
Sepulang sekolah Nadhira tidak langsung diantar Rifki pulang, Rifki mengajaknya mampir dulu kemarkasnya, untuk mengambil sebuah buku yang ingin Rifki bawa pulang kerumahnya, untuk dipelajari lebih lanjut. sesampainya ia dimarkas tersebut, keduanya segera disambut oleh beberapa anak buah dari kakeknya Rifki, bukan hal pertama kali Rifki membawa Nadhira kemarkas tersebut sehingga mereka merasa familiar dengan Nadhira.
Nadhira berjalan mengikuti Rifki dari belakangnya, mereka melewati sebuah ruangan yang cukup besar, didalam ruangan tersebut terdapat beberapa orang yang sedang belajar memanah. Nadhira berhenti didepan ruangan tersebut dan memperhatikan secara seksama orang yang sedang memegang anak panah, melihat Nadhira berhenti membuat Rifki menoleh kebelakangnya dan menatap Nadhira.
Nadhira memandang serius kedalam ruangan tersebut, ini pertama kalinya ia melihat ruangan itu terbuka, setiap ia datang kemarkas Rifki, ia selalu melihat ruangan itu tertutup rapat. Nadhira melangkah memasuki ruangan tersebut, tiba tiba ada yang mendatanginya dari dalam.
"Ada apa Nadhira?". tanya orang itu.
"kamu?". Nadhira memandangi orang tersebut.
"kenapa terkerjut? apa ada yang salah dengan wajahku?". Orang itu mengosok gosok wajahnya dengan kedua tangannya.
"ngak kok Ren, cuma kaget aja kamu tiba tiba muncul disini".
"justru aku yang terkejut Nadhira, kenapa kamu bisa masuk ketempat ini, tempat ini adalah ruangan privasi, tidak semua orang bisa masuk kedalam sini".
"maaf, tadi pintunya terbuka, tidak ini salahku seharusnya aku tidak masuk kedalam".
Memang benar selama ia berada dimarkas itu, ia sama sekali tidak pernah melihat didalam ruangan tersebut, didalam ruangan tersebut terdapat berbagai macam senjata tajam untuk belajar beladiri, ada panah, pedang, pisau, dan lain lainnya.
Nadhira menundukkan kepalanya dan berjalan mundur kebelakang, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang ada dibelakangnya, Reno yang melihat itu membuka matanya lebar lebar dan bergegas kembali keposisi awal. Nadhira sempat terkejut ketika ia merasakan bahwa tubunnya sedang menabrak seseorang dibelakangnya.
Nadhira menghela nafas lega ketika orang itu adalah Rifki, tatapan keduanya bertemu cukup lama. tidak ada pembicaraan diantara keduanya membuat Nadhira menelan ludahnya dengan susah payah. Ia sadar bahwa ini adalah salahnya karena masuk kedalam ruangan tersebut, dimana ruangan tersebut adalah ruangan privasi hanya orang tertentu yang bisa masuk kedalamnya.
"kenapa masuk kedalam sini?". Tanya Rifki dengan datarnya.
"ma... maafkan aku". jawab Nadhira dengan gugup.
"jawab!!!".
"aku hanya tertarik dengan anak panah, jangan marah". Nadhira memasang wajah cemberutnya.
"kalian semua boleh keluar!!". Teriak Rifki kepada semua orang yang ada didalam.
"Baik bos kecil".
Rifki menganggukkan kepalanya, mereka semua yang ada diruang tersebut segera bergegas pergi dari ruangan itu, kini tinggal mereka berdua yang ada didalam ruangan itu, orang yang terakhir keluar ruangan itu segera menutup pintu ruangan itu.
Nadhira menundukkan kepalanya dan masih tetap berdiri ditempatnya sementara Rifki berjalan kesebuah almari yang terisi beberapa anak panah, Rifki juga mengambil senuah busur dan mengangkatnya, ia berjalan kembali untuk mendatangi Nadhira.
"ambil ini". ucap Rifki sambil menyodorkan busur dan anak panah kearah Nadhira.
"ta... tapi".
"aku bilang ambil ya ambil".
Nadhira mengambi busur dan anak panah tersebut dengan cepatnya, Rifki berjalan kearah sasaran panah itu, Nadhira mengikutinya dari belakang, didalam diamnya Rifki, didalam hatinya merasa begitu gelisah. ia kembali menatap kearah Nadhira, sebulir airmata terlihat dipeluk mata Nadhira.
Rifki memejamkan kedua matanya, ia mencoba merasakan energi yang ada disekitarnya, dengan mata yang tertutup, Rifki dapat merasakan sebuah pergerakan seorang arwah wanita yang tengah berdiri disekitarnya. wanita itu terlihat sangat emosi dihadapan Rifki, Rifki merasakan bahwa energi yang ia miliki sedang diserap oleh sosok yang ada didepannya.
