Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Serangan


__ADS_3

Theo memberikan sesuatu kepada luka yang ada ditangan wanita tersebut dengan begitu hati hati, Nadhira dan Ningsih hanya bisa berdiam diri sambil menyaksikan apa yang dilakukan oleh Theo itu.


"Bagaimana keadaannya? Dia telah terkena cakaran mahluk itu, kasihan sekali dirinya" Ucap Ningsih sambil membayangkan tentang luka cakaran yang ada dilengan temannya itu dan akan berakhir dengan tangannya yang akan di amputasi.


"Dia baik baik saja, biarkan dia istirahat sebentar nanti setelah dia sadar, dia akan membaik dengan sendirinya" Jawab Theo.


"Tapi luka yang ada ditangannya itu, apakah bisa disembuhkan?"


"Ha?" Bengong Theo, "Kenapa tidak?"


"Theo, Bu Ning bilang kalau didesa ini pernah ada yang terkena cakaran itu, tapi lukanya semakin memburuk dan harus d amputasi tangannya, agar lukanya tidak sampai pada tubuhnya dan akan berakhir dengan kematian, itu sebabnya dia bertanya seperti itu" Ucap Nadhira menjelaskan.


"Aku lupa memberitahu kalian, itu bukanlah sebuah kuku yang panjang melainkan sebuah besi yang memang telah sengaja dipasang, dan besi itu sengaja diberi racun agar setiap orang yang terkena cakaran itu tidak bisa disembuhkan, aku telah memberikan dia penawar itu jadi tidak perlu khawatir soal lukanya".


"Racun? Kenapa kau bisa tau kalau dia terkena racun? Dan kenapa kau bisa memiliki penawarnya dengan mudah? Siapa kalian sebenarnya?" Tanya Ningsih yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Theo.


"Bu Ning tenang dulu, aku adalah anak geng jalanan, jadi soal racun racun seperti ini aku tau betul karena kehidupanku yang sering bentrok dengan anggota geng lainnya sehingga senjata seperti ini sudah biasa bagiku dan aku juga selalu membawa penawarnya kemanapun aku pergi karena aku tidak tau kapan dan dimana saatnya aku terdesak".


Mendengar penjelasan Theo hal itu membuat Ningsih menghela nafas lega, ia pikir bahwa Theo adalah bagian dari mahluk mahluk itu sehingga dirinya tau betul dengan apa yang dialami oleh temannya itu, Nadhira hanya mengangguk karena ia juga tau bahwa Theo adalah pemimpin dari sebuah geng.


"Ini sudah terlalu larut malam, sebaiknya kalian istirahat, aku akan mencari Pak Mun" Ucap Theo.


"Kau mau mencarinya sendirian? Aku mau ikut denganmu Theo untuk mencari Pak Mun".


"Tapi ini berbahaya Dhira, aku tidak ingin kau kenapa kenapa nantinya".


"Apapun bahayanya nanti kita harus hadapi bersama sama Theo, kita datang kemari bersama dan kita harus kembali juga dengan bersama sama".


"Baiklah, kau boleh ikut denganku mencari Pak Mun" Ucap Theo sambil menyerahkan kembali tongkat milik Nadhira, "Jangan lupa beladiri, kau lebih membutuhkannya daripada diriku nanti".


Nadhira mengangguk dan segera menerima tongkat yang telah memendek itu, ia terdiam beberapa saat karena dirinya masih memikirkan tentang kondisinya yang kini hanya memiliki satu ginjal, Nadhira nampak sedikit ragu dengan ilmu beladiri yang ia miliki apakah masih mampu ia gunakan dalam keadaannya yang seperti sekarang ini.


"Rifki tongkat ini telah menakan begitu banyak darah, apakah aku akan sanggup untuk memakainya lagi dengan kondisi seperti ini? Ku harap aku tidak pernah mengecewakan dirimu, maafkan diriku yang telah menodai tongkat ini dengan darah" Batin Nadhira sambil menatap kearah tongkat yang ada ditangannya saat ini.


Nadhira memandangi tongkat yang ada ditangannya itu dengan bertuliskan nama *Kinara* yang maksudnya adalah Rifki dan Nadhira, ukiran itu terlihat begitu indah dan cekungan dari huruf itu kini tengah terisi oleh darah sehingga tulisan itu yang tadinya berwarna perak kini berubah menjadi tulisan yang berwarna merah darah.


"Ada apa Dhira?" Tanya Theo yang melihat kediaman dari Nadhira.


"Ngak apa apa, ayo pergi".


"Apa kalian beneran akan pergi kesana saat ini? Bagaimana kalau kalian kenapa kenapa?" Ucap Ningsih dengan khawatirnya kepada keduanya.


