
Nadhira berusaha sebisa mungkin untuk dapat mengeluarkan Theo dari penjara tersebut dengan menyewa seorang pengacara yang begitu hebat dan handalnya sehingga Theo dapat keluar dari penjara tersebut karena kasusnya telah ditutup dan juga namanya yang telah dibersihkan dari penjara.
Polisi tersebut segera membebaskan Theo dari penjara itu dan membuka gembok penjara tempat dimana dia dikurung saat itu, melihat itu membuat Theo tersenyum dengan cerahnya kearah Nadhira yang berada diluar penjara tempat dimana dirinya dikurung sebelumnya.
Nadhira merasa senang karena Theo dapat keluar dari penjara tersebut, tanpa ia sadari bahwa Theo berlari kearahnya dan tiba tiba memeluk dirinya dengan sangat erat, Nadhira hanya bisa berdiam diri dan menahan nafasnya ketika Theo memeluknya tanpa membalas pelukan tersebut.
"Apa yang kau lakukan Theo? Lepaskan aku sekarang juga" Tanya Nadhira sambil berusaha untuk melepaskan pelukan tersebut.
"Maaf Dhira, aku terlalu bahagia dapat keluar dari penjara itu" Ucapnya sambil melepaskan pelukannya tersebut dari tubuh Nadhira.
"Ngak apa, jangan lakukan hal itu lagi, bukannya kemarin kamu bilang kalau kamu lebih bahagia didalam penjara? Karena banyak temannya lalu kenapa sekarang beda lagi?"
"Itu beda lagi, kalau sudah keluar dari penjara kan aku bisa melihatmu terus Dhira, kalau didalam penjara hanya bisa melihat wajahmu ketika kau datang menjengukku ketempat ini saja".
"Baru kali ini aku bisa tau, kau juga bisa ngegombal seperti yang lain rupanya, garing banget tau Theo".
"Biarlah, memang biar kriuk kriuk kayak kripik, sekalian biar bisa dibuat tes kriuk".
Nadhira hanya menanggapinya dengan senyuman saja, Theo terus bercerita tentang keluhannya didalam penjara tersebut sambil terus berjalan keluar dari kantor kepolisian itu, sementara didalam jalannya Nadhira hanya bisa mendengarkannya dan sesekali tersenyum kearah Theo.
"Dhira setelah dari sini kau mau pergi kemana lagi?" Tanya Theo.
"Aku masih ingin bertemu dengan Bu Dewi dirumah sakit jiwa, aku harus mencari tau tentang Pak Dwija darinya, mungkin saja aku bisa menemukan sebuah petunjuk darinya nanti".
"Kau masih ingin datang kerumah sakit jiwa lagi? Demi bertemu dengan Bu Dewi? Lalu bagaimana kalau dia mengamuk Dhira? Dia kan sakit jiwa"
"Itu bukan masalah besar Theo, aku harus segera mengetahui tentang kecelakaan yang terjadi kepada Mama waktu itu, mungkin saja aku bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan makam Mama dari orang tersebut, karena selama ini jasad Mama tidak pernah ditemukan keberadaannya".
"Apakah mungkin Mamamu masih hidup sampai sekarang ini Dhira? Atau ngak paling Pak Dwija mengetahui keberadaan Mamamu saat ini".
"Aku sangat berharap bahwa Mama masih hidup sampai saat ini, aku harus menemukannya secepat mungkin, jika aku tidak bisa bertemu dengannya aku harap dapat bertemu dengan makamnya".
"Boleh aku ikut denganmu untuk pergi kesana? Biar aku bisa melindungimu nantinya"
"Kamu kan baru saja keluar dari penjara, aku tidak ingin melibatkan dirimu lagi Theo".
"Aku ngak masalah soal itu Dhira, asalkan bisa menemanimu aku akan merasa senang nanti".
"Tapi Theo... Baiklah, kau boleh ikut" Pasrah Nadhira ketika melihat wajah memelas Theo.
"Terima kasih Dhira".
Nadhira dan Theo segera masuk kedalam mobil pribadi milik Nadhira yang masih saja disopir oleh Pak Mun karena Nadhira belum bisa membawa mobilnya sendiri dengan baik sehingga dirinya hanya bisa mengandalkan Pak Mun sebagai sopirnya.
Untuk kali ini Bi Ira tidak ikut bersama dengan rombongan Nadhira karena dirinya izin untuk pergi kepanti asuhan untuk menemui Ibu panti asuhan tersebut seperti biasa, Bi Ira akan datang kesana setiap seminggu sekali untuk memeriksa keadaan Ibu panti asuhan itu.
