
Ketika Nadhira mulai memasuki gerbang rumahnya, ia menatap mobil yang dinaiki oleh Rifki bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. ia melihat bahwa mobil papanya sudah terparkir rapi disebelah rumahnya.
Nadhira menoleh kesekelilingnya yang penuh dengan bunga bunga yang memperindah tampilan rumah tersebut, ketika ia membuka pintu rumahnya, tiba tiba papanya menghadang jalanan untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Nadhira dapat melihat sebuah tatapan kemarahan yang tercipta dipelupuk mata papanya tersebut, kemarahan itu ditujukan kepada Nadhira, melihat kemarahan tersebut membuat Nadhira melangkah mundur dan mengangkat kakinya dari pintu rumah tersebut.
Sebelumnya Nadhira sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi kepadanya, karena Amanda akan mengadukan apapun yang terjadi diperkemahan itu, biar bagaimanapun Amanda telah dihukum begitu berat karena tidak kunjung mendapat maaf dari Rifki.
"Ada apa pa?". Tanya Nadhira.
Nadhira berdiri tegak dihadapan sang papa, ia begitu yakin bahwa papanya akan menghukumnya kali ini, apapun yang akan terjadi, Nadhira sudah begitu pasrah mengenai hal itu.
"Apa yang kau lakukan kepada Manda ha? Dasar anak ngak tau diuntung, gara gara kamu dia dihukum oleh guru, seharusnya kamu mikir dong, dia juga punya perasaan!! Sudah untung dibesarkan masih saja membuat masalah". Bentak Rendi.
Seketika Nadhira merasakan sakit yang luar biasa karena ucapan yang keluar dari mulut papanya, Nadhira berfikir selama ini perasaan yang ia rasakan sama sekali tidak dipedulikan oleh papanya sendiri, bagi papanya perasaan Amanda lebih berharga dari apapun.
"Emang papa pikir aku ngak punya perasaan? Pa, aku juga manusia, aku juga bisa terluka karena ucapan papa!! kenapa papa berubah? kenapa pa kenapa!!!". Teriak Nadhira sambil berlinangan air mata.
"Berani kamu melawan orang tua ha? Apa kamu lupa jasa jasa yang diberikan olehnya ha? Kalo besar mau jadi apa kamu ha?".
"Asal papa tau, aku sama sekali tidak menginginkan untuk dilahirkan didunia ini!!!".
"Apa yang kau katakan ha? bahkan diriku sama sekali tidak menginginkan kehadiranmu!!".
"Sudah cukup pa!!". Nadhira memegangi dadanya yang terasa sesak.
Nafas Nadhira mulai memburu, jantungnya berdetak begitu kencangnya, dapat ia merasakan sebuah gejolak dalam tubuhnya ini adalah perasaan ketika tubuhnya akan diambil alih oleh makhluk itu.
Nadhira mengabaikan tentang papanya yang terus mengomel kepadanya, sementara dirinya terus berusaha agar roh halus yang selalu berada disampingnya tidak dapat menguasai tubuhnya lagi.
Nadhira teringat perkataan yang Rifki lontarkan kepadanya, jangan sampai mahkluk itu menguasai dirinya. Rasa sakit yang menjalar didalam jantung membuat Nadhira sampai harus merintihkan air mata , sementara hatinya terus merasakan sakit akibat ucapan Rendi kepadanya.
"Tidak!! Jangan!! Aku tidak ingin menyakiti papa, tenang Nadhira, kamu pasti bisa". Batin Nadhira menjerit untuk menyemangati dirinya sendiri.
Nadhira memejamkan kedua matanya, rasa sakit itu semakin menjadi jadi, dapat Nadhira lihat sebuah bayangan didalam kegelapan ketika ia menutup kedua matanya.
"Aku tidak akan menyakitimu Nadhira, jangan terus melawannya nanti kamu sakit". Ucap bayangan itu yang dapat didengar oleh Nadhira seorang.
"Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri aku rela". Batin Nadhira.
Nadhira membuka matanya, ia menatap Rendi yang tengah marah kepadanya, tatapan itu seolah olah ingin menjadikan Rendi sebagai mangsanya, dengan gerakan mulut yang menahan kesakitan.
Melihat tatapan itu, Rendi segera menggerakkan tangannya untuk melepaskan sabuknya dan akan mencambuk Nadhira menggunakan sabuk yang melingkar di pinggangnya.
"Arghhhh, bunuh Nadhira sekalian pa, bunuhh!!!".
Nadhira merintih kesakitan karena setiap cambukkan yang dilontarkan oleh Rendi kepadanya, Nadhira hanya bisa mengedipkan kedua matanya agar air mata tidak jatuh lebih banyak lagi.
Cambukan tersebut mampu meninggalkan bekas merah yang memanjang dipinggang Nadhira dan juga dipahanya, rasa panas bercampur perih dapat Nadhira rasakan karena cambukan tersebut.
Tanpa Nadhira sadari bahwa ada sesuatu perasaan yang aneh terjadi didalam hati papanya, melihat Nadhira kesakitan membuat Rendi merasa bimbang untuk memukulnya lagi, tetapi ketika ia mengingat apa yang dilakukan oleh Nadhira kepada Amanda membuatnya marah.
__ADS_1
Ketika diperjalanan menuju rumahnya Amanda terus menceritakan apa yang terjadi kepadanya ketika berada diperkemahan, Amanda mengatakan bahwa dirinya difitnah oleh Nadhira karena Nadhira yang melangkah jauh dari kelompoknya sehingga dirinya sendiri tersesat.
Setelah mengetahui bahwa hutan tersebut aman membuat Nadhira memberanikan diri untuk berpisah dari kelompoknya, dan pada saat itu Amandalah yang menjadi ketua kelompok didalam kelompoknya.
Karena pisahnya Nadhira dengan kelompoknya membuat Amanda harus bertanggung jawab karena sudah membuat Nadhira terpisah dari kelompoknya padahal Amanda tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh Nadhira.
Nadhira masih berdiri tegak didalam posisinya seperti semula, dengan wajah yang menahan semua kesakitan didalam tubuhnya, melihat Nadhira masih mampu berdiri karena cambukan tersebut membuat Rendi menghentikannya.
"Kenapa berhenti pa? Apa papa kelelahan?". Tanya Nadhira sambil memandang sabuk tersebut.
"Nadhira, kamu tau kesalahan kamu? Bahkan cambukan ini adalah hukuman paling ringan yang ku berikan". Rendi menatap Nadhira dengan tajam.
"Haha.... Kenapa tidak sekalian membunuhku pa? Apa papa perlu bantuanku untuk melakukan itu? aku akan senantiasa melakukan hal itu agar papa puas!!". Tanya Nadhira sambil tertawa pahit.
"Kau,, dasar anak durhaka!!". Rendi mengumpat kepada Nadhira.
Rendi memegang tangan Nadhira dan menariknya dengan kasar, membawa Nadhira kesebuah ruang yang ada dirumah itu, ruangan itu adalah sebuah gudang. Rendi mendorong tubuh Nadhira hingga terjatuh dan segera mengunci pintu gudang tersebut dari luar.
Tok tok tok
"Pa buka in, Nadhira takut, pa... tolong buka in, pa". Teriak Nadhira sambil mengetuk pintu tersebut dengan kerasnya.
"Papa ngak akan buka in sebelum kamu berubah!!". Ucap Rendi dari luar.
"Tapi ngak begini pa caranya, pa buka in".
Rendi meninggalkan tempat tersebut, dikejauhan ia melihat bi Ira yang sedang melihatnya. Belakang ini Nadhira begitu dekat dengan pembantunya, sehingga Rendi mendekat kearahnya dan mengancamnya apabila bi Ira berani membukakan pintu tersebut maka Rendi akan mencelakakannya beserta Nadhira.