"Selama kita bersama, tidak akan terjadi sesuatu dengan kita Bu, bantu kami dengan doa" Ucap Theo.


"Ku harap kalian bisa kembali dengan selamat, berhati hatilah".


"Iya Bu, kami pamit dulu".


Theo dan Nadhira segera bergegas meninggalkan tempat itu, ketika baru beberapa langkah Nadhira menoleh kembali kearah Ningsih dan melambaikan tangannya kepada dirinya.


Nadhira dan Theo berjalan beriringan menuju kearea makam itu dengan perlahan lahan dan juga berhati hati agar tidak menyita begitu banyak perhatian orang lain yang Theo yakini ada ditempat itu saat ini, area makam itu terlihat begitu gelap sehingga jalannya saja tidak mampu dilihat dengan jelas meskipun dalam jarak dekat.


"Dhira biar aku ikatkan tali ini kepada dirimu, agar kita tidak berpisah ketika sudah masuk kedalam, jika kita berpisah nantinya akan semakin bahaya bagi kita berdua didalam sana"


Nadhira hanya mengangguk kepada Theo, dan Theo mulai mengikatkan sebuah tali ditangan Nadhira, dan dirinya juga mengikatkan tali itu pada tangannya agar dia tidak terpisah dari Nadhira dalam keadaan apapun didalam area makam itu.


"Ku harap kau tidak pernah jauh dariku Dhira, selalu berhati hati ketika memasukinya, kita tidak tau serangan apa yang akan kita dapatkan didalam sana nantinya".


"Kau benar Theo, ku harap kita bisa saling melindungi satu sama lain".


"Jangan pernah lepaskan tongkat itu, gunakan dengan sebaik mungkin, karena mahluk mahluk itu tidak mampu menahan serangan tongkat meskipun dengan kuku kukunya itu".


"Baiklah".


Nadhira dan Theo berjalan beriringan dengan tangan mereka yang terikat satu sama lain mengarah kearah makam keramat yang ada didesa tersebut, waktu masih menunjukkan pukul 1 malam dan udara malam semakin dingin hingga menembus ketulang tulang mereka berdua.


Semakin malam udara akan semakin dingin dengan seiring berjalannya waktu, hal itu membuat Nadhira mendekap dirinya sendiri untuk tetap mempertahankan kehangatan tubuhnya yang terus menerus diterpa dinginnya malam.


Syutt...


"Dhira awas!".


Jleb...


Theo menyadari bahwa dikejauhan ada seseorang yang mengarahkan anak panah kepada keduanya, hal itu membuat Theo reflek menarik tangan Nadhira hingga anak panah itu melewati keduanya dan menembus sebuah pepohonan yang ada didekat Nadhira, jika terlambat sedikit saja mungkin anak panah itu akan menembus kepala Nadhira.

__ADS_1


"Kau tidak apa apa Dhira?" Tanya Theo khawatir dengan kondisi Nadhira.


"Aku ngak apa apa kok, terima kasih sudah menyelamatkan diriku dadi anak panah ini".


"Itu bukan masalah Dhira, untung saja panah itu tidak mengenai dirimu".


"Dari mana asalnya panah ini? Siapa yang telah melontarkannya kepadaku?"


"Aku juga tidak tau Dhira, sebaiknya kita berhati hati kedepannya".


"Iya Theo".


Syut... Syut... Syutt...


Beberapa anak panah lainnya mulai berdatangan dengan berbagai macam arah, hal itu membuat Theo segera menarik tangan Nadhira untuk bersembunyi dibalik sebuah pepohonan dan semak semak.


"Dari mana anak panah itu berasal" Guman Nadhira.


"Sepertinya begitu banyak orang yang sedang berjaga ditempat ini Dhira".


"Bagaimana cara kita agar dapat lolos dari mereka".


Anak anak panah itu terus melesat kearah keduanya akan tetapi panah itu sama sekali tidak mengenai keduanya karena keduanya bersembunyi dibalik sebuah pohon besar yang telah tumbang sehingga anak panah itu hanya mengenai pohon tersebut.


"Mereka menggunakan senjata panah bukan kuku seperti yang kau bilang sebelumnya Theo, itu artinya mereka adalah manusia, bagaimana mungkin mahluk gaib mampu menggunakan senjata apalagi senjata itu adalah sebuah panah" Ucap Nadhira.


"Mereka memang manusia Dhira, mereka sepertinya sedang melindungi sesuatu didalam area makam keramat itu".


"Itu artinya kita harus bisa masuk kedalam dan menyelamatkan Pak Mun dan juga orang orang yang telah mereka tangkap sebelumnya, mungkin saja orang orang itu masih hidup sampai sekarang akan tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya sehingga tidak ada yang menolong mereka sampai saat ini".