__ADS_1
"aku harus bisa melakukannya". batin Rifki.
Rifki mengambil sebuah pisau yang tertata rapi disebuah meja yang ada ditempat itu, ketika ia mengarahkan pisau itu Nadhira, tiba tiba busur dan anak panah yang ada ditangan Nadhira terjaruh, dan Nadhira menunduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Rifki terkejut melihat hal itu dan segera menyembunyikan pisau yang ada ditangannua, ketika secara reflek tangannya hendak bergerak untuk menolongnya tetapi segera ia hentikan. perasaannya terasa seperti campur aduk, entah apa yang ada difikirannya.
"Rifki, mungkin iblis itu sudah datang, kamu harus hati hati". Raka memberi peringatan kepada Rifki.
Rifki menatap kearah Raka sejenak setelah itu ia mengangguk anggukkan kepalanya mendengar peringatan dari Raka.
*Flash back on*
Ketika melihat aura yang ada ditubuh Nadhira membuat Rifki merasa begitu khawatir, setelah pengenalan selesai Rifki pergi kekamar mandi dan meninggalkan Nadhira dikelas tersebut, ketika ia sedang berbincang bincang dengan Raka mengenai energi yang ada di tubuh Nadhira, sosok wanita tua tiba tiba muncul dihadapannya.
Wanita itu memiliki rambut yang panjang dan seluruhnya berwarna putih, kelopak mata yang begitu hitam dan mengerikan, terdapat luka sayatan yang panjang dipipi kirinya membuatnya semakin mengerikan kalau dilihat.
"Siapa anda?". tanya Rifki.
"aku tau apa yang kau fikirkan, mengenai energi permata iblis bukan? siapapun yang telah menelannya tidak akan pernah selamat dari bahaya, permata itu sudah lama hilang, entah bagaimana caranya permata itu muncul kembali kedunia ini". ucap sang wanita tua tersebut.
"Apa nenek tau mengenai permata itu? bagaimana caranya untuk mengatasinya, mohon nenek memberitahukannya kepadaku".
"Permata itu tidak akan mudah untuk ditelan oleh manusia, kecuali telah lama ia ditargetkan untuk menjadi sasaran, hanya ada satu cara, kamu harus bisa menghancurkan roh jahat itu, sebelum orang yang ditargetkannya sepenuhnya dikuasai oleh mahluk itu".
"Bagaimana caranya? sedangkan saya sendiri tidak mampu untuk melinat mahluk itu, karena kekuatan mahluk itu lebih berbahaya".
"mahluk itu selalu ada didekat orang yang dikendalikannya, buatlah orang itu seperti dalam bahaya, otomatis mahluk itu segera mengendalikan tubuhnya untuk melawan bahaya tersebut".
Ia harus membawa Nadhira ketempat dimana seluruh mahluk jahat tidak bisa mencapainya, jika orang yang dikendalikannya masuk kedalam tempat itu maka iblis itu akan berusaha untuk terus mendekatinya, bagaimanapun caranya. sehingga perlahan-lahan kekuatannya akan berkurang dan sosoknya akan mudah untuk dirasakan kehadirannya.
"Hanya ada satu tempat seperti itu yang aku ketahui". ucap Rifki dengan mantapnya.
Ia teringat sebuah ruangan cukup besar yang ada didalam markasnya, ruangan itu adalah ruangan privasi milik kakeknya dan dia, ruangan itu hanya bisa dimasuki oleh orang orang tertentu yang diizinkan masuk kedalamnya.
"Apa kau yakin untuk membawanya keruang tamu itu? bagaimana kalau kakekmu marah tentang hal itu?". Tanya Raka mengenai keputusan yang akan diambil oleh Rifki.
"Untuk marahnya kita fikirkan belakangan, yang terpenting adalah berusaha untuk saat ini".
"Baiklah kalau itu keputusanmu".
Rifki segera menghubungi beberapa anak buahnya yang dapat masuk kedalamnya, untuk segera berlatih didalam ruangan tersebut, tanpa harus menutup pintunya, perintah itu segera ditolak oleh mereka karena mereka takut bahwa kakeknya akan marah kepada mereka, sampai akhirnya mereka menyerah karena mereka tau watak Rifki yang sangat keras kepala sejak kecil.
Rifki kembali keruangan dimana sebelumnya ia tinggalkan, didalam perjalanan ia terus memikirkan alasan apa yang tepat untuk mengajaknya kemarkasnya saat pulang sekolah.
Sesampainya dikelasnya Rifki segera duduk ditempat dimana awalnya dia duduk, ia menoleh ke arah Nadhira dan tersenyum tipis kepadanya, senyum itu yang selalu membuat Nadhira merasa begitu lega dan damai.