Nadhira dan Theo duduk dibelakang Pak Mun secara berjajaran, sesekali keduanya bercanda gurau didalam mobil dan terlihat seakan akan keduanya begitu sangat akrabnya.
"Pak, kita mampir kewarung dulu ya Pak, saya haus".
"Baik Non".
Ditengah tengah perjalanan Nadhira nampak terasa begitu haus, akan tetapi kali ini Pak Mun lupa untuk menaruh minumam didalam mobil tersebut hingga membuat dirinya harus berhenti diwarung untuk membeli minuman buat Nadhira.
Mobil tersebut sedang berusaha untuk parkir dipinggir jalan, ketika mobil sudah terparkir dengan rapinya Pak Mun segera bergegas keluar dari mobil itu akan tetapi Nadhira mencegahnya.
"Biar saya saja Pak yang turun" Ucap Nadhira.
"Tapi Non, diluar sangat panas".
"Ngak apa apa Pak, biar saya saja".
"Baik Non".
Nadhira segera membuka pintu mobil tersebut dan segera bergegas keluar menuju kewarung terdekat dari mobilnya terparkir, ketika Nadhira hendak membayar minuman tersebut tiba tiba dirinya bertabrakan dengan sosok seseorang yang memakai jaket dan menutupi wajahnya dengan masker.
"Maaf Mbak saya tidak sengaja menabrak anda, saya terburu buru tadi sehingga tidak melihat keberadaan Mbaknya" Ucap seseorang itu sambil menunduk dihadapan Nadhira.
Nadhira dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah seorang lelaki dari cara bicaranya akan tetapi tubuh orang itu terlihat kurus dan bertenaga, Nadhira memandangi wajah orang tersebut dengan teliti meskipun wajahnya tertutup oleh masker.
"Ngak apa apa kok Mas" Ucap Nadhira.
__ADS_1
"Kalau begitu saja permisi dulu Mbak, sekali lagi saya minta maaf".
"Iya Mas".
Nadhira merasa heran dengan orang tersebut, orang itu segera bergegas meninggalkan Nadhira yang masih mematung ditempatnya, Nadhira tidak bisa berkata kata lagi dengan orang yang baru saja menabraknya itu.
"Ah aku lupa, aku belum bayar" Ucap Nadhira yang tersadarkan dari lamunannya.
Nadhira segera menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan miliknya kepada penjual minuman yang ia beli tersebut dengan melipatnya menjadi gulung kecil, dan dirinya segera bergegas menuju kemobilnya kembali akan tetapi pemilik warung itu segera bergegas mengejarnya kembali.
"Mbak uangnya kebanyakan, dan kembaliannya belum" Ucap penjual minuman.
"Buat Ibu saja kembaliannya, anggap saja itu rezeki anaknya, saya permisi ya Bu".
"Tapi ini kebanyakan Mbak".
"Ngak apa apa Bu, buat beli lauk saja".
"Terima kasih Mbak, terima kasih" Ucapnya sambil membungkuk dihadapan Nadhira.
Nadhira melakukan itu karena pada waktu dirinya membeli minuman tersebut ia tidak sengaja melihat seorang anak kecil yang ia duga sebagai anak dari penjual tersebut sedang makan hanya menggunakan lauk garam saja sehingga hatinya tergerakkan.
Nadhira segera memegangi pundak penjual wanita tersebut dan membantunya untuk berdiri lagi, ia merasa tidak enak hati ketika melihat orang yang lebih tua darinya menunduk kepadanya seperti itu.
"Jangan lakukan ini Bu, tidak seharusnya Ibu menunduk kepadaku yang lebih muda daripada Ibu, dengan menunduk seperti itu".
"Kau begitu baik Mbak, terima kasih, semoga Allah selalu membalas kebaikan Mbak, dan selalu melindungi Mbak dimana pun Mbak berada" Ucapnya dengan air mata yang mulai merembes keluar.
"Aamiin, sama sama Bu, saya permisi dulu".
Nadhira segera bergegas masuk kedalam mobilnya sementara wanita tersebut menatap kepergian dari Nadhira dengan hati yang gembira karena dirinya akhirnya bisa membelikan makanan yang layak untuk anaknya, sudah dua hari ini warungnya terlihat sangat sepi oleh karena itu dirinya tidak bisa memberikan makanan yang layak untuk anaknya.
