
Sore itu seluruh peserta maupun panitia pelaksana acara sedang berkumpul diluar tenda beserta bapak ibu guru yang mengikuti camping tersebut.
Rifki menjelaskan kepada seluruh peserta untuk acara malam ini yakni jelajah malam, setelah menjelaskan itu kepada mereka semua, seluruh peserta segera kembali ketendanya masing masing, mereka akan berkumpul kembali ketempat itu ketika waktu menunjukkan pukul 8 malam.
Ditempat itu sekarang hanya tinggal anggota OSIS saja, sementara yang lainnya segera bersiap siap untuk membersihkan tubuh mereka setelah melaksanakan senam bersama.
"Untuk acara jelajah malam kali ini, ada banyak sekali pantangan yang tidak boleh dilanggar sedikit pun, atau kalian akan kerepotan dimalam ini". Ucap Rifki memperingatkan kepada mereka semua.
"Maksudnya apa ketua? Aku tidak mengerti".
"Iya aku juga".
"Jadi gini ya teman teman, dihutan ini tidak hanya ada bangsa kita saja, tapi masih banyak bangsa gaib yang berada disekitar kita, jangan sampai membuat mereka terganggu atau kita yang akan diganggu oleh mereka, jangan membuang air kecil atau besar disembarang tempat, jangan membuat kebisingan ditempat ini seperti teriak teriak dan sebagainya, jangan berkata kotor atau kasar tentang hutan yang akan kalian lewati nantinya, ya kira kira seperti itu". Jelas Nadhira kepada semuanya.
"Tambah satu lagi, jangan merusak alam sekitar yang akan dilewati para peserta, seperti sengaja mematahkan ranting, mengambil bunga dan lain sebagainya sebelum mendapatkan izin dari pemiliknya, biasanya mahluk gaib paling suka tinggal ditempat tempat seperti itu". Ucap Rifki menambahkan ucapan Nadhira.
"Oh seperti itu, baik ketua kami paham".
Rifki menjelaskan kepada mereka tentang jalur yang akan mereka lewati sebagai pos 1 sampai pos 5 dan berakhir ditempat perkemahan, sebelum mereka melakukan jelajah malam Rifki membimbing anggotanya untuk memasang petunjuk yang akan para peserta lewati.
Sebelum menancapkan tanda tersebut, Rifki terlebih dahulu meminta izin dengan penghuni disana agar tidak terjadi hal hal yang tidak mereka inginkan, seperti tanda yang mereka berikan tiba tiba terbalik arahnya.
Setelah itu selesai mereka segera kembali ketempat mereka berkemah, untuk membahas rencana mereka selanjutnya, setelah selesai mereka segera kembali ketendanya masing masing untuk beristirahat sambil menunggu waktunya untuk berkumpul kembali.
Ketika waktu menunjukkan pukul 8 malam mereka kembali berkumpul, salah satu anggota OSIS menjelaskan kepada para peserta tentang apa yang telah Rifki sampaikan kepada mereka sebelumnya agar tidak terjadi masalah ketika melaksanakan kegiatan jelajah malam tersebut dihutan itu.
Rifki kembali memeriksa jalan yang akan mereka tempuh untuk memastikan bahwa tidak ada campur tangan dari mahluk gaib yang akan menyesatkan para peserta, sementara anggota OSIS yang Rifki perintahkan untuk menjaga pos segera bergegas menuju keposisi mereka masing masing.
Anggota OSIS inti segera menyebar untuk memastikan perjalanan para peserta lancar sampai tujuan kembali keperkemahan tanpa halangan apapun itu, Nadhira berjaga ditempat perkemahan untuk memastikan kedatangan para peserta sementara Rifki berjelajah sambil mengawasi perjalanan para peserta.
Ketika Rifki kembali keperkemahan untuk minum karena dirinya haus setelah melaksanakan aktivitas yang begitu padat dihari itu tiba tiba ada seorang peserta berlari kearahnya dengan tergesa gesa.
"Kak!!". Panggil peserta itu kepada Rifki.
Rifki yang mendengar panggilan itu segera berlari kearahnya, Rifki melihat wajah anak itu seakan akan pucat karena dirinya kelelahan dalam berlari, nafasnya mulai memburu seakan akan telah terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Ada apa?". Tanya Rifki dengan keterkejutannya.
