Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
penculikan 2


__ADS_3

Rifki mengantarkan Nadhira pulang kerumahnya. Ia langsung bergegas untuk mendatangi teman temannya demi mencari keberadaan saudara tiri Nadhira. Sedangkan Nadhira bergegas untuk memberi tahu kedua orang tuanya.


"Apa? Manda diculik, bagaimana bisa?". Ucap Sena yang terkejut mendengar cerita Nadhira.


"Maaf ma".


Nadhira menundukkan kepalanya didepan Sena, mendengar bahwa anak kesayangannya diculik ia begitu frustasi dan beberapa kali memukul Nadhira.


"Kenapa bukan kau saja yang diculik kenapa harus anakku, ini semua salahmu seharusnya kau yang diculik". Ucap Sena dengan marahnya.


Sena memegang kerah baju Nadhira dengan kuat dan mendorongnya hingga terjatuh dilantai, beberapa kali Nadhira mengatakan maaf kepada mama tirinya tetapi tidak ia perduli.


"Ada apa ini?"


"Papa". Guman Nadhira dengan lirih


Rendi baru pulang dari rumah temannya dan terkejut melihat istrinya mendorong Nadhira hingga jatuh dilantai. Sena langsung berlari mendekati Rendi dan menceritakan bahwa Amanda telah diculik, dalam ceritanya ia sedikit merubah kenyataan sehingga memojokkan Nadhira.


Mendengar cerita dari Sena, Rendi bergegas mendatangi Nadhira yang tengah berusaha untuk bangkit berdiri. Pandangan Rendi dan Nadhira bertemu. Dapat dirasakan bahwa Rendi saat ini sedang dalam keadaan benar benar marah.


Nadhira diam membisu dihadapan papanya sambil menundukkan kepalanya. Tak disangka sebuah tangan melayang kearahnya dan menampar pipinya dengan keras, tangan itu tidak lain adalah tangan milik Rendi.


"Kenapa papa menamparku?". Dengan berlinang airmata Nadhira memberanikan menatap papanya.


"Kenapa papa menamparku, kau masih berani bertanya tentang hal itu sekarang hah? besar sekali nyalimu, gara gara kau anakku diculik, dasar anak tak tau diuntung". Ucap Rendi dengan marahnya.


"Pa!! Ini tidak seperti yang papa kira". Tangis Nadhira pecah.


"Masih berani menjawab hah?".


Rendi menarik tangan Nadhira dengan kasarnya dan mendorongnya keluar dari rumahnya. Nadhira yang didorong tiba tiba membuatnya reflek terjatuh didepan pintu dan mengenai lukanya membuat luka tersebut semakin berdarah.


Kapas dan kasa yang awalnya berwarna putih berubah warna menjadi menjadi merah. Dan terdapat darah menetes membanjiri kaki Nadhira, Nadhira meringis kesakitan sambil memegangi luka kakinya.

__ADS_1


"Papa ngak mau tau, kau cari Amanda sampai ketemu, kalau tidak ngak usah pulang kerumah".


Setelah mengucapkan itu, Rendi menutup pintu rumahnya dengan keras hingga membuat bunyi gedoran pintu yang sangat kencang. Nadhira berusaha untuk bangkit dari duduknya, ia berusaha untuk berjalan diatas sakitnya.


Beberapa meter jauh dari rumahnya Nadhira bertemu dengan Widya. Melihat Nadhira yang berjalan dengan pincang membuat Widya bergegas mendatanginya. Ketika jarak keduanya berkurang Widya dapat melihat bahwa kaki Nadhira berdarah.


"Nadhira kamu kenapa?". Tanya Widya sambil memegangi tangan Nadhira.


"Aku ngak papa". Ucapnya sambil melepaskan pegangan Widya.


"Tapi lukamu terlalu banyak mengeluarkan darah, biar aku bantu".


"Aku bilang aku ngak papa, ini bukan urusanmu".


Tanpa disadari, Nadhira telah membentak Widya. Mendengar bentakan dari Nadhira membuat Widya diam dan meneteskan airmata. Melihat Widya menangis, Nadhira menghela nafas panjang.


"Pergilah, jangan membuatku marah".


Nadhira melanjutkan jalannya meninggalkan Widya yang tengah mematung dan menundukkan kepalanya karena adanya rasa kecewa dalam dirinya. Airmatanya terus menetes membasahi kedua pipinya, ketika ia mengangkat kepalanya ia menemukan bahwa Nadhira sudah berada agak jauh darinya.


Selangkah demi selangkah Nadhira berjalan menyusuri jalanan. Nadhira bingung kemana dia harus pergi, kota ini sungguh luas. Nadhira duduk disebuah bangku yang ada ditaman yang ia lewati, beberapa jam lagi matahari akan tenggelam.


