
Para keamanan itu menunduk dihadapan Rifki diikuti oleh dua orang anak buah Rifki yang sengaja Rifki bawa serta keluar negeri, mereka berdua adalah anak buah rahasia Rifki dan sangat dipercayai olehnya.
"Apa ada masalah Tuan Muda". Ucap salah satu anak buah Rifki yang menunduk dihadapan Rifki.
"Amankan perempuan ini, jangan biarkan dia lolos atau kalian yang akan menanggung semuanya, bawa dia kepenjara".
"Baik Tuan Muda".
"Kalian tidak bisa membawaku kepenjara begitu saja, kalian tidak akan bisa! Ingat itu". Perempuan itu terus memberontak meminta dilepaskan.
"Kenapa tidak? Apa kau merasa sangat yakin bahwa hipotesismu akan bekerja dibawahku? Tidak semudah itu". Rifki menggerakkan tangannya dan mengarahkannya kepada wanita itu.
Entah apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini, memang wanita itu ahli dalam hal gaib, akan tetapi Rifki jauh lebih ahli dalam masalah itu karena dirinya adalah darah keturunan dari Pangeran Kian sang pemilik keris pusaka xingsi yang sangat kuat.
Rifki mencabut susuk emas yang telah menancap dipipi wanita itu karena Rifki menganggap bahwa susuk itu begitu membahayakan orang orang yang ada disekitarnya karena wanita itu mampu dengan mudah untuk menghipnotis orang yang ada disekitarnya.
Setelah susuk itu tercabut dari tubuh wanita itu, seketika itu juga paras asli dari wanita itu dapat terlihat kembali, hal itu membuat orang orang yang ada disekitar itu begitu terkejut karena wanita itu terlihat begitu tua daripada sebelumnya karena susuknya telah dicabut oleh Rifki.
Rifki justru sama sekali tidak terkejut dengan situasi yang ia alami saat ini, karena sejak awal Rifki sudah mengetahui tentang wujud asli dari wanita itu, dirinya juga mengetahui bahwa wanita itu telah memakai benda benda keramat untuk melakukan hipnotis dan membuat para lelaki yang melihatnya akan tertarik kepadanya hanya dalam waktu sekejap saja.
Wanita itu mampu merasakan bahwa mantra hipnotisnya sudah tidak lagi mampu bekerja kepada orang orang yang ada disitu, para penjaga itu enggan untuk menangkap wanita itu karena tanpa adanya bukti sedikitpun, akan tetapi Rifki segera menyuruh mereka untuk membuka isi dari tas yang dibawa oleh gadis itu, mereka begitu terkejut ketika mengetahui bahwa bukan hanya satu korban saja melainkan begitu banyak korban yang terkena hipnotis itu.
"Berapa orang yang telah kau hipnotis itu? Bukan hanya sekali kau melakukan itu, tapi kau melakukan itu secara berkali kali dan tidak punya rasa bersalah sedikitpun". Ucap Rifki berkomentar ketika melihat isi dari tas yang wanita itu bawa sebelumnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!". Teriak wanita itu meminta untuk dilepaskan.
Teriakan dari wanita itu seketika membuat seluruh penumpang yang ada didalam pesawat itu segera menoleh kearah asal dimana suara itu berada, mereka melihat kejadian itu dalam diamnya karena tidak ingin terlibat dalam masalah itu.
Mereka dapat mengetahui banyaknya korban hipnotis itu ketika mereka melihat begitu banyak benda benda berharga yang ada didalam tas milik gadis itu, meskipun tasnya sedikit kecil akan tetapi muat begitu banyak harta harta berharga didalamnya.
Akhirnya mereka tidak ada pilihan lain selain membawa perempuan itu kesebuah ruangan yang ada didalam pesawat itu untuk diamankan, mereka juga tidak lupa untuk memborgolnya agar wanita itu tidak berbuat nekat didalam pesawat yang sedang mereka tumpangi saat ini.
*****
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampailah dirumah Nadhira, Nadhira segera turun dari mobil tersebut setelah berpamitan kepada Putri dan juga Bayu yang telah mengantarnya pulang.
Dengan perasaan sedihnya, Nadhira terus melangkah manju menuju kekamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelahnya setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dan juga sebuah perpisahan yang terasa begitu berat baginya, tidak ada hal yang menyedihkan daripada sebuah perpisahan.