"Kenapa sampai sekarang senyumannya terasa sepesial, padahal setiap harinya ia selalu tersenyum seperti itu". batin Nadhira.
"Eh iya Dhira, nanti ikut aku kemarkas dulu ya, mau ngambil buku yang sebelumnya kamu baca, soalnya aku mau mempelajarinya lagi". ucap Rifki.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan lama lama, nanti aku dimarahi oleh papa karena terlambat pulang".
"Baiklah"
*Flash back off*
Rifki menatap Nadhira yang tengah duduk bersimpu dilantai ruangan tersebut dengan memegangi kepalanya, ia mengangkat kembali pisau yang ada ditangannya, Nadhira menggerakkan bahunya seperti sedang menarik nafas dalam dalam.
"Rif".
Nadhira memanggil nama Rifki beberapa kali, Rifki hanya terdiam dan berfikir apakah iblis itu berhasil menguasainya atau tidak, melihat Nadhira begitu lemasnya membuatnya harus melepaskan pisau yang ada ditangannya dan bergegas mendatangi Nadhira.
"Nadhira kamu kenapa?". Tanya Rifki yang sangat terkejut ketika melihat Nadhira mimisan.
"Aku ngak tau Rif, kepalaku tiba tiba terasa sangat pusing dan merasa sangat lemas". Nadhira mengusap darah yang ada dihidungnya.
"Syukurlah kalau kamu ngak papa". Rifki tersenyum kearah Nadhira.
"Rifki Kamu kembali". Nadhira tersenyum lebar kearah Rifki.
Apa yang diucapkan oleh Nadhira membuat Rifki bingung tidak mengerti maksud dari ucapan itu, Tiba tiba Nadhira tidak sadarkan diri dan segera ditangkap oleh Rifki, Rifki menepuk pipinya berulang kali untuk menyadarkan Nadhira tetapi Nadhira tidak sadar juga membuatnya harus mengendong Nadhira menuju kekamarnya yang ada dimarkas tersebut.
Rifki membaringkan tubuh Nadhira kekasurnya dan mengecek suhu badannya.
"Rifki jangan marah kepadaku, aku takut kehilangan senyumanmu". ucap Nadhira dengan mengigau.
"maafkan aku Nadhira".
Rifki mengusap keningnya perlahan, setelah itu ia bergegas kekursi yang ada disitu, ia mengambil sebuah buku untuk dibaca sambil menunggu Nadhira siuman, buku buku ditempat itu sama sekali tidak ada yang membahas mengenai permata iblis.
Beberapa jam kemudian akhirnya Nadhira sadar ketika waktu menunjukkan pukul 1 siang, ia segera berdiri dan mendatangi dimana Rifki berada saat ini, Rifki tertidur pulas sambil menyangga kepalanya dengan beberapa buku yang tengah terbuka dihadapannya.
Tak lama kemudian Rifki terbangun dan melihat sosok Nadhira tengah membereskan mejanya dan menaruh kembali buku buku tersebut dirak buku.
"Kamu sudah siuman Nadhira? maaf aku ketiduran". Ucap Rifki kepada Nadhira.
"Tidak masalah Rif, aku juga minta maaf karena dengan lancang masuk kedalam ruangan privasi itu".
"Ngak papa Nadhira, itu juga bukan salahmu".
"Jangan marah kepadaku lagi, aku sangat takut melihatmu seperti itu tadi, aku fikir kamu tidak akan pernah memaafkan ku lagi ini adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan, maafkan aku".
"Ini sepenuhnya bukan hanya salahmu kok Nadhira, ini karena kelalaian mereka, karena tidak menutup pintu itu".
"Jangan marah kepada mereka, aku tau karena setiap manusia pasti memiliki salah".
Rifki mengangguki ucapan Nadhira, pada dasarnya wanita memang tidak menyukai kata bentakan yang diarahkan kepadanya, sehebat apapun wanita, ia pasti akan menangis melihat seseorang yang sangat berharga baginya dengan tega membentaknya begitu saja. Rifki merasa begitu bersalah kepada Nadhira, biar bagaimanapun ia harus melakukan itu untuk mengalahkan arwah iblis itu.
Rifki mengajak Nadhira untuk pulang saat itu juga, karena sudah lama mereka berada di tempat itu, Nadhira harus segera pulang supaya papanya tidak marah kepadanya karena pulang terlambat. Rifki terus berfikir diperjalanan menuju ke rumah Nadhira mengenai wanita itu tetapi ia belum juga menemukan solusinya.
__ADS_1
*Karena ada problem, jadi belum bisa up. harap dimaklumi 🙂
Jangan lupa Like ya 😊