Wanita itu nampak begitu beruntung karena dapat bertemu dengan sosok seorang gadis seperti Nadhira, ia bersyukur karena dipertemukan dengan seorang yang berhati malaikat sehingga dirinya menangis terharu karena tindakan Nadhira.
Didalam mobil tersebut Nadhira menatap wanita itu yang semakin jauh darinya karena mobil yang ia naiki berjalan melaju meninggalkan tempat tersebut.
"Ada apa Dhira?" Tanya Theo.
"Baik Non".
Mobil yang Nadhira naiki kini melaju dengan kecepatan normal menuju kerumah sakit jiwa yang ingin ia tuju agar dirinya dapat bertemu dengan Dewi, Nadhira pikir bahwa dia satu satunya orang yang akan membawanya untuk menemui Dwija.
Sesampainya dirumah sakit jiwa tersebut, Nadhira segera turun dari mobilnya dan langsung menuju ketempat resepsionis untuk menanyakan pasien yang bernama Dewi dirumah sakit gila tersebut.
Seorang suster cantik membawanya menuju kesebuah tempat dimana Dewi terlihat sedang mematung disebuah bangku yang ada ditaman rumah sakit itu sambil dijaga oleh salah satu suster yang ditugaskan untuk menjaganya.
"Itu Bu Dewi, Mbak" Ucap suster tersebut sambil menunjuk kearah seorang wanita yang tengah duduk dan berbicara sendiri.
"Terima kasih Sus"
"Kalau begitu saya permisi dulu Mbak".
"Iya Sus".
Suster yang mengantarkannya tadi segera bergegas kembali ketempat dimana dirinya berjaga sebelumnya, Nadhira memandangi orang yang bernama Dewi itu dari kejauhan dan nampak orang tersebut sedang berbicara dengan sebuah boneka kecil yang ada ditangannya.
Perlahan lahan Nadhira mulai mendekat kearah wanita tersebut diikuti oleh Theo yang selalu ada dibelakangnya saat ini, Nadhira berhenti ditempat setelah mendengar bahwa wanita itu berbicara mengenai Dwija.
"Dwija kau pasti sangat bahagia kan, sini biar Ibu menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah alam ini luas sekali" Ucap Bu Dewi sambil tertawa kepada boneka kecil yang ada ditangannya.
Suster yang tengah menjaga Dewi segera bergegas mendatangi Nadhira, ia begitu terkejut ketika melihat sosok Nadhira sudah berada didekatnya itu, ia segera bertanya tentang apa yang bisa ia bantu ketika melihat Nadhira.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" Tanyanya.
"Apa benar orang itu adalah Bu Dewi?" Tanya Nadhira sambil menunjuk kearah wanita itu.
"Benar Mbak, ada apa ya?"
"Kalau boleh saya tau, kenapa dia bisa gila seperti itu ya Sus?"
"Kalau saya perhatikan, Bu Dewi ini kehilangan sosok anaknya Mbak, dan setelah saya perhatikan beberapa tahun belakangan ini, saya tau bahwa anaknya yang bernama Pak Dwija itu sudah meninggal secara tidak wajar Mbak".
__ADS_1
"Secara tidak wajar gimana maksudnya Sus?"
"Ada seseorang yang telah membunuhnya, akan tetapi orang yang ada dibalik kasus itu sangat cerdik sehingga pihak berwajib tidak dapat mengetahui tentang kasus yang dialami oleh Pak Dwija begitupun dengan Bu Dewi yang tidak mau menjelaskan secara rinci ciri ciri orang yang telah membunuh Pak Dwija sebelumnya".
"Jadi Pak Dwija benar benar sudah meninggal?"
"Menurut yang saya dengar seperti itu Mbak, apa Mbak juga ingin bertanya langsung dengan Bu Dewi? Tapi Bu Dewi mudah sekali mengamuk kalau ditanya tentang hal seperti itu Mbak, Mbak bisa lihat sendiri bagaimana kondisinya saat ini".
"Iya Sus, saya akan bertanya dengan hati hati kepadanya, mungkin dengan cara seperti itu aku dapat mengetahui tentang kejadian yang menimpa Pak Dwija sebelumnya, apakah boleh?"
"Boleh Mbak".
Nadhira secara perlahan lahan mulai mendekati wanita yang bernama Dewi itu, melihat kedatangan Nadhira hal itu membuat Dewi menoleh kearah sebentar setelah itu dirinya kembali menatap kearah boneka yang ada ditangannya.