Sosok seorang wanita mendekatinya, wanita itu adalah wanita yang sama yang selalu merebut kesadarannya, Nimas. Karena begitu lemahnya tubuhnya sehingga membuat Nadhira tidak mempedulikan sosok yang ada dihadapannya saat ini.
"Aku merasa aneh denganmu, kenapa kau diam saja ketika dirimu disakiti, bukankah kau juga hebat dalam beladiri, lihatlah sekarang tubuhmu begitu lemah sekali, seandainya tadi kau tidak melawan, mungkin aku bisa membantumu". Ucap Nimas kepada Nadhira.
"Aku tidak butuh bantuanmu!! sebaiknya kau pergi dari hidupku". ucap Nadhira dengan geramnya.
"Eith.. jangan marah gitu dong, kau mau bekerja sama denganku, aku yakin orang orang yang mau menganggumu pasti akan mati, bagaimana? kamu mau, asalkan kamu tidak melawan lagi". Rayu Nimas.
"Tidak!!! kau hanyalah perusak kehidupanku, sebaiknya kau pergi dari hidupku, kita berbeda!! kau mahkluk gaib sementara diriku adalah manusia".
"Tidak masalah akan hal itu, kita bisa berbagi tubuh kan.. haha...". Tawa Nimas berdengung ditelinga Nadhira.
"TIDAKKK!!!! PERGI DARI SINI, JANGAN GANGGU AKU,, PERGIIII!!!". Teriak Nadhira sampai terdengar dari luar ruangan.
tok tok tok
Tiba tiba pintu gudang tersebut diketuk oleh seseorang dari luar, Nadhira segera mendekatkan telinganya kepada pintu tersebut, Nadhira mengira bahwa itu adalah papanya, tetapi ucapan yang dikeluarkan oleh orang itu begitu familiar bagi Nadhira.
"Nak kamu kenapa?". Tanya bi Ira yang berada dibalik pintu.
"Aku tidak papa bu, ibu jangan khawatir". Jawab Nadhira.
"Kamu serius nak? kenapa kamu berteriak seperti itu, maafin ibu nak, ibu tidak bisa membukakan pintu ini untukmu". Suara bi Ira terdengar begitu sangat menyesali ketidakmampuannya.
__ADS_1
Nadhira yang mendengarkan ucapan tersebut hanya bisa berdiam diri, ia tidak tau harus berbicara apalagi. karena teriakkan yang ia lontarkan membuat seorang ibu merasa khawatir kepadanya.
Rasa perih itu terasa begitu pilu, hati Nadhira terasa begitu sakit tetapi ia memilih untuk bersikap seolah olah dia baik baik saja didalam gudang tersebut.
"Iya bu, aku ngak papa, ibu jangan khawatir, ibu kembali saja kekamar ibu, aku ngak papa kok disini". Ucap Nadhira yang menyuruh ibunya untuk kembali kekamarnya.
"Bagaimana bisa ibu kembali kekamar, sementara dirimu terkurung dalam gudang ini".
Nadhira melihat sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, dan sesekali dapat terdengar suara tikus dan hewan kecil lainnya, jujur Nadhira begitu ketakutan melihat kegelapan, ia teringat mengenai bayangan yang mendatanginya ketika ia berada dihutan.
Gudang itu terasa begitu sesak, dan pengap seakan akan tidak ada udara yang dapat masuk kedalam ruangan tersebut. Nadhira merasa tidak begitu nyaman berada ditempat itu, ia tidak bisa menghirup udara bebas yang berada diluar.
Kepala Nadhira terasa begitu pusing sehingga membuatnya membaringkan tubuhnya dilantai gudang tersebut, beberapa jam ia berada digudang tersebut membuatnya lupa akan waktu, semakin malam semakin menyeramkan yang Nadhira rasakan.
