Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Penyerangan


__ADS_3

"Kakak, kakak akan pulang?". Tanya Fika ketika melihat Nadhira dan bi Ira berpamitan kepada ibu panti.


Nadhira dan bi Ira saling berpandangan untuk bertukar jawaban, untuk memberikan penjelasan kepada gadis kecil yang berada dihadapan mereka saat ini.


"Nak Fika, nak Dhira harus pulang, ia harus melanjutkan kehidupannya, bagaimana kalo nanti ayahnya merindukannya?".


Melihat kedua orang yang ada dihadapannya hanya diam mendengar pertanyaannya Fika, membuat bu Fatimah berinisiatif menjelaskan terlebih dahulu kepada Fika.


"Tapi bu, entah mengapa aku merasa begitu takut ketika kak Nadhira pergi kali ini".


"Fika, kakak akan baik baik saja kok, jangan terlalu khawatir kan ada ibu Ira yang akan menjaga kakak".


"Aku harap kakak akan baik baik saja, aku pernah bermimpi kalo aku akan kehilangan kakak untuk selamanya, aku sangat takut kak".


"Sudah sudah... itu hanyalah mimpi Fika, belum tentu hal itu akan terjadi ya,, ".


Fika hanya menunduk dihadapan Nadhira tanpa tau bagaimana caranya untuk mengungkapkan isi hatinya saat ini, ia tidak ingin berpisah dengan kakaknya tetapi ia juga tidak ingin memaksa kakaknya untuk tetap berada disampingnya.


Begitu berat Fika melepaskan kepergian kakaknya dari panti asuhan, ia ingin sekali ikut dengan kakaknya tetapi ia tidak mampu akan hal itu, Fika hanya bisa menatap kepergian Nadhira dari kejauhan.


Sampai becak yang membawa Nadhira beserta bi Ira lenyap dari pandangan, Fika masih tetap saja berdiri ditempat semula untuk melihat kepergian Nadhira.


Ditengah tengah perjalanan menuju rumahnya, keduanya segera dihadang oleh dua orang lelaki, yang satu berbadan tinggi dan yang satunya masih berusia sama seperti usia Nadhira, Keduanya seperti sedang membawa senjata dibalik baju mereka, penampilannya membuat bi Ira merinding ketakutan.


becak yang mereka naiki juga ikut berhenti ditempat itu. sang pengemudi tidak berani lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka, ia terus berdoa agar uang hasil jerih payahnya tidak diambil oleh orang orang yang sedang menghadangnya.


"Berhenti!!". Ucap lelaki berbadan tinggi.


Setelah seruan itu ia lontarkan, becak yang dinaiki oleh Nadhira berhenti ditempat, Nadhira menatap kedua dengan lekat lekat, ketika Nadhira hendak menurunkan kakinya dari becak, bi Ira segera menghentikannya.


"Jangan turun nak, itu bahaya".


"Ngak papa bu, ibu jangan khawatir".


Nadhira segera turun dari becak, sementara bi Ira terus berusaha untuk menghentikan langkahnya, Nadhira berjalan mendekat kearah keduanya dan berdiri tepat dihadapan mereka.


"Ada apa kalian menghadang jalanku?". Ucap Nadhira ketika sudah berada dihadapan keduanya.


"Maafkan kami, kami hanya mengikuti perintah". Ucap salah satu dari mereka.


*Flash back on*


Dimarkas milik Rifki, Rifki sedang sibuk membaca buku dihalaman belakang maekasnya, tiba tiba kedatangan beberapa anak buahnya, anak buahnya tersebut mengalami babak belur dan beberapa luka memar diwajah dan anggota tubuh lainnya.


"Ada apa ini?". Tanya Rifki dengan marahnya.


Seluruh anak buahnya hanya bisa berdiam diri, tidak ada yang berani berbicara dihadapan Rifki, tak lama kemudian datanglah Reno ketempat itu dan menjelaskan semuanya kepada Rifki.


"Maaf bos, anak buah kita telah dipukuli oleh anggota geng lainnya kalo ngak salah nama geng itu adalah geng serigala, mereka bermain dengan keroyokan".


"APA!!!! BAGAIMANA BISA?". Rifki begitu marah mendengar hal itu. "Apa kalian telah melakukan kesalahan sehingga kalian dipukuli seperti ini, Jawab!!!".


"Kami tidak melakukan apapun bos, tiba tiba mereka bermain keroyokan, mereka bilang 'Rifki harus menanggung semuanya' seperti itu bos". Jawab salah satu anak buahnya.

__ADS_1


"Siapa pemimpin mereka?".


"Kalo ngak salah mereka menyebutnya dengan nama Theo, entah itu benar atau tidak, tapi kami dengar bahwa mereka memanggilnya sebagai bos".