"Kau benar Dhira, tapi apa yang harus kita lakukan sekarang? Sepertinya mereka begitu hebat dengan menggunakan senjata panah, kalau kita salah langkah sedikit saja mungkin nyawa kita akan menjadi taruhannya Dhira"


"Kita harus berhati hati soal itu Theo, panah adalah sebuah senjata yang sangat ampuh untuk menyerang seseorang dari jarak jauh".


"Kau benar Dhira".


Nadhira teringat tentang ucapan yang pernah Rifki katakan kepadanya mengenai anak panah, Nadhira melihat bahwa ada sebuah anak panah menancap disebelahnya dan dirinya segera mengambilnya dan memejamkan matanya sambil mengingat ingat tentang apa yang telah diajarkan oleh Rifki kepadanya selama ini.


*Flash back on*


"Tingkat kesulitan dalam memanah adalah sebuah kefokusan, kau harus fokus dengan titik sasaranmu Dhira, untuk mendapatkan hasil yang bagus" Ucap Rifki sambil memegangi tangan Nadhira yang sedang memegang busur panah.


Rifki mengajarkan kepada Nadhira dengan sesekali bercanda hingga membuat Nadhira mudah untuk mengingat apa yang telah ia katakan, dan Nadhira terlihat begitu fokus kepada sebuah papan sasaran yang berada lumayan jauh dari dirinya.


"Sebelum melesatkan anak panah, analisa dulu pergerakan angin disekitar kita, kau juga harus tau kemana angin itu berhembus".


"Gimana caranya aku tau, hembusannya terlalu pelan dan sangat sulit untuk diketahui arahnya".


"Mangkanya fokus Dhira, fokus adalah hal terpenting untuk belajar memanah, jika kau saja tidak bisa fokus ketitik sasaran bagaimana bisa anak panahmu bisa sampai ketitik hitam itu? Mata panah dan pikiran harus bisa bekerja sama".


"Bagaimana kalau kamu yang jadi sasarannya? Biar aku bisa lebih fokus".


"Boleh, mau manah bagian yang mana? Mau yang bagian mana saja boleh kok, tapi jangan manah hatiku nanti pecah".


"Kalau begitu biar bagian jantungmu saja, biar detaknya jadi beraturan".


"Emang kamu bisa merasakan detak jantungku seperti apa sekarang ini?"


"Kalau belum dipanah bagaimana bisa aku merasakannya Rif, sudahlah cepat keposisi sasaran".


"Baiklah jika itu maumu, tapi ingat kau harus fokus hanya pada jantungku jangan yang lainnya".


"Iya iya".


Rifki segera berjalan kedepan Nadhira dengan sebuah senyuman yang ia berikan kepada Nadhira dan segera membentangkan kedua tangannya dihadapan Nadhira yang sedang membawa panah itu, Nadhira mulai menyipitkan sebelah matanya untuk melihat sasarannya.


"Baiklah, lepaskan anak panah itu" Ucap Rifki.


"Rifki! Kan aku cuma bercanda".


"Kau bilang kalau aku yang jadi sasarannya kau akan lebih fokus nantinya, anggap saja jantungku adalah sasaranmu, bukan begitu Nadhira Novaliana Putri?"


"Ngak ngak, ganti yang lain, kalo panah ini tembus ke jantungmu gimana?".


"Diam dan rasakan udara yang ada disekitarmu, perhatikan dengan seksama suara suara yang ada didekatmu bisa jadi itu adalah asal dari sebuah anak panah yang akan melesat".

__ADS_1


Nadhira pun memejamkan matanya untuk merasakan udara yang ada disekitarnya, meskipun pergerakan udara itu sangat tipis dan bahkan hampir tidak terasa akan tetapi Nadhira mencoba untuk merasakannya.


"Rif, aku tidak bisa merasakan apapun".


"Fokus Dhira, rasakan energi yang ada disekitarmu".


"Baiklah".


Rifki mendekat kearah dimana Nadhira berada dan segera menutup kedua mata Nadhira menggunakan sebuah kain hitam yang sedikit tebal akan tetapi hal itu membuat Nadhira cukup berada didalam sebuah kegelapan tanpa adanya cahaya sedikitpun.


"Bagaimana aku bisa mencapai sasaran jika gelap gulita seperti ini" Keluh Nadhira.


"Dengarkan suara lonceng yang akan aku gerakkan, kau harus bisa menebak dimana asal suara itu berada dan kau harus melontarkan anak panah itu kearah lonceng tersebut, kau harus fokus latihan ini bertujuan untuk ketika ada penyerangan dimalam hari dan kau tidak mampu untuk melihat sebuah cahaya sama sekali".