Nadhira merasa bahwa tubunnya mengigil karena dinginnya udara yang berada didalam gudang tersebut, ia juga merasa adanya beberapa hewan yang berjalan didekatnya. Nadhira dapat merasakan bahwa perutnya berbunyi dan cacing cacing yang ada didalam memberontak untuk meminta diisi.
"Mama, peluklah aku dalam tidurku, hilangkanlah rasa lapar dan hausku melalui mimpiku".
Nadhira mencoba memejamkan matanya untuk menidurkan dirinya, karena gelapnya gudang tersebut, ia tidak akan tau apa yang akan lewat dilantai itu, sehingga Nadhira memutuskan untuk tidur dengan cara bersandar didinding gudang tersebut.
"Apa yang papa ucapkan, kenapa ia harus mengucapkan hal seperti itu, apakah itu benar? papa sama sekali tidak menginginkan kehadiranku? biarlah, aku hanya menanti kematianku".
Nadhira terlelap dalam tidurnya, malam itu Nadhira lalui dengan begitu panjangnya, karena Nadhira tidak bisa menidurkan dirinya dengan nyenyak selama berada ditempat itu.
Setiap terlelap sedikit Nadhira akan terbangun seketika, karena suara suara hewan kecil yang berada digudang tersebut yang membuatnya terbangun begitu mudahnya, karena terlalu lama berada digudang tersebut membuatnya tidak mengetahui bahwa hari mulai pagi, cahaya matahari mulai terpancar dibumi, dan sang mentari mulai menampakkan dirinya.
Hari ini Nadhira libur sekolah karena selesai melaksanakan camping, yang begitu lama. sehingga Nadhira merasa bersyukur karena Rifki tidak akan diganggu oleh teman sekelasnya, Nadhira tidak ingin adanya orang lain yang berdekatan dengan Rifki selain dirinya.
"Aku tidak tau, masa depan akan seperti apa, tetapi yang aku tau, cobaan hari ini begitu menyiksa".
Bekas cambukan tersebut semakin memerah dan terasa sedikit memar, kulit Nadhira yang putih membuat bekas itu terlihat begitu jelas dikulitnya. sebagian ada yang terasa sedikit melepuh karena kerasnya hantaman sabuk tersebut.
Waktu terus berjalan dan sore menjelang, sementara Nadhira masih berdiam diri diruang gudang tersebut, tanpa makan dan tanpa minum membuat tubuhnya begitu lemas, bi Ira merasa begitu khawatir karena setiap ia memanggil nama Nadhira, tidak ada sahutannya dari dalam.
Nadhira mampu mendengar panggilan ibu angkatnya, tetapi ia tidak sanggup untuk menyahutinya, karena keadaan yang begitu lemah dan lesu. Bagaimana tidak, dua hari satu malam dikurung dalam ruangan yang penuh dengan debu tanpa adanya udara masuk kedalamnya.
Ketika Rendi dan anak istrinya sedang menikmati sarapan sore diruang makan, bi Ira segera mendatangi mereka karena ia tidak mendengar jawaban dari Nadhira yang berada didalam gudang.
"Tuan, Nyonya, maafkan saya, tolong bebaskan non Dhira, dia tidak merespon sama sekali panggilanku, bibi takut Nadhira kenapa kenapa didalam". Ucap bi Ira sambil memohon kepada Rendi.
"Nanti saja jika ingat". Ucap Rendi dan terus melanjutkan makannya.
"Tapi Tuan, bagaimana kalau dia kenapa kenapa".
"Nih kuncinya". Rendi melemparkan kunci yang ada ditangannya kepada bi Ira.
"Makasih tuan". Bi Ira begitu senang ketika mendapat kunci gudang tersebut dari majikannya. ia segera bergegas menuju kearah gudang.
"Pa!! kenapa dilepasin sih". Amanda mengeluh kepada Rendi.
"Lalu bagaimana kalo dia sampai mati didalam ha?". Ucap Rendi yang membungkam mulut anak itu.
__ADS_1