"Anu... Mereka...". Anak itu tidak mampu menjelaskan kepada Rifki dengan benar karena nafasnya yang tidak stabil.
Nadhira yang mendengar suara keras Rifki segera berlari kearah itu, ia juga terkejut ketika melihat anak itu yang seakan akan, akan kehabisan nafasnya karena dirinya telah berlari cukup jauh dari tempat asalnya keperkemahan.
"Tarik nafas, tahan, buang, pelan pelan, jelaskan kepadaku apa yang terjadi?".
"I... Itu Kak dipos tiga". Ucapnya.
"Kenapa dengan pos tiga? Apa yang terjadi? Gawat!!".
Tanpa menunggu jawaban dari anak tersebut, Rifki segera berlari menuju kepos yang dimaksud diikuti oleh Nadhira yang sedang berlari dibelakangnya, keduanya tidak mengetahui apa yang terjadi dipos yang dimaksud, dari kepanikan anak itu menunjukkan bahwa pos tiga sedang tidak baik baik saja.
Kepanikan itu membuat seluruh orang yang ada diarea tenda menghentikan aktivitas jelajah malam untuk grub yang selanjutnya sampai masalah benar benar mampu teratasi.
Rifki berlari dengan tergesa gesa untuk segera memeriksa apa yang sebenarnya terjadi dipos tiga tersebut, dilihat dari wajah peserta yang melaporkannya membuat Rifki merasa yakin bahwa keadaan dipos itu sangat parah.
Sesampainya Rifki ditempat itu, Rifki merasa sangat terkejut dengan hal itu, beberapa siswa cowok sedang mengambuk ditempat itu dan sedang dipegangi oleh beberapa anggota OSIS yang sedang kesulitan itu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?!". Tanya Rifki dengan marahnya ketika melihat hal itu.
Para anggota OSIS merasa sedikit lega ketika kedatangan Rifki ketempat itu dengan cepatnya setelah mereka menyuruh salah satu peserta untuk mendatangi perkemahan sementara anggota OSIS disibukkan dengan amukan dari peserta lainnya, karena Rifki disitu adalah ketua OSIS sehingga ia harus siap siaga dalam menghadapi masalah apapun selama masa camping tersebut.
"Ngak tau ketua, ketika dia datang kemari sudah mengamuk seperti ini".
"Aku sudah bilang sebelumnya! Jangan sampai ada yang melanggar pantangan yang ada disini, kenapa masih aja ada yang melanggarnya!". Bentak Rifki kepada anggotanya.
Tak beberapa lama Nadhira akhirnya tiba ditempat itu juga, ia terkejut melihat Rifki sedang membentak para anggotanya seperti itu, ia segera menenangkan emosi Rifki disaat itu.
"Rifki tenang!! Tidak semuanya adalah salah mereka, mereka sudah memperingatkan kepada para peserta juga sebelumnya! pada dasarnya saja peserta itu bandel". Ucap Nadhira sambil memegangi tangan Rifki dengan eratnya.
Rifki melirik kearah Nadhira sekilas, setelah itu mengalihkan pandangannya kepada peserta yang sedang mengamuk tersebut, Rifki segera mendatangi peserta yang paling dekat dengannya.
"Hentikan!!". Ucap Rifki yang tanpa sengaja telah mengeluarkan khodam penjaganya dan tanpa adanya seorang yang mengetahui hal itu.
Ucapan itu berhasil membuat para peserta yang sedang mengamuk tersebut merasa sedikit tenang dan menurut dengan ucapan Rifki untuk tetapi diam ditempat mereka.
Setiap gadis yang melihat Rifki ketika sedang mengeluarkan khodamnya akan terpanah kepadanya, karena karisma yang terpancarkan dari wajah Rifki seakan akan seperti seorang keturunan bangsawan.
Hal itu akan terlihat berbeda daripada sebelumnya, mereka tidak menyadari bahwa aura yang terpancarkan itu berasal dari khodam penjaga milik Rifki yang turun temurun dari leluhurnya.
"Kenapa Kakak ketua OSIS terlihat begitu gagah kali ini". Ucap salah satu peserta perempuan yang berada di lokasi tersebut.