Rifki memejamkan matanya dan mengingat ingat tentang Theo, bukankah permasalahannya dengan Theo sudah lama selesai mengapa ia menyuruh anggotanya untuk menghajar anggota Rifki.


Tak beberapa lama kemudian salah satu anggota geng Rifki mendatangi Rifki untuk menyampaikan bahwa ada salah satu temannya datang kemarkas tersebut, Rifki segera menyuruh temannya tersebut untuk masuk kedalam markas.


"Ada apa ini Rif?". Tanya temannya yang tidak lain adalah Bayu.


"Kalian obati anak yang terluka, persiapkan diri kalian, kita akan mendatangi markasnya". Rifki memberi perintah kepada anggotanya.


"Baik bos". Jawab mereka serempak.


Seluruh anak buahnya bergegas meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam markas untuk mengobati orang yang terluka, sementara Rifki kembali duduk digazebo taman tersebut.


Melihat Rifki yang hendak duduk, Bayu segera mengikutinya dan duduk disebelah Rifki, Bayu hanya bisa bertanya tanya didalam kepalanya, entah apa yang akan dilakukan oleh Rifki selanjutnya.


"Kamu masih ingat tentang anak yang bernama Theo waktu SMP?". Tanya Rifki kepada Bayu.


"Iya aku ingat, memang ada apa dengan dia?".


"Dia berani sekali menyerang saudara saudaraku, yang jelas yang diincar adalah diriku kenapa harus melampiaskannya kepada mereka, ini tidak bisa dibiarkan, apa sih maunya, kenapa harus pake kekerasan seperti ini, aku ngak terima jika ia dengan seenaknya menyakiti orang lain apalagi berhubungan dengan ku maupun teman temanku yang berada dimarkas ini".


"Jadi... mereka terluka itu karena diserang? kurang ajar sekali dia, lantas apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Rif?".


"Untuk bertanya baik baik dengannya itu hal yang sulit dan mustahil dia bisa diajak bicara baik baik, jika tidak ada pilihan lain maka kekerasan adalah jalan utamanya".


"Kekerasan? bukankah itu akan melibatkan korban begitu banyak? bisa jadi pihak kepolisian malah ikut terlibat akan hal ini". Guman Bayu.


Bayu hanya diam membisu digazebo tersebut, ia berfikir keras untuk menghentikan kejadian itu, ia tidak ingin adanya korban lagi diantara dua anggota geng yang bisa menyebabkan banyaknya korban yang terkena karena kejadian itu, apalagi calon korbannya adalah masyarakat sekitar tempat markas Theo.


"Aku harus bagaimana? Tidak!!! hal itu tidak boleh terjadi, bagaimanapun aku dan Rifki sudah berteman sejak kecil, aku sangat tau mengenai emosinya, lantas apa yang harus aku lakukan?". Bayu terus mondar mandir untuk mencari solusi akan hal itu.


Bayu tidak mengetahui kapan Rifki dan anggota lainnya akan berangkat menuju markas Theo, sehingga ia harus bisa berfikir bagaimana caranya untuk menghentikan Rifki dan lainnya.


Bayu sekarang berada didalam dilema yang begitu besar, jika ia diam saja, ia akan melihat banyaknya orang yang akan terluka karena kejadian itu, jika ia bertindak, tindakan seperti apakah yang akan ia ambil selanjutnya.


Akhirnya ia pergi mendatangi Rifki untuk melihat kondisi anggota yang sedang terluka, ada sekitar 5 orang yang mengalami luka luka karena kejadian itu, Bayu hanya memperhatikan hal itu kelimanya adalah anggota baru didalam organisasi itu yang baru bergabung dengan organisasi hampir mencapai satu tahun.


"Pantas saja mereka kalah ketika dikeroyok, belajar beladiri tidak cukup hanya setahun". Guman Bayu.


"Kamu benar Bay, mereka hanya berani menyerang anggota yang baru bergabung, tetapi mereka tidak mengetahui kemampuan organisasi ini". Sahut Rifki yang mendengar gumanan Bayu.


"Lalu, kamu akan pergi kemarkasnya kapan? Apa kamu sudah tau dimana markasnya?".


"Setelah ini, setelah selesai mengobati mereka". Tunjuk Rifki kearah 5 anak tersebut. "Soal dimana markasnya, aku pernah datang ketempat itu, untuk menerima tantangan dari dirinya......."


Rifki menyebutkan lokasi markas tersebut kepada Bayu, Bayu hanya mendengarkannya sambil mengangguk angguk tanda ia faham akan ucapan dari Rifki, Ia segera berfikir keras untuk menghentikan hal itu, akhirnya ia pamit kepada Rifki untuk pulang kerumahnya.


Rifki mengiyakan kemauan Bayu untuk pulang, setelah keluar dari markas tersebut bayu berfikir begitu kerasnya untuk menghentikan hal itu, akhirnya ia teringat dengan sosok Nadhira, tetapi ia juga tidak tega bila Nadhira ikut terseret dalam hal ini.