"Nak kamu kenapa?". Tanya Bi Ira ketika melihat Nadhira terlihat begitu pucat tengah lewat di depannya saat ini.
Nadhira segera menjatuhkan tubuhnya didalam pelukan Ibu angkatnya itu, Bi Ira dapat mendengar suara isak tangis yang begitu lirih dari mulut Nadhira, Bi Ira terlihat begitu bingung ketika mengetahui bahwa Nadhira tengah menangis saat ini, entah apa yang terjadi dengannya.
Nadhira yang tengah berada didalam pelukan Ibu angkatnya, dirinya sudah tidak mampu lagi untuk menahan tangisannya itu, sehingga dirinya menangus sesenggukan didalam pelukan wanita itu,
"Rifki, Bu". Ucap Nadhira pelan.
"Kenapa dengan Rifki? Apa yang terjadi kepadanya? Apa kamu bertengkar dengannya terus dia membuatmu menangis seperti ini? Dimana dia sekarang? Apa dia tidak ikut kemari karena takut dimarahi?". Tanya Bi Ira dengan beruntun kepada Nadhira sehingga Nadhira tidak mampu menjawab pertanyaan dengan sangat cepatnya.
"Rifki pergi meninggalkanku Bu, dia pergi keluar negeri". Ucap Nadhira yang sudah tidak sanggup untuk menahan air matanya.
Mendengar itu Bi Ira langsung memeluk Nadhira dengan eratnya, dirinya mampu merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Nadhira saat ini karena dirinya juga pernah merasa begitu kehilangan orang yang paling berarti baginya dahulu kala seperti adanya sosok Lia yang mewarnai hidupnya.
__ADS_1
"Apa!! Rifki pergi? Kenapa tidak ada yang memberitahuku mengenai itu". Tiba tiba suara Amanda bergema diruangan itu.
Mendengar suara itu seketika membuat Nadhira melepaskan pelukannya dari Ibu angkatnya, dengan cepatnya ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya dan menatap kearah Amanda.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?". Tanya Amanda ketika melihat Nadhira menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi seseorang.
"Untuk apa mereka memberitahumu, kau sendiri bahkan tidak begitu akrab dengannya, jadi untuk apa mereka memberitahumu?". Jawab Nadhira.
"Aku berhak mengetahui tentangnya Dhira! Aku sangat menyayangi Rifki, kau sama sekali tidak bisa menghalangiku untuk mendapatkannya".
"Menyayanginya?". Nadhira tersenyum kaku kepada Amanda. "Rasa sayang seperti apa yang kau miliki untuknya? Aku bisa berbagi kasih sayang orang tua kepadamu, tapi tidak dengan Rifkiku, dia milikku, kau bisa merebut semuanya dariku, tapi kau tidak akan pernah bisa merebut Rifki dariku".
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendapatkan Rifki terlebih dulu".
"Aku tidak takut, karna aku percaya, apapun yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah menjadi milik orang lain selain aku". Tegas Nadhira.
Amanda mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan dari Nadhira, ia lalu menghentakkan kakinya dilantai beberapa kali yang menandakan bahwa dirinya terlihat begitu kesal saat ini, setelah itu Amanda segera bergegas pergi dari tempat itu meninggalkan Nadhira dan Bi Ira.
Nadhira menatap kepergian dari Amanda sambil menghela nafas panjang, melihat itu Bi Ira segera menegangi tangan Nadhira.
"Entah kenapa ketika Manda mengatakan itu aku sama sekali tidak iklas jika harus kehilangan Rifki hanya untuk dirinya, meskipun saat ini aku tidak tau apakah suatu hari nanti dapat bertemu kembali dengannya, apakah aku terlihat begitu egois Bu?". Tanya Nadhira dengan lirihnya.
"Ibu paham dengan apa yang kau rasakan Nak, meskipun tanpa kata kata Ibu dapat mengetahuinya, kau telah menganggap Rifki adalah segalanya dan tidak ingin adanya orang lain yang merebutnya darimu, cinta pertama seorang anak gadis terletak pada Ayahnya, dan jika seorang anak perempuan bermasalah dengan Ayahnya maka dia akan mencari tempat lain untuk mencurahkan isi hatinya, dan itu yang kamu alami saat ini Nak, kau merasa begitu nyaman dengan Rifki dan hal itulah yang menyebabkan kau tidak ingin melihat orang lain merebut Rifki darimu".
