merasa begitu cemas dengan keadaan Nadhira yang seperti ini, tak beberapa lama kemudian datanglah beberapa orang yang sangat dikenali oleh Nadhira dan orang itu tidak lain adalah Sarah, Bi Ira, dan juga Pak Santo.


"Apa yang kau lakukan kepada Dhira!" Teriak Sarah.


Sarah segera merebut Nadhira dari tangan Rendi, Rendi tidak bisa berbuat apa apa untuk menghentikan wanita paruh baya itu, Sarah segera memeluk tubuh Nadhira dengan eratnya dan juga rasa khawatirnya kepada Nadhira.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2