"Kau benar, kelihatan begitu tampan sekarang daripada saat berada diarea tenda sebelumnya tadi". Sahut temannya yang ada disebelahnya.
"Sepertinya aku terpanah dengan ketampanannya saat ini". Ucap seseorang yang berada diantara kedua anak itu.
Rifki sama sekali tidak mempedulikan ucapan itu, yang ia pedulikan adalah para peserta yang sedang kesurupan penghuni yang ada dihutan tersebut karena telah melanggar pantangan yang seharusnya tidak mereka langgar sebelumnya.
"Anak ini telah mengangguku". Jawab mahluk itu menggunakan raga dari anak itu dengan suara yang terdengar seperti serak yang menakutkan.
"Apa yang telah dilakukan oleh anak ini?".
Rifki menyentuhkan ibu jarinya kepada kening anak itu, sekilas ingatan ia lihat diantara kegelapan memejamkan kedua matanya, Rifki dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh anak itu sebelumnya dari pengelihatan mahluk itu.
Rifki memejamkan kedua matanya dan mengahadap kearah anak yang kerasukan itu, sementara roh halus itu menatap kearah Rifki begitu tajam dengan menggunakan tubuh anak itu.
Perlahan lahan anak yang kerasukan itu terpental mundur dan terguling ditanah dengan tiba tiba, sementara Rifki memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, Nadhira yang melihat itu segera memegangi tubuh Rifki dengan erat agar Rifki tidak terjatuh karena dorongan yang tidak nampak itu.
"Kamu kenapa Rif?". Tanya Nadhira dengan paniknya ketika kelihat setetes darah berada diujung bibir Rifki.
"Ngak apa apa, aku menyuruh mahluk itu untuk keluar dari raga anak ini, tetapi mereka sangat marah saat ini dan menyerang roh ku dengan sangat ganasnya karena tidak terima aku suruh keluar, untung saja ada khodam penjaga keturunan yang melindungiku". Ucap Rifki pelan kepada Nadhira sambil menghapus noda darah itu dengan menggunakan ibu jarinya.
"Kenapa mereka sangat marah Rif? Kamu baik baik saja?". Tanya Nadhira yang begitu khawatirnya.
"Peserta ini ada yang meludah sembarangan diarea hutan ini, ada yang dengan sengaja merusak pepohonan disini dengan mencabuti daun daunya, ada yang menendang nendang rerumputan disekitar sini tanpa sengaja mengenai mahluk halus sehingga mereka begitu marah saat ini, untung saja hanya roh ku yang terluka sedikit tapi ngak apa apa".
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?".
"Nimas, iya Nimas".
"Beberapa hari ini aku tidak mendengarnya berbicara, aku ngak tau dimana dia sekarang".
"Ngak ada waktu lagi, kalian cepat pegangi mereka dengan erat!". Perintah Rifki kepada anggotanya dan langsung dilaksanakan oleh mereka.
__ADS_1
"Rifki, jangan membuat dirimu sendiri dalam bahaya demi melawan mereka sendirian!". Teriak Nadhira kepada Rifki.
"Tenang Dhira, aku hanya akan meminta mereka keluar dari tubuh para peserta dengan baik baik, tidak akan melakukan hal lain".
Tak beberapa lama kemudian datanglah Bapak Ibu guru yang ikut dalam camping untuk melihat keadaan beberapa anak itu seperti apa yang dikatakan oleh siswanya kepada mereka.
Rifki dapat melihat bahwa mahluk yang merasuki mereka adalah mahluk gaib golongan genderuwo yang sangat ganas, sehingga membuatnya sangat kerepotan karena mereka juga ingin menyerang Rifki karena mereka tidak terima dengan apa yang diinginkan oleh Rifki untuk mengeluarkan mereka.
"Nimas dimana kamu?". Guman Nadhira pelan memanggil nama Nimas.
Rifki kembali mendekat kearah anak yang kesurupan tersebut, aura yang terpancarkan dari wajahnya begitu kuat daripada sebelumnya sehingga membuat karisma yang terpancar membuat setiap orang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari Rifki.
"Apa maumu?". Tanya Rifki kepada mahluk itu.
"Membawa mereka ikut dengan kami". Jawabnya dengan suara yang mengerikan.
"Kalau aku tidak mengizinkannya, apa yang bisa kalian lakukan?". Ucap Rifki dengan tegasnya.