"Bu Dewi sedang apa?" Tanya Nadhira sambil tersenyum tipis kearahnya Dewi.
"Sedang mengobrol dengan anakku, Dwija" Jawabnya sambil tersenyum kearah boneka itu.
"Kalau boleh saya tau, Pak Dwija sudah berumur berapa ya sekarang Bu?"
"Sudah 40 tahun, orang itu telah membunuh anak saya" Ekspresi wanita itu berubah seketika.
"Membunuhnya? Kenapa?".
"Aku tidak tau, dia masih hidupkan? Dwija belum mati kan? Dia pasti kembali bukan?" Tanya wanita itu dengan penuh harapan.
"Iya Bu, dia masih hidup kok".
"Haha... Hanya dirimu saja yang mengatakan bahwa dia masih hidup, sudah ku bilang kan kalau Dwija masih hidup" Ucapnya dengan tertawa.
"Saya boleh bertanya?"
"Mau tanya apa?"
"Kapan terakhir kali Ibu melihat Pak Dwija?"
"Sudah tujuh tahun yang lalu mungkin, orang itu mencelakainya dengan memukulinya berkali kali sampai dia tidak bergerak lagi".
*Flash back on*
Pada waktu itu Dewi sedang sibuk dengan cuciannya yang menumpuk dirumahnya, ketika dirinya sedang mencuci tiba tiba dirinya mendengar suara seseorang yang tengah mendobrak pintu rumahnya hal itu membuat dirinya segera bergegas untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar sana.
Dewi merasa canggung untuk melihatnya karena saat itu rumahnya sedang sepi apalagi tetangganya banyak yang sedang mudik sehingga hanya dirinya yang ada dirumah sendirian.
Ketika dirinya melihat orang yang tengah mendobrak pintunya itu, Dewi begitu terkejut ketika melihat orang tersebut tidak lain adalah putranya sendiri yakni Dwija, akan tetapi bukan kedatangan Dwija yang membuatnya terkejut melainkan pakaian Dwija yang penuh dengan darah.
"Astaghfirullah hal azim Nak, apa yang terjadi denganmu" Ucapnya sambil bergegas mendatangi dimana Dwija berada.
"Ibu, sebaiknya cepat buka pintunya, ayo kita masuk kedalam dulu, nanti aku jelaskan" Ucapnya dengan terburu buru.
Hal itu membuat Dewi segera mengajak Dwija masuk kedalam rumah tersebut memalui pintu belakang karena pintu depan sengaja ia kunci agar tidak ada orang yang masuk kedalam rumahnya dengan berniat maling diam diam.
Dwija hanya bisa mengikuti Ibunya itu, sesampainya didalam rumah tersebut Dewi segera mengobati luka yang ada ditubuh Dwija dengan membersihkan menggunakan air dan sebuah kain yang telah dibasahi agar darah darah tersebut bisa hilang dari kulit anaknya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Nak? Kenapa bisa bersimbah darah seperti ini?"
"Ceritanya panjang Bu, mungkin sebentar lagi kita tidak akan bisa bertemu kembali, aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepada Ibu, tolong Ibu dengarkan baik baik apa yang aku bicarakan".
"Apa maksudmu? Apa kau ingin meninggalkan Ibu seorang diri seperti ini? Kemana kau akan pergi? Kenapa harus pergi?".
"Tidak ada waktu lagi untuk aku menjelaskan semuanya Bu, ada seseorang yang berniat untuk membunuhku karena aku telah mengetahui sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan dariku".
"Maksudmu apa Nak? Siapa yang ingin melakukan itu kepadamu? Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi".
"Wanita itu telah melenyapkan nyawa seseorang Bu, aku tidak sengaja melihatnya..."
Brak brak brak
Belum selesai Dwija bercerita kepada Dewi, tiba tiba begitu banyak orang tengah mendobrak pintu tersebut dan akhirnya pintu itu roboh karena tidak sanggup menahan dobrakan yang diberikan oleh orang orang itu.
...Hay Readers 😁 jangan lupa jaga kesehatan ya, Author sedang tidak baik baik saja dan masih sempetin untuk update, jangan lupa bersyukur karena masih diberi kesehatan 🤗 jangan lupa 5wnya untuk yang menjalankan, dan jangan lupa ibadah 🙂 terima kasih sudah mampir dikaryaku 🥰...
__ADS_1