Darah yang menetes dari kakinya telah mengering seiring berjalannya waktu, tetapi rasa sakitnya tak kunjung mereda. Nadhira terkejut ketika tiba tiba ada tangan yang hendak menyentuh lukanya.


Nadhira melihat sosok yang tengah membungkuk didepannya, Nadhira sangat mengenali sosok tersebut. Ia adalah teman sekelasnya, yakni Theo.


"Kenapa kamu disini". Tanya Nadhira dengan kagetnya.


"Mengobati lukamu, emang kenapa lagi". Jawab Theo dengan santainya.


"Ngak usah, terima kasih".


Theo terus memaksa, karena tidak bisa lagi menolak keinginan Theo akhirnya Nadhira menurutinya. Theo membuka perban kaki Nadhira yang dipasangkan oleh Rifki kepada Nadhira.

__ADS_1


Theo juga membasuh darah yang mengering yang telah membanjiri kaki kanan Nadhira. Ketika betadin bersentuhan dengan luka Nadhira, Nadhira merasakan sakit yang cukup parah.


Ia menggenggam rapat tangan Theo yang tengah memberi lukanya dengan betadin. Tanpa Nadhira sadari bahwa kuku tangannya telah meninggalkan jejak dipunggung tangan Theo.


"Maaf". Ucap Nadhira ketika melihat bekas cakarannya ada ditangan Theo.


"Ngak papa, bukan masalah besar". Ucap Theo santai.


Nadhira merebut botol betadin yang ada ditangan Theo, Nadhira meneteskan cairan betadin kepada luka Theo. Theo merasa terkejut dan segera melepaskan pegangan tangan Nadhira.


"Kenapa? Apakah sakit?". Tanya Nadhira ketika melihat tingkah Theo.


"Tidak, hanya saja terkerjut, kau tiba tiba menetes cairan itu kepadaku". Ucap Theo beralasan.


"Boleh aku tanya sesuatu?".


"Ada apa?"


"Kenapa kau tiba tiba ada disini? Kenapa juga membawa obat, apakah hanya kebetulan?"


"Sebenarnya tadi aku bertemu dengan Widya, dia berlari dan menangis diperjalanan, dia mendatangiku dan memberitahukan kepadaku kalau kakimu tengah terluka, ia memberikan obat ini kepadaku dan menyuruhku untuk mencarimu, ia juga bilang bahwa kamu marah dengannya sehingga ia tidak berani untuk datang langsung dan membantumu mengobati lukamu".


"Kenapa dia begitu, apa dia tidak bisa mengabaikan urusan orang lain". Ucap Nadhira acuh tak acuh.


"Dhira... Jangan mengabaikan orang yang benar benar perduli padamu, ketika ia pergi kamu akan menyesalinya".


"Aku hanya tidak ingin, ia dalam bahaya hanya karena aku, hatinya mudah terluka hanya dengan perkataan, bagaimana aku bisa melihat dia menangis?".


"Aku tau Dhira, aku memang bukan orang baik, setidaknya tidak jahat".


Theo memasangkan perban kepada luka dikaki Nadhira. Setelah selesai Theo menanyakan apa yang terjadi kepada Nadhira. Nadhira menjelaskan bahwa adik tirinya telah diculik dan sampai sekarang belum juga ditemukan, keluarganya sudah menghubungi pihak berwajib, tetapi laporan mereka masih belum diterima karena belum sampai 24 jam.


Nadhira memaksa untuk pergi mencari keberadaan dari adik tirinya, tetapi Theo tidak membiarkannya berjalan sendirian, akhirnya ia membantu memapah Nadhira. Malam pun tiba, Theo hendak mengajak Nadhira untuk pulang, tetapi Nadhira terus menolaknya, dan bilang bahwa ia ingin menemukan keberadaan Amanda.

__ADS_1


Melihat Nadhira tidak mau pulang, Theo segera menghubungi Revi, teman sekelasnya. Revi adalah anak yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan, ia mendapatkan beasiswa untuk bisa bersekolah dimana Nadhira dan teman temannya sekolah. Tak beberapa lama Revi datang dan mencoba membujuk Nadhira agar mau pulang bersamanya.


Nadhira terus saja menolak ajakan Revi dan Theo. Nadhira sangat kelelahan dan wajahnya menjadi pucat seakan akan tiada darah yang mengalir ditubuhnya. Nadhira terus berjalan menyusuri jalanan yang tak berujung, tak lama kemudian kesadarannya memudar. Nadhira tidak sadarkan diri dan Theo menangkapnya, keduanya segera membawa Nadhira kepanti asuhan tempat Revi, karena jarak antara rumah Nadhira dengan posisinya saat ini cukup jauh, sehingga mereka memutuskan untuk membawanya kepanti yang jaraknya lebih dekat.


__ADS_2