Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Taruhan 2


__ADS_3

Nadhira menangis melihat Rifki terluka dan tidak berdaya ketika bertarung dengan Theo, seluruh anggota geng Rifki hanya bisa berdiam diri dan tidak bisa berbuat apa apa ketika melihat itu karena Theo memerintahkan anggotanya untuk menahan seluruh anggota milik Rifki, sehingga tidak ada yang bisa menolong Rifki saat ini.


"Hentikan!! Aku mohon jangan sakiti Rifki... Hentikan Theo... Jangan pukul Rifki lagi, aku mohon... Tidak!!! Rifki,, Theo tolong jangan pukuli dia lagi". Tangis Nadhira pecah seketika.


Pukulan itu terus berlanjut sehingga membuat Rifki mengeluarkan darah dari ujung bibirnya dan area plipisnya, karena efek obat bius itu membuat kepalanya begitu sangat pusing, ia tidak bisa menghindar dari setiap serangan yang diberikan oleh Theo.


Rifki jatuh berlutut didepan Theo, ia memegangi kepalanya yang terasa begitu berat dan pandangannya mulai memburam, ia tidak sanggup lagi menahan efek obat bius tersebut. Rasanya kesadarannya sudah tidak bisa berpihak kepadanya lagi, kepalanya begitu berat dan pandangannya mulai sedikit menggelap dan berputar.


"Rifki...". Teriak Bayu.


Rifki mencoba bangkit untuk kembali melawan Theo, ia tidak ingin kehilangan Nadhira karena taruhan tersebut yang akan menyebabkan Nadhira menderita karena berada disisi Theo.


"Hentikan Theo,,, aku mohon padamu, Theo hentikan". Teriak Nadhira.


Sebelum Rifki mampu berdiri dengan tegaknya, Theo segera melontarkan sebuah tendangan kearah perut Rifki, sehingga membuatnya kembali terpental kebelakang dan jatuh diatas matras sambil memegangi perutnya yang terasa begitu nyeri.


"Aku harus bangkit, demi Nadhira". Ucap Rifki lirih ketika mendengar tangisan Nadhira.


Rifki tidak menyerah begitu saja, ia terus berusaha bangkit dan bangkit walaupun akhirnya ia akan terjatuh kembali karena menerima serangan yang sama sekali tidak dapat ia tangkis maupun hindari.


Rasa nyeri diarea perutnya dapat Rifki rasakan, ia memegangi perutnya yang terasa kaku karena terus menerima serangan tendangan, Rifki mengeluarkan darah segar dari ujung bibirnya dan darah itu jatuh diatas matras.


"Rifki, Theo hentikan!! Akh...". Nadhira merintih kesakitan Karena Nadhira memaksa untuk bangkit menolong Rifki, sehingga tanpa sengaja lehernya sedikit tergores pisau. "Hiks... Hiks... Aaa.... Rifki,,, aku mohon jangan sakiti Rifki, Theo hentikan!!".


Disatu sisi Theo tengah berdiri didekat tempat Rifki berlutut saat ini, ia merasa begitu bahagia ketika melihat orang yang ada dihadapannya saat ini sedang tidak berdaya.


Ia merasa lebih kuat daripada Rifki, seandainya Rifki tidak terpengaruh dengan obat bius itu mungkin Theo tidak akan mampu untuk mengalahkannya seperti saat ini.


"Kau dengar rintihan tangis itu? Karena dia adalah kelemahanmu maka suaranya begitu merdu bukan? haha... ". Tawa Theo didepan Rifki.


Theo menendang dada Rifki hingga membuat Rifki terpental begitu jauh dan terbaring terlentang di atas matras tersebut, Rifki tidak mempedulikan sakit yang ia rasakan, mendengar Nadhira menangis seperti itu sudah membuat hatinya terasa teriris iris.


Seluruh tubuhnya terasa begitu lemas dan sangat sulit untuk digerakkan, luka pukulan dan tendangan ditambah lagi dengan efek obat bius membuatnya seakan akan tidak berdaya dan seperti akan mati sebentar lagi.


Tak lama kemudian Raka mendatangi dimana tempat Rifki terbaring tidak berdaya saat ini, Rifki memejamkan matanya seakan akan ia tidak sadarkan diri, tetapi pendengarannya masih begitu tajam.