"Ibu, aku hanya memilikimu seorang yang dapat mengerti apa yang aku rasakan, terima kasih telah hadir dalam kehidupanku saat ini".
"Kau adalah anak sahabatku, akan aku lakukan apapun asalkan kau bahagia Nak".
Tiba tiba terdengar suara perut Nadhira yang berbunyi pertanda cacing cacing yang ada didalamnya memberontak untuk meminta diisi, mendengar itu membuat Bi Ira tersenyum tipis kepada Nadhira sementara Nadhira begitu malu ketika perutnya berbunyi didepan Ibu angkatnya.
"Kau lapar Nak? Ayo makan dulu".
"Sedikit Bu".
"Ya sudah ayo makan, Ibu tadi sudah masakin makanan kesukaanmu Nak, ayam kecap".
"Beneran? Ibu tau, masakan Ibu itu sangat mirip dengan masakan Mama, aku bisa merasakan kehadiran Mama didalam tubuh Ibu".
Nadhira dan Bi Ira segera bergegas menuju kedapur untuk mengisi perutnya, Nadhira sudah tidak tahan lagi ingin makan masakan itu, untuk membayangkan saja membikin perut keroncong apalagi ketika mencium baunya yang begitu harum hingga memenuhi seluruh ruangan.
Bi Ira menuangkan nasi dan lauk dipiring Nadhira, Nadhira segera menyantapnya hingga tandas tak tersisa karena rasa masakan itu yang membuatnya merasa damai karena dirinya mampu merasakan kehadiran Mamanya disampingnya.
Setelah itu Nadhira masuk kedalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, sesekali Nadhira melamun menghadap kearah jendela kamarnya dimana dulunya Rifki sering memanjatnya untuk mengajak Nadhira bermain bersama.
"Rifki, kapan kau akan kembali". Ucap Nadhira pelan.
Pandangannya jatuh kepada gelang yang melingkar ditangannya, gelang itu adalah gelang pemberian dari Rifki sebelum Rifki berangkat keluar negeri, gelang itu melingkar begitu indah dipergelangan tangan Nadhira saat ini.
Nadhira tersenyum kearah gelang itu, meskipun dengan tersenyum akan tetapi air matanya berhasil keluar dari pelupuk matanya dan jatuh tepat mengenai gelang tangan itu, seketika itu juga Raka muncul didepan Nadhira akan tetapi Nadhira tidak dapat melihatnya ataupun mendengar suaranya.
"Kasihan sekali kamu itu, masih muda saja sudah patah hati seperti ini, huh seandainya aku masih hidup aku akan menggantikan posisi Rifki dihatimu gadis cantik". Ucap Raka.
__ADS_1
Tiba tiba Nimas juga ikut muncul disamping Raka, melihat Nadhira yang menangis sambil memandangi gelang yang ada ditangannya membuatnya tidak bisa berkata kata lagi, dirinya menyesali perbuatannya yang telah menaruh permata itu kedalam tubuh Nadhira karena ambisinya untuk membalaskan dendamnya atas kematian keluarga besarnya.
"Aku memiliki firasat buruk yang akan terjadi pada gadis ini, apa kau juga sama sepertiku?". Tanya Raka kepada Nimas tanpa menoleh sedikitpun.
"Iya aku juga merasakan itu, malam ini adalah malam gerhana bulan merah, gawat!!".
"Apa yang kau bicarakan Nimas?". Tanya Nadhira yang mampu mendengar suara Nimas.
"Gawat apa? Apa yang akan terjadi malam ini?". Tanya Raka yang kebingungan dengan ucapan Nimas.
"Dhira dengarkan aku baik baik untuk malam ini jangan sampai kamu keluar dari kamarmu ini, aku tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh Ibu tirimu saat ini, kekuatan dari permata itu akan bergejolak, ini sangat bahaya Dhira, jika kau keluar dari kamar ini aku tidak tau lagi harus berbuat apa, Rifki telah memasang sebuah pelindung dikamarmu ini, sehingga tidak ada bangsa jin yang mampu masuk kedalamnya kecuali aku dan Raka". Ucap Nimas dengan nada paniknya.