Ketika dijalan ia berpapasan dengan seseorang yang ia kenal, orang itu adalah salah satu anggota geng Rifki yang bernama Vano, Bayu segera bergegas mendatanginya dan menghentikan langkahnya ketika hendak masuk kedalam markas.

__ADS_1


"Van!!!". Panggil Bayu.


Mendengar namanya dipanggil membuat Vano segera berbalik dan menemukan bahwa Bayu sedang memanggil namanya, ia segera bergegas mendatangi dimana bayu berdiri saat ini.


"Ada apa Bay?". Tanya Vano yang merasa aneh dengan Bayu.


"Aku minta bantuanmu ....." Bayu menjelaskannya kepada Vano apa yang harus Vano lakukan untuknya.


"Tidak!!! Bagaimana kalo bos kecil marah dengan kami, dan melampiaskannya kepada kami juga". Vano tidak menyetujui ide yang diberikan oleh Bayu.


"Tidak ada pilihan lain Van, jika dia marah aku yang akan bertanggung jawab untuk hal ini, aku harus kembali untuk menemani Rifki, aku harap kau bisa melakukannya dengan baik".


"Baiklah kalau seperti itu, kamu benar, tidak boleh ada korban dikejadian itu".


Vano segera bergegas dari tempat itu bersama salah satu temannya, sementara Bayu kembali masuk kedalam markas untuk mengecek kondisi Rifki dan yang lainnya.


"Flash back off"


Kedua orang yang mendatangi Nadhira tidak lain adalah Vano dan temannya, ia diminta oleh Bayu untuk membawa Nadhira ketempat yang telah Bayu sebutan sebelumnya.


Sstelah menerima perintah tersebut, keduanya segera bergegas kerumah Nadhira tetapi tidak menemukannya, ia bertanya tanya kepada papa Nadhira, kemana perginya Nadhira, Rendi mengatakan kepada mereka bahwa Nadhira ikut pembantunya pergi kepanti asuhan.


Keduanya segera bergegas mencari panti asuhan terdekat dari kota mereka, Bayu terus memberi kabar mengenai apa yang dilakukan oleh Rifki selanjutnya, hingga keduanya berhasil menemukan Nadhira yang sedang berada dijalan.


"Kami sudah mencarimu kemana mana, kami mohon ikutlah dengan kami kesana untuk menghentikan hal itu". Vano menjelaskan hal itu kepada Nadhira yang sedang berada didepannya.


"Jadi Rifki akan menyerang saat ini? baiklah antarkan aku kepadanya".


"Baik Nadhira, ikuti kami".


"Sebentar, aku ingin menemui ibu, dan meminta izin untuk pergi".


"Baiklah, kami akan menunggumu".


Nadhira segera mendatangi ibu angkatnya yang sedang duduk didala. becak tersebut dengan ketakutan, baru pertama kali ia dihadang seperti itu setelah dari panti asuhan. Melihat Nadhira yang berbincang bincang cukup lama dengan mereka, membuat bi Ira merasa khawatir.


Melihat Nadhira yang berjalan kearahnya membuat pengemudi becak dan juga bi Ira merasa lega, karena tidak ada perkelahian diantara Nadhira dan dua orang pemuda tersebut, tetapi ekspresi wajah Nadhira membuat keduanya merasa khawatir.


"Bu, sebaiknya ibu kembali pulang kerumah, aku masih ada kepentingan dengan mereka berdua". Ucap Nadhira kepada bi Ira.


Ucapan tersebut segera membuat keduanya terkejut karena hal itu, urusan apa dengan keduanya sehingga Nadhira menyuruh mereka untuk pergi dari tempat itu, mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa kami harus pergi, sementara dirimu sedang menyelesaikannya sendiri". Bantah pengemudi becak tersebut.


"Benar, bagaimana kami bisa pergi dari tempat ini". Bi Ira setuju dengan ucapan sang pengemudi.


"Ibu aku janji, aku akan secepatnya untuk pulang, aku pasti akan baik baik saja, lagian kedua orang itu aku kenal, dia tidak akan berani macam macam denganku".


"Tapi nak".


"Ibu aku mohon, soal urusan papa nantinya biar aku yang hadapin, Pak tolong jalan sekarang". Perintah Nadhira kepada sang pengemudi.


Pengemudi itu hanya diam, ia tidak ingin meninggalkan seorang gadis sendirian menghadapi dua orang yang sedang menghadangnya saat ini, dengan ragunya ia mengayunkan pedalnya dan melaju dari tempat itu, meskipun bi Ira terus berteriak untuk menghentikan becak itu untuk berjalan.

__ADS_1


"Jaga ibu baik baik, ibu aku akan segera kembali". Teriak Nadhira kepada ibunya yang berada didalam becak yang sedang menjauhinya.


__ADS_2