"Rifki bertahanlah, aku akan menyalurkan energi positif kepada dirimu". Ucap Raka yang berada didekat Rifki.


Rifki tiba tiba mendengar suara Raka yang berada disekitarnya, Rifki yakin itu adalah Raka karena pandangannya menburam membuat Rifki memejamkan matanya.


Meskipun ia memejamkan matanya, tetapi kepalanya terasa berputar putar dengan kencangnya sehingga membuatnya seperti melayang, melihat Rifki yang sudah tidak mampu begerak membuat Theo segera menendang pelan tubuh Rifki hingga Rifki tertidur dengan tengkurap.


"Rifki,, bangun!!! Rifki aku mohon bertahanlah hiks... hiks...". Rintihan suara Nadhira.


"Kepalaku begitu pusing Raka, dia sangat curang, dia memberiku obat bius untuk mengalahkanku". Ucap Rifki sambil terbatah batah pelan kepada Raka.


"Bertahanlah Rifki, lawan pengaruh obat itu, dengan energi positif yang akan aku salurkan".


"Baiklah".


Rifki terus memegangi kepalanya yang sakit, untuk membuka mata ia sudah tidak mampu tetapi ia masih bisa bergerak, Raka memahami akan hal itu, ia segera menyalurkan energi positif yang ada dibumi kepada Rifki menggunakan kemampuannya.


"Arghh....". Teriak Rifki.


Tiba tiba Rifki mengangkat kepalanya dan menjerit kesakitan membuat seluruh orang yang melihatnya begitu sangat terkejut karenanya, Rifki memegangi kepalanya dengan kerasnya karena sakit yang ia rasakan terlalu parah.

__ADS_1


Melihat Rifki yang kesakitan dan berteriak seperti itu membuat seluruh anggotanya menangis karena hal itu, mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa apa untuk melindungi Rifki.


Rifki mulai bangkit kembali tetapi hal itu langsung dihalangi oleh Theo, Theo memukul dengan keras pipi Rifki membuatnya terpental dan menggelinding di atas matras.


"Rifki... !!! Tidak!!! Apa yang kau lakukan Theo!! Hentikan semua ini, kasihanilah Rifki, tolong jangan pukuli dia lagi, aku mohon, Rifki bertahanlah!!".


Rifki membuka kedua matanya yang telah memerah, ia menatap kearah dimana Nadhira berada saat ini, ia melihat sebuah sayatan tipis dileher Nadhira dan beberapa tetes darah keluar dari sayatan tersebut.


Rifki dapat melihat sebuah aura putih terang keluar dari tubuh Nadhira, energi itu tidak lain adalah energi yang diberikan oleh lelaki yang pernah menolong Nadhira, energi itu tidak membiarkan Nimas untuk menguasai tubuh Nadhira lagi.


"Dhira". Ucap Rifki dengan pelannya sampai sampai tidak mampu terdengar.


"Theo hentikan!! Rifki sudah tidak berdaya, kenapa kau terus memukuli dia, jangan sakiti Rifki". Nadhira menangis melihat kedua mata Rifki berubah menjadi memerah.


Rifki mencoba melawan efek obat bius tersebut dengan bantuan Raka, ia terbaring sambil memejamkan matanya, ia mulai mengatur pernafasannya agar fikirannya kembali tenang dan mampu berfikir dengan jernih lagi.


Rifki mulai bangkit dan mencoba untuk berdiri dengan tegaknya meskipun kepalanya masih terasa sakit karena efek obat itu, Rifki melawan efek obat bius sehingga resikonya kepalanya akan terasa begitu nyeri dan pusing.


Melihat Rifki yang mulai bangkit lagi, Theo segera melemparkan tendangan kearahnya, sebelum tendangan itu mengenai Rifki, Rifki segera menangkisnya dan kembali melontarkan pukulannya kepada Theo.


"Rifki, aku yakin kau mampu bangkit". Ucap Nadhira dengan tangis bahagianya melihat Rifki mulai bangkit kembali.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA NADHIRA!!!". Bentak Rifki sambil mengepalkan tangannya.


"Rifki,,, akhirnya kau bangkit". Ucap Bayu.