"Kami akan melawanmu!!".
"Keluar kalian dari tubuh anak anak ini, dan lawanlah aku sekarang juga!".
"Tidak! Tidak akan!". Ucao mahluk itu menggunakan tubuh peserta camping sambil memberontak dari pegangan anggota OSIS.
"Apa kau takut melawanku! Keluar sekarang hadapi aku".
Tiba tiba Raka muncul disamping Rifki diikuti oleh Nimas yang muncul disamping Nadhira, kedatangan Ratu iblis membuat mahluk tersebut tunduk kepadanya.
Pandangan anak anak yang kesurupan itu tertuju kepada Nadhira menurut semua orang akan tetapi menurut mahluk tersebut mereka sedang memandang kearah Nimas yang berdiri disamping Nadhira saat ini.
Aura permata iblis keluar dari tubuh Nadhira tanpa sepengetahuan dari orang orang yang ada ditempat itu kecuali Rifki dan para mahluk yang tak kasat mata.
"Rifki kendalikan aura khodammu, jangan sampai ada orang yang tau". Ucap Raka memperingatkan kepada Rifki.
Rifki ssgera memejamkan kedua matanya untuk menenangkan pikirannya, agar emosinya tidak menguasai dirinya yang akan menyebabkan masalah baginya nanti.
Aura iblis yang keluar tersebut mampu menundukkan makluk yang berada disekitar tempat itu, aura merah kehitaman itu membuat para mahluk takluk kepada pemilik aura dengan sekejap, aura itu terlihat begitu mengerikan daripada aura yang dipancarkan oleh para mahluk yang ada ditempat itu.
Manusia biasa yang tanpa kelebihan seperti Rifki dapat merasakan hawa yang sangat mencengkeram ditempat itu, lebih menyeramkan daripada sebelumnya karena aura yang dikeluarkan oleh permata dari tubuh Nadhira.
Seluruh anak gadis yang berada di lokasi itu merasa ketakutan karena aura dingin yang begitu menusuk ketubuh mereka yang mampu membuat bulu kuduk mereka berdiri, sementara seluruh anak cowok yang ada ditempat itu hanya bisa memeluk tubuh mereka masing masing karena hawa dingin tersebut.
Disatu sisi seseorang yang telah memasuki hutan tersebut sebelumnya karena ingin mengawasi desa Mawar Merah karena tujuannya mereka tiba tiba merasakan adanya aura dari permata iblis yang terasa samar karena dirinya juga mendalami ilmu dukun sehingga dirinya dapat merasakan bahwa adanya aura permata iblis berada disekitar tempat itu.
"Dari mana asalnya aura ini? Kenapa asal aura ini berlawanan dari desa yang telah lama kosong ini? Aku harus mencarinya".
Orang tersebut segera mencari tahu tentang asal dari aura tersebut, dengan cara merasakan arah kedatangannya, orang itu memiliki ambisi untuk mendapatkan permata tersebut, akan tetapi dirinya tidak mengetahui bahwa ada iblis yang tengah melindunginya.
Kemunculannya dihutan dengan tiba tiba adalah sesuatu yang tidak biasa orang itu rasakan, karena baginya kekuatan itu cukup besar yang harus ia dapatkan secepatnya untuk mengambil manfaat dari permata iblis yang sangat menggiurkan itu.
*****
"Nadhira dengarkan aku, aku akan masuk kedalam tubuhmu dan akan mengendalikan aura permata ini, sebelum adanya bahaya yang datang dan akan membuatmu dalam masalah yang besar". Ucap Nimas memperingatkan Nadhira.
Nimas merasakan ada sesuatu yang akan mendekat ketempat itu, sesuatu itu tidak lain adalah seseorang yang mempelajari ilmu dukun yang akan merebut permata iblis itu dari Nadhira, yang akan menyebabkan Nadhira kehilangan nyawanya apabila permata itu sampai dikeluarkan dari tubuh Nadhira karena permata itu sudah mulai melekat didalam tubuhnya.
__ADS_1
Sedangkan Nimas sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya untuk melepaskan permata itu dari tubuh Nadhira karena hanya Pangeran Kian yang mengetahuinya karena dirinyalah yang menciptakan permata tersebut.