"Bahaya apa yang kau maksud itu, kau adalah Ratu iblis apa kau tidak bisa mengatasinya sampai kau terlihat begitu panik seperti itu?". Sela Raka.
"Ratu iblis hanyalah sebuah julukan belaka saja, dan aku juga punya kelemahan dengan sesuatu".
"Apa sebenarnya yang akan terjadi denganku nanti malam? Kenapa aku tidak boleh keluar dari kamarku sendiri? Apa mungkin nyawaku akan berakhir disini kali ini? Aku hanya berharap sebelum kematianku tiba aku ingin bertemu dengan Rifki". Tanya Nadhira dengan air mata yang berjatuhan membayangkan Kematiannya yang mulai mendekat.
"Apa yang kau katakan Dhira, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, percayalah kepada kami, kami tidak akan membiarkanmu dalam bahaya, kami akan berusaha sebisa mungkin untuk melindungimu". Ucap Nimas meyakinkan Nadhira.
"Tidak usah menghiburku seperti itu Nimas, aku tau kok, kalau aku tidak akan bisa hidup lebih lama lagi".
"Kata siapa? Percayakan hal itu kepada Tuhan mu, jika kau berpikir seperti itu maka itu sama halnya kau tidak mempercayai takdir yang telah Tuhan mu berikan kepadamu".
"Kau benar, hidup sampai kapan pun itu tidak masalah, asalkan hidup dalam ketakwaan, semua orang yang hidup telah ditakdirkan untuk mati, tiada yang mustahil bagi-Nya".
Nadhira sudah mulai terbiasa mendengar suara Nimas yang tiba tiba terdengar disampingnya sehingga Nadhira sudah bisa bersikap seperti biasanya tanpa adanya rasa terkejut maupun ketakutan karena dirinya hanya mampu mendengar suaranya tanpa rupanya.
Nadhira hanya mampu mendengar suara Nimas saja, dirinya tidak mampu mendengar suara Raka, meskipun Raka ada disampingnya sekalipun itu, Nadhira tidak bisa mendengar suaranya ataupun melihat wujudnya yang ia tau hanyalah Raka yang selalu mengikutinya beserta dengan Nimas.
Tanpa mereka sadari bahwa waktu tengah berjalan begitu cepatnya, Nadhira mengurung dirinya didalam kamar tersebut dengan cara mengunci pintu dan jendela kamarnya dengan rapat rapat agar tidak ada sesuatu yang mampu menariknya untuk keluar dari kamarnya, didalam kamar itu juga terdapat Nimas dan Raka yang terus mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh Nadhira tanpa sepengetahuannya.
"Gerhana bulan sudah mulai terlihat, apa yang harus kita lakukan sekarang?". Tanya Raka kepada Nimas yang sedang duduk bersebelahan.
"Kita tunggu saja, entah apa yang akan perempuan itu lakukan malam ini, semoga saja apa yang ia lakukan tidak berdampak pada Nadhira". Jawab Nimas yang merasa sedikit tidak tenang.
Tiba tiba terlihat sekelibat bayangan yang lewat didepan kamar Nadhira, meskipun jendela kamar tersebut sudah tertutup dengan eratnya dan tirai sudah menutupinya akan tetapi sekelibat bayangan itu mampu dilihat oleh Nadhira, hal itu membuat Nadhira begitu terkejut dan ketakutan.
"Jangan takut Dhira, anggap saja yang baru saja lewat itu adalah manusia biasa seperti dirimu". Ucap Nimas kepada Nadhira.
"Aku sangat takut Nimas, apa yang harus aku lakukan saat ini?". Batin Nadhira menjerit.
"Aku akan memeriksanya". Ucap Raka.
Setelah mengatakan itu, Raka segera menghilang dari tempat itu pergi entah kemana, setelah kepergian Raka, Nimas langsung bersiaga dikamar itu, meskipun kamar itu sudah dilindungi oleh Rifki tetapi tidak menutup kemungkinan mahluk gaib itu tidak mampu masuk kedalamnya saat ini.
"Kamu tenang Dhira, Raka sudah pergi untuk memeriksanya". Ucap Nimas.
Mendengar itu membuat Nadhira merasa begitu lega saat ini, tetapi dirinya tidak yakin bahwa Nimas dan Raka akan mampu menjaganya untuk malam ini, Nadhira hanya berharap bahwa semuanya akan baik baik saja untuk malam ini.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...
__ADS_1