"Ba... Bagaimana bi... Bisa!!". Ucap Theo dengan terbatah batah ketika melihat Rifki masih bisa bangkit lagi.


Rifki mendatangi tempat dimana anak buah Theo menyandera Nadhira saat ini. Nadhira tersenyum kearah Rifki yang sedang mendatanginya, tiba tiba beberapa orang mulai mendekati Rifki untuk melawan Rifki.


Karena titik fokus Rifki telah kembali seperti semula sehingga ia dengan mudah mengalahkan mereka, melihat hal itu Theo tidak tinggal diam begitu saja, ia juga mulai menyerang Rifki kembali.


Kali ini Theo bukan lagi tandingannya ketika ke fokusannya mulai kembali, dengan mudah ia mendaratkan pukulannya diperut Theo. Sehingga membuat Theo termundur beberapa langkah kebelakang, dan memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Kau bilang Nadhira adalah kelemahanku? Maka kelemahanku bisa jadi adalah kekuatanku". Ucap Rifki dengan tegasnya sambil menendang Theo kembali.


Theo terpental kembali dan jatuh terbaring dimatras karena hanya terkena pukulan dan tendangan Rifki beberapa kali saja membuat tidak berdaya. Tangan kiri Rifki memegang leher Theo dan menghadapkan wajah Theo keatas.


"Kau telah melukai Nadhira diposisi ini bukan? Jangan harap aku akan memaafkanmu".


"Arghhh...."


Rifki menonjok beberapa kali wajah Theo menggunakan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih memegangi leger Theo dengan eratnya, keringat bercucuran diwajah Rifki, ia begitu terbawa emosi karena perbuatan Theo kepadanya.


"Kau mengabaikan Nadhira yang berteriak untuk meminta maaf bukan? Maka rasakan balasan dariku".


Rifki kembali menendang perut Theo sehingga membuatnya begitu memperihatinkan karena ia dihajar mati matian oleh Rifki didalam markasnya sendiri.


"Kau bilang Bayu tidak berhak untuk memaki dirimu? Kau yang tidak berhak untuk berbicara kepadanya".


"Akh..."


Rifki menarik rambut Theo sampai membuat Theo berdiri dari posisinya sebelumnya, Rifki mendorong tubuh Theo kearah dimana Bayu berada saat ini, Theo terjatuh tepat menyentuh kaki Bayu yang tengah berdiri ditepi ruangan.


"Jangan pernah membangunkan iblis yang ada didalam dihatiku!! karena kau tidak mengerti siapa sebenarnya diriku!!". Teriak Rifki dengan marahnya.

__ADS_1


Melihat bosnya yang sudah tidak berdaya dihadapan Rifki, membuat beberapa anak buahnya yang sedang menyandera Nadhira segera melepaskan Nadhira untuk menyerang kearah Rifki, tetapi Nadhira tidak tinggal diam begitu saja, ia membantu anak buah Rifki untuk melumpuhkan anggota Theo.


"Dhir sebaiknya kamu hentikan Rifki, biar masalah disini aku yang atasi". Ucap Bayu sambil mengambil lawan Nadhira.


Nadhira mengangguk kearah bayu, Nadhira segera berlari kearah Rifki untuk menghentikan aksi yang dilakukan oleh Rifki saat ini, Nadhira segera memeluk Rifki dengan eratnya ia dapat merasakan bahwa kemarahan Rifki sedang menyelimutinya.


Nafas yang memburu, otot otot yang mulai menegang, ketingat bercucuran dengan derasnya, Rifki begitu terlihat sangat marah kali ini, sakit yang Rifki rasakan sebelumnya kini sudah meredah ketika ia mampu melontarkan sebuah pukulan kepada Theo.


"Rifki hentikan!! Tenanglah Rif, kendalikan emosimu!! Rif, tenanglah,.aku baik baik saja, kendalikan dirimu!!". Ucap Nadhira.


Kedua tangan Rifki masih mengepal dengan begitu eratnya, sedangkan tatapannya yang tajam masih terarah kepada Theo yang terbaring dihadapan Bayu saat ini.


Nafasnya memberat seakan akan ia sudah tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri, Rifki tidak membalas pelukan tersebut, ia masih tetap berdiri dengan tegaknya, ia begitu marah kepada Theo saat ini.