"Iya Rif".


Klinting klinting klinting


Rifki mulai membunyikan lonceng tersebut didepan sebuah papan sasaran yang tidak jauh dari Nadhira, Nadhira terus memfokuskan diri untuk menemukan dimana lonceng itu berada saat ini, dengan latihan yang rutin hal itu membuat Nadhira dapat mengetahui dimana asal usul suara lonceng itu.


Syuttt... Jleb..


"Bagus Dhira, kau memang terbaik".


Rifki terus mengubah posisi loncengnya agar Nadhira mampu untuk mencapai sasaran walaupun tanpa harus melihatnya dengan mengunakan pengelihatan akan tetapi mengunakan pendengaran yang bagaimana hal itu sangat penting untuk dapat menghadapi musuh dalam kegelapan sekaligus.


Syutt... Jleb..


Syutt... Jleb...


Nadhira terus saja melontar sebuah anak panah dan tepat mengenai sasaran dimana Rifki yang telah menentukan sasaran tersebut dengan menggunakan lonceng yang ada ditangannya saat ini, Rifki merasa kagum dengan Nadhira.


"Hal yang terpenting dalam memanah adalah kefokusan penggunanya, semakin kuat kamu menarik busur itu akan semakin cepat anak panahmu akan mencapai sasarannya dan juga semakin jauh pula panah itu melesat, sebelum membidik pastikan dulu sasaranmu, jika sasaranmu bergerak kau harus bisa mengimbangi gerakannya sehingga sasaranmu tidak meleset".


"Iya Rif".


"Jika dalam keadaan terdesak seperti apapun itu, ingat apapun yang ada disebelahmu bisa menjadi senjatamu meskipun itu tongkat kayu, batu, ataupun pasir maka gunakanlah dengan tepat, hanya tinggal kita saja mampu menggunakannya atau tidak, apapun yang akan kau hadapi nantinya berusahalah setenang mungkin seperti kau bermain panahan".


"Kau adalah pelatih terbaik yang aku punya Rif"


"Dan kau murid yang paling bandel, bawel, dan pintar yang aku miliki Dhira".


"Kenapa bandel dan bawel harus ikut ikutan sih, jadinya kan menyebalkan"


"Biarlah, sudah ayo berlatih lagi".


"Siap pelatihku".


Rifki terus membimbing Nadhira untuk dapat bermain panahan dengan baik dan benar, sampai akhinya Nadhira mampu menyerap apa yang disampaikan oleh Rifki meskipun tidak sepenuhnya akan tetapi Rifki merasa yakin bahwa pengetahuannya itu sudah cukup untuk dapat melindungi dirinya.


"Tapi kau harus ingat bahwa musuhmu yang sesungguhnya adalah dirimu sendiri Dhira, orang yang hebat adalah orang yang mampu memposisikan dirinya sendiri dan mampu mengendalikan nafsu dunianya, bukan orang yang mampu mengalahkan orang lain hanya untuk sebuah ambisi".


"Aku akan mengingatnya pelatihku, bahwa orang yang hebat bukanlah orang yang mampu mengalahkan orang lain tapi orang yang mampu untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri"


"Sepertinya hatiku sedikit tersentuh dengan kata katamu itu, ternyata kau pintar juga membuat hati seseorang tersentuh seperti ini".


"Masih ku sentuh belum ku sentil tuh hatimu itu".


"Idih... Ku suka gayamu, kenapa hanya disentil saja? Apa kau tidak mencoba untuk memasaknya juga? Kau kan suka makan Dhira".


"Hehe.... Emang bisa dimasak juga"


"Bisa dong, mau mencoba untuk membuatnya? Tapi masaknya jangan pedas pedas nanti aku sakit".


"Ngak pedas kok, cuma kasih garam doang".


"Nah itu jauh lebih baik" Ucap Rifki sambil menyengir.


Ditengah tengah latihannya mereka selalu bercanda gurau hal itu membuat Nadhira tidak mudah untuk melupakan apa yang dikatakan oleh Rifki saat ini, baginya berlatih memanah adalah sebuah latihan untuk menguji kesabaran seseorang.


Mulai dari sabar mengamati sasaran anak panah itu sampai sampai tingkat kefokusan seseorang mengenai arah mata panah yang akan ia lontarkan menuju kesebuah sasaran.


Latihan memanah bukan hanya asal mengarahkan anak panah kepada target sasaran akan tetapi begitu banyak teknik yang harus dipelajari agar anak panah itu mampu melesat sampai ke sasaran yang dituju.


*Flash back off*

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2