"Rifki tenanglah...., Dia bisa mati kalo kamu pukuli lagi, Hiks.. Hiks.. Hiks.. Rifki kendalikan dirimu, Jangan sampai tanganmu kotor karena membunuh orang, aku mohon tenanglah!! hiks... hiks... ". Tangis Nadhira pecah seketika.


Perlahan lahan kepalan tangannya mulai melemah, Rifki mulai membuka kepalan tangan tersebut, pandangannya kini tertuju kepada Nadhira yang berada dipelukannya, ia melepaskan pelukan tersebut dan memegang erat tangan Nadhira dan membawanya pergi dari tempat itu.


Melihat Rifki dan Nadhira meninggalkan tempat tersebut, seluruh anggotanya ikut meninggalkan tempat itu bersama sama, sementara anggota geng Theo segera membantu Theo untuk bangkit.


Rifki menyuruh anggotanya untuk kembali kemarkas mereka, sementara dirinya membawa Nadhira menggunakan motornya kesebuah tempat. Keduanya sampai didepan sebuah apotek untuk membeli obat, setelah itu mereka duduk disebuah taman terdekat dengan apotek tersebut.


"Kenapa kamu menangis?". Tanya Rifki.


"Aku ngak bisa melihatmu seperti tadi, aku tidak mau hal itu terjadi lagi hiks.. hiks.. melihatmu marah seperti tadi membuat hatiku takut". Tangis Nadhira kembali terdengar.


"Kamu jangan nangis lagi ya, meskipun semarah apapun diriku aku tidak bisa menyakiti wanita, apalagi wanita itu adalah dirimu, sekarang aku sudah ngak papa kan saat ini, biar aku obati lukamu". Rifki membuka obat tersebut dan mengarahkannya ke leher Nadhira yang terluka.


"Akh...".


"Tahan sebentar ya, biar ngak infeksi".


Nadhira merebut obat tersebut dari tangan Rifki dan mengarahkannya kepada ujung bibir Rifki, Rifki menjerit kesakitan karena tiba tiba Nadhira melakukan itu kepadanya. Rifki memegangi tangan Nadhira dan tersenyum kearahnya.


"Kamu bisa aja Nadhira, sini, biar aku obati lukamu lagi". Ucap Rifki sambil merebut obat yang ada ditangan Nadhira.


"Ngak... Aku mau mengobatimu lebih dulu, sudah jangan membantah!!".


Rifki hanya pasrah menuruti keinginan Nadhira, akhirnya Rifki selesai diobati sekarang giliran Rifki yang mengobati luka dileher Nadhira. Luka itu tidak terlalu dalam tetapi mampu mengeluarkan beberapa tetes darah.


Rifki mengobati Nadhira dengan berhati hati dan begitu pelan, ia takut Nadhira akan merasakan perihnya luka tersebut, Nadhira yang mulai terbiasa dengan rasa sakit membuatnya sudah merasa biasa dengan rasanya.


"Rif, tadi kamu kenapa? Kenapa kamu tiba tiba sakit kepala seperti itu?". Tanya Nadhira sambil diobati oleh Rifki.


"Ngak papa kok Dhir, mereka begitu curang, memberiku obat bius, untung saja ada Raka kalo tidak mungkin aku sudah tidak bisa bangkit lagi".


"APA!!! Brengsek sekali mereka, sekarang gimana? Apa kamu masih sakit kepala?".


"Sudah sembuh, melihatmu tersenyum sudah menjadi obat bagiku hehe...". Rifki tertawa kearah Nadhira.


"Garing banget sih kamu itu".


Keduanya tertawa bersama sama, Nadhira juga menceritakan tentang bagaimana Vano membawanya kabur, dengan cara membegalnya dijalan untuk menakut nakuti orang, bukan hanya itu ia mengajak Nadhira naik kedalam angkot membuat penumpang ketakutan karena ulahnya.


Rifki yang mendengar cerita tersebut hanya bisa tertawa karena tingkah laku anak buahnya, sebenarnya ia marah karena melibatkan Nadhira dalam hal seperti ini, tetapi kemarahan itu ia hilangkan karena sudah terlambat untuk menyesalinya.

__ADS_1


__ADS_2